Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Pak Gubernur, Dunia Pendidikan NTT Mau Dibawa ke mana?

 


Oleh: Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom.

(Direktur Rumah Literasi Cakrawala NTT)



Prolog

 

Hujan dan angin hadir bersamaan. Layaknya sahabat sejati berasa saudara kembar. Pihak BMKG meminta warga untuk selalu waspada. Bencana datang seperti halilintar. Hancur berantakan dalam sekejab. Rasa duka mendalam untuk keluarga di Kampaung Pau, Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, yang menjadi korban tanah lonsong. Rumah hancur dan nyawa melayang.

 

NTT pada awal tahun ini, sedang tidak baik-baik saja. Saya tetap meyakinkan diri bahwa di ujung malam yang gelap mencekam, selau ada sang fajar yang menaburkan rasa optimis dan bahagia.

 

Di tengah hujan dan angin begini, para kepala sekolah dan bendahara SMA/SMK/SLB diminta hadir dalam satu kegiatan yang terasa penting. Rekonsialiasi dana BOSP Tahun Anggaran 2025. Tujuannya tunggal dan mulia. Para kepala sekolah dan bendahara BOSP didampingi agar mampu mengelola dan  mempertanggungjawabkan penggunaan dana BOSP.

 

Dana itu tersebut adalah uang rakyat yang dikembalikan ke sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Jika tidak mampu menggunakannya sesuai juknis, maka “bencana” pasti datang. Menusuk lebih dalam dan menghampus jejak pengabdian puluhan tahun. Tidak enak dipandang jika bendahara BOSP atau kepala sekolah menggunakan rompi orange dengan tangan terborgol. Apa kata dunia.

 

Mendekteksi “Kegalauan” Para Kepala Sekolah

 

Sebagai pejalan sunyi di jalan literasi NTT selama hampir tiga belas tahun, kami adalah yang paling setia menangkap (mendeteksi) senyum, tawa, dan getaran hati para guru dan kepala sekolah. Sudah belasan ribu guru dan peserta didik kami “sentuh” dalam satu cara yang tidak bisa. Membina pikiran dan mendidik jari dalam giat literasi.

 

Jika kemudian, kami mampu mendeteksi aura rasa gelisah, galau dan binggung para kepala sekolah, maka itulah alasannya. Seperti ada hujan dan angin yang membuat mereka berada di persimpangan jalan. Memanusiakan peserta didik yang sedang bertumbuh atau “mengamankan” program atasan.

 

Awalnya, saya berpikir, mereka resah karena hujan dan angin yang datang dan pergi sesukanya. Ada sekian banyak yang berstatus pelaksana tugas (plt) kepala sekolah yang menunggu dalam “cemas”. Kembali menjadi guru biasa atau dilantik menjadi kepala sekolah defenitif. Sementara yang lain adalah para kepala sekolah yang sudah dua priode bahkan tiga priode dalam masa kepemimpinan. Apakah berhenti di Januari ini dan rekonsiliasi BOSP menjadi kenangan terakhir? Semuanya dalam ketidakpastian.

 

Namun, ada satu hal yang berada jauh di kedalaman diri. Mereka mendapati diri berada di persimpangan jalan. Program One School One Product (OSOP) yang diluncurkan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT. Apakah program ini bentuk lain dari Program Tanam Jagung Panen Sapi pada masa pemerintahan gubernur sebelumnya? Atau OSOP ini adalah jalan paling cepat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tengah kebijakan efisiensi? Diberi makanan bergisi gratis lalu setelahnya mengisi tanah dalam polibek untuk menanam cabai, terung, dan sebagainya?

 

Saya mendeteksi aura kegelisahan di wajah mereka. Duduk tenang dengan secangkir kopi panas adalah cara mengimbangi situasi ini. Tiba-tiba, seseorang datang mendekat dan berbicara.

 

“Pak Gusty, saya ini masih berstatus plt kepala sekolah. Saat ini saya belum bisa berkomentar banyak apalagi berbicara terkait program sekolah. Saya jalani saja. Sepulang dari sini, saya rapat dengan para guru untuk mengatur waktu membersihkan lahan di samping gedung sekolah. Kami mau menanam terung. Banyak yang suka makan terung termasuk para guru dan peserta didik” ungkapnya.

 

“Kalau hasilnya banyak, nanti kami coba tawarkan ke orang tua murid dan masyarakat sekitar. Saya berharap banyak, sekiranya hasilnya cukup, bisa bantu meningkatkan PAD. Intinya, program pertama kami adalah tanam terung. Di musim hujan begini, sepertinya bisa tumbuh” sambungnya. 

 

Saya menatapnya sebentar sebelum akhirnya ia berlalu. Bendaharanya datang dan memintanya untuk menandatangani sebuah dokumen. Seorang lagi datang medekat dengan sebatang rokok di tangannya. Seorang kepala sekolah yang cukup senior dalam usia dan pengalaman. Dalam beberapa tahun ke depan ia akan masuk masa pensiun.

 

“Kapan balik?” saya bertannya sekenanya sambil tersenyum. Ia sedikit kaget dan mengambil posisi duduk di sampingku.

 

“Aduh, ternyata Pak Gusty. Kami belum bisa pulang karena kapal belum jalan.  Mungkin tiga hari lagi. Kami tetap di sini, sampai cuaca sudah membaik. Oh ya, saya sudah dua priode sebagai kepala sekolah. Saya mungkin ke sekolah lain atau di sekolah yang sama tetapi sebagai guru biasa. Kita nikmati saja,” responnya.

 

Saya menangkap keresahan di hatinya. Dia menyalakan rokok dan dihembuskannya dengan paksa.

 

“Saya ada tanam cabai di sekolah. Berharap nanti pak Gubernur bisa datang di sekolah dan kita  panen raya. Nanti saya info Pak Gusty untuk datang liput,” tuturnya.

 

OSOP:  Prematurisasi Logika Pasar

 

Di hadapan para kepala SMA/SMK/SLB se-Provinsi NTT, pada 24 Juli 2025 silam, di Aula Komodo, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menjelaskan inti konsep One School One Product (OSOP).

 

“Ke depan, setiap sekolah harus punya produk unggulan. Yang jago tata boga, produksi makanan; yang jago pertanian, hasilkan produk pertanian; yang jago digital, hasilkan aplikasi dan media. Semua harus berdampak langsung ke masyarakat,” tegasnya.

 

“NTT Mart ini akan jadi seperti Alfamart atau Indomaret, tapi isinya produk NTT. Keripik, minuman lokal, tenun, kosmetik herbal, dan lainnya. Ini jadi wadah promosi sekaligus alat belajar ekonomi,” ujar Melki – sapaan akrabnya.

 

OSOP diyakininya mampu mendorong kemandirian sekolah dengan cara menciptakan satu produk unggulan khas yang berbasis pada potensi lokal di setiap sekolah. Program ini bertujuan menjadikan sekolah tidak hanya tempat belajar secara akademis, tetapi juga motor penggerak ekonomi kreatif dan kewirausahaan bagi murid dan lingkungan sekitarnya. 

 

Adapun beberapa poin inti dalam konsep OSOP tersebut. Pertama, pengembangan potensi lokal di mana sekolah wajib mengidentifikasi dan mengembangkan potensi khas di wilayahnya, misalnya pertanian, kelautan, atau kerajinan, menjadi produk bernilai ekonomis tinggi.

 

Kedua, kemandirian dan kewirausahaan yang dapat membentuk mental wirausaha murid agar mandiri dan memiliki keterampilan praktis. Program ini sudah berjalan seperti SMAN 1 Amarasi dengan produk tomat dan SMK Negeri Bukapiting Alor dengan abon tuna.  

 

Ketiga, menghidupkan kolaborasi dengan melibatkan dunia usaha dan pemerintah untuk memperkuat ekosistem pendidikan vokasi. Program OSOP ini merupakan bagian dari visi yang lebih besar, yaitu One Village One Product (OVOP), yang bertujuan membangun ekonomi NTT dari tingkat desa, komunitas, dan sekolah. 

 

Saya terdiam. Semenjak dilantik setahun silam, Gubernur NTT banyak melakukan audiensi dan menghadiri berbagai bentuk acara seremonial. Saya bangga. NTT butuh pemimpin yang ingin banyak mendengar dan melihat lebih tajam. Ia banyak mengunjungi sekolah sehingga perlahan menjadi sahabat para guru, kepala sekolah, dan generasi muda NTT.

 

Meminta sekolah untuk menanam adalah bagian dari caranya mendekati generasi muda dengan alam, bertumbuh perlahan seperti cabai, serta berbuah dari keringat dan air mata. Dari proses menaman, para guru diajarkan untuk mengoptimal lahan dan melakukan perubahan dari cara yang paling sederhana dan murah.

 

Namun, mari kita membedah konsep OSOP ini secara perlahan. Jika dinilai sepintas, konsep OSOP ini keren dan selaras dengan kondisi NTT di mana PAD-nya sangat rendah. OSOP adalah jalan alternatif dan efektif untuk mendongkrak PAD NTT. Selain itu, selaras dengan isu pengembangan karakter dan jiwa entrepreneurship generasi muda.

 

Namun, bila dicermati lebih dalam, Program OSOP berpotensi menggeserkan orientasi pendidikan. Pendidikan direduksi menjadi alat produksi ekonomi. Murid diposisikan sebagai calon produsen dan bukan subjek belajar yang sedang bertumbuh. Secara filosofis, OSOP bertentangan dengan hakikat pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia (humanisasi), pembentukan nalar, etika, dan imajinasi, bukan sekadar pencipta barang.

 

OSOP membawa logika pasar terlalu dini ke ruang sekolah. Nilai kepala sekolah, guru, dan murid diukur dari produk, sedangkan keberhasilan belajar direduksi menjadi laku atau tidak laku. Akibatnya, murid belajar berhitung untung-rugi, bukan berpikir kritis.

 

Sekolah berubah menjadi inkubator UMKM mini, bukan ruang refleksi. Dalam konteks NTT, yang masih menghadapi dehidrasi literasi dasar (membaca dan menulis), OSOP bakal melemahkan daya kritis dan nilai konsistensi bergeser menjadi sekadar motivasi.

 

Selain itu, guru SMA, misalnya, terjebak peran teknis yang bukan merupakan keahliannya. Dalam OSOP, guru didorong menjadi trainer produksi, fungsi guru sebagai pendidik kritis dan reflektif terpinggirkan. Risikonya, kurikulum menjadi teknokratis, serta refleksi filosofis, literasi mendalam, dan dialog pikiran tersisih. Padahal di NTT, guru justru dibutuhkan sebagai penjaga api peradaban tentang nilai daya juang, berpikir kritis dan menghargai proses.

 

Jika OSOP dijalankan tanpa kritik, sekolah kehilangan fungsi emansipatoris, murid tumbuh pragmatis, bukan reflektif. Pendidikan menjauh dari cita-cita pembebasan. Dalam jangka panjang, NTT bisa menghasilkan, lulusan “rajin produksi”, tetapi miskin daya kritis, daya tafsir, dan daya cipta makna.

 

Ada sebuah bencana yang sepertinya direncanakan. Hujan dan angin perubahan akan tiba dan meluluhlantahkan daya ingat dan kemampuan berpikir kritis generasi muda NTT. Saat imanjinasi dan logika pasar merasuki para guru dan kepala sekolah, maka sekolah bermutu diukur oleh penghasilan dari produk sekolah dan seberapa besar uang yang disumbangkan sekolah untuk meningkatkan PAD.

 

Jika tiba di tingkat itu, segeralah berjaga-jaga karena bencana kemiskinan, kebodohan, dan kemerosotan karakter sudah di depan mata. Jika masih belum percaya, perhatikan baik hasil literasi dan Test Kompetensi Akademik (TKA) anak-anak NTT. Berada di nomor terakhir secara nasional.

 

Dari OSOP ke OSOL (One School One Literacy)

 

Pak Gubernur NTT, sekali lagi saya bertanya, pendidikan kita mau dibawa ke mana? Saya tidak sedang menolak produktivitas, tetapi mari kita mengubah fondasinya. Dalam konteks ini, produk di sekolah adalah akibat lanjut dari kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan inovasi membaca peluang yang datang dari para guru dan murid.

 

Ekonomi harus tumbuh dari kesadaran dan bukan berada dalam nada “perintah” tetapi diselimuti kata himbauan. Karena sesungguhnya, bahaya laten OSOP di NTT bukan pada programnya, melainkan pada ideologi di baliknya. Pendidikan dipaksa tunduk pada logika pasar dan keluar dari ruang pembebasan.

 

Seyogianya, pendidikan berangkat dari konsistensi menjadi api literasi dan dengan sendirinya akan berdialog dengan ekonomi. Oleh karena itu, ada beberapa butir pikiran yang sekiranya bisa dijadikan bahan pertimbangan atas pertanyaan, pendidikan NTT mau dibawa ke mana?

 

Pertama, jangan jadikan sekolah sebagai “kuda beban” agar PAD NTT meningkat. Jika itu yang terjadi, maka kita telah merusak generasi dengan seluruh imajinasinya dalam logika pasar yang serba instan. Anak-anak bakal tiba pada kesimpulan bahwa sekolah hanya berfungsi untuk mengumpulkan materi. Padahal sekolah membuka wawasan berpikir. Tempat yang tepat bagi generasi muda untuk merawat imajinasi, harapan, rasa diterima dan dihargai.

 

Ideologi pasar di balik program OSOP seakan menyederhanakan sebuah proses dan nilai diri para guru. OSOP meningkatkan motivasi para sekolah untuk berkarya dengan cepat dan berjuang keras menghadirkan gubernur di sekolah. Motivasi sering memaksa seseorang menjadi ideal dan sempurna. Jika saatnya gubernur berhalangan hadir ke sekolah, maka motivasi itu langsung runtuh. Maka, yang tersisa adalah warga sekolah merasa tidak berarti, kecewa dan meruntuhkan nilai juang. 

 

Kedua, kematangan berpikir selalu datang dalam satu iklim pendidikan yang membebaskan. Warga sekolah harus diberi ruang dan peluang untuk menumbuhkan diri secara perlahan sesuai dengan masa perkembangannya. Para guru dan murid hendaknya sama-sama diberdaya sebagai sebuah ekosistem yang hidup. Biarkan mereka berproses tanpa sebuah intervensi program yang kesannya “dipaksakan”.

 

Karenanya, produk yang tepat untuk ditagih adalah prodak gagasan yang lahir dari konsistensi. Konsistensi menerima keterbatasan. Boleh lambat, boleh lelah asal jangan berhenti. Produk gagasan, semisal dalam bentuk buku karya guru atau murid, datang dari sikap konsistensi untuk terus membaca dan berlatih menuangkan pikiran dalam gagasan.

 

Warga sekolah diajak untuk menghidupkan mading sekolah, membaca satu sampai dua jam sehari, menghasilkan majalah sekolah, pojok baca dan sebagainya. Dari proses yang konsisten ini, mereka bakal mengerti mengapa di sekolahnya harus menanam cabai dan bukan membuat ikan abon. Ia mampu menjembatan konteks, peluang pasar dan memasarkannya secara kreatif.

 

Ketiga, dalam hal tertentu, OSOP mungkin sedikit lebih dekat SMK karena karakternya sebagai sekolah vokasi di mana produk yang dihasilkan sejalan dengan ilmu yang diterima. Namun, sekali lagi, logika pasar yang ideal dan menuntut sempurna bakal meruntuhkan rasa percaya diri para guru dan murid SMK yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana di sekolahnya.

 

Mereka akan di-bully oleh masyarakat dan sekolah lain karena tidak mampu memamerkan hasil karya secara maksimal. Pada titik ini, kita sedang menciptakan luka dan ketidakadilan permanen. Dunia sekarang dituntut untuk berkolaborasi dan bukan kompetisi. OSOP cenderung pada logika pasar yang harus berkompetisi.

 

Keempat, OSOP yang dilatenkan bakal memutuskan mata rantai pertumbuhan berpikir dan alur pendidikan secara nasional dan global. Para guru dan kepala sekolah menuntut anak untuk segera berbunga dan berbuah dalam waktu tiga tahun semasa SMA/SMK. Akan tiba pada kondisi prematur berpikir, logika hasil, bermental instan, dan mengabaikan inti terdalam dari pendidikan yakni berproses. Jika kemudian saatnya anak NTT beralih langkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, apakah keahlian “instan” yang didapatnya saat SMA bisa dijadikan bekal untuk diterima di sekolah kedinasan dan perguruan tinggi Negeri.

 

Epilog

 

Saya menulis ini dari ketenangan pikiran sebagai salah satu pejalan sunyi literasi di NTT. Tidak ingin terperangkap dalam sikap reaktif atau euforia berlebihan atas keterbatasan sekaligus potensi yang dimiliki NTT. Pendidikan harus kembali pada jalannya. Memanusiakan manusia. Butuh waktu, dukungan dan sikap konsistensi agar bisa menghadirkan pribadi yang matang. Kultur pendidikan harus didesain dalam satu proses dan cara yang rasional dan profesional.

 

Dalam konteks ini, para kepala sekolah, guru, dan murid harus didukung dengan satu logika berpikir yang bersifat berkelanjutan sejak dalam kandungan hingga saatnya terjung ke dunia kerja. 

 

Sekali lagi, saya tidak sedang meremehkan Program OSOP, tetapi berjuang membongkar ideologi di baliknya. NTT harus dibangun dengan pikiran, bukan dengan sikap reaktif, spontan, dan terkesan “tidak matang”.

 

OSOP membawa logika pasar terlalu dini ke ruang sekolah. Nilai kepala sekolah, guru, dan murid diukur dari produk, bahkan keberhasilan belajar direduksi menjadi laku atau tidak laku. Akibatnya, murid belajar berhitung untung-rugi, bukan berpikir kritis. Sekolah berubah menjadi inkubator UMKM mini, bukan ruang refleksi untuk menata pikiran agar bertumbuh secara bertahap dan konsisten.

 

Dalam konteks NTT, yang masih menghadapi dehidrasi literasi dasar (membaca dan menulis), OSOP bakal mendukung untuk melemahkan daya kritis dan nilai konsistensi bergeser menjadi sekadar motivasi. 

 

Hujan dan angin di ini NTT selalu meminta untuk waspada. Berpikir lebih matang untuk meminimalisir bencana jangka panjang. NTT harus bangkit situasi yang “tidak baik-baik” dengan lebih tenang, terukur, dan profesional. Oleh karena itu, kita harus berani beralih dari sikap reaktif ke sikap responsif.

 

Dalam konteks ini,sikap responsif membuka ruang dialog, pemulihan, dan pertumbuhan. Kita tidak lagi sekadar bereaksi terhadap rendahnya PAD NTT, tetapi ikut membentuknya dalam program yang berkesadaran. Mari bersama membangun NTT secara sadar, rasional, dan konsisten. (MDj/red)

 


Post a Comment

0 Comments