Oleh: Frumensius
Tarman, S.Pd.
(Kepala
SMA Negeri 3 Komodo)
“Mendidik
dengan jujur adalah kebenaran, tetapi mengapa kejujuran itu terasa begitu
menakutkan?”
CAKRAWALANTT.COM - Di balik
niat tulus seorang guru untuk menolak paradigma mante, ada bayang-bayang
besar yang menghantui, yakni stigma. Ketika sebuah sekolah memutuskan untuk
tidak menaikkan kelas murid yang belum kompeten atau tidak meluluskan mereka
yang literasinya masih nol, dunia seolah menghujat. Sekolah tersebut seketika
dicap sebagai “sekolah gagal”, “sekolah buruk”, atau “guru-gurunya tidak becus
mengajar”.
Lingkaran
Setan: Prestasi Semu vs Kejujuran Pahit
Inilah
tragedi pendidikan kita. Sekolah kini terjepit di antara dua pilihan sulit,
yakni menjadi jujur tapi dihujat atau menjadi baik dalam angka tetapi
membohongi masa depan bangsa. Pemerintah sering kali menjadikan tingkat
kelulusan seratus persen sebagai indikator keberhasilan sebuah daerah.
Orang tua
akan merasa malu luar biasa bila anaknya tidak naik kelas, tanpa mau melihat
realitas kemampuan sang anak. Khawatir anak tidak naik kelas akan menyebabkan
gangguan psikologis, seolah-olah keputusan guru menciptakan gangguan jiwa anak.
Akibatnya,
kepala sekolah dan guru berada dalam tekanan sistemik. Mereka dipaksa melakukan
politik aman dengan memoles nilai dan memaksakan kelulusan. Paradigma mante
akhirnya bukan lagi sekadar pilihan personal guru, melainkan menjadi mekanisme
pertahanan diri sekolah agar terhindar dari label gagal.
Metafora:
Memoles Kulit, Membusukkan Akar
Situasi
ini ibarat kita memiliki sebuah pohon yang akarnya sedang membusuk. Alih-alih
mengobati akarnya, kita justru sibuk mengecat daun-daunnya agar terlihat hijau
di mata tetangga. Kita bangga dengan warna hijau itu (angka kelulusan tinggi), tetapi
kita tahu pasti bahwa pohon itu sedang menunggu waktu untuk tumbang.
Angka
TKA NTT yang berada di titik nadir (33,07) adalah bukti bahwa “cat hijau” itu
telah luntur. Kita tidak bisa lagi bersembunyi di balik persentase kelulusan
yang gemilang sementara anak-anak kita tidak mampu membaca dunia dengan kritis.
Refleksi
Kolektif: Tugas Siapa?
Mengubah
paradigma mante tidak bisa dibebankan di pundak guru sendirian. Ini adalah panggilan
untuk refleksi kolektif. Pertama, bagi Pemerintah. Berhentilah menjadikan
tingkat kelulusan seratus persen sebagai standar tunggal kesuksesan program.
Berikan ruang bagi sekolah untuk jujur tanpa takut kehilangan anggaran atau
reputasi. Validator mutu seharusnya adalah kompetensi nyata, bukan sekadar
administrasi yang rapi.
Kedua, bagi
orang tua dan masyarakat. Jangan jadikan “tidak naik kelas” sebagai aib.
Sejatinya, aib terbesar adalah ketika anak kita memegang ijazah SMA tetapi
tidak mampu memahami isi bacaan sederhana. Berhentilah menekan sekolah untuk
sekadar meluluskan anak tanpa kualitas.
Ketiga, bagi
pendidik. Mari kita bangun keberanian komunal. Jika satu sekolah jujur, ia
mungkin akan dihujat. Namun, bila seluruh sekolah di NTT bersepakat untuk jujur
pada standar kompetensi, maka kita sedang melakukan revolusi martabat.
Penutup:
Martabat di Atas Predikat
Menolak
paradigma mante memang berisiko mengundang stigma. Namun, kita harus
memilih, mau dianggap gagal oleh persepsi manusia hari ini atau benar-benar
gagal di hadapan Tuhan dan sejarah karena telah membiarkan satu generasi NTT
kehilangan masa depannya?
Marwah
pendidikan NTT tidak terletak pada label “Sekolah Unggulan” di papan nama,
melainkan pada kejujuran kita dalam menilai dan kesungguhan kita dalam
mendampingi mereka yang tertinggal. Sudah saatnya kita berhenti menghamba pada
angka dan mulai kembali pada hakikat manusia. (MDj/red)





0 Comments