Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

MEMBINGKAI TPLD UNTUK NTT BANGKIT DAN SEJAHTERA


Oleh Gusty Rikarno, S.Fil

Jurnalis & Pegiat Literasi Media Pendidikan Cakrawala NTT

 

Kami baru selesai berbicara. Ada yang memang berhubungan dengan topik diskusi, ada yang sekadar sharing praktik baik dan atau tidak yang hanya ingin bicara. Kali ini, saya lebih banyak berdiam diri dan menikmati ke mana topik pembicaraan itu dibawa. Satu hal yang pasti, beberapa aksi kecil yang berhubungan dengan topik itu sudah saya (kami) lakukan. Yah, untuk beberapa kalangan itu sudah dinilai luar biasa. Saya diam saja. Toh, mereka yang berbicara. Bukan saya.

 

Lalu kami diminta berada dalam ruangan virtual. Dipersilakan berbicara sesukanya. Maka terjadilah demikian. Semua orang ingin berbicara. Terkadang saya kagum, di situasi begini orang masih berimajinasi tentang suasana dan kondisi di saat semuanya baik-baik saja. Beberapa gagasan sengaja dilemparkan untuk memantik hangatnya diskusi. Sementara itu, moderator tampak serius dan kelihatan sedang mencatat sesuatu. Satu hal yang pasti bahwa diakhir peserta diskusi dipersilakan dari ruangan virtual dan biarkan tim kecil yang bekerja.

 

Terkadang hidup ini, begitu. Berbicara atau diam sesukanya. Entahlah, apa yang lebih berguna. Lebih baik berbicara untuk sesuatu yang tidak bisa dikatakan atau sebaliknya justru memilih diam. Menurut saya, dua-duanya sama. Sama-sama terlihat asyik walau tanpak sedikit membingungkan. Akh, sudahlah. Hidup ini adalah tentang bunyi (suara). Bersuara atau berbicara artinya hidup. Sama halnya dengan diam yang bersuara walau tidak berbunyi. Poin pentingnya bahwa sekarang kita masih hidup.

 

………………………………………………..

 

Kami baru selesai berbicara. Kali ini tentang Tim Penggerak Literasi Daerah (TPLD). Membanggakan. Di daerah ini nantinya, akan terbentuk TPLD yang akan di-SK-kan oleh Gubernur. Tim ini akan bekerja, menggerakkan literasi di daerah ini. Luar biasa. Pertanyaan tersisa adalah apakah selama ini daerah kita sedang tertidur pulas tanpa melakukan pergerakan apa pun di bidang literasi? Atau mungkin, pergerakan sudah ada tetapi belum masif, tidak terukur dan cenderung “dimonopoli” oleh seorang atau beberapa orang saja?

 

Tiba di titik ini, saya memilih untuk diam. Sempat berniat untuk berbicara tetapi akhirnya memilih untuk diam. Diam adalah caraku merayakan rasa bangga dan syukur. Di daerah ini, akan terbentuk tim yang bekerja tuntas hingga ke pelosok daerah. Membayangkan hasilnya, itulah alasanku untuk kagum dan diam. Bakalan asyik dan seru apalagi nantinya saya diikutsertakan di dalamnya.

 

Struktur pengurus sementara sudah dibentuk. Singkat dan sekilas saja. Toh, itu tidak penting, yang paling penting adalah hasil kerjanya. Satu kalimat yang betah bertahan adalah kita tidak sekadar bekerja sama tetapi bekerja bersama-sama. Perlahan namun pasti, imajinasi tentang mimpi yang kudoakan dalam diam akan hadirnya generasi emas NTT bakal terwujud. Saya optimis. Beberapa lembaga besar duduk dan akan bergerak bersama. Sebut saja, Dinas Pendidikan Provinsi, LPMP, BP Paud dan Dikmas, Kantor Bahasa dan para pegiat literasi yang hebat nan tangguh dari komunitas dan lembaganya masing-masing. Mimpi untuk NTT segera didekalrasikan sebagai Provinsi Literasi di tanah air akan segera terwujud.

 

Dinas Pendidikan Provinsi NTT membuka kegiatan. Mengupas tentang tema dan maksud perjumpaan di ruangan virtual itu. Sebenarnya, tidak ada hal baru mengenai informasi tentang gerakan literasi. Nafas sinergisitas dan kolaborasi yang sudah dan sering digaungkan salama ini oleh pihak dinas pendidikan diutarakan lagi. Hanya sebuah informasi baru bahwa TPLD akan segera di-SK-kan oleh Gubernur NTT. Oleh karena itu, struktur dan program kerja harus segera dibentuk. Dua hal yang segera didiskusikan, diisi dan sedapat mungkin dilaksanakan. Struktur TPLD dan program kerja. Seakan menggarisbawahi satu hal. Struktur pengurus dan program kerja itu mudah asal anggaranya ada. Mungkin begitu. Saya tidak tahu. Syukurlah. Ibu kepala BP PAUD-DIKMAS dan Bapak Kepala LPMP menegaskan itu. Anggaranya ada dari Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Lagi pula, itu memang tugas negara. Negara sudah berdosa karena membebankan para pegiat literasi yang bekerja dalam diam dan tanpa anggaran selama ini. Sudah saatnya negara harus bertobat.

 

Di titik ini, saya tersenyum bangga. Inilah yang menjadi harapan, doa dan kerinduan bertahun-tahun sejak menjatuhkan pilihan untuk berjalan di jalan sepi literasi NTT. Di tahun itu, tepatnya 2013, saya (kami) memilih untuk menempuh jalan sepi literasi itu. Terjal, berlumpur, berduri dan berbatu, itulah yang terjadi. Masyarakat NTT masih nyaman dengan bahasa tutur. Ingin berbicara banyak walau tidak harus mengatakan sesuatu. Menurutnya, berbicara sudah cukup untuk mengatakan dia masih hidup. Padahal, berbicara dan menulis adalah dua hal yang saling mengandaikan. Itulah fondasi dasar ber-literasi. Membaca dan menulis. Bukan membaca dan berbicara banyak. Maka jangan pernah dibilang hebat dalam hal literasi finansial, digital, kewarnegaraan dan lain sebagainya kalau literasi dasar ini masih lemah. Jujur, saya bersyukur karena Bapak Kaban Perpustakaan Daerah berbicara tentang hal ini.

 

Di ruang virtual ini kami duduk dan diam untuk dua alasan. Tidak mau berbicara dan atau tidak berkesempatan berbicara. Saya tahu. Ada sekian banyak yang ingin mendapat kesempatan berahmat itu. Berbicara. Hadirnya TPLD adalah angin segar untuk lajunya pergerakan literasi di daerah ini. Tidak tanggung-tanggung, beberapa lembaga besar duduk dan berpikir serta akan bergerak bersama.

 

Secara pribadi dan lembaga Media Pendidikan Cakrawala NTT, pastinya selalu siap mendukung. Jalan panggilan sekaligus passion kami yang sudah kami jalani dan nikmati selama ini. Inilah yang kita rindukan. Literasi harus menjadi pergerakan yang masif, terukur dan konsisten. Tidak saatnya lagi berjalan sendiri dalam sunyi untuk maksud dan tujuan yang sama. Sekali lagi, kita sepakat akan satu hal yakni bekerja sama dan sama-sama bekerja.

 

Namun di titik terjauh, perlu dipikirkan secara bijaksana agar TPLD hadir sebagai “bunda” yang merangkul semua penggerak literasi yang sudah sekian lama bekerja dalam sunyi. Inilah tugas berat yang tidak semudah menyusun struktur dan program kerja. Oleh karena itu, perlunya sebuah bidang atau divisi khusus untuk maksud ini. Tentunya kita tidak sedang mengharapkan para penggerak literasi itu “angkat tangan” dan membiarkan TPLD bekerja sendiri. Sangat berbahaya dan bertentangan dengan “roh” literasi itu sendiri.

 

Hemat saya, literasi seharusnya dilihat sebagai pergerakan semesta yang seharusnya terbentuk dari rasa kepedulian bersama. Jika itu yang menjadi fondasi utamanya, maka pergerakan literasi tidak harus selalu berhubungan dengan seberapa besar anggaran yang disiapkan. Dana (uang) itu penting. Namun yang jauh lebih penting adalah niat dari para penggerak literasi itu sendiri. Atau dengan kata lain, motivasi untuk menempuh jalan sunyi literasi harus dimurnikan. Hasil atau produk yang dihasilkan itulah yang diutamakan. Bukan wacana dan atau sekadar menjalankan program. Atau semacam “proyek” sesaat. Itu memalukan. Sangatlah elok kalau program kerja yang disusun harus berorientasi pada hasil atau produk literasi yang terukur.

 

……………………………………

 

Beberapa orang anak tetangga membawa kabar dan bercerita. Narasi yang mereka sampaikan sama. Mereka sedang tidak baik-baik saja. Mereka jenuh dengan semua ini. Dengan informasi dan peristiwa akhir-akhir ini. Saya diam saja. Toh, temanya sudah ditebak. Pasti tentang covid-19. Jujur, sebenarnya saya juga jenuh, bosan, marah dan terkadang ingin menyerah. Bukan tentang covid-19 itu, tetapi tentang situasi ini. Situasi dimana orang lebih senang berbicara banyak hal tanpa mengatakan sesuatu. Daerah ini butuh sedikit ruang refreshing. Kita sudah jenuh dengan banyaknya wacana dan program yang berakhir tragis tanpa jejak. Cukuplah covid-19 saja. Jangan lagi diracuni dengan narasi yang berakhir mati. Kehadiran TPLD ditantang untuk me-refresh situasi dan kondisi ini. Saatnya literasi dilihat sebagai jalan pulang menuju NTT bangkit dan sejahtera.

 

Untuk selanjutnya, ijinkan saya dan kami untuk menikmati, mengamati dan sekiranya dizinkan untuk ikut nimbrung menjalankan program-program TPLD. Kami dan kita adalah penggerak yang bekerja dalam sunyi dan tanpa anggaran itu. NTT butuh kita saat ini. Butuh narasi-narasi yang terukur dan terkontrol. Produk-produk literasi adalah batu pijak untuk kita mendeklarasikan diri sebagai salah satu Provinsi Literasi di tanah air.

 

Salam Cakrawala, Salam Literasi.

 

Foto: Dokumentasi Redaksi

Editor: RF/ red

Post a Comment

0 Comments