Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

JALAN PANJANG “MEMBUMIKAN” IT DI SMPN MATPUNU


TTS, CAKRAWALANTT.COM –
Pandemi Covid-19 harus diakui memiliki dampak positif dan juga negatif. Dalam dunia pendidikan, pemanfaatan teknologi yang selama ini dianggap hanya berlaku bagi siswa-siswi di perkotaan, kini mengalami perubahan drastis.

 

Kondisi tersebut dialami oleh SMP Negeri Matpunu, di Desa Taneotop, Kecamatan Nunbena, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Sekolah ini termasuk dalam kategori sekolah terpencil karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Kupang.

 

Dengan pemberlakuan Belajar Dari Rumah (BDR), sekolah diberikan dua pilihan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Dua metode yang bisa dilakukan pada masa pandemi ini yakni metode pembelajaran dalam jaringan (daring) dan pembelajaran luar jaringan (luring).

 

Kendati berada di daerah terpencil, SMP Negeri Matpunu, di masa pandemi Covid-19 ini, terus berupaya untuk bisa melakukan pembelajaran secara daring. Kepala SMP Negeri Matpunu, Roby N. D. Beti, S.Pd., Gr., menyampaikan, secara bertahap sekolah memperkenalkan penggunaan IT bagi siswa-siswi di tempat itu.

 

Melalui dana Afirmasi tahun 2019, pihak sekolah menganggarkan pengadaan 41 unit tablet. Roby menyebut itu sebuah langkah maju yang sangat berarti.

 

"Tahun 2020 kami dapat bantuan dari Kemendikbud 15 buah crombook, 1 buah router dan 1 buah komputer server," ujar Roby.

 

Keberadaan fasilitas IT semakin menguatkan langkah sekolah menggapai mimpi besar mereka. Roby menguraikan, salah satu misi SMP Negeri Matpunu adalah "Mewujudkan pembelajaran berbasis IT".

 

Perlahan namun pasti. Roby mulai menatap mimpi besar sekolah itu. Tahun 2021, bersama para guru, mereka mulai melukis mimpi itu dengan program ujian berbasis Android.

 

Tidak banyak berharap. Roby hanya ingin siswa-siswinya bersahabat dengan IT meski tinggal di daerah pelosok.

 

"Kami memprogramkan Ujian Berbasis Android sehingga anak-anak kami yang di daerah terpencil ini bisa memanfaatkan bantuan IT tadi sebagai sarana dalam Ujian," imbuh Roby.

 

Tentunya tidak mudah untuk membiasakan para siswa dengan IT. Roby mengakui hal itu cukup sulit, apalagi para siswa hampir 90 persen belum pernah memegang HP Android atau laptop.


 

Melihat kondisi itu, Roby meminta para guru untuk menyiapkan aplikasi CBT sehingga bisa digunakan oleh siswa-siswi saat ujian nanti.

 

"Target saya dalam Mei ini, anak-anak sudah bisa menggunakan HP Android maupun croombook, sehingga nanti pada bulan September pelaksanaan AKM anak-anak tidak kaku lagi menggunakan HP Android maupun croombook," ujarnya penuh harap.

 

Meskipun tertatih ditambah dengan kendala seperti jaringan yang tidak stabil, Roby tetap optimis memberikan sentuhan untuk perubahan mengikuti perkembangan zaman bagi anak-anak bimbingannya.

 

Berbagai upaya terus dilakukan di tengah keterbatasan mereka. Setiap kendala menjadi semangat baru untuk terus berusaha demi sebuah kemajuan besar. Roby meminta para guru untuk terus mendampingi siswa-siswi belajar mengetik sebab bagi anak-anak pelosok, itu sesuatu yang baru dan butuh waktu untuk belajar.

 

"Saya berkomitmen pada ujian kenaikan kelas ini kami bisa ujian online," tandas Roby.

 

Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah keseluruhan peserta didik di SMP Negeri Matpunu sebanyak 136 orang dengan tenaga pendidik sebanyak 13 orang, yang berstatus ASN 10 orang sementara  3 orang lainnya merupakan guru honorer.

 

Berita dan Foto: Lenzho Asbanu

Editor: Robert Fahik/ red

Post a Comment

0 Comments