Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Fantasi Melalui Pemutaran Film Fiksi

 


Oleh : Elisabeth Keraf, S.Pd.

(Guru SMP Negeri 1 Alok Timur)



CAKRAWALANTT.COM - Dalam kehidupan sehari-hari, aspek pendidikan sering menjadi prioritas yang harus dipenuhi oleh semua kalangan masyarakat. Pendidikan dipandang sebagai salah satu cara untuk memberantas kebodohan, sehingga harus dilakukan secara terus menerus. Dengan pendidikan yang layak dan baik, Sumber Daya Manusia (SDM) dalam sebuah masyarakat dapat berkembang menjadi unggul dan mampu bersaing di tengah gempuran arus perubahan. Untuk itu, diperlukan sistem dan pola pendidikan yang berkualitas guna mewujudkan hal-hal di atas.

 

Dalam praksisnya, pendidikan harus teraktualisasi dengan baik di setiap proses pembelajaran, terutama di sekolah atau di dalam kelas. Pada konteks ini, guru berperan penting untuk mewujudkan praktik pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didik, salah satunya melalui pembelajaran Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran wajib yang harus diajarkan dan dipelajari di setiap satuan pendidikan.

 

Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, para peserta didik diajarkan untuk terampil membaca, berbicara, mendengarkan, dan menulis secara seimbang dan kreatif. Salah satu materi pembelajaran yang wajib dipahami dan dikuasai oleh peserta didik adalah Menulis Teks Fantasi. Teks atau cerita fantasi sendiri merupakan Kompetensi Dasar (KD) yang mempelajari cerita atau karangan yang dibuat berdasarkan imajinasi pengarang. Materi tersebut sangat menekankan keterampilan menulis peserta didik dalam memaknai dan mempraktikkan proses penulisan teks fantasi.

 

Menurut Tarigan (2009 : 17), menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan secara tidak tatap muka dengan orang lain. Menulis juga dapat diartikan sebagai suatu keterampilan menuangkan ide atau gagasan ke dalam sebuah tulisan.

 

Untuk itu, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada Materi Menulis Teks Fantasi, para peserta didik diharapkan dapat aktif dan bersemangat dalam memahami teks fantasi, serta terampil dan mampu menulis teks fantasi sesuai arahan yang diberikan. Selain itu, mereka juga harus mampu berpikir kreatif dalam mengolah pikiran dan imajinasi serta menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan.

                                                               

Namun, pada kenyataannya, Penulis selaku Guru Pengampu Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Alok Timur, Kabupaten Sikka, menemukan fakta yang berbeda. Dari 30 peserta didik kelas VII, hanya terdapat 17 peserta didik yang dapat menulis dengan baik, dan sisanya belum dapat menulis dengan baik. Selain itu, diantara peserta didik yang belum mampu menulis teks fantasi dengn baik tersebut, terdapat 7 peserta didik yang tidak bertanggung jawab pada tugasnya.  

 

Berdasarkan hasil pengamatan dan observasi yang dilakukan oleh Penulis, terdapat beberapa faktor penyebab yang membuat peserta didik belum mampu menulis teks fantasi dengan baik, seperti sikap malas, rendahnya minat untuk belajar, kurangnya daya imajinasi, tidak adanya media belajar, serta kurangnya kreativitas dalam mengolah pikiran. Selain itu, minimnya kreativitas dan inovasi Penulis dalam mengajar juga menjadi salah satu penyebab utama.

 

Berangkat dari persoalan dan uraian di atas, maka Penulis mencoba untuk menggunakan media audiovisual untuk mendukung penyelenggaraan proses pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan di dalam kelas. Media sendiri, menurut Nugroho (2008 : 2), adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima guna merangsang pikiran, perasaan, dan minat. Sementara media audiovisual, menurut Syaiful Bahri Djamarah (2013 : 125), adalah media yang berfungsi sebagai alat bantu mengajar yang ikut memengaruhi kondisi dan lingkungan belajar melalui gambar diam (audiovisual diam), seperti film bingkai suara (sound slides), dan gambar bergerak (audiovisual bergerak), seperti film atau video cassette.

 

Untuk meningkatkan kemampuan menulis teks fantasi pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1 Alok Timur, Penulis menggunakan media audiovisual bergerak, yakni film, karena sudah sering ditayangkan dan mudah diakses melalui internet. Penayangan film nantinya dapat membangkitkan semangat serta menumbuhkan daya imajinasi yang tinggi kepada peserta didik, apalagi sebagian besar jenis film lebih menunjukkan sisi fiksi dan fantasi.

 

Dalam pelaksanaannya, Penulis menggunakan film berjudul The Guardian of Galaxy Vol. 2 sebagai media pembelajaran. Film tersebut mengisahkan para penjaga galaksi yang memiliki kekuatan super ketimbang manusia pada umumnya. Adegan-adegan yang dilakukan di setiap scene-nya dapat membangkitkan daya imajinasi dan fantasi peserta didik. Praktik penggunaan film tersebut dalam proses pembelajaran dapat dilakukan melalui beberapa langkah berikut.

 

Pertama, tahap persiapan. Pada tahap ini, Penulis menyiapkan Film The Guardian of Galaxy Vol. 2 yang di-download dari situs internet. Setelah itu, Penulis menyiapkan pengeras suara (speaker), proyektor (LCD), dan spidol. Di sini, para peserta didik juga diarahkan untuk menyiapkan segala sesuatu sebelum memulai Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM).

 

Kedua, tahap pelaksanaan. Pada tahap ini, Penulis mulai menyiapkan kondisi kelas dan menyampaikan tujuan pembelajaran dengan Film The Guardian of Galaxy Vol. 2 agar peserta didik mengetahui maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Setelah itu, Penulis membagikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) pada peserta didik dan mengarahkan mereka untuk menulis sebanyak mungkin hal-hal fiksi (tidak nyata) yang didapatkan dari Film The Guardian of Galaxy Vol. 2.

 

Selama proses penayangan film berlangsung, Penulis berkeliling kelas untuk mengontrol para peserta didik. Setelah selesai menonton, mereka pun mulai menuliskan hal-hal fiksi di lembaran yang telah dibagikan. Kemudian, Penulis mengarahkan mereka untuk menulis cerita fantasi berdasarkan hal-hal fiksi yang ditemukan dengan memperhatikan tokoh dan alur cerita sesuai dengan struktur dan unsur teks fantasi.  

 

Ketiga, tahap evaluasi. Pada tahap ini, peserta didik akan melaporkan hasil kerja di depan kelas. Penulis pun menyampaikan tanggapan terhadap tulisan para peserta didik dengan memberikan apresiasi dan saran. Selanjutnya, hasil karya tulis peserta didik yang memperoleh nilai tertinggi akan ditempelkan pada Majalah Dinding (Mading) sekolah. 

 

Penerapan film dalam proses pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan daya imajinasi peserta didik sehingga mampu menulis cerita atau teks fantasi dengan baik. Selain itu, keterampilan atau kemampuan menulis peserta didik pun dapat meningkat secara positif. Jika awalnya hanya 17 orang peserta didik yang dapat menulis teks atau cerita fantasi, maka setelah digunakannya media film tersebut, diharapkan terdapat peningkatan yang signifikan.

 

Penggunaan media film dalam pembelajaran tersebut mampu menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan serta meningkatkan kreativitas dan keterampilan menulis. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, pemutaran film dapat dilakukan pada 3 kali pertemuan dengan jenis atau judul cerita yang berbeda-beda. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media audiovisual sangat berperan penting dalam proses pembelajaran. (MDj/red)


Post a Comment

0 Comments