Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Dua Dosen Unimor Lolos Hibah Hilirisasi, Suara Lirih Desa Hadapi Stunting

Dr. AP. Aplonia Pala, S.Sos., M.AP. (kiri) dan Dr. Emanuel Be, S.E., M.Si. (kanan). (Foto: Arsip pribadi) 


TTU, CAKRAWALANTT.COM - Di tengah derasnya arus pembangunan yang kerap digerakkan dari pusat, suara desa di perbatasan menemukan jalannya melalui kiprah dua dosen Universitas Timor (Unimor), Dr. Emanuel Be dan Dr. Aplonia Pala. Pada 9 September 2025, keduanya diumumkan sebagai penerima Hiliriset Skema Inovasi Sosial oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Pengumuman Penerima Dana Program Hilirisasi Riset Prioritas Tahun Anggaran 2025 yang ditandatangani Direktur Hilirisasi dan Kemitraan, Yos Sunitiyoso, di bawah naungan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.

 

Emanuel memilih Desa Usapinonot sebagai lokus riset, sementara Aplonia berfokus di Desa Oesena. Tak sekadar berhenti pada metodologi, langkah keduanya menjadi ikhtiar meruntuhkan jarak epistemik antara universitas dan masyarakat adat, dengan mempertemukan logos atau nalar ilmiah kampus, ethos budaya yang diwariskan, serta pathos yang mengikat kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi ini berjalan seiring dengan Keputusan Bupati TTU Nomor 258/KEP/HK/VII/2025 tentang Pedoman Penanggulangan Stunting Terintegrasi Tingkat Desa Berbasis Kearifan Lokal, yang juga merupakan luaran dari Program Matching Fund 2023 yang dipimpin Aplonia.

 

Data menunjukkan, prevalensi stunting di NTT masih mengkhawatirkan: 37,9 persen pada 2024, jauh di atas target nasional 20 persen. Di Kabupaten TTU, angkanya bahkan mencapai 47,2 persen, sementara di Kecamatan Insana Barat, tempat Desa Usapinonot berada, tercatat 28,4 persen. Salah satu penyebab utama adalah rendahnya asupan protein hewani pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menyadari kenyataan ini, Emanuel merancang riset produksi telur Omega-3 yang dikelola melalui BUMDes. Pemerintah desa telah menunjukkan komitmen mendukung usaha peternakan, tetapi survei awal mengungkap kelemahan kelembagaan BUMDes dalam manajemen keuangan dan perencanaan. Karena itu, riset ini dirancang untuk tujuan menghasilkan telur, memperkuat BUMDes sebagai agen gizi sekaligus penggerak ekonomi desa, dengan dukungan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten TTU.

 

Lebih jauh, Emanuel memproyeksikan usaha telur Omega-3 ini dapat diperluas melalui jejaring Koperasi Merah Putih, Program Makan Bergizi Gratis, dan program Pemberian Makanan Tambahan sehingga produk lokal desa tak hanya menjawab kebutuhan gizi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di desa serta memperkuat ekonomi kerakyatan.

 

Namun, angka dan data hanyalah satu sisi cerita. Lain tempat, lain kisah. Di Desa Oesena, 25 persen anak masih stunting pada Mei 2025, meningkat dibanding bulan sebelumnya. Persoalannya bukan karena kurangnya program, melainkan karena intervensi kerap tak menyentuh akar kultural. Pemali atau pantangan makanan membatasi perempuan dan anak-anak untuk mengonsumsi gizi penting seperti telur, ikan, dan ayam. Perempuan bahkan harus mematuhi dua lapis pantangan, dari marga asal dan dari marga suami, sehingga suara mereka tenggelam di bawah aturan yang diwariskan.

 

Aplonia membaca ulang kenyataan ini dengan mereproduksi narasi ritual pembebasan pemali (Ta’sae Nuni), menempatkannya dalam tafsir baru agar relevan dengan penanganan stunting. Ritual yang dihidupkan kembali ini tidak berhenti pada repetisi, melainkan merupakan penafsiran berlapis yang memungkinkan terjadinya fusi horizon antara tradisi adat dan kebutuhan kesehatan anak masa kini. Transformasi itu ia wujudkan melalui pembentukan Forum Atoin Amaf, sebuah ruang deliberatif yang melibatkan tokoh adat dan masyarakat untuk bersama-sama membebaskan pantangan makanan demi generasi baru yang lebih sehat. Di sini, warga bukan lagi objek intervensi, melainkan subjek yang menentukan jalan keluar sendiri. Intervensi ini dijalankan dalam kolaborasi erat dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) TTU dan Pemerintah Desa Oesena, memastikan ritus adat mendapat ruang yang sah dalam desain kebijakan publik.

 

Menariknya, langkah ini sejalan dengan pernyataan Bupati TTU, Falentinus Kebo, dalam pemberitaan Suara NTT yang menegaskan perlunya mengumpulkan tua adat untuk melakukan ritual pembebasan pemali sebagai bagian dari strategi penanganan stunting. Intervensi berbasis budaya ini menunjukkan bahwa adat tidak lagi dipandang sebagai “penghalang”, melainkan sebagai kunci untuk membebaskan generasi baru dari belenggu gizi buruk.

 

Kolaborasi riset ini juga diperkuat oleh dukungan akademisi dari Universitas Brawijaya. Emanuel bekerja bersama Prof. Muhammad Halim Natsir, pakar peternakan, dan Dr. Panji Deoranto, ahli teknologi pangan, sementara Aplonia bermitra dengan Dr. Hipolitus Kristoforus Kewuel dan Dr. Hamamah, pakar antropologi budaya. Kehadiran mereka memperluas jembatan antara laboratorium dan ladang, antara bahasa sains dan bahasa adat.

 

“Program hibah ini bukan hanya penghargaan terhadap riset kami, tetapi juga tantangan untuk membuktikan bahwa ilmu dapat menjadi solusi konkret bagi masalah gizi di TTU,” kata Emanuel. Aplonia menambahkan, “Forum Atoin Amaf memberi ruang dialog yang menghargai budaya, sehingga intervensi kesehatan bisa diterima dan dijalankan bersama.”

 

Inisiatif dua dosen Unimor ini tidak hanya menjawab persoalan lokal, tetapi juga berkontribusi pada capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) seperti menghapus kelaparan, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan, mendorong kesetaraan gender, menciptakan pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi desa, dan memperkuat kemitraan. Upaya ini juga sejalan dengan Astacita Presiden Prabowo yang menekankan pembangunan dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi, memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui peningkatan gizi dan kesehatan, serta melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk memperkuat produktivitas rakyat. Dengan pendekatan yang membumi, riset Emanuel dan Aplonia menunjukkan bahwa agenda global maupun nasional dapat dijalankan tanpa harus meninggalkan akar budaya dan konteks lokal.

 

Dari desa-desa di perbatasan, suara yang lama terpinggirkan kini muncul dengan cara yang khas: lewat adat yang diwariskan, ritus yang mempersatukan, dan inovasi sederhana yang lahir dari telur OMEGA-3. Inilah cara desa menulis ulang arah pembangunan, bukan dengan bahasa teknokratis yang asing, melainkan dengan aksara kehidupan sehari-hari yang kontekstual, partisipatif, dan berakar kuat pada bumi tempat mereka berpijak. Suara itu mungkin lirih, tetapi justru di situlah letak kekuatannya: lahir dari pengalaman nyata, berdenyut bersama nadi masyarakat, dan menunjukkan bahwa perubahan besar bisa bermula dari desa di garis perbatasan. (MDj/red)


Post a Comment

0 Comments