Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

SURAT UNTUK AYAH

Kumpulan Puisi    


Ilustrasi : Seorang ayah bersama anaknya.   


 



SAHABAT MENARUH KASIH SETIAP WAKTU

Puisi Alexandra Deniriando Siga

 

Kupetik daun, kujadikan kertas….

Kupatahkan ranting untuk kujadikan pena.…

Kuteteskan air mata untuk kujadikan tinta….

Lalu kucoba merangkai kata menjadikannya sebuah kalimat,

untukmu sahabat.

 

Sahabat lama adalah emas.

Sahabat baru adalah berlian.

Jika, mendapatkan berlian jangan lupa emas

karena keduanya sama-sama berharga

dalam mengarungi bahtera kehidupan.

JATUH

Puisi Angelina Putry Ayu

 

Aku jatuh hati, saat cahaya jatuh di atas permukaan air laut.

Lalu pasrah dan tenggelam di kedalaman rasa itu.

Sempat kucoba berlari dan kembali kepermukaan,

namun aku justru kembali terpesona oleh biasnya di atas riak air.

 

Ia adalah senja yang selalu kunanti kehadirannya di setiap petang,

dan aku cukup setia untuk itu.

Ketika waktunya tiba, aku akan terduduk,

menatap lurus di batas horizon menunggu cahaya itu turun perlahan,

untuk lagi-lagi  jatuh dan tenggelam dalam pesonanya.

 

Sayang....

setelahnya aku justru bersembunyi dalam gelap,

menepi di sudut malam, tanpa berani mengutarakan perasaanku.

Sekadar curhat pada malam dan bintangnya lalu kembali menyimpan rasaku,

kemudian merindu dan lagi-lagi menunggu.

 

Aku hanyalah langit barat,

namun senja bukan milikku meski di situlah dia berpijak.

Dia hanya datang menunjukkan keindahan,

membuatku jatuh cinta berkali-kali padanya

kemudian pergi meninggalkan kenangan.

Tapi aku sudah berjanji untuk setia menunggu,

waktu yang sekejap itu bersamanya.

Untuk kemudian kembali jatuh....

hingga ke dasarnya.

BINTANG JATUH

Puisi Sarce A. Dethan

 

Ditemani cahaya bintang

sinar rembulan menyinari

suara jangkrik bersahutan

lambaian ujung pepohonan

walaupun semua gelap.

Sekitar diri tak bisa ditembus mata

dan angin berhembus sedikit kencang

menunjukkan kutak sendiri

walaupun udara dingin.

Dan tak mau bersahabat dengan kulit

bulu roma kini terbangun dari tidurnya.

Namun, kutetap di sini

walaupun embun kini.

Menjadikan kepala tempat berlabuh

kutak ingin pergi dari sini

tak ingin beranjak walau selangkah

hingga kini kau hadir memancar dan hilang.

Aku menunggumu,

dan berterima kasih sudah hadir

walau hadirmu hanya sekejap,

tak mengapa untukku.

Sekarang pergilah!

Bawalah apa yang kubisikan

dan aku akan menunggumu,

bertemu lagi nanti

dengan wujudmu yang berbeda

bintang jatuh.

 

SETELAH DUDUK MESRA

Puisi Ete Luruk

 

Aku dan asu-mu selalu bertengkar.

Setelah duduk mesra kemarin, di halaman rumahmu

asu-mu dan aku bertengkar

tentang siapa yang paling asu

bersambung dengan aku yang paling asu.

 

Hari ini aku bertandang lagi ke rumahmu,

Ingin duduk mesra,

asu-mu dan aku lekas bertengkar

tentang siapa yang paling besar rabu

bersambung dengan asu-mu yang paling besar rabu.

Tetiba kau datang dan ingin bertengkar

tentang siapa yang paling puisi dan siapa yang lukanya mengena.

Baiklah…

kau menang atas aku dan asu

Sebab, “Penyair adalah tukang tipu yang bebas sengketa, bukan?“ asu berdalih.

Tak ada jawaban. Hanya kedamaian.

 

(Lasiana, 2020)

ARDIN

Puisi Ete Luruk

 

Ke mana pun pergi

Ardin selalu merindukan rumah,

merayakan pulang.

Kepada motor yang membuatnya sibuk

ia pun berkata,

“Mari kita pulang (ke pelukan bapa),

tanpa muka,

tanpa murka.

 

(Lasiana, 2020)

AYAHUJAN

Puisi Tian Garman

 

Hujan....

Memaksa bumi untuk terus basah,

menyuruh tubuh yang kaku ke petak sawah.

Ia  melangkah,

berteman kopi mengais rejeki.

Pak tani ia disapa.

“Ayah” aku memanggilnya.

Tubuhnya sudah kaku.

Namun, semangatnya tak pernah beku.

Hujan adalah rejeki,

petir adalah sahabat,

angin adalah teman yang setia katanya.

Membawaku pada perjuangannya.

Ayahujan....

Hujan yang mengisi segala kekosongan hidup,

hujan yang mengisi raga yang hampa,

hujan menghidupkan pohon-pohon yang layu,

menyuburkan lahan yang tandus.

Ayahujan....

Aku adalah tanah yang kering,

selalu mendambakan air,

menghidupkan segala mawar-mawar indah.

 

(Bea Bangga,19 November 2021)

KELABU COVID-19

Puisi Milka Aprianti Imel Nomleni

 

Ada yang datang bak pelancong,

dari Cina hendak mendunia,

tiada nampak di pelupuk mata

namun hadir berikan nestapa.

 

Bukan datang bertegur sapa,

asal hinggap tak mengenal siapa,

ubahkan hidup pasif menyapa,

ciptakan rugi entah berapa.

 

Virus Corona….

Menghentak mutu pemerintahan,

membanting kilau perusahaan,

mencabut jutaan pekerjaan,

hampir suram tiada harapan.

 

Tak terbilang lelahnya patriot putih,

tak terhitung tegasnya satria pertahanan,

banyak terenggut jiwa kepahlawanan,

juga jiwa yang takluk perlawanan.

 

Banyak rupa tanpa mobilitas,

dibatasi lebih lagi diawasi.

Semua insan cari aman

meski banyak cenderung melawan.

 

Banyak ilmuan cari jawaban,

upayan minim angka penularan,

usahakan hentikan kematian,

terus berjuang ciptakan perubahan.

 

Hanya waktu yang memperjelas kapan,

hanya doa dengan segala kerinduan,

pulihlah bumi yang kupandang,

semoga Tuhan berikan pengampunan.

 

HUJAN

Puisi Milka Aprianti Imel Nomleni

 

Awan bersatu jadi kelabu.

Angin semilir mengikat padu.

Terbang mendayu ke titik tuju.

Jatuh ke bumi menurut waktu.

 

Terjun membentur beragam bidang.

Riaknya merajut senandung indah.

Gemuruh menyerta gemericik butiran mungil.

Tanda hujan telah tiba.

 

Menekan debu kian padat.

Menyusur batuan bersekat.

Biaskan pelangi penuh semangat.

Anugrah Sang Khalik pada suatu tempat.

 

Hujan mengguyur membentuk genangan.

Hujan hadir membawa pada kenangan.

Dinanti tiap penghuni bumi.

SAHABAT

Puisi Petrus Poto

 

Sahabat....

Kaulah tempatku tuk berbagi cerita,

penghiburku kala dirundung duka,

pemberi warna hari-hariku.

Sahabat....

Bila kau tak lagi di sini,

jangan segera lupa,

tentang seluruh cerita kita,

bila perlu kau siapkan buku kehidupan

untuk suatu hari nanti.

 

SURAT UNTUK AYAH

Puisi Paul Rifaldi S. Fa’o

 

Ayah....

Pergimu sangat pagi

aku persisnya masih lelap.

Apakah kau sarapan sebelum pergi?

Ibu bilang, “Nak, Ayah jarang sarapan pagi.”

 

Setelah aku pulang sekolah,

kau belum juga datang.

Di meja makan hanya ada aku, adek, dan mama.

Lalu, ayah di sana makannya apa?

 

Kala malam tiba,

bersama dengan lelahmu,

kau menyandarkan diri pada dinding,

sembari kau mengusap raga yang tak berdaya itu,

nafasmu mengisyaratkan banyak hal,

“Besok anak ayah makan apa, ya?”

 

Ayah....

Perjuanganmu adalah hidup kami.

Lelahmu adalah kesuksesan kami.

 

Ayah....

Bila tiba waktuku,

aku akan membalas semuanya

dengan kesuksesanku.

 

TERIMA KASIH TUHAN

Puisi Maria Agenesia Indriyanti Gharu

 

Tuhan....

Di saat sekelilingku menghilang,

di saat aku tak pernah dianggap,

di saat aku terjatuh,

di saat hatiku dilanda sepi,

pula hati gunda gulana,

Engkau datang membopongku.

Menolongku.

Menghiburku.

Dan meneguhkanku.

“Tuhan....Terima kasih untuk rahmat-Mu”

 

DERITAKU

Puisi Adrianus Gedhe

 

Bila kuhanya sesaat bagimu

jangan biarkan daku terlalu jauh mencintamu,

bila kau hendak pergi tanpa sosok diriku,

Untuk apa kau gadai waktuku selama ini.

 

Bila hendak pergi,

lupakan aku di sini,

biar aku yang menderita sendiri.

 

TERKADANG

Puisi Benediktus Kasi

 

Terkadang ingin kuputar masa

menjalani indahnya kenangan

walau kusadari waktu terus berlaju

ingatan masa lalu pun berlalu

semuanya rapuh termakan waktu

tersisa hanya sebagian kasih dan sayang

yang terpatri dalam hati.

AKU

Puisi Manuela Meyra Muskitta

 

Aku ada dan bertahan sampai saat ini bersama memori masa lalu.

Berdiri tegak walau cemooh berkicau dan kekuatiran menghantui.

Mencoba mengukir standar hidup kusendiri untuk kujalani.

Mengukir mimpi yang sedang dipersiapkan untuk bisa dibanggakan.

 

Aku adalah aku dan kamu adalah kamu.

Kita jelas menjalani hidup yang berbeda.

Mengambil langkah pelan bukanlah kelemahan.

Mungkin aku perlu istirahat disaat engkau sedang maju.

Karena destinasi yang kita tuju tidaklah sama.

 

Bertahan sampai saat ini tidaklah mudah.

Aku mengapresiasi diriku sendiri.

Terima kasih sudah bertahan.

Tetaplah bersyukur dan jalani hidup ini dengan senyuman.



*Penerbitan karya ini merupakan hasil kerja sama antara Media Pendidikan Cakrawala (MPC) NTT dan Kantor Bahasa Provinsi NTT.

 

Redaksi MPC NTT menerima karya sastra berupa cerpen, puisi, resensi buku dan sebagainya untuk dipublikasikan di Media Daring cakrawalantt.com dan Majalah Cakrawala NTT (khusus bagi peserta didik dan mahasiswa). Bagi penulis yang karyanya lolos akan diberikan apresiasi berupa honor. Karya dapat dikirim ke email redaksimpcntt@gmail.com beserta data diri, nomor Whatsapp dan nomor rekening.   


Post a Comment

0 Comments