Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

MENGURAI BENANG KUSUT PENDIDIKAN

(Catatan dari Diskusi Bersama Kepala SMKN 4 Kota Kupang)


 

Oleh Baldus Sae, S.Fil

Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

 

Hari masih pagi. Gerimis tak kunjung henti. Melanjutkan tidur atau bergegas bangun selalu menjadi pilihan tersulit di musim penghujan seperti ini. Alarm pagi ini mengingatkanku. Pukul 09.00 Wita. Ada Workshop Penulisan Modul Pembelajaran bagi Guru dan Pelatihan Microsoft for Office bagi Tenaga Kependidikan di SMKN 4 Kota Kupang. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari (26--28 Januari 2021). Tim Media Pendidikan Cakrawala NTT juga dilibatkan sebagai narasumber. Sebagai jurnalis, saya turut terlibat dalam kegiatan ini.

 

Hari ini adalah hari terakhir pelaksanaan kegiatan ini. Tanpa menunggu lama, saya segera bergegas. Berpacu dalam gerimis menuju sekolah yang letaknya tidak cukup jauh dari tempat tinggalku. Beberapa guru tampak sibuk merampungkan modul pembelajaran. Tidak ada siswa yang ke sekolah. Pandemi Covid-19 adalah musabab siswa diharuskan belajar dari rumah. Komplek sekolah tampak lengang.

 

Setelah bersalaman ala protokol kesehatan dengan para guru di ruang workshop, kami menuju ruang kerja kepala sekolah. Perbincangan mengenai pendidikan dan literasi berlangsung hangat di ruangan ini. Semi Ndolu, S.Pd., Kepala SMKN 4 Kota Kupang membagi gagasannya tentang pendidikan di sekolah ini. Saya menyimak sambil sesekali mengumbar tanya untuk menghangatkan diskusi kami pagi ini.

 

Menurut Semi Ndolu, problem pendidikan di Indonesia tergolong kompleks, baik dari sisi regulasi maupun implementasinya. Salah satu problem klasik pendidikan di negeri ini adalah kita memaksakan siswa bisa sedikit dari banyak, bukan menguasai banyak dari sedikit. Ada siswa yang kemampuan Bahasa Inggrisnya rendah, sementara Matematika dan Fisika tergolong bagus. Mestinya kita mendorong siswa tersebut untuk fokus mendalami Matematika dan Fisika bukan menuntutnya menguasai Bahasa Inggris secara baik supaya semua nilainya bagus.

 

Untuk mendapatkan hasil yang berbeda, tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama tapi harus dengan cara yang berbeda pula. Pola-pola konvensional yang kita terapkan selama ini terbukti tidak mampu mendongkrak kualitas pendidikan kita menjadi lebih baik. Sudah saatnya kita berbenah. Persoalan kita bukan pada lemahnya SDM peserta didik, tetapi lebih pada pola pembelajaran yang belum mampu menjawabi persoalan.

 

Bagi Semi Ndolu, sekolah bukan sekadar tempat mengajar anak dari tidak tahu menjadi tahu. Jauh dari pada itu, sekolah adalah tempat membimbing siswa untuk bisa memecahkan persoalan hidup di masa depan. “Bagaimana siswa mampu menyelesaikan soal kehidupan, itu yang paling hakiki. Anak pintar sekalipun, berhadapan dengan persoalan kehidupan, ketika dia tidak tangguh, tidak kuat dan tidak mampu menghadapinya, bunuh diri bisa menjadi solusi buatnya”, ucapnya lirih.

 

Pola mengajar text book only sudah bukan zamannya. Jangan sampai kita masuk kelas pegang buku, membacakan apa yang ada di buku lalu seolah-olah hidup ini hanya di dalam buku. Ketika berhadapan dengan soal yang diluar buku, siswa kebingungan. Ujian kehidupan dan ujian di sekolah tentu berbeda. Ujian sekolah belajar dahulu baru diuji, sementara ujian kehidupan diuji baru belajar. Di sinilah peran sekolah untuk membantu siswa memecahkan persoalan kehidupan.

 

Pembelajaran yang baik adalah problem based learning. Belajar berbasis masalah. Beri siswa persoalan dan minta siswa mengerjakannya. Siswa yang mampu menyelesaikan persoalanlah yang perlu diapresiasi dengan memberikan nilai bagus. Dalam menyelesaikan suatu kasus misalnya, siswa akan belajar banyak hal. Skill siswa akan benar-benar terasah ketika berhadapan langsung dengan suatu persoalan. Dunia pendidikan seharusnya bisa berpikir sampai ke sana.

 

Berhenti memberi nilai hanya untuk memenuhi keinginan guru. Inilah kecelakaan besar dalam dunia pendidikan kita saat ini. Semisal demikian, pada pelajaran Bahasa Inggris ada siswa pintar tidak bisa hadir oleh karena sebab tertentu. Ketika diberi tugas dia tidak mengerjakannya karena ada kendala tertentu. Lantas, kita jangan menafikan anak itu punya kemampuan Bahasa Inggris yang bagus. Conversation, reading dan writing-nya bagus. Hanya gara-gara tidak hadir di jam pelajaran sesuai jadwal nilainya menjadi nol. Apa benar harus demikian?

 

Sebagai pendidik yang baik, kita perlu mencari solusi alternatif. Cobalah sesekali berpikir menelpon siswa tersebut. Menanyakan alasan, bercakapan dengannya menggunakan Bahasa Inggris. Ketika kita menemukan alasan yang cukup rasional dan mendapati percakapan Bahasa Inggrisnya bagus, mengapa kita beri nilainya nol? Sangat boleh jadi ini merupakan upaya “balas dendam”, sekadar memenuhi keinginan guru. Pendidikan kita terlalu mengedepankan formalitas.

 

Kita sudah terlalu lama terjebak dalam model pembelajaran konvensional. Sekalipun kurikulum terus berubah tapi tidak ada yang berubah di dalam implementasi pembelajaran. Semisal demikian, sejak zaman nenek moyang, pola pengaturan meja belajar dan posisi duduk di kelas tidak ada yang berubah. Pola belajarnya pun sama. Guru berdiri di depan kelas lalu berbicara dari awal sampai akhir pelajaran. Siswa dipaksa mendengar dan atau mencatat. Terakhir diberi tugas. Siklusnya selalu demikian. Tidak ada yang berubah. Sampai kapan kita terus begini?

 

Tidak hanya itu, merosotnya pendidikan di negeri ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah mental guru yang menjadikan sekolah sebagai sekadar tempat mencari uang. Datang karena digaji. Gaji menjadi satu-satunya alasan untuk mengabdi. Hal ini tentu berimbas pada mutu pendidikan. Setara dengan gaji guru yang tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah.

 

Berhadapan dengan persoalan seperti ini, Semi Ndolu menawarkan paradigm berpikir baru. Jadikan sekolah sebagai rumah ibadah. Analoginya sederhana. Di rumah ibadah, tidak ada pendeta atau pastor yang datang mengetuk pintu rumah umat, mengingatkannya bahwa jam sekian akan ada ibadat di Gereja. Halo…halo,,, jam 8 kita ada ibadat ya di gereja. Semua wajib hadir ya. Ceritanya tidaklah demikian. Semua orang tergerak hatinya untuk ke Gereja. Tidak ada yang merasa terpaksa. Sesampai di Gereja umat tidak meminta imbalan dari pastor atau pendeta malah memberi derma dengan sukacita.

 

Semisal ada pertandingan bola voli di gereja. Salah seorang guru di sekolah ada yang dipercayakan menjadi panitia. Pada saat yang sama ada pelajaran di kelas dan pertemuan panitia di Gereja. Pilih yang mana dan abaikan yang mana? Tidak sedikit yang bakal meminta izin di kepala sekolah untuk mengikuti pertemuan di Gereja. Pemahamannya, seolah-olah di Gereja itu untuk Tuhan, sementara di sekolah bukan untuk Tuhan.

 

“Jadikan sekolah ini sebagai rumah ibadah! Ubah perspektif kita yang menempatkan Tuhan hanya di Gereja. Mengabdi di sekolah adalah sebentuk pelayanan untuk Tuhan. Sekolah adalah medan pelayan kita sebagai guru. Kita tidak harus jadi pendeta atau pastor untuk melayani Tuhan. Jadikanlah pekerjaanmu sebagai pelayanan untuk Tuhan. Ketika kita memaknai tugas kita sebagai guru dengan baik dan benar, kitalah pendeta dan pastor yang berkarya bagi siswa-siswi di sekolah,” tegas Semi Ndolu.

 

Semua kita tentu menginginkan perubahan. Kita ingin agar waajah pendidikan di sekolah ini khususnya dan di negeri ini pada umumnya mengalami transformasi. Ada perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau kita ingin melihat wajah masa depan bangsa ini maka tataplah wajah-wajah para siswa di kelas. Ada siswa yang wajahnya penuh dengan kecemasan, tidak ada kepastian dan harapan dalam hidupnya. Tidak sedikit yang tidak punya cita-cita. Bingung mau jadi apa kelak. Ya, inilah wajah masa depan bangsa kita. Penuh dengan kebingungan dan ketidakpastian. Tidak tahu arah.

 

Mengakhiri perbincangan kami pagi itu, Semi Ndolu kembali menyinggung soal pembelajaran kolaboratif. Kesuksesan pendidikan bukan semata soal kecerdasan guru secara individual. Lebih dari pada itu adalah kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk menghasilkan lulusan yang bermutu. Guru kewirausahaan misalnya, berhenti sudah mengajar siswa teori kewirausahaan kalau siswa tidak mampu berwirausaha. Teori saja tidak cukup menolong siswa untuk memahami dunia kewirausahaan.

 

Sesekali ajaklah siswa keluar dari ruang kelas. Datanglah ke kios-kios. Jumpai pedagang-pedagang kecil di jalanan. Amati apa yang mereka lakukan dan tanyakan kendala yang mereka hadapi. Mungkin mereka tidak mempunyai bussines plan. Jika iya, jadikan itu sebagai masalah. Bersama siswa bedahlah persoalan ini. Ajarlah siswa untuk membuat bussines plan yang baik dan benar. Berdiam diri dalam menara ilmu pengetahuan di zaman ini adalah bentuk egoisme intelektual. Dan kita tidak bisa berkembang dengan cara seperti itu. Produk Sekolah Menangah Kejuruan (SMK) yang paling utama bukan barang tetapi kompetensi siswa. Sejauh mana pelibatan siswa dalam pembelajaran itu yang penting.

 

Foto: Dokumentasi Redaksi

Editor: R. Fahik/red

Post a comment

0 Comments