Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BELAJAR MENULIS DAN MANFAATNYA

 




CAKRAWALANTT.COM - Di masa pandemi ini, kegiatan tulis menulis menjadi kurang begitu maksimal. Para pelajar (baca : peserta didik) hanya berkutik pada teknologi, semisal laptop, komputer, atau gadget. Hal itu sangat berpengaruh pada pola dan kemampuan peserta didik dalam menuliskan huruf abjad secara baik, indah, dan rapih. Menuliskan huruf sebenarnya sangat berpengaruh pada kemampuan anak didik dalam memahami suatu konsep.

 

Di Taman Kanak-kanak (TKK) misalnya, anak akan belajar memahami hubungan antara bunyi yang didengar dengan huruf yang ditulis. Begitupun di bangku kelas V Sekolah Dasar (SD), seorang anak akan belajar mengenal abjad dengan sendirinya dan melakukan ekspresi seni. Pada masa itu, menuliskan sebuah kata bisa membantu atau mendorong seorang anak dalam merangkai ide atau berbagi pengalaman.

 

Di sisi lain, terdapat pula sebuah seni untuk menerjemahkan kata melalui displin ilmu filsafat dan logika. Dalam hal ini, ada 7 cara mengajari anak untuk menulis, yakni menyediakan alat peraga yang bervariasi, selalu melibatkan anak dalam kegiatan sekecil apapun, sering mengajak anak untuk berkomunikasi, menggunakan metode menulis dengan menebalkan, bermain suku kata, serta mendampingi anak dengan penuh kesabaran.

 

Selain itu, pada sisi karakter, terdapat 10 cara mengajari dan melatih anak agar mau menulis, seperti melatih memegang pulpen dengan baik dan benar, mulai menulis hal yang paling sederhana, mulai membuat pola tulisan, membiarkan anak mencoret bukunya, melatih anak untuk menggunakan pensil warna, mewarnai objek (gambar/tulisan) serta memperkenalkan anak dengan hal-hal yang disukainya.

 

Membaca dan menulis sebenarnya berguna untuk menunjang kegiatan akademik anak dan mengembangkan kemampuan otak anak dalam memahami sesuatu dengan cepat selama 6 tahun pertama (golden age). Kegiatan menulis dapat melatih otak kiri dan kanan anak sekaligus membuka sisi kreatif dan intuisi anak. Kegiatan menulis juga bertujuan untuk mengarahkan, menjelaskan, menceritakan, meringkas dan meyakinkan orang lain melalui isi tulisan.

 

Dalam masa emas (golden age) anak, orang tua harus mampu memperkenalkan huruf dan angka kepada anak secara perlahan agar mereka bisa mengingatnya dengan baik pada usia 3-5 tahun. Di sisi lain, anak juga bisa mengalami kejenuhan dan kemalasan dalam belajar menulis karena adanya masalah atau gangguan, misalnya anak pengidap ADHD dan disleksia.

 

Sementara itu, aktivitas membaca bisa mulai diajarkan pada usia 4-5 tahun melalui perkenalan pre-reading skills sebagai dasar-dasar baca dan tulis, seperti mengenal huruf, mengenal angka, mengeja suku kata, menulis beberapa huruf dan angka, serta sebagainya.

 

Berangkat dari hal tersebut, terdapat pula 5 langkah dalam mengajarkan anak membaca tanpa mengeja, yakni mengenalkan huruf dengan cara yang menyenangkan, mengajarkan anak menghafal suku kata, mengajak anak membaca buku kata bervariasi, mengajari anak huruf mati, serta melatih anak untuk membaca kata utuh. Sementara itu, untuk anak disgrafia, terdapat beberapa cara untuk mengajarinya menulis, seperti menggunakan praktik menulis multisensori, mengganti jenis kertas dan ukuran huruf serta memperkuat pegangan jari tangan.

 

Membaca dan menulis adalah dua hal yang sangat penting, sehingga semua orang harus mampu meningkatkan kemahiran dan kecakapannya dalam menulis maupun membaca. Menulis mampu mengasah kemampuan seseorang dalam berbahasa tulis, meningkatkan kualitas otak seseorang dalam berpikir, serta mampu melatih konsentrasi guna menghasilkan karya. Selain itu, kegiatan menulis mampu mengintegrasikan pemikiran, gerakan, dan sensasi pikiran dalam menghasilkan sebuah karya tulis.     

 

Adapun teknik dalam menulis harus memperhatikan beberapa hal berikut, yakni mengetahui jenis tulisan yang akan dihasilkan, mempertimbangkan situasi pembaca dan orientasi publik, menentukan tema dan ide tulisan, mengembangkan ide, unsur dan gaya penulisan, serta menyesuasikan tulisan dengan ejaan yang berlaku.

 

Kegiatan membaca dan menulis yang intens mampu mempengaruhi tingkat budaya literasi. Anak didik sudah seharusnya belajar membaca dan menulis sejak dini, sehingga guru dan pihak orang tua harus memikirkan serta mempertimbangkan cara yang strategis untuk mendampingi anak. Anak harus dilatih untuk menulis menggunakan pulpen ketimbang laptop, komputer, maupun gadget.

 

Akhir kata, para guru dan orang tua harus mampu menggunakan metode pembelajaran prior knowledge, menggunakan mind mapping, sering memberikan umpan balik, menerapkan pembelajaran yang melibatkan anak didik secara aktif, menggunakan self-monitoring, scaffolded instruction, dan reciprocal teaching.

 

Teks : Tarsisius, S.Fil*

*Penulis adalah Guru SD Swasta Don Bosco Lewoleba


(red)


Post a Comment

0 Comments