Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

TERAPKAN PROKES, MAHASISWA STIPAS KAK JALANI KKN

Ketua Stipas Keuskupan Agung Kupang, RD. Emanuel B. S. Kase, S.Fil., M.M

 

Kota Kupang, CAKRAWALANTT.COM – Dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral (Stipas) Keuskupan Agung Kupang (KAK) menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama kurang lebih satu bulan. Berhubung situasi pandemi, pihak kampus memilih daerah zona hijau sebagai lokasi KKN.  

 

Demikian diungkapkan Ketua Stipas KAK, RD. Emanuel B. S. Kase, S.Fil., M.M., kepada media ini pekan lalu. Menurutnya, keputusan tersebut dikeluarkan setelah dilakukan rapat bersama. Selain itu, tegasnya, mahasiswa KKN juga sudah diberikan pedoman khusus yang disesuaikan dengan kondisi pandemi saat ini.

 

“Untuk pemilihan tempat KKN bagi para mahasiswa, kami memilih dan melakukan koordinasi dengan tempat-tempat zona hijau dan lebih banyak di daerah kecamatan dan desa seperti di daerah Kabupaten Kupang yakni, Amarasi, Amfoang. Ada juga beberapa kecamatan di TTS dan tempat zona hijau lainnya. Ini demi keamanan dan kesehatan mahasiswa kami. Adapun beberapa tempat yang kami hubungi meminta bukti rapid para mahasiswa sebagai syarat perizinan melakukan KKN di tempat mereka. Waktu pelaksanaan KKN dilakukan kurang lebih selama satu bulan,ungkapnya.

 

Meski para mahasiswa KKN sudah diberikan pembekalan dan pedoman khusus, RD. Emanuel mengatakan, dalam praktik di lapangan mereka diminta untuk tetap menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Hal ini demi menjaga kenyamanan serta keselamatan bersama baik mahasiswa maupun warga setempat.

 

“Saya berharap KKN kali ini menjadi kesempatan baik bagi para mahasiswa untuk belajar membangun relasi dan memberi pelayanan masyarakat atau belajar dengan masyarakat,” tuturnya.

 

Kuliah Daring dan Luring

 

Terkait proses perkuliahan selama pandemi, RD. Emanuel menjelaskan bahwa pihak kampus menerapkan dua pendekatan yakni daring dan luring. Perkuliahan daring, menurutnya, banyak menemui hambatan dan dinilai kurang efektif, karena itu pihaknya juga melaksanakan perkuliahan luring.

 

“Lembaga kita saat ini melakukan perkuliahan secara luring dan daring. Mengapa kita gunakan dua metode tersebut, karena pengalaman kita pada semester sebelumnya kegiatan perkuliahan tidak efektif dilakukan secara daring. Keluhan yang ada tidak hanya disampaikan oleh mahasiswa akan tetapi juga dikeluhkan oleh para dosen, tujuan pembelajaran tidak tercapai. Sehingga pada semester ini kita terapkan juga metode perkuliahan luring,jelasnya.

 

Proses perkuliahan secara luring, lanjutnya, dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Perkuliahan luring diatur dalam shift per tingkatan semester setiap minggunya sehingga tidak semuanya datang bersamaan.

 

Kondisi lingkungan kampus yang mendukung dan jumlah mahasiswa yang tidak terlalu banyak karena cuman satu prodi saja, maka ini menjadi salah satu kemudahan untuk lembaga kami mengambil kebijakan melakukan perkuliahan luring. Namun kembali kita juga tetap melihat anjuran pemerintah,tuturnya.

 

Berita dan Foto: Ira Luik & Jaquina

Editor: R. Fahik/ red

Post a comment

0 Comments