Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

ALRESCHA

 

Ilustrasi.


Cerpen Albert Baunsele*



Hidup ini indah karena Dia yang menganugerahkannya adalah keindahan Yang Terindah. Ketika mengamini hal itu, aku berlalu darimu. Aku tidak melihatmu lagi. Aku pernah menerima pesanmu, engkau mengeluh tentang hidup dan aku berkata biarlah waktu yang menyelesaikannya. Aku pergi. Sejak saat itu, engkau menjalani hidupmu sendirian saja. Kini aku rindu melihatmu, mendengar tawa dan candamu, terlebih aku ingin mendengar keluh kesah dan rasa sakitmu. Waktu telah menjawabnya. Engkau tidak lagi menginginkanku bertemu denganmu.

 

Aku tahu dan sadar, sebenarnya aku tak pernah ada saat engkau menginginkanku di sampingmu. Tak seorangpun mendengar desahan nafasnya, juga keluhmu. Aku tidak pernah hadir di sampingmu saat engkau ingin melihatku. Pernah kau berkata padaku, “kalau kau tidak ingin melihatku, izinkan aku yang melihatmu. Sekalipun, engkau tidak menginginkan aku ada tetapi aku ingin engkau selalu ada”. Tetapi aku tidak pernah menghiraukan kata-katamu yang menyimpan kerinduan yang tak tertahankan olehmu. Aku tidak pernah mendengarkanmu saat engkau menginginkan aku tahu apa yang menjadi harapanmu dalam hidupmu.

 

Aku telah membiarkanmu tumbuh sendirian seperti rumput kecil yang merayap bertahan hidup antara bebatuan tajam dan keras. Aku membiarkanmu terseok-seok dalam putaran dunia yang mengembang-ambingkan hati dan perasaanmu. Aku membiarkan perasaanmu mengalir seperti aliran sungai yang tidak pernah berhenti. Tak ada yang peduli pada arah dan tujuan aliran. Orang hanya ingin mencicipi kesejukannya. Demikian engkau hidup tanpa seorangpun bertanya tentang perasaan, cita-cita dan kerinduanmu. Tak seorangpun ingin tahu tentang waktu-waktu yang kau lewati dengan kepedihan dan rasa pahit karena keegoisanku. Aku yakin dari sekian banyak waktu itu, kau jalani dengan air mata dan desahan rindu dalam hatimu.

 

Sesungguhnya bagimu, aku tiada. Engkau ada untukku sekalipun aku mengabaikanmu. Aku tidak pernah menyediakan waktu untuk mengingatmu apalagi merindukanmu, ya. . .aku tiada. Kau selalu ada, kau menyapaku dalam doa-doamu, kau merindukanmu dalam setiap kata dan tatapanmu. Aku berlalu tapi engkau ada. Kau berujar dengan berlinang air mata, “Keindahan dan kebahagiaan akan menghampiriku, tetapi aku tidak pedih sekalipun keindahan dan kebahagiaan tergores oleh kemarahan, keegoisan, penolakan dan kebosanan”.

 

Aku rasa kau sungguh meyakini itu dalam hari dan waktu dalam seluruh hidup dan peristiwa. Sehingga, kau terus melangkah sekalipun harus merangkak dan menangis, menahan perih luka-luka kekejaman hatiku dan teriknya gagasanku. Bagaimana mungkin kau tidak menjerit tercekik oleh keegoisan dan kesombonganku. Engkau juga berkata, “Aku telah melihat tanda, aku tidak buta”.

 

Aku pernah merasakan rasa di hatimu, tapi aku mengusirnya dan tidak mau ada waktu untuk itu. Sekarang apa katamu tentang aku? Engkau diam. Aku bertanya apakah rasa keindahan menghampirimu? Dengan yakin engkau menjawabku, “Ya, keindahan itu menghampiri dan menawan hatiku tetapi keindahan itu tidak telanjang seperti bebatuan cokelat di antara aliran sungai yang bisa dipandang mata atau seperti riak aliran sungai yang bisa disentuh dengan jemari. Jalan untuk bersatu dengan keindahan adalah kesedihan, kegagalan, kesalahan dan kepedihan”.

 

“Kau senang mengalami pedih?”

 

“Ya, karena itu sebuah tanda bahwa aku sedang dihampiri oleh keindahan, tetapi bukan berarti aku mencari kepedihan melainkan dengan kepedihan aku akan tahu bagaimana rasanya kegembiraan dan keindahan. Aku tidak akan menolak kepedihan sekalipun membuat hati perih. Aku tidak akan meniadakan tanda dan penanda.”

 

Aku ingat sejak awal kau ada. Aku tidak pernah mengulurkan kedua tanganku untuk mendekapmu. Aku tidak pernah memberi kecupan sayang di keningmu. Tidak pernah memberi segelas susu membasahi tenggorokanmu yang kering. Aku tidak pernah memandangmu dengan kasih yang lembut. Tidak sempat secangkir air habis, aku telah tiada untukmu. Aku membiarkanmu sendirian. Aku membiarkanmu tanpa seorang pembelapun. Dan... Kau tidak punya sedikitpun kekuatan untuk membela dirimu. Pembelaanmu satu-satunya saat itu adalah tangisan dan air mata. Pembelaan yang sangat tradisional. Aku tahu dan mengerti tapi tidak peduli.

 

Anakku. . .apa yang harus kukatakan padamu tentang hidup ini. Engkau sudah mengalaminya tanpa ada penolakan. Engkau menerima setiap bias mentari dan menadah setiap tetes hujan. Semua kepahitan kau tampung dalam hati kecilmu. Kepahitan itu kau genggam dari hari ke hari dan kau selalu yakin akan menjadi manis pada saat dan waktu yang tepat. Kau tidak menangisi kehidupan tapi sering menangis untukku. Hari-harimu selalu penuh pengharapan akan hari esok yang lebih indah. Kau selalu mengatakan kalau aku dan kau sedang berjalan menuju keindahan itu. Sekarang aku tidak tahu apakah kita akan tiba dalam Keindahan itu.

 

Anakku, kakiku sudah ringkih, hatiku malu, ragaku lelah dan jiwaku seakan tiada lagi. Mungkin jiwaku berlalu karena merasa terpenjara dalam kenikmatan dan keegoisan tubuhku. Anakku. . .masih banyak cerita ingin kukisahkan padamu tetapi jemariku telah lelah menulis huruf demi huruf, mataku terasa rabun bukan karena usia tua tapi karena air mata yang menetes setiap kali akan mengingatmu. Anakku, aku belum mengatakan semua padamu. Esok aku akan bercerita lagi kepadamu. Satu hal yang kupinta darimu, “Anakku, Alrescha. . .ajari aku menemukan keindahan itu”. (MDj/red)

 

*Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT


Post a Comment

0 Comments