Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

CATATAN REFLEKTIF DARI SEORANG GURU

 



Oleh : Rosalia Lepang Wator, S.Pd

(Guru SKO San Bernardino, Lembata)

 

CAKRAWALANTT.COM - Perjalanan menjadi seorang guru tidaklah mudah. Sebagai seorang guru di Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) San Bernardino, Lembata, penulis memiliki berbagai pengalaman terkait peran dan eksistensi guru di dalam dunia pendidikan. Seperti halnya olahraga Kempo, penulis menerangkan makna guru sebagai seorang petarung. Petarung yang terus berjuang untuk memenangkan sebuah lakon pertaruhan tentunya harus selalu berani untuk memulai atau menemukan hal baru di dalam perjalanannya. Hal tersebut tentunya akan berguna bagi proses kreatif dan pembentukan pola inovasi di dalam dunia pendidikan itu sendiri.

 

Tidak dapat dipungkiri, salah satu hambatan utama yang sering dihadapi oleh seorang guru di dalam Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) adalah pola mengajar yang monoton. Kurangnya dinamika sebagai bagian esensial dalam proses perubahan tentunya memberikan dampak negatif bagi keberlangsungan pembelajaran dan peningkatan minat belajar peserta didik. Maka dari itu, kreativitas dan inovasi guru selaku tenaga pendidik harus terus dimaksimalkan guna menciptakan kondisi pembelajaran yang baik.

 

Dalam realitas kemasyarakatan, profesi guru dianggap sebagai pekerjaan yang bermartabat dan mulia. Mistifikasi profesi guru menjadi upaya apresiatif untuk mengangkat mutu dan kualitas personal guru itu sendiri. Hal itu juga tertuang dalam syair Himne Guru yang ditulis oleh Sartono pada tahun 1975. Menurutnya, guru sering dipuji sebagai patriot dan pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Guru menjadi sumber kebijaksanaan dan teladan bagi anak-anak bangsa. Maka dari itu, sosok guru selalu merujuk pada analogi pelita dalam kegelapan. 

 

Namun, di lain pihak, ketika seorang guru menjadi renta dan (mungkin) melakukan kesalahan yang bersifat manusiawi, maka publik sontak menyerangnya secara personal tanpa memerdulikan alasan atau faktor penyebabnya. Misalnya, ketika seorang terjebak dalam pola pendidikan yang konservatif, maka para peserta didik akan “meninggalkannya” karena kemajuan teknologi di bidang pendidikan. Tidak heran, para guru pun dituntut untuk terus meningkatkan kualitas diri di tengah arus perkembangan zaman.

 

Tuntutan perkembangan tersebut juga kadang menyebabkan guru mengingkari kebutuhan dirinya, baik secara fisik maupun psikis. Guru memberikan seluruh dirinya bagi perkembangan dunia pendidikan bahkan meninggalkan semua kepentingan pribadinya. Dengan kata lain, kemajuan dan kesejahteraannya pun kadang tidak dihiraukan agar fokus dirinya bisa tertuju pada peningkatan edukasi para peserta didik secara holistik.

 

Guru kadang terjebak dalam rutinitas dan ritme kerja yang tidak seimbang. Bila ditelisik secara lebih mendalam, maka kultur sekolah, lingkungan pekerjaan dan dinamika harian seorang guru bisa membentuk kepribadiannya. Dinamika keseharian guru tampaknya lebih dekat dengan gagasan akan status quo daripada dinamika perubahan dan kreativitas yang seringkali bersifat non rutin. Rutinitas tersebut kadang membuat guru tidak bisa bekerja sesuai orientasi karena padatnya aktivitas.

 

Memahami Emosi

 

Rutinitas guru juga kadang menyebabkan kejenuhan. Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran, sisi emosional guru pun juga terlatih. Tidak jarang, guru pun bisa menunjukan sisi kemanusiaannya bila terjebak dala kejenuhan rutinitas yang monoton dan tidak dinamis.

 

Berangkat dari hal tersebut, dapat diartikan bahwa emosi adalah satu dimensi afeksi yang berbeda dengan dimensi lainnya (sensasi) karena menyangkut perasaan akan sesuatu yang diutarakan, dipahami dan disadari. Emosi menjadi semacam keberadaan internal seseorang terkait aspek fisiologis dan sensorisnya. Maka dari itu, emosi dapat menjadi aspek strategis yang turut mempengaruhi keadaan internal dan eksternal individu, termasuk guru.

 

Seorang guru harus mampu memahami kajian emosi, baik dari sisi positif (positive activating emotions), negatif (negative activating emotions), positif netral (positive deactivating emotions), serta negatif netral (negative deactivating emotions). Pentingnya memahami kajian emosi bagi seorang guru adalah untuk meningkatkan kualitas interaksi bersama peserta didik.

 

Emosi mengandung beberapa unsur, seperti konatif (penilaian), afektif (perasaan), dan konatif (perilaku). Belajar sendiri merupakan pengalaman emosi yang melingkupi kognitif, afektif, dan konatif beserta pendekatan-pendekatan multidimensi.

 

Sisi emosi juga berdampak pada proses dan hasil belajar. Rasa senang dan sukacita dalam KBM bisa mendorong dan mempengaruhi hasil belajar yang positif secara akademis. Begitupun sebaliknya, sisi negatif dari emosi bisa menghadirkan kecenderungan degradasi nilai di dalam KBM. Maka dari itu, di setiap KBM, para guru harus mampu menciptakan pola pembelajaran yang kreatif (creative teaching) dan menyenangkan guna menumbuhkan sisi emosi yang positif di dalam diri peserta didik.

 

Lebih lanjut, peserta didik juga harus dilatih untuk mengendalikan emosi (effective self regulation) yang tidak menyenangkan atau bersifat negatif. Dalam hal ini, guru harus mewujudkan emosi positif untuk mendukung setiap misi pembelajaran peserta didik di dalam kelas. Guru harus membuat inovasi dan transformasi pembelajaran, seperti rote memory model secara monolog menuju pendekatan yang lebih menumbuhkan aspek kepercayaan dan penilaian positif terhadap peserta didik. Guru bisa memberikan masukan yang konstruktif, memberikan peluang untuk belajar dari kesalahan, serta menumbuhkan kemandirian (autonomy support) beserta kerja sama dengan model cooperative/collaborative learning.

 

Sementara itu, guru juga harus menciptakan iklim yang mendorong peserta didik untuk mejadi lebih percaya diri dan partisipatif di dalam KBM. Selain itu, guru harus mampu memahami emosi peserta didik yang berkaitan dengan konstruksi sosial dan regulasi diri serta sekaligus memberikan stimulus untuk memperoleh strategi-strategi baru.

 

Editor : Rofinus R. Roning/Mario Djegho (red)


Post a Comment

0 Comments