Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

DEKRANASDA NTT AJUKAN TENUN IKAT SUMBA KE UNESCO, JULIE S. LAISKODAT MINTA DUKUNGAN MASYARAKAT NTT

 



Jakarta, CAKRAWALANTT.COM - Salah satu kekayaan intelektual masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kain tenun, selalu menarik siapa saja. Dari sekian banyak motif, Tenun Ikat Sumba memiliki banyak varian dan telah mendapat perhatian dunia. Untuk itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT, Julie Sutrisno Laiskodat kembali memperjuangkan Kain Tenun Sumba ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.

 

Perjuangan Kain Tenun Ikat Sumba ke UNESCO sebagai Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga pernah diajukan sebelumnya pada tahun 2013 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI). Namun, perjuangan itu tidak membuahkan hasil. Kini, perjuangan ke UNESCO tersebut dimulai lagi sambil bergabung bersama tenunan seluruh Indonesia.

 

Waktu tahun lalu pada acara nasional di Dekranasda NTT bersama Ibu Wakil Presiden, ada ide kita bersama Dekranasda NTT dan Dekranasda Nasional untuk membawa tenun NTT ke UNESCO. UNESCO itu setiap tahun tiap negara mengajukan 1 item dan yang terpilih cuma satu. Dalam pertemuan bersama orang-orang UNESCO dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah kasih persyaratan dan sudah dilakukan survey, kata Julie Laiskodat saat menjelaskan ihwal pengajuan tenun Ikat Sumba ke UNESCO.

 

Julie menjelaskan bahwa untuk melakukan pengajuan ke UNESCO, Tenun Ikat Sumba harus digabungkan dengan kain tenun se-Indonesia. Tenun Ikat Sumba sendiri menjadi perwakilan dari Provinsi NTT. Selain itu, imbuh Julie, Tempe, Reog Ponorogo dan Budaya Sehat Jamu menjadi nomasi tunggal. Sedangkan, Tenun Ikat Sumba dan Ulos diusulkan sebagai Tenun Indonesia beserta Kolintang sebagai nominasi multinasional dengan negara lain.

 

Sehingga judulnya Kain Tenun Indonesia yang akan diajukan ke UNESCO untuk didaftarkan. Kan ada juga Tempe, Reog Ponorogo, Budaya Sehat Jamu, Ulos, Kain Tenun Sumba Timur dan Kolintang, jelasnya kepada wartawan, Jumat (25/02/2022).

 

Untuk Tenun Ikat Sumba, kata Julie, sudah selesai berproses di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, sehingga sudah diumumkan hasil seleksi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (Intangible Cultural Heritage of Indonesia) pada Jumat (18/2/2022). Pengajuan Tenun Ikat Sumba ke UNESCO, imbuhnya, memiliki banyak dampak yang luar biasa, yakni bisa melindungi kekayaan intelektual kain tenun daerah dari para pihak yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, sambung Julie, hal tersebut juga bisa mendorong proses pelestarian budaya dan industri kreatif yang bermuara pada peningkatan perekonomian masyarakat.   

 

Jadi secara nasional kita sudah lolos. Nah nominasi inilah yang akan dimasukan ke UNESCO. Jika ada pertanyaan kenapa Tenun Ikat Sumba Timur itu karena variannya banyak dan sudah dikenal secara Internasional. Tahun 2013 pernah diajukan tapi tidak lolos namun kita ajukan lagi dan bergabung dengan sejumlah kain tenun dari seluruh Indonesia, katanya.

 

Juga memperkuat diplomasi perlindungan kekayaan intelektual di dunia internasional melalui world intellectual property organization dan trade intellectual property rights aggremet di WTO. Serta meningkatkan kebanggaan masyarakat penghasil tenun akan warisan kebudayaan. Hal itu akan meningkatkan apresiasi dari pemangku kepentingan, masyarakat umum dan konsumen akan tenun ikat, sambung Julie.

 


Minta Dukungan Masyarakat NTT

 

Guna menunjang upaya tersebut, Julie pun meminta dukungan semua masyarakat Provinsi NTT untuk terus menjaga kekayaan intelektual tersebut. Gelora dukungan tersebut dilakukan melalui platform digital, seperti twibbon, pamflet, banner, dan sebagainya. Selain itu, Julie juga sangat mengharapkan antusias masyarakat dalam mempromosikan dukungannya melalui media sosial terkait Tenun Ikat Sumba sebagai warisan budaya kepada UNESCO.

 

Saya minta dukungan seluruh masyarakat NTT untuk mendukung Kain Tenun Ikat Sumba sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. Ini link https://twb.nz/tenunikatsumbagoestounesco. Mohon dukungan dengan buka link di atas dan disebarkan, kata Istri Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat tersebut.

 

Seperti dikutip dari Wikipedia, Tenun Ikat Sumba merupakan jenis kain yang berasal dari Pulau Sumba, NTT. Jenis dan corak kain itu sudah lama terkenal karena unik berdasarkan bahan yang digunakan, serta memiliki motif dan proses pembuatan yang memerlukan waktu relatif lama, yakni 4-6 bulan untuk sehelai kain tenun berukuran lebar.



Pulau Sumba sendiri sangat indah dan terkenal di dunia sebagai salah satu pulau terindah. Namun, keindahan pulau itu merupakan penilaian tahun 2000-an, sedangkan daya pikat tenun ikat tradisional sudah terkenal sejak berabad-abad yang lalu, dan terus dijaga oleh para Wanita Sumba. Mereka menangani seluruh proses tenun ikat mulai dari memilih motif, mempersiapkan bahan-bahan (benang, pewarna), proses penenunan sampai menghasilkan selembar kain.

 

Satu lembar kain lebar memerlukan 42 langkah. Persiapan dan proses pembuatan yang sekian lama membuat harga kain tenun menjadi relatif mahal. Mahalnya harga Kain Tenun Ikat Sumba dipengaruhi juga oleh jumlah orang yang bekerja, dimana satu helai Tenun Ikat Sumba biasa dikerjakan oleh 3-10 orang.

 

Ada orang yang mencari bahan, memintal benang, mewarnai benang, menenun, dan juga membuat motif, sehingga 42 proses penyelesaian satu helai kain tenun bukanlah angka yang mengada-ada. Pekerjaan dimulai dari proses lamihi, yaitu proses memisahkan biji dari kapas hingga proses wari rumata atau proses penyelesaian. (PR Tim Dekranasda NTT/MDj/red)


Post a Comment

0 Comments