Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

MUSWIL II BMPS NTT DAN HARAPAN DI WAKTU MENDATANG

Suasana Muswil II BMPS Provinsi NTT di Aula Komodo, Kantor DPD RI Perwakilan NTT, Jumat (21/1/2022).




Kota KupangCAKRAWALANTT.COM - Pagi itu langit tampak mendung bersama rintik hujan yang selalu bertamu. Hiruk pikuk kota terpantau lengah di pagi itu. Di tengah deru aktivitas masyarakat dan pekatnya suasana alam di hari itu, sekelompok individu nampak berkumpul di Aula Komodo, Kantor DPD RI Perwakilan NTT, Jumat (21/1/2022).

 

Mereka duduk dengan posisi setengah lingkaran yang secara langsung menyematkan suasana dan semangat musyarawarah. Di beberapa posisi tampak sekelompok individu sedang mengenakan baju batik bernuansa biru dengan sematan logo tertentu di dada mereka. Semua mata pun tertuju pada baliho besar bertuliskan “Maju Bersama Mencerdaskan Anak Bangsa dan Bersinergi Membangun Pendidikan NTT”.

 

Di tengah suasana itu, tiba-tiba terdengar suara lantang dari depan mimbar, “Kegiatan ini bersifat hybrid. Ada sebagian besar peserta yang mengikutinya secara virtual. Atas nama Badan Pengurus BMPS Provinsi NTT periode 2016-2021, kami menyampaikan terima kasih atas semua dukungan sehingga semua program BMPS bisa berjalan dengan baik”.

 

Begitulah sapaan dan arahan awal yang disampaikan oleh Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Provinsi NTT periode 2016-2021, Winston Rondo dalam seremonial pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) II BMPS Provinsi NTT. 

 

Acara pembukaan tersebut turut dihadiri oleh pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Provinsi NTT. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan pada Dinas PK Provinsi NTT, Robby A, Ndun, S.Pd.,MM menuturkan bahwa pihaknya sangat mendukung dan mengapresiasi kerja BMPS Provinsi NTT selaku mitra Pemprov NTT.

 

“BMPS adalah mitra Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT karena telah menunjang dan membangun pendidikan di Wilayah NTT. Hal itu sesuai dengan tema kita pada hari ini serta visi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, yakni mewujudkan NTT Bangkit dan NTT sejahtera. Selain itu, kehadiran BMPS turut mendukung lahirnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas,” terangnya mewakili Kepada Dinas (Kadis) PK Provinsi NTT, Linus Lusi, S.Pd.,M.Pd.


Ketua Umum BMPS Nasional, Ki Dr. Saur Panjaitan XIII saat membuka Muswil II BMPS Provinsi NTT secara virtual.


 

Di samping itu, Anggota DPD RI Dapil NTT periode 2019-2024, Hilda Manafe, S.E.,M.M dan Ketua Umum BMPS Nasional, Ki Dr. Saur Panjaitan XIII yang tergabung secara virtual turut memberikan dukungan dan apresiasi bagi kinerja BMPS Provinsi NTT yang telah menunjang proses pembangunan pendidikan di Wilayah NTT. Saut menegaskan bahwa untuk memajukan aspek pendidikan, semua pihak harus bergandengan tangan.

 

“Untuk pendidikan marilah kita bergandengan tangan. BMPS harus berpijak pada nilai-nilai BMPS itu sendiri. Kita harus berjalan bersama untuk mencerdaskan anak bangsa. Maka dari itu, saya sangat mengapresiasi kerja BMPS NTT,” ungkapnya saat membuka kegiatan Muswil II BMPS Provinsi NTT secara resmi.

 

Kisah Para Pelukis Wajah Bangsa

 

Setelah prosesi pembukaan, kegiatan Muswil II BMPS Provinsi NTT diawali dengan study meeting dalam bentuk bedah buku berjudul “Kisah Para Pelukis Wajah Bangsa”. Buku tersebut merupakan antologi ilmiah populer dari para guru sekolah swasta se-Kota Kupang. Kehadiran buku tersebut tidak terlepas dari upaya peningkatan kompetensi guru yang terus digencarkan oleh BMPS Provinsi NTT di bawah komando Winston Rondo.


Suasana kegiatan bedah buku “Kisah Para Pelukis Wajah Bangsa” bersama para narasumber.

 

Kegiatan bedah buku tersebut turut dihadiri oleh beberapa narasumber, yakni Sekretaris Jenderal (Sekjen) BMPS Nasional, Romo Dr. Mbula Darmin Vinsensius, OFM, Penulis dan Sastrawan NTT, Marsel Robot, Perwakilan Penulis Buku “Kisah Para Pelukis Wajah Bangsa”, Inho Loe, serta Perwakilan Tim Editor Buku “Kisah Para Pelukis Wajah Bangsa”, Gusty Rikarno. Keempat narasumber pun memberikan testimoni dan gagasannya terkait buku tersebut di bawah panduan Romo Kornelis Usboko selaku moderator.

 

Di awal proses bedah tersebut, ada hal menarik yang selalu ditekankan oleh Romo Darmin, yakni perlunya melukis ulang wajah bangsa. Menurutnya, wajah bangsa ini telah terpecah dan terasingkan satu sama lain. Wajah bangsa, ungkapnya, harus dilukis secara Pancasilais, dengan nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan. Semuanya itu, tegasnya, bisa terwujud melalui sistem pendidikan yang holistik.

 

“Substansi dan ide di dalam buku ini sebenarnya ingin menggambarkan sebuah pendidikan yang holistik yang mengakui proses keterikatan antara fisik, emosional, intelektual, spiritual dan kebijaksanaan,” jelasnya saat memberikan testimoni terhadap isi buku tersebut. 

 

Bagi Romo Darwin, pendidikan yang holistik bisa membantu peserta didik untuk menemukan diri dan tujuan hidupnya. Melalui pendidikan tersebut, ungkapnya, proses penamaman literasi bisa berjalan dengan baik, sebab literasi adalah bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) yang harus diterima oleh semua orang tanpa terkecuali.


Sekjen BMPS Nasional, Romo Dr. Mbula Darmin Vinsensius, OFM saat kegiatan bedah buku.

 


Lebih lanjut, Marsel memberikan apresiasi bagi penerbitan buku “Kisah Para Pelukis Wajah Bangsa”. Baginya, buku tersebut berisi pengalaman para guru (best practice) di dalam kelas beserta solusi pemecahan masalah yang bersifat inovatif. Oleh sebabnya, Marsel menyebut para guru dengan istilah “rasul pendidikan” yang selalu mewartakan pengetahuan ke dalam dunia pendidikan itu sendiri. Untuk itu, terang Marsel, pihak BMPS Provinsi NTT harus bisa memetakan dan menentukan lagi tema-tema baru yang akan ditulis oleh para guru di waktu mendatang.

 

Sementara itu, Inho Loe selaku penulis mengungkapkan bahwa buku tersebut merupakan komitmen para guru untuk merancang dan mengedepankan sistem pembelajaran yang inovatif. Konten dan substansi yang termuat di dalamnya bisa menjadi upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Lebih lanjut, Gusty Rikarno selaku editor menegaskan bahwa buku tersebut adalah produk nyata dari kegiatan literasi, sebab baginya, literasi adalah jalan pulang menuju kebangkitan NTT.

 

“Literasi adalah jalan pulang menuju NTT bangkit dan NTT sejahtera. NTT harus bangkit secara rasional dan NTT harus sejahtera secara profesional. Literasi juga merupakan jembatan antara teks dan konteks untuk memajukan jalan berpikir para guru dan anak-anak NTT,” ujar Gusty di sela-sela kegiatan bedah buku tersebut.

    

Memilih Nahkoda yang Baru

 

Tepat pukul 13.00 Wita, seusai kegiatan bedah buku, pihak panitia penyelenggara melanjutkan acara Muswil II BMPS Provinsi NTT. Menurut Winston, ada tiga hal yang akan dibahas dalam arena Muswil II tersebut, yaitu menilai laporan pertanggungjawaban (LPJ) pengurus BMPS; memilih pengurus BMPS yang baru; dan memberikan ide atau rekomendasi bagi kerja-kerja BMPS di waktu yang akan datang, termasuk di dalamnya merencanakan program kerja BMPS NTT periode 2022-2027.


Romo Kornelis Usboko sedang memimpin jalannya sidang Muswil II BMPS Provinsi NTT.


Setelah proses pembacaan tata tertib, acara, roll call dan pengesahan sidang, Romo Kornelis Usboko selaku pimpinan sidang melanjutkan kegiatan Muswil II tersebut dengan mempersilahkan Ketua BMPS Provinsi NTT periode 2016-2021 untuk membacakan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) tahun 2016-2021. Selanjutnya, pihak peserta Muswil II diminta untuk memberikan tanggapan sebelum dilakukannya pengesahan LPJ tersebut untuk kemudian dilanjutkan dengan persidangan komisi, panitia kerja, serta pemilihan Ketua BMPS Provinsi NTT periode 2022-2027.

 

Dalam suasana musyarawah, semua peserta sepakat untuk kembali memilih Winston Rondo sebagai Ketua BMPS Provinsi NTT periode 2022-2027. Hal itu sesuai dengan sepak terjang, pengalaman dan prestasi yang telah diberikannya selama memegang kemudi di dalam bahtera BMPS Provinsi NTT. Winston tentunya menerima tugas tersebut sebagai amanah. Selaku pengurus yang baru, dirinya akan melanjutkan kepemimpinan dan kerja-kerja positif yang sudah ada sambil mengoreksi dan memperbaiki segala sesuatu yang dianggap kurang.

 

Dirinya juga mengharapkan dukungan dari semua pimpinan yayasan, kepala sekolah dan komunitas sekolah swasta di NTT agar mendukung pengurus BMPS Provinsi NTT yang baru, sehingga bisa terus hadir guna mengartikulasikan kepentingan-kepentingan sekolah swasta di Wilayah NTT. Tidak lupa, Winston pun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung BMPS dan membangun sekolah swasta, baik itu dari unsur pemerintah, insan pers maupun pihak swasta.

 

“Kami berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota Kupang yang terus mendukung BMPS, serta ucapan terima kasih kepada Media Pendidikan Cakrawala (MPC) NTT yang memberi dukungan secara khusus, baik untuk kegiatan muswil maupun kegiatan bedah buku,” pungkas Winston.


Winston Rondo terpilih secara aklamasi untuk memimpin BMPS Provinsi NTT periode 2022-2027.


Melukis Ulang Wajah Bangsa

 

Bukanlah perkara yang mudah untuk melukis ulang wajah bangsa, seperti yang disampaikan oleh Romo Darwin dalam sesi bedah buku tersebut. Memang benar, dunia pendidikan (Indonesia) sedang menampilkan wajah yang terpecah, terasingkan, dan bahkan buram dimakan masalah. Selain itu, bukanlah hal baru bila kesenjangan antara lembaga pendidikan swasta dan negeri turut mewarnai buramnya pendidikan dewasa ini. Lalu, bagaimana upaya untuk mengembalikan senyuman di wajah pendidikan sembari menyatukan semua kepentingan demi mencerdaskan kehidupan bangsa?

 

Dalam tulisannya yang berjudul “Menghapuskan Kesenjangan Sekolah Negeri dan Swasta”, Erick Hilaluddin sangat menyoroti ketimpangan perlakuan yang diberikan oleh pemerintah terhadap lembaga pendidikan di dalam negeri. Mulai dari perlakuan yang tidak sejajar antara guru swasta dan negeri hingga pemberian dana bantuan yang kadang tidak merata.

 

Erick berpendapat bahwa demi meninabobokan para guru swasta, pemerintah selalu menyerukan slogan “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Hal itu tentunya semakin meruntuhkan motivasi guru untuk memperoleh kesejahteraan demi dirinya sendiri. Menurut Erick, perlakuan diskriminatif tersebut tentunya bertentangan dengan Undang-Undang yang mengamanatkan negara untuk menyediakan pendidikan yang merata, terjangkau dan berkualitas (Kompasiana.com).

 

Realitas tersebut memang tidak terjadi secara langsung, tetapi secara perlahan melalui kebijakan-kebijakan yang kadang menyulitkan pihak lembaga pendidikan swasta. Contohnya, ketika berlangsung seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN), baik PNS maupun PPPK, para guru swasta cenderung berpartisipasi di dalamnya. Ketika dinyatakan lolos, maka secara otomatis para guru tersebut akan berpindah tugas ke lembaga negeri yang telah ditetapkan sesuai formasi. Akibatnya, lembaga pendidikan swasta akan mengalami kekosongan tenaga pendidik karena minimnya SDM.

 

Inilah yang menjadi tugas utama BMPS Provinsi NTT. Oleh sebab itu, sesuai dengan tema Muswil II “Maju Bersama Mencerdaskan Anak Bangsa dan Bersinergi Membangun Pendidikan NTT”, maka satu pertanyaan reflektif yang perlu direnungkan adalah mampukah pihak BMPS Provinsi NTT mencerdaskan anak bangsa tanpa adanya perlakuan yang diskriminatif sembari membangun sinergisitas dan kerja kolaborasi?

 

Tentunya, ini juga menjadi bahan refleksi bagi semua pihak, sebab pendidikan juga merupakan bagian dari hak asasi yang wajib diperjuangkan dalam kerangka keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka dari itu, BMPS Provinsi NTT harus mampu mendorong lembaga pendidikan swasta untuk menciptakan ruang pendidikan yang mandiri, memiliki sistem regenerasi SDM yang berkelanjutan, serta mengedepankan pola pendidikan yang inovatif. (MDj/red) 

 


Post a Comment

0 Comments