Oleh: Frumensius
Tarman, S.Pd.
(Kepala
SMA Negeri 3 Komodo)
CAKRAWALANTT.COM - Hasil Tes
Kompetensi Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK secara nasional menempatkan NTT
sebagai juara satu dari terakhir atau posisi paling butut. Benar, NTT terendah
untuk seluruh provinsi dengan rata-rata nilai hanya 33,07. Rinciannya memilukan,
yakni nilai TKA Bahasa Indonesia 47,78, Matematika 31,73, dan Bahasa Inggris
menyentuh angka 19,17. Perlu kita ingat, TKA bukan sekadar angka, ia adalah
validator mutu sekolah dan cermin kejujuran akademik kita.
Filosofi
“Mante”: Racun dalam Gula-Gula Kasihan
Dalam
kedalaman bahasa Manggarai, khususnya dialek Kempo, kita mengenal kata Mante.
Secara harafiah, ia berarti "mungkin" atau "masa tidak".
Ini adalah kata yang lahir dari keramahtamahan dan optimisme. Namun, ketika mante
dibawa masuk ke dalam ruang kelas dan meja rapat kenaikan kelas, ia berubah
wujud menjadi sebuah pemakluman yang mematikan.
Paradigma
mante adalah sebuah bisikan kompromi. Ketika seorang guru mendapati muridnya
belum mampu menguasai kompetensi dasar, muncul kalimat, “Ah, mante. Mungkin
nanti di kelas dua dia berubah.” Atau, “Mante
di kelas tiga, mante di SMP,
biarkan dia lulus, siapa tahu di sekolah lanjutan dia akan sadar.” Kita
sering mengira sedang memberikan kesempatan kedua, padahal sejatinya kita
sedang menciptakan vonis kegagalan yang tertunda.
Tragedi
Literasi di Bangku SMA
Dampak
dari budaya mante ini adalah lahirnya
fenomena murid formalitas. Kita mendapati kenyataan pahit di lapangan, di mana
anak-anak SMA yang secara administratif sudah berada di puncak pendidikan
menengah, tetapi secara substansi masih tertatih-tatih dalam literasi dasar.
Membaca belum lancar, menulis belum terstruktur, dan menghitung (numerasi)
masih menjadi momok yang asing.
Bagaimana
mungkin kita mengharapkan mereka mampu mengerjakan soal TKA yang penuh dengan
analisis kritis (Higher Order Thinking Skills), sementara fondasi
dasarnya saja belum diletakkan dengan benar?
Nilai
19,17 pada Bahasa Inggris atau 31,73 pada Matematika bukanlah kesalahan murid semata.
Itu adalah akumulasi dari sikap mante
yang kita tanamkan sejak mereka duduk di bangku SD. Kita membiarkan mereka naik
kelas tanpa bekal, ibarat melepas prajurit ke medan perang tanpa senjata, lalu
kita terkejut ketika mereka kalah telak.
Mengembalikan
Marwah: Didik dengan Ketegasan Cinta
Mendidik
dengan serius berarti berani jujur pada realitas. Mengatakan “tidak naik kelas”
atau “tidak lulus” kepada murid yang memang belum berkompeten bukanlah sebuah
kekejaman. Sebaliknya, itu adalah bentuk cinta yang paling murni. Kita menahan
mereka sejenak agar mereka tidak hancur selamanya di masa depan.
Guru di
tingkat SD, SMP, hingga SMA harus berani memutus rantai mante ini. Kita
perlu menyadari bahwa kenaikan kelas bukan hadiah, melainkan bukti pencapaian. Rasa
kasihan yang salah tempat adalah pengkhianatan terhadap profesi guru. Standar
akademik adalah harga diri pendidikan NTT yang harus kita pulihkan bersama.
Penutup:
Saatnya Berhenti Berasumsi
Jika
kita terus memelihara paradigma mante, maka selamanya NTT akan menjadi
penghuni tetap urutan buncit nasional. Mari kita ganti “Mante, mungkin nanti dia berubah” menjadi “Sekarang, saya pastikan
dia bisa.”
Marwah
pendidikan NTT ada di tangan guru. Jangan biarkan anak-anak kita terbang dengan
sayap yang patah. Mari kita didik mereka dengan sungguh-sungguh agar angka
33,07 itu hanyalah kenangan pahit yang takkan pernah terulang lagi. (MDj/red)





0 Comments