Kupang, CAKRAWALANTT.COM - Hilirisasi hasil penelitian di perguruan
tinggi memegang peranan vital dalam mendorong kemajuan iptek sekaligus meningkatkan
daya saing bangsa. Selama ini, banyak hasil riset dari para peneliti di
universitas yang hanya berhenti pada tahap publikasi ilmiah tanpa pernah
mencapai masyarakat luas atau diadopsi oleh dunia industri. Padahal, penelitian
yang tidak dihilirisasi akan kehilangan potensi manfaat ekonomis dan sosial
yang besar.
Dengan proses hilirisasi, hasil-hasil
riset tersebut dapat dikembangkan menjadi produk, teknologi, atau solusi yang
aplikatif dan dapat digunakan secara langsung dalam kehidupan nyata. Ini juga
menjadi cara untuk memastikan bahwa investasi negara dalam riset dan
pengembangan (R&D) melalui perguruan tinggi benar-benar memberikan dampak
nyata dan berkelanjutan bagi pembangunan nasional.
Untuk mewujudkan hilirisasi yang
efektif, kolaborasi antara dunia pendidikan—terutama universitas dan para
penelitinya—dengan industri menjadi sangat penting. Industri memiliki
pengalaman dan sumber daya dalam hal produksi massal, pemasaran, serta
pengembangan bisnis, sementara universitas memiliki kekuatan dalam hal inovasi
dan penguasaan teknologi.
Kolaborasi ini memungkinkan hasil riset
yang semula bersifat teoritis atau eksperimental untuk diinkubasi, diuji coba,
dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Sinergi ini juga membuka ruang bagi
pengembangan riset yang lebih terarah, relevan, dan berbasis kebutuhan nyata
industri dan masyarakat. Oleh karena itu, membangun ekosistem inovasi yang
menghubungkan universitas dan industri secara erat menjadi langkah strategis
untuk menjadikan hasil penelitian sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi
berbasis pengetahuan.
Selama tahun 2024 dan 2025, tim peneliti
dari Universitas Katolik Wdya Mandira (Unwira) Kupang, Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim (UIN) Malang, Universitas Kadiri (UNIK) dan Universitas
Hang Tuah (UHT) Surabaya, telah berkolaborasi dengan perusahaan farmasi PT.
Agaricus Sido Makmur Sentosa (Asimas) Malang untuk mengembangkan obat herbal
afrodisiak yang diberi nama “Uva Max”.
Obat herbal ini dikembangkan dari
ekstrak kulit batang tumbuhan Uvaria rufa
yang secara tradisional diyakini memiliki khasiat sebagai afrodisiak untuk
laki-laki dewasa. Di Timor (NTT), tumbuhan ini dikenal dengan nama Koknaba
(bahasa Dawan), Koke (bahasa Tetun), dan Lelak (bahasa Indonesia dialek
Kupang).
Tim penelitian ini diketuai oleh Dr.
Maximus M. Taek (UNWIRA), dan beranggotakan Dr. apt. Burhan Ma’arif dan apt.
Novia Maulina, M.Si. (UIN Malang), Dr. apt. Dian Nurmawati (UNIK Kediri), Faisal
Akhmal Muslikh, M. Farm (UHT Surabaya), dan Erly Grizca Boelan, M.Si. (UNWIRA).
Penelitian untuk mengembangkan obat
herbal afrodisiak ini didukung dengan dana yang berasal dari Direktorat
Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) Kementrian Pendidikan
Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), melalui Program Bantuan Biaya
Luaran Prototipe (2024) dan Program Hilirisasi Riset-Pengujian Model dan
Prototipe (2025).
Keterangan: Tumbuhan
Uvaria rufa (gambar pertama) dan produk obat herbal
afrodisiak “Uva Max” (gambar kedua).
Pada tahun 2024, tim peneliti telah
melakukan uji potensi afrodosiak dari ekstrak kulit batang tumbuhan Uvaria rufa, dilanjutkan dengan uji
toksisitas dari ekstrak tersebut. Hasil pengujian menunjukkan potensi
afrodisiak yang kuat, dengan derajat toksisitas yang rendah, sehingga dianggap
prospektif untuk dikembangkan sebagai kandidat obat. Ekstrak tersebut kemudian
diformulasikan menjadi prototipe obat herbal dalam bentuk kapsul.
Pada tahun 2025 ini, prototipe obat yang
sudah dihasilkan tersebut diuji lebih lanjut pada hewan yaitu mencit. Hasil
pengujian beberapa parameter yang berhubungan dengan libido dan potensi seksual
hewan uji cukup menjanjikan. Saat ini tim peneliti juga sedang melakukan
penelitian untuk menjajagi minat calon konsumen dan potensi pasar untuk obat
herbal afrodisiak “Uva Max” tersebut. Penelitian tentang minat calon pembeli
dan potensi pasar untuk obat herbal ini telah dilakukan pada bulan September
2025 di Malang - Jawa Timur, dan akan dilakukan juga di Kupang – NTT.
Doktor Maximus bersama tim penelitiannya
berkomitmen untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap obat herbal “Uva
Max” yang sudah dihasilkan ini, termasuk melakukan uji klinis, agar produk ini
dapat diterima secara luas oleh masyarakat dan mendapatkan izin edar dari pihak
berwenang. Doktor Maximus mengajak semua pihak untuk mendukung upaya hilirisasi
penelitian ini, sehingga hasil yang diperoleh dapat bermanfaat bagi masyarakat
luas. Dengan pendekatan yang berbasis riset dan inovasi, diharapkan akan lahir
lebih banyak produk kesehatan yang berkelanjutan dan berdaya guna.
Penulis: Beatrix Y. Manehat
Editor: Yosefa Saru





0 Comments