Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

SIENA INGIN PERGI SEKOLAH (CATATAN HARDIKNAS)



Oleh RP. Ovan Setu, O.Carm

Imam Karmelit. Saat ini tinggal di Asrama Putera Alvarez Paga.

 

Menjelang akhir bulan empat tahun ini, rindu terasa semakin mencekam. Duka terus berterbangan. Sampah-sampah berceceran sepanjang ruas-ruas jalan. Debu dan abu masih saling melumat. Masalah demi masalah timbul tanpa penyelesaian. Teriak ormas-ormas menggema di mana-mana. Pasar jadi politik yang laris. Mimbar diam memperhitungkan ekonomi yang sulfuls dan defisit enggan bersekongkol. Dan Altar diam memandang maraknya kasus sosial mengatasnamakan agama. Lalu agama semakin ramai diperdagangkan.

 

Rimba baru di tengah sekarat dunia. Penyakit yang masih saja menghantui peradaban dunia. Menamakan dirinya Covid-19 sebagai yang terberi (diberi namanya) oleh manusia. Ia tampak dalam korban jiwa dan tak tampak dalam kerakusan serta kepicikan manusia. Seandainya saja Covid-19 mampu memilih-milih jiwa yang perlu menjadi korbannya, saran saya jangan kepada kami yang terhilang dari segala kemorosotan kelas dan kasta bahkan peran dan status pun diabaikan oleh sosial dan kultur budaya masyarakat, carilah mereka yang di sedan dan  di sidang duduk melipat tangan, mulut yang dibayar untuk diam serta kebijakan yang seringkali memeras tanpa ampun.

 

Kebebasan tak lagi mudah diekspresi. Jalan-jalan mudah dibungkam oleh covid-19, pasar masih saja saling berhimpitan, toko-toko masih juga keluar- masuk saling menukar dan penyakit jadi barter paling romantis. Ego masih saja dinikmati. Keserakahan, kerakusan dan kepicikan masih juga dipungut dari hidup. Anak-anak sekolah tertinggal di balik layar handphone, belajar dikondusifkan dengan kekerasan dan paksaan, data dibeli dua hingga tiga hari sekali, jaringan yang hilang muncul dan data yang menspionase handphone tak jarang membuat lelah anak-anak, lebih lelah dari pada mencari kayu dan memberi makanan bagi babi-babi di kandang.

 

Lembaran pengajuan tunggakan dan uang sekolah yang masih juga mendesak, dibayar kas tanpa kredit namun sayang debit masih saja defisit bagi pengetahuan anak-anak. Katanya Belajar dari Rumah, sayangnya lebih asyik Bermain di Rumah. Guru-guru yang enggan mampir meneguk kopi di rumah peserta didik, lebih memilih meng-gosip di teras rumah. Sirih pinang dikunyah, air merahnya menodai tubuh dan bumi, mulut masih saja meng-gosip. Sayangnya anak-anak diberi tugas tanpa pemahaman yang baik.

 

Orang-orang tua diminta menjadi guru, menemani, membimbing dan menjaga anak-anaknya selama proses Belajar dari Rumah. Namun, tak seorang pun yang tahu bagaimana kesibukan untuk sesuap nasi sepanjang hari itu. Ekonomi rumah tangga yang rendah menuntut kerja keras dari pagi hingga malam. Anak-anak diyakini mampu menjaga diri. Mereka memahami orang tua mereka. Tugas yamg diberi tidak benar-benar mereka pahami, dipaksa untuk bertanya kepada orang tua. Tak jarang caci maki dan kata-kata kotor keluar begitu saja. Menyalahi guru, sekolah dan anak-anaknya. Bahkan ada yang menggunakan kekerasan kepada anak-anaknya sendiri.

 

Ma, Siena ingin pergi sekolah?"

 

Siang itu masih panas, terik tepat di atas kepala. Kayu di para-para api hampir habis, konpor dengan sumbu yang tak lagi layak dipakai, minyak tanah di jerigen dan botol kering, tinggal uap dan aromanya saja. Keringat masih berjujuran dari kening ke pipih, tensi dengan sendiri tinggi. Emosi meluap tanpa suara, gerutu mencuat hanya dalam desahan nafas. Anak-anak yang masih belia tak bisa disalahkan. Suami yang sudah sedari pagi meninggalkan rumah ke kebun. Jam makan sudah hampir tiba.

 

Klara, menangis sendirian di dapur. “Hidup mengapa harus begini,” batinnya. 

Klara diam sejenak. Tangisnya meredah. Disekahnya air mata itu. Lalu ditatapnya Siena anaknya dari tungku api. Sambil mendesah.

 

“Siena, di luar sana masih banyak penjahat yang perlu kita hindari. Begitu banyaknya sampai mereka bisa terlihat maupun tidak terlihat. Ibu dan bapa takut, seandainya Siena pergi sekolah, ibu dan bapa tidak bisa berbuat apa-apa, kalau sesuatu terjadi pada Siena,” jawab Klara.

 

Klara tahu, ia tidak dapat menjelaskan secara detail apa yang sedang terjadi saat ini. Siena, hanyalah anak polos yang sedang mencari identitas dirinya. Ia paham sekali, anaknya punya semangat yang tinggi untuk sekolah, namun sayangnya situasi menghendaki siapa saja harus menjaga jarak dan berdiam diri di rumah.

 

“Mama, Siena Ingin Pergi Sekolah”

 

“Siena, mau pergi sekolah?” tanya mamanya sambil mendekap anak semata wayangnya itu.

 

“Kalau Siena mau pergi sekolah, nanti biar mama yang jadi gurunya. Kita, belajar di rumah saja” lanjut Klara.

 

“Siena, maunya ke Sekolah Ma”

 

Klara terdiam. Ia mendesah nafasnya dengan sisa tangisnya yang masih tersengal.

“Ah, Tuhan seandainya semua cepat berlalu, mungkin saja tidak akan seribet ini untuk meyakini anakku sendiri,” batin Klara.

 

***

 

Keluarga Klara bisa dibilang cukup memahami keinginan anak mereka. Tidak ada pertengkaran, perkelahian maupun kekerasan. Hidup pas-pasan membuat mereka mengerti bahwa tidak ada yang bisa mampu menyelesaikan setiap persoalan dengan kekerasan, selain menerima dan menikmatinya. Keyakinan bahwa semuanya akan berlalu, menghantar mereka untuk selau berdoa.

 

Sudah sering Klara menangisi nasib keluarga mereka. Bahkan sudah teramat sering Klara dipergoki Albert suaminya agar jangan pernah menangis di depan Siena, anak mereka.

 

Albert memahami situasi keluarga mereka, terlebih ia adalah ayah dan suami yang setiap saat bertanggung jawab penuh atas nafkah istri dan anak-anaknya. Setiap kali didapatinya Klara menangis, sekuat tenaga pun ia menahan air matanya untuk menguatkan istrinya.

 

Albert hanya seorang petani. Ia lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Ia dan Klara sudah lima belas tahun menikah dan baru di tahun ke dua usai pernikahan mereka dikarunia anak pertama mereka Siena. Situasi sebelum pandemic tentu tidak separah ini. Meskipun sebagai petani Albert bisa dibilang sebagai petani sukses, ia mampu membaca peluang pasar sehingga ia tahu persis apa yang harus dan perlu dilakukan dengan lahan garapannya. Namun pasca covid-19 semuanya berubah, permintaan pasar tak lebih dari sekadar menaruh iba atas hidup para petani. Apalagi tidak sedikit hasil panenan yang gagal akibat hama dan cuaca yang tidak mendukung. Hujan, angin dan terik tak seperti biasanya. Jagung yang gagal panen, kacang tanah yang gagal panen akibat kadar air yang terlampau dingin, curah hujan yang tinggi berbulan-bulan lamanya membuat semuanya tanpa bisa jadi senyum.

Pandemi seperti rimba baru di dalam kehidupan mereka.

 

“Bapa, Siena mau pergi sekolah”

 

Pagi itu, Albert memilih untuk tetap tinggal di rumah. Ia ingin menghabiskan sisa hari itu bersama Siena, dengan begitu Klara bisa lebih mudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

 

Albert tersedak di tengah ia menyeruput kopi, pagi itu. Ia diam, dengan tatapan nanar ia menatap alam bebas di hadapannya. Menimang-nimang jawabannya yang meski ia katakan kepada anaknya itu.

 

Di dapur, Klara sedang diam menanti jawaban yang akan diberikan oleh suaminya.

Keduanya sama-sama menantikan jawaban yang tepat, biar Siena bisa memahami apa yang sedang dialami dunia saat ini.

 

“Siena, anak bapa dan mama yang tersayang. Biar Siena tidak pergi sekolah, bapa dan mama bisa jadikan rumah ini sebagai sekolah. Nanti bapa dan mama yang jadi gurunya. Kita sama-sama belajar. Siena mau kan?” ucap Albert sambil mencubit pipih anaknya itu.

 

“Tapi Pa, Siena mau pergi sekolah. Soalnya hari ini Siena dan teman-teman Siena biasanya membawa acara di lapangan kantor camat kita. Sudah dari tahun lalu sampai sekarang Siena dan teman-teman Siena tidak lagi baca acara di lapangan kantor camat, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Pa,” cerita Siena.

Albert diam, termangu.

 

Hari ini, adalah Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) dan Siena mengingatkan Albert tentang itu. kerinduan Siena benar adanya. Selama ini, setiap peringatan akan HARDIKNAS Siena dan teman-teman sekelasnya pasti membawa acara di lapangan kantor camat, lapangan yang menjadi kebanggaan setiap anak untuk tampil di hari-hari peringatan wajib nasional.

 

“Kalau begitu, Siena, bapa dan mama sama-sama nyanyi di rumah. Anggap saja Siena, bapa dan mama sedang membawa acara di lapangan kantor camat, gimana menurut bapa?” ucap Klara sambil berjalan dari belakang dapur menuju tempat suami dan anaknya itu.

 

Foto: Dokumentasi Penulis

Editor: R. Fahik/ red

Post a comment

1 Comments

  1. Tulisan yang mewakili siena -siena yang lain krn banyak siena di luaran sana. Semoga siena cepat bisa sekolah

    ReplyDelete