Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

JELANG HAI KE-56, PENUNTASAN BUTA AKSARA DI INDONESIA TUNJUKAN HASIL POSITIF

 



Jakarta, CAKRAWALANTT.COM - Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, presentase dan jumlah penduduk buta aksara di Indonesia telah mengalami penurunan bila dibandingkan dengan presentase dan jumlah buta aksara di tahun 2021. Hasil positif tersebut bisa terwujud dengan terlaksananya berbagai strategi inovatif serta sinergi bersama para pemangku kepentingan. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Jumeri pada Bincang Pendidikan secara virtual, Sabtu (04/09/2021) di Jakarta. 

 

Ia mengungkapkan bahwa presentase buta aksara pada tahun 2019 sebanyak 1.78% atau sekitar 3.081.136 orang dan pada tahun 2020 turun menjadi 1.71% atau sebanyak 2.961.060 orang. Hal tersebut, imbuhnya, bisa tercapai dengan beberapa langkah strategis, seperti; pemutakhiran data buta aksara bersama BPS; peningkatan mutu layanan pendidikan dan pembelajaran keaksaraan pada daerah tertentu yang menjadi fokus pengentasan; mengembangkan jejaring dan sinergi kemitraan lintas sektor; serta mempercepat akses layanan secara inovatif pada daerah terpadat. 

 

“Persentase buta aksara tahun 2019 sebanyak 1,78 persen atau 3.081.136  orang, dan pada tahun 2020 turun menjadi 1,71 persen, atau menjadi 2.961.060 orang,” ujarnya.

 

Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI)

 

Lebih lanjut, terang Jumeri, pada peringatan Hari Aksara Internasional ke-56, Kemendikkbudristek mengangkat tema “Digital Literacy for Indonesia Recovery” sebagai bagian dari tema besar internasional “Literacy for a human-centred recovery : Narrowing the digital divide”. Melalui tema tersebut, tuturnya, pengimplementasian program pendidikan keaksaraan dapat menjadi lebih adaptif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, khususnya yang berkaitan dengan pergeseran paradigma pembelajaran. 

 

”Dengan tema ini, kami berharap program pendidikan keaksaraan dapat menjadi lebih adaptif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, khususnya berkenaan dengan pergeseran paradigma pembelajaran,” jelasnya.

 

Ia juga mengatakan bahwa dalam memeriahkan HAI mendatang, pihaknya telah menyiapkan serangkaian acara pendukung, yakni; Apresiasi Pendidikan Keaksaraan, Festival Literasi Indonesia, Taklimat Media, Festival Pendidikan Kesetaraan, serta Gelar Wicara.

 

Sementara itu, sambungnya, pada puncak peringatan HAI pada 08 September 2021 akan diberikan penghargaan kepada berbagai pihak yang turut berkontribusi pada bidang keaksaraan, yaitu; Anugerah Pegiat Pendidikan Keaksaraan, Penghargaan pada Tokoh Adat pendukung keaksaraan pada Komunitas Adat Terpencil/Khusus, Apresiasi TBM kreatif/rekreatif, apresiasi publikasi video keaksaraan, apresiasi foto keaksaraan, apresiasi publikasi keaksaraan di media cetak/daring,  apresiasi video literasi masyarakat, apresiasi foto literasi masyarakat, serta apresiasi menulis praktik baik literasi masyarakat.

 

”Melalui puncak peringatan Hari Aksara Internasional, kita perkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan, baik tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota dalam penuntasan buta aksara,” pungkasnya.

 

Sumber : Siaran Pers Kemendikbudristek (https://www.kemdikbud.go.id/)

Editor : Mario Djegho (red)

Post a Comment

0 Comments