Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

PUISI-PUISI PESERTA DIDIK SMK SWAKARSA RUTENG

 


Puisi Imelda Nendang

(Peserta Didik Kelas XI UPW 3) 

Diriku

Teruntuk diriku

Aku minta maaf karena

Belum bisa merawatmu

Aku hanya bisa membuatmu terluka

Teruntuk diriku tetaplah kuat

Malam hari adalah di mana

Waktumu untuk berbaring

Lemas di tempat tidur

Terima kasih diriku

Negeriku

Wahai negeriku cepatlah engkau sembuh

Kami anak-anak bangsa belum bisa membanggakanmu

Wahai negriku kami anak-anak bangsa

Rindu akan kesembuhan

Cepatlah engkau sembuh

Wahai negeriku lawanlah penyakit

Yang menyerangmu

Kami tidak bisa berbuat apa-apa

melainkan menangis

Melihat negeriku yang sedang dilanda

penyakit


Puisi Natalia Alena

(Peserta Didik Kelas XI APH)

Ibu

Di kala matahari telah terbit

Di situlah nampak raut cantik wajahmu

Sejuta sayang dan kasih

Telah kau berikan kepadaku

Hinggah aku sebesar ini

Tak ada hari yang kau lewatkan

Untuk mendoakan buah hatimu

dengan kedua tanganmu engkau merawatku

Dengan mulutmu engkau membina diriku

Dengan hati nuranimu engkau menaruh kasih sayang padaku

Setiap kata-kata mutiaramu

Selalu bermakna untuk aku

Belaian kasihmu mengajarkan aku

Betapa besar cintamu padaku

Ibuku, engkau hanyalah seorang petani biasa

Namun bertelapak kaki sorga

Aku sangat bangga padamu, Ibu

 

Puisi Nando

(Peserta Didik Kelas XI UPW 3)

Sekilas Tentang Kampung Halamanku

Kampung halamanku,

Terdapat sejuta hiburan bagi diriku

Teruntuk keluargaku tercinta

Ayah Ibu serta adik-adikku tersayang

Permintaan maaf kulontarkan

Jarak memisahkan kita demi mengejar impianku

Teruntuk kalian,

Aku meminta doa dan dukungan kalian

Semoga aku sukses dan kembali untuk membalas jasa-jasa kalian

Di kampung, aku berbuat seenaknya

Tetapi di sini, aku memikirkan tempat-tempat kecilku yang dulu

Ibu

Sembilan bulan lamanya kau mengandung aku

Berjuang melahirkanku

Agar aku bisa melihat dunia

Ibu,

Terima kasih atas jasamu

Membesarkanku dengan sepenuh hati

Hinggah menjadi anak yang berguna

Bagi nusa dan bangsa


Puisi Anggeli N. Gurita

(Peserta Didik Kelas XI)

Sahabat Sejatiku

Sahabat

Menghibur adalah keahlianmu

Dikala aku sedih maupun kecewa

Engkau selalu menuntunku

Di saat aku kehilangan arah

Oh sahabat,

Kau bagaikan paras malaikat nan-indah bagiku

Kau mengalahkan ketujuh bidadari

Semua kebijakan ada padamu

Tak Akan Terganti

Semua yang kukira indah

Menjelmah menjadi kelabu

Awal yang kukira mutlak

Seakan terlepas menjadi kilauan masa lalu

Sesuatu kukira terjadi

Takkan pernah kembali

Sampai tersadar bahwa kamu

Takkan pernah terganti

Cinta Romantis

Cinta

Bila kehadiran embun

menyejukan suasana pagi

Tentu kehadiranmu menyejukan suasana hati

Bila sang mentari hadir menyinari bumi

tentu kaulah yang selalu hadir menyinari hati ini


Puisi Rolantinus Sudirman

(Peserta Didik Kelas XI UPW)

Musik

Mendengarmu membuat hatiku tenang

Melodimu begitu merdu

Engkau tidak pernah pergi dari hidupku

Ingin kupeluk engkau

Tetapi engkau hanyalah suara yang tidak bisa kujamah

Saat aku mendengarkanmu

Engkau mengantarkan aku ke mimpi yang indah

Engkau selalu menemaniku di saat aku sedih

Bunyimu membuatku tidak bisa melupakanmu

Terima kasih

Rumah

Berada di dalammu aku merasa tenang dan nyaman

Itu semua karena tubuhmu yang gemuk

Aku tidak pernah sadar

Engkau selalu menerima panasnya terik matahari dan hujan

Yang selalu datang dengan hamparan petir

Namun engkau tetap kokoh dan kuat

Ada amarah tersendiri bagiku

Melihat kepalamu dilempar oleh batu

Oh, sakit

Andai aku bisa melihat wajahmu

Akan kubasuh dengan air hangat

Mengoles balsam pada bagian yang sakit

Tetapi engkau hanya diam

Apa dayaku hanya bisa keluar dan masuk dari tumbuhan yang gemuk


Puisi Maria Salvi. Y. Ngowi

(Peserta Didik Kelas XI Tata Boga)

Si Malang

Bersandar di sudut jembatan

Dekil kotor bau menjijikan

Meratap langit dengan air mata

Hari demi hari

Suka dan duka Ia jalani

Dengan senyuman yang menyedihkan

Mendapatkan cemooh dari orang-orang

Namun senyuman itu tidak pernah pudar

Meski hidup di tempat yang tidak layak

Dia hanya bisa berdoa

Terima kasih kepada Sang Pencipta

 

Editor : Ira Luik (red)

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Post a Comment

0 Comments