Latest News

Sunday, 21 February 2021

PEGIAT LITERASI, PEMBELAJAR SEPANJANG HAYAT


Oleh RD. Yudel Neno

Imam Projo Keuskupan Atambua, Ketua Terpilih FTBM Kabupaten Malaka 2021 -- 2026

 

Filsuf Yunani Kuno zaman pra-Sokratik, Heracleitos, ketika berbicara tentang hakekat alam semest. Ia menegaskan bahwa yang tetap bagi dunia ini adalah perubahan. Di dunia ini, tidak ada yang tetap. Yang tetap hanyalah kenyataan bahwa dunia ini selalu berubah. Segala sesuai selalu mengalir. Pemikirannya tentang perubahan ini dikenal dengan ungkapan pantarei.

 

Lantas, kalau dunia ini selalu berubah, apakah manusia juga ikut berubah? Ada ungkapan dalam bahasa latin, bunyinya demikian; “tempora mutantur et nos mutamur in illis”; waktu berubah dan kita pun ikut berubah di dalamnya. Ungkapan ini menegaskan bahwa manusia tidak bisa menghindari perubahan, bahkan manusia adalah subyek bagi perubahan.

 

Manusia sebagai subyek perubahan, termakhtub di dalamnya hakekat dirinya sebagai yang tak sempurna, dan karena itu, ia selalu membutuhkan tindakan belajar sebagai media untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Tentang belajar, ada ungkapan menarik; ketika manusia berhenti belajar, ia mati. Dengan demikian, belajar tidak sekadar hanya untuk tahu, tetapi belajar sebetulnya merupakan suatu ekspresi bahwa manusia memang hidup. Selama ia hidup, ia butuh belajar. Selama ia belajar, ia tetap hidup. Maka benar, kalau manusia dijuluki sebagai pembelajar sepanjang hayat.

 

Beberapa saat terakhir ini, disadari bahwa tindakan belajar sebagaimana pembelajaran formal yang terjadi di sekolah-sekolah, tidaklah cukup. Mengingat bahwa tidak semua diajarkan dan dipelajari via jalur formal. Kesadaran ini menuntun banyak pihak untuk merintis berbagai strategi pembelajaran, yang bermuara pada tujuan yang sama yakni mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa. Salah satu yang gencar dibicarakan akhir-akhir ini adalah budaya literasi.

 

Apa itu literasi? Jawabannya sederhana, kalau kita mengacu pada asal katanya. Literasi berasal dari kata bahasa latin, “literatus”, yang berarti orang yang belajar. Maka literasi sebetulnya merupakan suatu kecakapan bagi setiap orang, bahwa dengan belajar ia tidak hanya mempertajam kecakapannya, tetapi juga ia adalah pembelajar selama hayat masih dikandung badan. Belajarlah seolah-olah besok ujian; belajarlah hingga titik darah penghabisan. Sangat terhormat, menghabiskan hidup untuk belajar, daripada hidup ini sia-sia karena tidak pernah belajar. 


Salam literasi! Teruslah berjuang, para literat. Untuk sesuatu yang baik, darinya terpancar arah menuju jalan keluar. 

comments

No comments:

Post a comment