Oleh:
Devison Armando Ittu, M.Th.
(Kepala
SD GMIT Bitobe)
“Pendidikan
yang berkualitas dimulai dari guru yang berkualitas.”
CAKRAWALANTT.COM - Salah satu pihak yang berperan sangat
penting dalam pendidikan di sekolah adalah guru. Di semua jenjang pendidikan, guru
memegang peran penting dalam menjalankan kegiatan belajar dan mengajar. Guru
harus menyampaikan materi kepada peserta didik, membentuk karakter peserta
didik, serta bertanggung jawab atas perkembangan peserta didik selama
pembelajaran.
Guru dituntut untuk benar-benar
melakukan persiapan secara matang, sebab ia yang menentukan seberapa besar ilmu
pengetahuan yang akan dibawa pulang oleh anak-anak didiknya. Untuk itu, ia
patut disebut sebagai pemimpin dan penggerak pembelajaran yang turut berperan
dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas.
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya,
guru harus memiliki kompetensi yang mumpuni. Kompetensi tersebut adalah
kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliki seorang guru untuk
melaksanakan tugasnya dengan baik. Menurut Sophian (2016), guru harus mampu menguasai
mata pelajaran dan metode pengajaran, serta memahami dasar-dasar pendidikan.
Pemahaman yang utuh dari seorang guru
mengenai dasar-dasar pendidikan dapat menuntunnya untuk melakukan tugas mulia
tersebut sekaligus membangkitkan semangat belajar anak didik. Kompetensi
seorang guru dapat diukur dari pencapaian akademis, intensitas pelatihan, serta
kegiatan belajar mandiri yang sering dilakukan. Ketiga hal tersebut berpengaruh
besar dalam proses pembelajaran yang dipimpin atau digerakkan oleh seorang
guru.
Sejatinya, seorang guru harus mampu
mengimplementasikan kompetensinya dengan baik dalam kegiatan belajar dan
mengajar di sekolah. Hal ini tentu berdampak bagi perkembangan peserta didik.
Namun, di balik harapan tersebut, ada berbagai persoalan yang kerap menerpa
sosok guru sebagai pemimpin dan penggerak pembelajaran. Pada tahun 2024,
Sekolah Dasar (SD) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Bitobe, Kabupaten
Kupang, mengalami kemunduran yang sangat serius.
Tenaga guru yang tersedia hanya
berjumlah empat orang dan secara bergiliran berbagi tugas untuk menangani enam
kelas. Mereka harus menangani lima puluh tiga peserta didik. Di tengah kondisi
tersebut, para guru juga belum mengimplementasikan kompetensinya dengan baik
dalam kegiatan belajar dan mengajar.
Setiap hari, guru-guru mengajar tanpa
persiapan dengan hanya bermodalkan buku mata pelajaran yang telah diadakan
setiap tahun menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Materi
pelajaran hanya dibaca tanpa penjelasan yang mendalam sehingga para peserta
didik kesulitan untuk memahami semua mata pelajaran. Selain itu, minimnya
pemahaman tentang pola pendekatan yang berorientasi pada peserta didik turut mempengaruhi
arah pembelajaran. Suasana pembelajaran berjalan monoton dari hari ke hari.
Bahkan, dari keseluruhan peserta didik,
21% bisa membaca dengan lancar, 29% masih lambat membaca, 25% masih mengeja,
dan 25% lainnya masih dalam tahap pengenalan huruf. Sedangkan, dari segi
numerasi, anak-anak masih berada di tahap penjumlahan. Sementara itu, operasi perkalian,
pengurangan, dan pembagian masih membutuhkan perhatian serius.
Persoalan tersebut tentu bersumber dari
diri para guru. Para guru yang bekerja di SD GMIT Bitobe adalah orang lokal
yang dipercayakan tetapi hanya bermodalkan ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA).
Menurut informasi, mereka hanya satu kali mengikuti pelatihan peningkatan
kompetensi. Dengan jenjang pendidikan dan minimnya kegiatan pelatihan, pengetahuan
dan pemahaman mereka tentang metode pembelajaran sangat terbatas, termasuk
tidak memiliki kemampuan dalam mengoperasikan teknologi.
Di sisi lain, mereka juga memiliki
keterbatasan dalam memahami kurikulum pendidikan dan kadang tidak menerapkan
kedisiplinan sebagaimana mestinya. Akibatnya, aktivitas belajar dan mengajar
tidak berjalan secara normal. Bahkan, pada awal tahun 2024, kegiatan belajar
dan mengajar tidak berjalan kurang lebih selama empat bulan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, guru
harus mengembangkan kompetensinya secara optimal. Guru yang kompeten adalah
kunci terwujudnya pendidikan yang berkualitas. Menurut Tihul (2020), guru perlu
memiliki empat kompetensi dasar, yakni pedagogik, kepribadian, profesional, dan
sosial.
Pertama, kompetensi pedagogik meliputi
pemahaman guru terhadap anak didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran,
evaluasi hasil belajar, serta pengembangan anak didik untuk menggali berbagai
potensi yang dimilikinya.
Kedua, kompetensi kepribadian, yaitu sifat-sifat pribadi yang harus
dimiliki guru sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa,
serta dapat menjadi teladan bagi anak didik.
Ketiga, kompetensi profesional, yaitu kemampuan guru dalam menguasai
materi secara menyeluruh dan mendalam agar memungkinkan guru membimbing anak
didik dengan baik.
Keempat, kompetensi sosial, yaitu
kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bersosialisasi secara efektif dalam
interaksinya dengan sesama tenaga pendidik, orangtua/wali, anak didik, dan
orang-orang sekitarnya.
Implementasi kompetensi-kompetensi
tersebut hanya dimungkinkan melalui berbagai tahapan peningkatan kapasitas yang
dilakukan secara bertahap dengan tingkatan/level yang berbeda. Artinya,
kemampuan seorang guru dapat dinilai dari tingkatan pendidikan yang dilalui,
termasuk sejumlah kegiatan pelatihan yang pernah diikuti.
Jika semua peningkatan kapasitas telah
diikuti, maka seorang guru dapat menilai apakah ia mampu sekaligus siap berdiri
di depan anak didik untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Untuk itu,
diperlukan strategi atau terobosan yang tepat guna mendorong peningkatan
kompetensi guru.
Pertama, penguatan kompetensi pedagogik.
Guru-guru di SD GMIT Bitobe didorong untuk melanjutkan pendidikan yang lebih
tinggi apabila berkomitmen untuk tetap menjalankan tugas sebagai guru. Beberapa
peluang dapat diakses di sebagian universitas atau sekolah tinggi yang memakai
metode perkuliahan secara daring.
Metode ini dapat ditempuh bagi guru-guru yang telah mengabdi tanpa harus
meninggalkan tugasnya sebagai pendidik di sekolah. Buktinya, satu orang guru
yang masih berijazah SMA sudah mulai mengikuti perkuliahan secara daring di kampus yang didirikan oleh GMIT,
yakni Institut Pendidikan Soe (IPS).
Kedua, penguatan kompetensi profesional.
Guru-guru diwajibkan melakukan persiapan sebelum memulai pembelajaran.
Persiapan tersebut meliputi pembuatan rencana pembelajaran dengan mempersiapkan
alat-alat pendukung saat menjelaskan semua materi sehingga mudah dipahami oleh
anak didik. Selain itu, setiap guru perlu kreatif menciptakan berbagai kegiatan
tambahan yang dapat mencairkan suasana sesuai mata pelajaran yang diasuh. Salah
satunya dengan menata perpustakaan agar memudahkan setiap guru dalam mengakses
berbagai literatur terkait pembelajaran.
Ketiga, penguatan kompetensi
kepribadian. Pendidik dan tenaga kependidikan menyepakati waktu khusus setiap
minggunya untuk melakukan sharing
bersama tentang berbagai tema yang bersumber dari Alkitab. Kemudian, para guru
melanjutkan hasil sharing tersebut di
masing-masing kelas bersama dengan anak didik sebelum kegiatan belajar dan
mengajar berlangsung. Kegiatan ini perlu dibudayakan, mengingat sekolah
tersebut merupakan sekolah milik Gereja yang harus menampilkan karakteristik
kekristenan. Adapun nilai-nilai yang perlu ditekankan oleh guru kepada anak
didik, yakni kerendahan hati, kejujuran, disiplin, integritas, ketekunan, penuh
kasih, dan sikap rela berkorban.
Keempat, penguatan kompetensi sosial. Guru-guru
diwajibkan untuk menunjukkan sikap ramah terhadap anak dengan tidak melakukan
kekerasan bila seorang anak melakukan kesalahan. Guru diharapkan memanggil anak
tersebut dan memberikan nasihat kepadanya sehingga tidak terkesan mempermalukan
anak di depan umum. Langkah ini bisa membangun hubungan personal yang akrab
antara anak didik dan guru tanpa rasa takut. Sikap ramah dari guru mampu
mendorong anak didik untuk membentuk karakter yang baik dan penuh kasih.
Semua strategi yang diterapkan di atas merupakan
bukti keseriusan dalam meningkatkan mutu sekolah yang dimulai dengan
memperhatikan peningkatan kapasitas guru. Kemudian, sebagai tindakan perubahan
terhadap manajemen yang buruk, pada pertengahan tahun 2024, Sinode GMIT melalui
Yapenkris Sonaf Honis telah melakukan pergantian kepala sekolah.
Langkah awal yang diambil oleh kepala
sekolah yang baru adalah merekrut empat orang guru untuk mengisi kekosongan
yang ada. Syarat utama perekrutan guru baru adalah bergelar Sarjana Pendidikan
(S.Pd). Syarat ini bertujuan untuk menjawabi permasalahan sebelumnya bila
ditinjau dari tingkat pendidikan guru yang rendah. Di sisi lain, terdapat
berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh Sinode GMIT melalui BPP
Pendidikan dan kerja sama dengan berbagai mitra sebagai peluang penguatan kompetensi
guru.
Setelah menerapkan strategi-strategi
penguatan kompetensi guru tersebut, terdapat perubahan yang cukup positif di SD
GMIT Bitobe. Pertama, kegiatan belajar dan mengajar sudah berjalan dengan baik.
Kedua, guru-guru kelas satu hingga kelas enam sudah lengkap.
Ketiga, guru-guru mulai melakukan persiapan sebelum melakukan pembelajaran.
Keempat, guru-guru mulai menerapkan pola pendekatan khusus bagi anak didik
yang lambat dalam mengikuti pembelajaran.
Kelima, guru selalu bekerja sama dengan anak didik dalam mempersiapkan
ruang kelas setiap harinya sebelum pembelajaran berlangsung.
Keenam, guru secara perlahan dapat mengontrol suasana kelas walaupun
terdapat berbagai karakter anak didik.
Ketujuh, kegiatan belajar membaca dan numerasi mulai ditingkatkan, baik itu
di kelas maupun secara mandiri.
Selain beberapa hal tersebut, secara
rutin, kepala sekolah dan para guru melakukan evaluasi, baik secara internal maupun
dengan pelibatan orang tua, guna mengetahui perkembangan anak didik dan sekolah.
Akhirnya, dalam rangka menjawabi semua
tantangan pembelajaran di sekolah dengan berbagai karakter dan tingkat
kesulitan yang dihadapi, setiap guru perlu berinovasi dan terus mengembangkan
diri. Selama dalam diri seseorang masih melekat profesi sebagai guru, maka
tidak ada kata berhenti dan terlambat untuk belajar, sehingga
kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru dapat terwujud. Jika semua
ini diperhatikan secara serius, maka perlahan-lahan mutu sekolah semakin
meningkat dari waktu ke waktu. (red)


.jpg)


0 Comments