Oleh:
Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom.
(Direktur
Rumah Literasi Cakrawala NTT)
Prolog
Hujan dan angin hadir bersamaan.
Layaknya sahabat sejati berasa saudara kembar. Pihak BMKG meminta warga untuk
selalu waspada. Bencana datang seperti halilintar. Hancur berantakan dalam
sekejab. Rasa duka mendalam untuk keluarga di Kampaung Pau, Desa Goreng Meni,
Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, yang menjadi korban tanah
lonsong. Rumah hancur dan nyawa melayang.
NTT pada awal tahun ini, sedang tidak
baik-baik saja. Saya tetap meyakinkan diri bahwa di ujung malam yang gelap
mencekam, selau ada sang fajar yang menaburkan rasa optimis dan bahagia.
Di tengah hujan dan angin begini, para
kepala sekolah dan bendahara SMA/SMK/SLB diminta hadir dalam satu kegiatan yang
terasa penting. Rekonsialiasi dana BOSP Tahun Anggaran 2025. Tujuannya tunggal
dan mulia. Para kepala sekolah dan bendahara BOSP didampingi agar mampu
mengelola dan mempertanggungjawabkan
penggunaan dana BOSP.
Dana itu tersebut adalah uang rakyat
yang dikembalikan ke sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Jika tidak
mampu menggunakannya sesuai juknis, maka “bencana” pasti datang. Menusuk lebih
dalam dan menghampus jejak pengabdian puluhan tahun. Tidak enak dipandang jika
bendahara BOSP atau kepala sekolah menggunakan rompi orange dengan tangan
terborgol. Apa kata dunia.
Mendekteksi “Kegalauan” Para Kepala
Sekolah
Sebagai pejalan sunyi di jalan literasi
NTT selama hampir tiga belas tahun, kami adalah yang paling setia menangkap
(mendeteksi) senyum, tawa, dan getaran hati para guru dan kepala sekolah. Sudah
belasan ribu guru dan peserta didik kami “sentuh” dalam satu cara yang tidak
bisa. Membina pikiran dan mendidik jari dalam giat literasi.
Jika kemudian, kami mampu mendeteksi
aura rasa gelisah, galau dan binggung para kepala sekolah, maka itulah
alasannya. Seperti ada hujan dan angin yang membuat mereka berada di
persimpangan jalan. Memanusiakan peserta didik yang sedang bertumbuh atau
“mengamankan” program atasan.
Awalnya, saya berpikir, mereka resah
karena hujan dan angin yang datang dan pergi sesukanya. Ada sekian banyak yang
berstatus pelaksana tugas (plt) kepala sekolah yang menunggu dalam “cemas”.
Kembali menjadi guru biasa atau dilantik menjadi kepala sekolah defenitif.
Sementara yang lain adalah para kepala sekolah yang sudah dua priode bahkan
tiga priode dalam masa kepemimpinan. Apakah berhenti di Januari ini dan
rekonsiliasi BOSP menjadi kenangan terakhir? Semuanya dalam ketidakpastian.
Namun, ada satu hal yang berada jauh di
kedalaman diri. Mereka mendapati diri berada di persimpangan jalan. Program One School One Product (OSOP) yang
diluncurkan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT. Apakah program ini bentuk lain
dari Program Tanam Jagung Panen Sapi pada
masa pemerintahan gubernur sebelumnya? Atau OSOP ini adalah jalan paling cepat
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tengah kebijakan efisiensi? Diberi
makanan bergisi gratis lalu setelahnya mengisi tanah dalam polibek untuk
menanam cabai, terung, dan sebagainya?
Saya mendeteksi aura kegelisahan di
wajah mereka. Duduk tenang dengan secangkir kopi panas adalah cara mengimbangi
situasi ini. Tiba-tiba, seseorang datang mendekat dan berbicara.
“Pak Gusty, saya ini masih berstatus plt
kepala sekolah. Saat ini saya belum bisa berkomentar banyak apalagi berbicara
terkait program sekolah. Saya jalani saja. Sepulang dari sini, saya rapat dengan
para guru untuk mengatur waktu membersihkan lahan di samping gedung sekolah.
Kami mau menanam terung. Banyak yang suka makan terung termasuk para guru dan peserta
didik” ungkapnya.
“Kalau hasilnya banyak, nanti kami coba
tawarkan ke orang tua murid dan masyarakat sekitar. Saya berharap banyak,
sekiranya hasilnya cukup, bisa bantu meningkatkan PAD. Intinya, program pertama
kami adalah tanam terung. Di musim hujan begini, sepertinya bisa tumbuh”
sambungnya.
Saya menatapnya sebentar sebelum
akhirnya ia berlalu. Bendaharanya datang dan memintanya untuk menandatangani sebuah
dokumen. Seorang lagi datang medekat dengan sebatang rokok di tangannya.
Seorang kepala sekolah yang cukup senior dalam usia dan pengalaman. Dalam
beberapa tahun ke depan ia akan masuk masa pensiun.
“Kapan balik?” saya bertannya sekenanya
sambil tersenyum. Ia sedikit kaget dan mengambil posisi duduk di sampingku.
“Aduh, ternyata Pak Gusty. Kami belum
bisa pulang karena kapal belum jalan.
Mungkin tiga hari lagi. Kami tetap di sini, sampai cuaca sudah membaik. Oh
ya, saya sudah dua priode sebagai kepala sekolah. Saya mungkin ke sekolah lain
atau di sekolah yang sama tetapi sebagai guru biasa. Kita nikmati saja,”
responnya.
Saya menangkap keresahan di hatinya. Dia
menyalakan rokok dan dihembuskannya dengan paksa.
“Saya ada tanam cabai di sekolah.
Berharap nanti pak Gubernur bisa datang di sekolah dan kita panen raya. Nanti saya info Pak Gusty untuk
datang liput,” tuturnya.
OSOP: Prematurisasi Logika Pasar
Di hadapan
para kepala SMA/SMK/SLB se-Provinsi NTT, pada 24 Juli 2025 silam, di Aula
Komodo, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menjelaskan inti
konsep One School One Product
(OSOP).
“Ke depan, setiap sekolah harus punya
produk unggulan. Yang jago tata boga, produksi makanan; yang jago pertanian,
hasilkan produk pertanian; yang jago digital, hasilkan aplikasi dan media.
Semua harus berdampak langsung ke masyarakat,” tegasnya.
“NTT Mart
ini akan jadi seperti Alfamart atau Indomaret, tapi isinya produk NTT. Keripik,
minuman lokal, tenun, kosmetik herbal, dan lainnya. Ini jadi wadah promosi
sekaligus alat belajar ekonomi,” ujar Melki – sapaan akrabnya.
OSOP
diyakininya mampu mendorong kemandirian sekolah dengan cara menciptakan
satu produk unggulan khas yang berbasis pada potensi lokal di setiap
sekolah. Program ini bertujuan menjadikan sekolah tidak hanya tempat
belajar secara akademis, tetapi juga motor penggerak ekonomi kreatif dan
kewirausahaan bagi murid dan lingkungan sekitarnya.
Adapun beberapa
poin inti dalam konsep OSOP tersebut. Pertama, pengembangan potensi
lokal di mana sekolah wajib mengidentifikasi dan mengembangkan potensi khas di
wilayahnya, misalnya pertanian, kelautan, atau kerajinan, menjadi produk
bernilai ekonomis tinggi.
Kedua, kemandirian dan kewirausahaan
yang dapat membentuk mental wirausaha murid agar mandiri dan memiliki
keterampilan praktis. Program ini sudah berjalan seperti SMAN 1 Amarasi dengan
produk tomat dan SMK Negeri Bukapiting Alor dengan abon tuna.
Ketiga, menghidupkan kolaborasi dengan melibatkan
dunia usaha dan pemerintah untuk memperkuat ekosistem pendidikan vokasi. Program OSOP ini merupakan bagian dari visi yang
lebih besar, yaitu One Village One
Product (OVOP), yang bertujuan membangun ekonomi NTT dari tingkat desa,
komunitas, dan sekolah.
Saya terdiam. Semenjak dilantik setahun
silam, Gubernur NTT banyak melakukan audiensi dan menghadiri berbagai bentuk
acara seremonial. Saya bangga. NTT butuh pemimpin yang ingin banyak mendengar
dan melihat lebih tajam. Ia banyak mengunjungi sekolah sehingga perlahan
menjadi sahabat para guru, kepala sekolah, dan generasi muda NTT.
Meminta sekolah untuk menanam adalah
bagian dari caranya mendekati generasi muda dengan alam, bertumbuh perlahan
seperti cabai, serta berbuah dari keringat dan air mata. Dari proses menaman,
para guru diajarkan untuk mengoptimal lahan dan melakukan perubahan dari cara
yang paling sederhana dan murah.
Namun, mari kita membedah konsep OSOP
ini secara perlahan. Jika dinilai sepintas, konsep OSOP ini keren dan selaras
dengan kondisi NTT di mana PAD-nya sangat rendah. OSOP adalah jalan alternatif
dan efektif untuk mendongkrak PAD NTT. Selain itu, selaras dengan isu
pengembangan karakter dan jiwa entrepreneurship generasi muda.
Namun, bila dicermati lebih dalam, Program OSOP berpotensi menggeserkan orientasi pendidikan. Pendidikan direduksi
menjadi alat produksi ekonomi. Murid diposisikan sebagai calon produsen dan
bukan subjek belajar yang sedang bertumbuh. Secara filosofis, OSOP bertentangan
dengan hakikat pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia (humanisasi), pembentukan
nalar, etika, dan imajinasi, bukan sekadar pencipta barang.
OSOP membawa logika pasar terlalu dini
ke ruang sekolah. Nilai kepala sekolah, guru, dan murid diukur dari produk, sedangkan
keberhasilan belajar direduksi menjadi laku atau tidak laku. Akibatnya, murid
belajar berhitung untung-rugi, bukan berpikir kritis.
Sekolah berubah menjadi inkubator UMKM
mini, bukan ruang refleksi. Dalam konteks NTT, yang masih menghadapi dehidrasi literasi
dasar (membaca dan menulis), OSOP bakal melemahkan daya kritis dan nilai
konsistensi bergeser menjadi sekadar motivasi.
Selain itu, guru SMA, misalnya, terjebak
peran teknis yang bukan merupakan keahliannya. Dalam OSOP, guru didorong
menjadi trainer produksi, fungsi guru sebagai pendidik kritis dan reflektif
terpinggirkan. Risikonya, kurikulum menjadi teknokratis, serta refleksi
filosofis, literasi mendalam, dan dialog pikiran tersisih. Padahal di NTT, guru
justru dibutuhkan sebagai penjaga api peradaban tentang nilai daya juang,
berpikir kritis dan menghargai proses.
Jika OSOP dijalankan tanpa kritik, sekolah
kehilangan fungsi emansipatoris, murid tumbuh pragmatis, bukan reflektif. Pendidikan
menjauh dari cita-cita pembebasan. Dalam jangka panjang, NTT bisa menghasilkan,
lulusan “rajin produksi”, tetapi miskin daya kritis, daya tafsir, dan daya
cipta makna.
Ada sebuah bencana yang sepertinya
direncanakan. Hujan dan angin perubahan akan tiba dan meluluhlantahkan daya
ingat dan kemampuan berpikir kritis generasi muda NTT. Saat imanjinasi dan
logika pasar merasuki para guru dan kepala sekolah, maka sekolah bermutu diukur
oleh penghasilan dari produk sekolah dan seberapa besar uang yang disumbangkan
sekolah untuk meningkatkan PAD.
Jika tiba di tingkat itu, segeralah
berjaga-jaga karena bencana kemiskinan, kebodohan, dan kemerosotan karakter
sudah di depan mata. Jika masih belum percaya, perhatikan baik hasil literasi
dan Test Kompetensi Akademik (TKA) anak-anak NTT. Berada di nomor terakhir
secara nasional.
Dari OSOP ke OSOL (One School One
Literacy)
Pak Gubernur NTT, sekali lagi saya
bertanya, pendidikan kita mau dibawa ke mana? Saya tidak sedang menolak
produktivitas, tetapi mari kita mengubah fondasinya. Dalam konteks ini, produk
di sekolah adalah akibat lanjut dari kemampuan berpikir kritis, kreativitas,
dan inovasi membaca peluang yang datang dari para guru dan murid.
Ekonomi harus tumbuh dari kesadaran dan
bukan berada dalam nada “perintah” tetapi diselimuti kata himbauan. Karena
sesungguhnya, bahaya laten OSOP di NTT bukan pada programnya, melainkan pada
ideologi di baliknya. Pendidikan dipaksa tunduk pada logika pasar dan keluar
dari ruang pembebasan.
Seyogianya, pendidikan berangkat dari
konsistensi menjadi api literasi dan dengan sendirinya akan berdialog dengan
ekonomi. Oleh karena itu, ada beberapa butir pikiran yang sekiranya bisa
dijadikan bahan pertimbangan atas pertanyaan, pendidikan NTT mau dibawa ke
mana?
Pertama,
jangan jadikan sekolah sebagai “kuda beban” agar PAD NTT meningkat. Jika itu
yang terjadi, maka kita telah merusak generasi dengan seluruh imajinasinya
dalam logika pasar yang serba instan. Anak-anak bakal tiba pada kesimpulan
bahwa sekolah hanya berfungsi untuk mengumpulkan materi. Padahal sekolah
membuka wawasan berpikir. Tempat yang tepat bagi generasi muda untuk merawat
imajinasi, harapan, rasa diterima dan dihargai.
Ideologi pasar di balik program OSOP seakan
menyederhanakan sebuah proses dan nilai diri para guru. OSOP meningkatkan
motivasi para sekolah untuk berkarya dengan cepat dan berjuang keras
menghadirkan gubernur di sekolah. Motivasi sering memaksa seseorang menjadi
ideal dan sempurna. Jika saatnya gubernur berhalangan hadir ke sekolah, maka
motivasi itu langsung runtuh. Maka, yang tersisa adalah warga sekolah merasa
tidak berarti, kecewa dan meruntuhkan nilai juang.
Kedua,
kematangan berpikir selalu datang dalam satu iklim pendidikan yang membebaskan.
Warga sekolah harus diberi ruang dan peluang untuk menumbuhkan diri secara
perlahan sesuai dengan masa perkembangannya. Para guru dan murid hendaknya
sama-sama diberdaya sebagai sebuah ekosistem yang hidup. Biarkan mereka
berproses tanpa sebuah intervensi program yang kesannya “dipaksakan”.
Karenanya, produk yang tepat untuk
ditagih adalah prodak gagasan yang lahir dari konsistensi. Konsistensi menerima
keterbatasan. Boleh lambat, boleh lelah asal jangan berhenti. Produk gagasan,
semisal dalam bentuk buku karya guru atau murid, datang dari sikap konsistensi
untuk terus membaca dan berlatih menuangkan pikiran dalam gagasan.
Warga sekolah diajak untuk menghidupkan
mading sekolah, membaca satu sampai dua jam sehari, menghasilkan majalah
sekolah, pojok baca dan sebagainya. Dari proses yang konsisten ini, mereka
bakal mengerti mengapa di sekolahnya harus menanam cabai dan bukan membuat ikan
abon. Ia mampu menjembatan konteks, peluang pasar dan memasarkannya secara
kreatif.
Ketiga, dalam
hal tertentu, OSOP mungkin sedikit lebih dekat SMK karena karakternya
sebagai sekolah vokasi di mana produk yang dihasilkan sejalan dengan ilmu yang
diterima. Namun, sekali lagi, logika pasar yang ideal dan menuntut sempurna
bakal meruntuhkan rasa percaya diri para guru dan murid SMK yang memiliki
keterbatasan sarana dan prasarana di sekolahnya.
Mereka akan di-bully oleh masyarakat dan sekolah lain karena tidak mampu
memamerkan hasil karya secara maksimal. Pada titik ini, kita sedang menciptakan
luka dan ketidakadilan permanen. Dunia sekarang dituntut untuk berkolaborasi
dan bukan kompetisi. OSOP cenderung pada logika pasar yang harus berkompetisi.
Keempat, OSOP yang dilatenkan bakal
memutuskan mata rantai pertumbuhan berpikir dan alur pendidikan secara nasional
dan global. Para guru dan kepala sekolah menuntut anak untuk segera berbunga
dan berbuah dalam waktu tiga tahun semasa SMA/SMK. Akan tiba pada kondisi
prematur berpikir, logika hasil, bermental instan, dan mengabaikan inti
terdalam dari pendidikan yakni berproses. Jika kemudian saatnya anak NTT
beralih langkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, apakah keahlian
“instan” yang didapatnya saat SMA bisa dijadikan bekal untuk diterima di
sekolah kedinasan dan perguruan tinggi Negeri.
Epilog
Saya
menulis ini dari ketenangan pikiran sebagai salah satu pejalan sunyi literasi
di NTT. Tidak ingin terperangkap dalam sikap reaktif atau euforia berlebihan
atas keterbatasan sekaligus potensi yang dimiliki NTT. Pendidikan harus kembali
pada jalannya. Memanusiakan manusia. Butuh waktu, dukungan dan sikap
konsistensi agar bisa menghadirkan pribadi yang matang. Kultur pendidikan harus
didesain dalam satu proses dan cara yang rasional dan profesional.
Dalam
konteks ini, para kepala sekolah, guru, dan murid harus didukung dengan satu
logika berpikir yang bersifat berkelanjutan sejak dalam kandungan hingga
saatnya terjung ke dunia kerja.
Sekali
lagi, saya tidak sedang meremehkan Program OSOP, tetapi berjuang membongkar
ideologi di baliknya. NTT harus dibangun dengan pikiran, bukan dengan sikap
reaktif, spontan, dan terkesan “tidak matang”.
OSOP
membawa logika pasar terlalu dini ke ruang sekolah. Nilai kepala sekolah, guru,
dan murid diukur dari produk, bahkan keberhasilan belajar direduksi menjadi
laku atau tidak laku. Akibatnya, murid belajar berhitung untung-rugi, bukan
berpikir kritis. Sekolah berubah menjadi inkubator UMKM mini, bukan ruang
refleksi untuk menata pikiran agar bertumbuh secara bertahap dan konsisten.
Dalam
konteks NTT, yang masih menghadapi dehidrasi literasi dasar (membaca dan
menulis), OSOP bakal mendukung untuk melemahkan daya kritis dan nilai
konsistensi bergeser menjadi sekadar motivasi.
Hujan
dan angin di ini NTT selalu meminta untuk waspada. Berpikir lebih matang untuk
meminimalisir bencana jangka panjang. NTT harus bangkit situasi yang “tidak
baik-baik” dengan lebih tenang, terukur, dan profesional. Oleh karena itu, kita
harus berani beralih dari sikap reaktif ke sikap responsif.
Dalam
konteks ini,sikap responsif membuka ruang dialog, pemulihan, dan pertumbuhan.
Kita tidak lagi sekadar bereaksi terhadap rendahnya PAD NTT, tetapi ikut
membentuknya dalam program yang berkesadaran. Mari bersama membangun NTT secara
sadar, rasional, dan konsisten. (MDj/red)





0 Comments