Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Menolak Paradigma “Mante”, Stigma Menghantui – Bagian Ketiga


Oleh: Frumensius Tarman, S.Pd.

(Kepala SMA Negeri 3 Komodo)



“Mendidik dengan jujur adalah kebenaran, tetapi mengapa kejujuran itu terasa begitu menakutkan?”

 

CAKRAWALANTT.COM - Di balik niat tulus seorang guru untuk menolak paradigma mante, ada bayang-bayang besar yang menghantui, yakni stigma. Ketika sebuah sekolah memutuskan untuk tidak menaikkan kelas murid yang belum kompeten atau tidak meluluskan mereka yang literasinya masih nol, dunia seolah menghujat. Sekolah tersebut seketika dicap sebagai “sekolah gagal”, “sekolah buruk”, atau “guru-gurunya tidak becus mengajar”.

 

Lingkaran Setan: Prestasi Semu vs Kejujuran Pahit

 

​Inilah tragedi pendidikan kita. Sekolah kini terjepit di antara dua pilihan sulit, yakni menjadi jujur tapi dihujat atau menjadi baik dalam angka tetapi membohongi masa depan bangsa. Pemerintah sering kali menjadikan tingkat kelulusan seratus persen sebagai indikator keberhasilan sebuah daerah.

 

Orang tua akan merasa malu luar biasa bila anaknya tidak naik kelas, tanpa mau melihat realitas kemampuan sang anak. Khawatir anak tidak naik kelas akan menyebabkan gangguan psikologis, seolah-olah keputusan guru menciptakan gangguan jiwa anak.

 

Akibatnya, kepala sekolah dan guru berada dalam tekanan sistemik. Mereka dipaksa melakukan politik aman dengan memoles nilai dan memaksakan kelulusan. ​Paradigma mante akhirnya bukan lagi sekadar pilihan personal guru, melainkan menjadi mekanisme pertahanan diri sekolah agar terhindar dari label gagal.

 

Metafora: Memoles Kulit, Membusukkan Akar

 

​Situasi ini ibarat kita memiliki sebuah pohon yang akarnya sedang membusuk. Alih-alih mengobati akarnya, kita justru sibuk mengecat daun-daunnya agar terlihat hijau di mata tetangga. Kita bangga dengan warna hijau itu (angka kelulusan tinggi), tetapi kita tahu pasti bahwa pohon itu sedang menunggu waktu untuk tumbang.

 

​Angka TKA NTT yang berada di titik nadir (33,07) adalah bukti bahwa “cat hijau” itu telah luntur. Kita tidak bisa lagi bersembunyi di balik persentase kelulusan yang gemilang sementara anak-anak kita tidak mampu membaca dunia dengan kritis.

 

Refleksi Kolektif: Tugas Siapa?

 

​Mengubah paradigma mante tidak bisa dibebankan di pundak guru sendirian. Ini adalah panggilan untuk refleksi kolektif. Pertama, bagi Pemerintah. Berhentilah menjadikan tingkat kelulusan seratus persen sebagai standar tunggal kesuksesan program. Berikan ruang bagi sekolah untuk jujur tanpa takut kehilangan anggaran atau reputasi. Validator mutu seharusnya adalah kompetensi nyata, bukan sekadar administrasi yang rapi.

 

Kedua, bagi orang tua dan masyarakat. Jangan jadikan “tidak naik kelas” sebagai aib. Sejatinya, aib terbesar adalah ketika anak kita memegang ijazah SMA tetapi tidak mampu memahami isi bacaan sederhana. Berhentilah menekan sekolah untuk sekadar meluluskan anak tanpa kualitas.

 

Ketiga, bagi pendidik. Mari kita bangun keberanian komunal. Jika satu sekolah jujur, ia mungkin akan dihujat. Namun, bila seluruh sekolah di NTT bersepakat untuk jujur pada standar kompetensi, maka kita sedang melakukan revolusi martabat.

 

Penutup: Martabat di Atas Predikat

 

​Menolak paradigma mante memang berisiko mengundang stigma. Namun, kita harus memilih, mau dianggap gagal oleh persepsi manusia hari ini atau benar-benar gagal di hadapan Tuhan dan sejarah karena telah membiarkan satu generasi NTT kehilangan masa depannya?

 

Marwah pendidikan NTT tidak terletak pada label “Sekolah Unggulan” di papan nama, melainkan pada kejujuran kita dalam menilai dan kesungguhan kita dalam mendampingi mereka yang tertinggal. Sudah saatnya kita berhenti menghamba pada angka dan mulai kembali pada hakikat manusia. (MDj/red)


Post a Comment

0 Comments