TTS, CAKRAWALANTT.COM - Aula Sekolah Menengah Teologia Kristen Negeri Timor Tengah Selatan (SMTK Negeri TTS) Soe, Jumat (17/4/2026), terasa hangat ketika guru dan siswa duduk bersama dalam Workshop Dialog Lintas Agama. Kegiatan ini digagas Program Studi Kepemimpinan Kristen IAKN Kupang sebagai bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dan implementasi Asta Protas Kementerian Agama Berdampak.
Workshop menghasilkan kebulatan tekad: guru dan siswa menjadi agen perdamaian, menempatkan SMTK Negeri TTS Soe sebagai garda terdepan dalam membangun harmoni sosial. Inilah wujud nyata PKM yang berdampak.
Pencapaian ini sesuai ekspektasi sebagaimana disampaikan Ketua Tim, Melti M. Fomeni. PkM berhasil mengajak guru dan siswa berdiskusi, berbagi pengalaman, serta memperkuat pemahaman bersama tentang pentingnya toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
“Kerukunan bukan sekadar wacana, tetapi sikap dan tindakan nyata yang harus tumbuh di sekolah maupun masyarakat,” ujarnya.
Ruang Perjumpaan Lintas Iman
Dialog menghadirkan perspektif dari berbagai agama. Soleman Baun memberikan perspektif Kristen. Ia menekankan panggilan umat Kristen sebagai orang percaya untuk berdialog dan mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan. Untuk itu ia menawarkan model-model dialog yang bisa dikembangkan di sekolah.
Dari perspektif Katolik, Yakobus Beda Kleden mengingatkan bahwa kerukunan sejati hanya bisa lahir dari kasih persaudaraan yang menerima kepelbagaian hidup sebagai sebuah keniscayaan, sebagaimana tertuang dalam Nostra Aetate dan Fratelli Tutti.
Perspektif Islam diberikan Hj. Hasunah dari Kemenag TTS. Ia menjelaskan moderasi beragama sebagai wujud Islam rahmatan lil ‘alamin, menekankan persahabatan tanpa mencampuradukkan ibadah.
Indahnya toleransi tampak dalam perjumpaan lintas iman: persahabatan tetap hangat, iman tetap terjaga. Semangat ini ditegaskan sebagai panggilan iman sekaligus komitmen nyata untuk merawat kerukunan di tengah masyarakat plural. Agama diarahkan untuk mendukung tujuan negara tanpa harus mengesampingkan prinsip-prinsip iman itu sendiri.
Menjawab Tantangan Zaman
Diskusi menyentuh isu krusial seperti penyebaran intoleransi melalui media sosial. Dengan keprihatinan mendalam, para peserta menyoroti bagaimana meme atau candaan yang merendahkan kelompok tertentu bisa terasa normal, padahal berbahaya. Forum menekankan pentingnya literasi digital dan narasi positif lintas iman untuk menangkal efek buruk kondisi rawan ini.
Peserta juga mengungkap keprihatinan atas mimbar agama yang kadang digunakan untuk memprovokasi umat. Forum menekankan perlunya kode etik bersama bagi pemuka agama agar mimbar menjadi sarana membangun kedamaian.
Tekad Bersama
Puncak kegiatan ditandai dengan kesadaran bersama bahwa toleransi berarti menerima kepelbagaian sebagai keniscayaan hidup.
Di akhir kegiatan, para guru dan siswa menyatakan tekad untuk mengakui, memelihara, dan memajukan nilai-nilai kerukunan. Kata kuncinya: mengakui, memelihara, dan memajukan.
Mengakui berarti menerima kemajemukan sebagai karunia Allah, memelihara kebaikan lintas iman agar tidak hilang oleh prasangka, dan memajukan kerja sama konkret demi masyarakat yang damai dan berbelas kasih.
Kepala SMTK Negeri TTS Soe, Sulimerd Luik, menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini. Menurutnya, tema yang diangkat relevan dengan kebutuhan masyarakat plural di TTS.
“Workshop ini sejalan dengan semangat SMTK Negeri TTS membentuk generasi yang berkarakter, toleran, dan berdampak. Saya mendukung penuh tekad guru dan siswa SMTK menjadi agen perdamaian, menolak intoleransi, meredam provokasi, serta menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bersama,” ujarnya.
Menuju Indonesia Emas 2045
NKRI berdiri kokoh karena setiap umat beragama memilih jalan persaudaraan, bukan pertentangan. Kerukunan adalah jantung persatuan, dan persatuan adalah napas NKRI. Dengan semangat itu, kegiatan PKM Prodi Kepemimpinan Kristen IAKN Kupang melahirkan tekad bersama guru dan siswa untuk menjaga harmoni sebagai bagian dari panggilan iman sekaligus tanggung jawab kebangsaan.
Komitmen ini sejalan dengan implementasi Asta Protas Kementerian Agama Berdampak, menjadikan dunia pendidikan sebagai teladan dalam merawat kerukunan umat beragama demi terwujudnya masyarakat rukun dan sejahtera menuju Indonesia Emas 2045. (jbkleden/Kemenag)





0 Comments