Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

SEKOLAH ELITE VS SEKOLAH UNGGUL DAN BERKARAKTER DALAM GERAKAN REVITALISASI


Oleh RD. Fidelis Dua, M.Th

Kepala SMAS Katolik St. John Paul II Maumere

 

Pendidikan sebagai sebuah ikhtiar memanusiakan manusia merupakan karya Gereja yang tak tergantikan sampai saat ini. Gereja memiliki peran yang strategis dalam menyelenggarakan pendidikan melalui sekolah-sekolah Katolik yang mempersiapkan manusia yang mampu bekerja, menjadi warga negara, dan warga gereja yang baik, serta mampu hidup di sepanjang zaman.

 

Namun karya Gereja ini bukanlah hal yang sederhana dan stabil. Globalisasi, teknologi, migrasi, kompetisi internasional, pasar yang berubah, tantangan politik, dan tantangan lingkungan hidup menuntut sekolah-sekolah Katolik untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan karakter yang relevan sesuai konteks abad ini.

 

Tuntutan masa kini memerlukan cara yang lebih inovatif dalam mengelola pendidikan yang merupakan media pewartaan kabar gembira yang unggul dan berpihak pada yang miskin (Nota Pastoral Konferensi Wali Gereja Indonesia tahun 2008). Melalui nota pastoral ini, para uskup menyatakan kepedulian akan pendidikan dengan mengingat kembali inti dan kekhasan lembaga pendidikan Katolik sebagai lembaga yang setia terhadap pencerdasan kehidupan bangsa yang memiliki komitmen untuk senantiasa berpihak atau memberikan perhatian kepada mereka yang miskin, tersingkir, dan terbelenggu.

 

Namun disinyalir bahwa pendidikan Katolik melalui sekolah-sekolah Katolik mengalami pergeseran dari misi awal dan kekhasannya. Sekolah Katolik menjadi sekolah elite yang mahal, yang hanya bisa diakses dan dinikmati oleh orang-orang kaya, atau orang-orang yang beruang. Sedangkan orang miskin, kaum tersingkir, dan terbelenggu seakan terlempar jauh dari sekolah Katolik. Sekolah Katolik tidak dapat diakses oleh mereka yang tidak mampu. Kritik bertubi-tubi terhadap mahalnya sekolah Katolik semakin tidak terhindarkan dan semakin diperburuk oleh sikap tidak ramah terhadap mereka yang termarginalkan dalam hidup bermasyarakat. Dalam hal ini, sekolah Katolik belum sepenuhnya berpihak kepada kaum miskin dan terpinggirkan.

 

Jika Gereja memposisikan diri dengan semangat “option with the poor”, maka sekolah Katolik harus bersikap merangkul, mencintai, dan berpihak pada kaum miskin sebagai bentuk pewartaan kabar gembira yang relevan, sehingga sekolah Katolik tetap pada misinya, yaitu membawa pada perjumpaan dengan Kristus yang hidup, bukan beralih dan berorientasi pada pasar.

 

Namun tak dapat dipungkiri lagi bahwa di era kapitalis dan pada jantung perubahan global, sekolah Katolik ikut terseret dalam pusaran arus kapitalisasi pendidikan. Sekolah Katolik telah berubah menjadi industri yang menghasilkan modal yang tinggi dan mahal. Mahalnya sekolah Katolik akan mengundang resistensi yang dalam jangka panjang justru mempersulit peran Gereja di tengah-tengah masyarakat. Keberpihakkan kepada kaum miskin harus tetap menjadi sikap dasar sekolah Katolik. Akan tetapi, ketidakberpihakkan bisa menyebabkan semakin melemahnya dukungan masyarakat terhadap sekolah Katolik. Bahkan di tengah isu akan adanya nasionalisasi sekolah-sekolah Katolik belakangan ini, sekolah Katolik perlu berkomitmen pada kerasulan yang mampu menjawab perubahan zaman. Kita memang tetap membutuhkan sekolah Katolik yang unggul atau bermutu, tetapi bukan pada sekolah Katolik yang elite dan mahal yang tidak terjangkau oleh semua kalangan.

 

Untuk itu pada era otonomi pendidikan seperti sekarang ini sepatutnya, sekolah Katolik mesti beralih dari sekolah elite yang mahal ke sekolah unggul yang mengedepankan mutu yang bisa dijangkau oleh semua kalangan termasuk mereka yang miskin dan terpinggirkan, sehingga keberpihakkan Gereja tetap nyata. Konsep sekolah unggul adalah sekolah yang bisa menciptakan “great student”, peserta didik yang biasa-biasa saja, mereka yang miskin, tersingkir, dan tidak mampu menjadi luar biasa, unggul dan berprestasi.

 

Sekolah Katolik yang unggul adalah sekolah yang mampu membawa setiap peserta didik mencapai kemampuannya secara terukur dan mampu menunnjukkan prestasinya. Sekolah Katolik yang unggul dapat diartikan pula sebagai sekolah bermutu, yang dalam penerapannya mejangkau  semua kalangan. Ada harapan terhadap sebuah sekolah Katolik yang unggul, yaitu sejauh mana keluaran (output) sekolah itu memiliki kemampuan intelektual, moral, dan keterampilan yang siap bersaing dan berkompetisi. Sekolah Katolik yang unggul dapat melahirkan generasi yang berkompetensi unggul, berkarakter, dan spiritual. Sekolah Katolik yang unggul memiliki fasilitas dan prasrana yang lengkap dan memadai. Sekolah Katolik yang unggul senantiasa menciptakan iklim belajar yang positif di lingkungan sekolah, menerima dan mampu memproses peserta didik yang masuk sekolah tersebut (input) dengan prestasi yang rendah menjadi lulusan (output) yang bermutu tinggi.

 

Di dalam sekolah Katolik yang unggul, peserta didik dari semua kalangan termasuk kaum miskin dan terpinggirkan diwadahi dan ditampung untuk dibimbing secara maksimal tanpa diskriminasi biaya pendidikan. Sebab biaya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat (orang tua) yang  ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan serta pengelolaannya berdasarkan pada prinsip efisien, transparan, dan akuntabel (UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 pasal 47 ayat 1 dan pasal 48 ayat 1). Demikian pun sekolah-sekolah yang berbasis masyarakat atau lembaga pendidikan yang berbadan hukum seperti sekolah-sekolah Katolik dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah (UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 pasal 55 ayat 4). Biaya pendidikan sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 telah terimplementasi dalam kebijakan pendidikan oleh pemerintah saat ini.

 

Pada era pemerintahan sekarang ini tidak ada lagi diskriminasi biaya pendidikan. Setiap peserta didik yang miskin dan tidak mampu secara finansial dibiayai dengan dana bantuan sosial seperti BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan PIP (Program Indonesia Pintar). Melalui akolasi dana minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) seperti yang termuat dalam Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 pasal 49 ayat 1,  sekolah-sekolah dapat mengembangkan pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) untuk menciptakan sekolah unggul.

 

Pengembangan sekolah Katolik yang unggul selalu diarahkan menuju kepada pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM). Dengan mencapai Standar Pelayanan Minimal (SPM), sekolah Katolik yang unggul dapat menciptakan mutu pendidikan yang baik. Sekolah Katolik yang sedang mengembangkan mutu akan semakin agresif, progresif dan kontekstual serta mampu menjangkau semua orang teristimewa kaum miskin dan terpinggirkan. Di dalam sekolah Katolik yang unggul semua standar pendidikan pasti dapat terpenuhi termasuk standar pembiayaan, sehingga sekolah tidak menjadi sangat mahal.  Dengan status sebagai sekolah unggul, sekolah Katolik benar-benar kembali pada misinya menjadi media kabar gembira yang mengangkat derajad peserta didik yang kurang pandai menjadi mampu dan pandai serta menjadi titik harapan yang menjawab semua keinginan masyarakat terlebih mereka yang miskin dan terpinggirkan.  

 

Untuk mencapai sekolah Katolik yang unggul melalui proses revitalisasi. Konsep revitalisasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung arti proses, cara perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. Selain itu, revitalisasi adalah suatu usaha menghidupkan kembali semangat dan motivasi dasar yang pernah ada tetapi kemudian mengalami kemunduran. Dengan demkian, secara umum arti dari revitalisasi adalah suatu proses atau cara dan perbuatan untuk menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya berdaya tinggi. Juga revitalisasi berarti proses menghidupkan atau menggiatkan kembali berbagai program kegiatan apapun atau usaha-usaha untuk menjadikan sebuah lembaga penting dan sangat perlu  (vital). Hal ini bisa disebut bagian dari proses penyegaran agar terus bisa berlangsung. Revitalisasi biasanya dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan, misalnya tujuan pendidikan yang bermutu dan unggul melalui sekolah. Selain itu, revitalisasi dapat menjadi suatu cara kerja untuk mengembalikan keadaan sekolah yang ditandai oleh berbagai kemerosotan.

 

Gerakan Revitalisasi SMAS Katolik St. John Paul II Maumere

 

SMAS Katolik St. John Paul II Maumere sedang berikhtiar untuk mengatasi pelbagai kemerosotan dengan gerakan revitalisasi. Gerakan revitalisasi SMAS Katolik St. John Paul II Maumere telah terjadi sejak tahun 2010 hingga sekarang. Hal-hal yang telah dilakukan untuk perubahan itu adalah perubahan cara berpikir (mindset), perwajahan/penampilan, prestasi/mutu, tata kelola sekolah, nilai (values) atau karakter dan pelayanan (service). Hasil yang dicapai sangat signifikan dan telah diyakini akan membawa SMAS Katolik St. John Paul II Maumere menjadi sekolah unggul dan berkarakter.

 

Dengan berpegang pada semboyan “think big, start small, move fast” (berpikir besar, mulai dari hal-hal kecil, bertindak cepat), revitalisasi pada SMAS Katolik St. John Paul II Maumere dapat diikhtiarkan. Dalam konteks SMAS Katolik St. John Paul II Maumere sebagai sebuah lembaga pendidikan, revitalisasi berarti memaksimalkan kembali semua unsur yang dimiliki untuk menjadi lebih vital atau berdaya tinggi demi tercapainya sasaran dari proses pendidikan yang dilangsungkan pada saat ini dan masa depan.

 

Mengapa perlu ada revitalisasi sekolah ini? Karena sekolah yang ada sekarang, jauh dalam rentang waktu sebelumnya sudah pernah  menjadi vital (sudah pernah berdaya guna). Selain itu karena di saat sekarang sekolah dalam kondisi menurun atau kurang terberdaya lagi. Dengan revitalisasi akan memulihkan kembali kondisi sekolah, minimal sama dengan yang pernah digapai sebelumnya, dan diharapkan tambah bagus bahkan menjadi lebih baik lagi.

 

Inti dari revitalisasi yang dikerjakan dalam proses yang panjang di SMAS Katolik St. John Paul II Maumere adalah membaca konteks secara bersama-sama dengan melakukan observasi terhadap seluruh kondisi sekolah. Realitas objektif di dalam kehidupan sehari-hari diamati dan dicatat. Ssetiap orang dilibatkan untuk berpikir, bertindak bersama dalam menata perwajahan sekolah, menciptakan prestasi/mutu dengan pendistribusian tugas secara proporsional untuk semua bidang pengelolaan sekolah, menanamkan nilai atau karakter sebagai basis dari seluruh proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Semuanya bertujuan untuk meningkatkan pelayanan (service) kepada peserta didik. Sehingga hal-hal yang perlu dilakukan untuk perubahan itu adalah perubahan cara berpikir (mindset), perwajahan/penampilan, prestasi/mutu, tata kelola sekolah, nilai (values) atau karakter dan pelayanan (service).

 

Perubahan cara berpikir yang dimaksudkan di sini adalah merumuskan kembali visi, misi dan tujuan sekolah. Visi, misi dan tujuan sekolah yang dirumuskan adalah hasil penggalian bersama dari semua komponen sekolah. Dengan visi, misi dan tujuan sekolah yang baru akan mendorong semua komponen sekolah untuk berubah. Selanjutnya revitalisasi pada bidang fisik atau sarana prasarana dan lingkungan sekolah. Perwajahan/penampilan sekolah amat memprihatinkan. Semua ruang kelas penuh coretan dinding, ada bekas telapak kaki hampir di loteng, meja kursi banyak rusak dan bahkan ada bangunan yang hampir roboh. Padahal sesungguhnya perwajahan/penampilan sekolah amat menentukan minat atau daya tarik masyarakat untuk memilih sebuah sekolah. Maka semua ruang kelas direnovasi dan membangun ruang kelas baru, memperbaiki dan mengadakan kursi meja bagi peserta didik, menata lingkungan sekolah, mendesain pakaian seragam peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, mengadakan fasilitas belajar (Laboratorium Komputer dan Laboratorium Bahasa Inggris), membangun perpustakaan sebagai sumber belajar, mengadakan fasilitas praktek Laboratorium Biologi, Kimia dan Fisika, dan mengadakan fasilitas pengembangan diri bagi peserta didik (band/musik instrumental, marching band, dll).

 

Revitalisasi tidak hanya berhenti pada perwajahan/penampilan. Revitalisasi di bidang prestasi/mutu menjadi target utama dari gerakan ini. Untuk mencapai sebuah prestasi/mutu yang baik, kualitas dan kompetensi guru dalam pembelajaran harus ditingkatkan. Untuk itu dibuat pelatihan desain kurikulum digital. Kegiatan ini didampingi oleh seorang instruktur selama sembilan hari. Dengan pelibatan nara sumber dari Jakarta, para guru SMAS Katholik St. John Paul II Maumere  berhasil mengembangkan kurikulum yang berstandar. Kurikulum yang diletakkan dalam kesadaran dan pemikiran kritis dan pembelajaran diletakkan sebagai pilar utama pendidikan. Pembelajaran menuntut perubahan mendasar di tataran para guru itu terlebih dahulu. Perubahan paradigma tentang pembelajaran diwujudkan dalam produk berupa kurikulum yang disusun oleh para guru sendiri.

 

Untuk bisa menjalankan program-program sekolah dalam gerakan revitalisasi, maka perlu perbaikan tata kelola sekolah.  Implementasi perbaikan tata kelola adalah menyusun Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) yang dituangkan dalam Rencana Kerja Sekolah (RKT)  dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) oleh Tim Pengembangan Sekolah (TPS). Namun supaya mencapai tujuan pengembangan sekolah yang akuntabel dan transparan, yang inovatif dan berdaya saing, maka perlu pendistribusian tugas kepada semua komponen sekolah. Disusun struktur organisasi sekolah dan dipilih para wakil kepala sekolah untuk empat bidang penting, yaitu wakil kepala sekolah urusan kurikulum, wakil kepala sekolah urusan kesiswaan, wakil kepala sekolah urusan hubungan masyarakat dan wakil kepala sekolah urusan sarana prasarana. Juga dipilih para kepala unit mulai dari tata usaha sampai pada kepala laboratorium.

 

Hal yang urgen juga dalam revitalisasi SMAS Katolik St. John Paul II Maumere adalah pembentukan karakter dan budaya sekolah. Karakter peserta didik dan pendidik serta tenaga kependidikan sangat memprihatinkan. Tidak adanya kedisiplinan dalam waktu untuk pembelajaran. Maka diterapkan pendidikan karakter dalam empat budaya salam, yakni salam dengan lingkungan, salam dengan sesama, salam dengan tanah air dan salam kepada Tuhan. Selain itu ada alur pendidikan karakter yang dilakukan oleh semua warga sekolah setiap hari. Pembentukan karakter di SMAS Katolik St. John Paul II Maumere mengembangkan nilai-nilai atau karakter pada diri peserta didik, sehingga mereka memiliki dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota gereja, masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Metode pembentukan karakter di SMAS Katolik St. John Paul II Maumere melalui keteladanan dan pembiasaan, live in (tinggal bersama), dan penjernian nilai (rekoleksi, retret, pembinaan kerohanian lain dan refleksi harian).

 

Sekolah sebagai Komunitas Hidup dan Perjuangan

 

Revitalisasi SMAS Katolik St. John Paul II Maumere menempatkan sekolah sebagai sebuah komunitas hidup dan perjuangan bersama. Sekolah sebagai komunitas memberikan pelayanan (service) kepada peserta didik secara maksimal dengan hati yang tulus, sehingga para peserta didik dapat berkembang kemanusiaannya secara utuh atau integral artinya,  peserta didik yang didampingi mengalami perkembangan baik fisik, mental, akademis, sosial-emosional, spiritual secara harmonis yang didukung dengan “budaya/kultur sekolah”. Sekolah dalam proses pendidikannya, menciptakan suasana pendidikan di mana setiap peserta didik diterima, disentuh hatinya dan dihargai menurut keunikannya, diberi peluang dan sarana untuk mengembangkan dirinya, serta diberi sarana untuk menyumbangkan bakat, telenta yang dimilikinya.

 

Torehan pencapaian dalam kurun waktu 2010 hingga sekarang terbilang sangat signifikan dan bagus berkat gerakan revitalisasi. SMAS Katolik St. John Paul II Maumere yang tadinya hampir tutup karena berbagai masalah yang membelit bertransformasi menjadi sekolah yang kembali diperhitungkan di Kabupaten Sikka karena progres mutu yang terus meningkat. Melalui perumusan ulang visi, misi dan tujuan sekolah, desain kurikulum digital, perbaikan perwajahan/penampilan, peningkatan prestasi/mutu, perbaikan tata kelola sekolah, penanaman nilai (values) atau karakter dan peningkatan pelayanan (service), SMAS Katolik St. John Paul II Maumere dalam taraf tertentu telah menunjukkan beberapa perubahan dan kemajuan yang baik.

 

Beberapa hasil dari revitalisasi adalah adanya perubahan, yakni perubahan cara berpikir (mindset), perubahan perwajahan/penampilan sekolah, peningkatan prestasi/mutu, perubahan tata kelola sekolah, perubahan karakter melalui budaya sekolah, dan perubahan pelayanan (service). Dengan revitalisasi, sekolah Katolik dapat  bertransformasi dari yang tidak bermutu menjadi sekolah unggul yang bermutu dan berkarakter. Khusus pendidikan karakter benar-benar menjadi fokus dan basis penyelenggaraan sekolah Katolik yang unggul. Melalui pembiasaan diprogramkan beberapa kegiatan untuk menumbuhkan karakter dalam diri setiap peserta didik. Sekolah yang demikian akan diminati oleh masyarakat untuk melanjutkan pendidikan bagi anak-anak mereka.

 

Idealnya sebuah sekolah Katolik yang ingin eksis pada zaman ini bukanlah sekolah Katolik yang elite melainkan sekolah Katolik yang unggul yang terus-menerus berbenah diri dan siap berenang dalam arus perubahan. Perubahan yang diikhtiar terjadi melalui gerakan revitalisasi. Pada era seperti sekarang ini, revitalisasi sekolah merupakan suatu gerakan untuk terus berkembang menjadi lebih unggul/bermutu. Dengan revitalisasi, sebuah sekolah dapat  bertransformasi dalam semua aspek penyelenggaraan sekolah menuju sekolah unggul dan berkarakter. Khusus pendidikan karakter benar-benar menjadi fokus dan basis penyelenggaraan sekolah Katolik yang unggul yang diminati atau menjadi pilihan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan bagi anak-anak mereka.  

 

Foto: Takim/ Ino

Editor: Robert Fahik/ red

Post a Comment

0 Comments