Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

SOLUSI UNTUK MENGAKARKAN NILAI SOPAN SANTUN DI KALANGAN SEMINARIS

 


Oleh : RD. Drs. Leonardus Asuk, Pr.,MA

(Kepala SMAS Seminari Lalian)

 

CAKRAWALANTT.COM - Manusia  adalah  mahluk sosial (homo ens sociale) yang saling berkorelasi dan berhubungan erat satu sama lain. Interaksi sosial ini terjadi apabila setiap orang mampu mempraktikan nilai moral   sopan santun dalam sebuah komunitas, persekutuan (communion) secara utuh, sempurna dan komprehensif.

 

Nilai moral sopan santun merupakan salah satu unsur hakiki dalam kehidupan manusia karena setiap pribadi manusia yang bermartabat, bergerak menuju kepada kesempurnaan jati dirinya sehingga manusia mampu mempraktikan nilai moral sopan santun. Hal tersebut merupakan  bagian integral dalam kehidupan setiap pribadi.

 

Karena itu, nilai sopan santun merupakan kegiatan individu-invidu dalam hubungan dengan sesama yang bisa dideteksi dan dipantau sesuai kadar situasi tertentu, sejauh mana tindakan seseorang dalam menghargai, menjujung tinggi serta berahklak mulia. Nilai sopan santun dianggap sebagai nilai tak tertulis, tetapi turut mempengaruhi tata cara hidup, dan kebudayaan bermasyarakat.

 

Namun, dalam dinamika kehidupan bermasyarakat sering kali orang cenderung melalaikan “kebiasaan” mempraktikan nilai moral sopan santun dan gampang meremehkan nilai moral tersebut, sehingga terkesan masa bodoh dan meresahkan perkembangan dan kemajuan bersama serta menjungkirbalikan fakta yang baik dan benar.  Maka, masyarakat pada umumnya, baik secara pribadi maupun bersama mempertentangkan atau mencampuradukan nilai kesantunan dan ketaksantunan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.                     

 

Fakta yang terjadi di masyarakat ini, terjadi juga dalam lingkungan sekolah, khususnya para seminaris. Sebagai bukti bahwa para seminaris berasal dari keluarga-keluarga Katolik pada umumnya dan secara istimewa pada keluarga seminaris yang kurang mempedulikan nilai-nilai sopan santun dalam keluarga, sehingga masalah ini merembes masuk ke alam bawah sadar para seminaris sebagai calon-calon pewarta Sabda Allah dan sejauh mana pembentukan diri para seminaris di Lembaga Pendidikan  Seminari  Lalian.

 

Nilai sopan santun harus melekat dalam diri para seminaris dalam bentuk penghayatan nilai tersebut, sehingga dinilai sesuai dengan maksud dan tujuan panggilannya untuk menjadi imam Allah. Sujiono (2009 : 126) merumuskan nilai sopan santun sebagai bagian dari budi pekerti yang dapat membentuk sikap terhadap manusia, Tuhan, diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan alam sekitar. Pendapat senada juga dijelaskan oleh Teori Behaviors bahwa perilaku seluruh umat manusia dapat diamati sebagai respons yang terbentuk dari berbagai stimulus yang pernah diterimanya dari lingkungannya (Sujiono, 2009: 140).

 

Berdasarkan konsep di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tindakan sopan santun merupakan bagian dari budi pekerti, yakni cerminan dari kepribadian seseorang yang tampak dalam perbuatan dan interaksi terhadap orang lain dalam lingkungan sekitarnya. Dalam konteks peserta didik, tindakan tersebut mencakup moral, disiplin, sikap beragama, sosial, emosi dan konsep diri.

 

Sedangkan, menurut Markhamah (2009 : 117), istilah sopan santun terdiri dari 2 (dua) kata, yaitu sopan yang berarti : 1) Hormat dan takzim (akan, kepada) tertib menurut adat yang baik. 2) beradab tentang tingkah laku, tutur kata, pakaian, dsb). 3) baik kelakuannya (tidak lacur, tidak cabul); serta santun yang berarti : 1) halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya), 2) penuh rasa belas kasihan, suka menolong.

 

Sementara itu, Harton (2007: 11) mengartikan sopan santun sebagai kebiasaan yang baik dan disepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia setempat. Sopan santun terdiri atas “sopan” yang berarti adat, aturan, norma, peraturan, serta “santun” yang berarti norma, bahasa yang taklim (amat hormat), kelakuan, tindakan, dan perbuatan.

 

Berdasarkan beberapa teori mengenai sopan santun di atas dapat disimpulkan bahwa sopan santun berarti sikap atau perilaku yang tertib sesuai dengan adat istiadat atau norma yang berlaku dalam pergaulan antara manusia dalam perilaku setiap harinya memiliki sikap saling menghormati, bertutur kata baik, bersikap rendah hati, serta suka menolong (Alam, 2004: 10).

 

Menurut Hartono, ukuran atau dasar perilaku, tindakan sopan santun adalah memberikan perhatian terhadap perasaan orang lain (consideration for others). Sedangkan. Rusyan (2013: 212) berpendapat bahwa ukuran perilaku atau tindakan sopan santun terletak pada ketaksombongan, kelancaran, selera baik, perpatutan, serta menempatkan sesuatu pada tempat yang tepat. Dengan patokan pada norma kita mampu berelasi dengan semua orang dalam komunitas.

 

Oleh karena itu,  kualitas  tindakan sopan santun secara dasariah  dipantau  dari suatu sikap yang ramah  kepada sesama, menaruh hormat, dan mengikuti  suatu peraturan. Tindakan sopan santun lebih mengedepankan pribadi yang unik serta menghargai semua orang tanpa kecuali. Tentang forma tindakan dan sejauh mana  menaruh  hormat serta mengamankan norma seharusnya  disesuaikan dengan adat atau kebiasaan dari lokasi yang dihuninya.

 

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) masuk juga dalam komunitas para seminaris, sehingga sering kali nilai sopan santun dikendorkan begitu saja tanpa menempatkan nilai-nilai unggul dan nilai-nilai pendukung sebagai motivasi awal menjadi imam. Makanya, kami menawarkan beberapa solusi untuk menjadi perhatian para seminaris guna meningkatkan kesadaran dalam mengaplikasikan nilai sopan santun dalam sekolah maupun asrama seminari.

 

Peningkatan “Pengawasan Sosial” terhadap para seminaris, baik di sekolah dan asrama bisa dilakukan melalui kata-kata, sikap, dan teladan hidup yang baik sebagai seorang seminaris. Membaca situasi, kondisi dan lingkungan seminaris (the right man on the right place) sebagai komunitas rohani dalam hal Kekudusan (Sanctitas),  Intelektual (Scientia), Kesehatan (Sanitas), Kemanusiaan (Humanitas), Kebijaksanaan (Sapientia) adalah hal-hal yang harus diperhatikan agar nilai sopan santun dapat terealisir.

 

Selain itu, peningkatan nilai-nilai utama sebagai Kebajikan Kristiani, yakni iman, harap, kasih dan ditopang dengan nilai-nilai lain, seperti kepercayaan, tanggung jawab, rela berkorban, kejujuran, kesetiaan, kemandirian, kesusilaan dan sebagainya bisa menjadi landasan jiwa dan semangat patriotik para seminaris. Terakhir, meningkatkan “kepekaan sosial” dan “rasa memiliki” (easy going) terhadap nilai sopan santun sangat membantu dalam proses panggilan mereka.

 

DAFTAR PUSTAKA

Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta:PT.Indeks,2009),126.

Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, 140.

Markhamah, Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2009), 117.

Hartono, Sopan Santun dalam Pergaulan, (Bandung: CV. Armico, 2007), 11.

G Surya Alam, Etika dan Etiket Bergaul, (Semarang: Aneka Ilmu, 2004), 10.

A. Tabrani Rusyan, Membangun disiplin Karakter Anak Bangsa, (Jakarta: PT.Pustaka Dinamika, 2013), 212.


(red)


Post a Comment

0 Comments