Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

MEMAKNAI “PULANG KAMPUNG”

Catatan Pinggir pada Novel “Seperti Benenai Cintaku Terus Mengalir Untukmu” Karya R. Fahik



Oleh: Mario Djegho

 

Seperti Benenai Cintaku Terus Mengalir Untukmu adalah sebuah novel yang sangat menarik. Ketertarikan yang dimiliki oleh novel ini sangat mumpuni sehingga para pembaca akan dibuat terkesima oleh alur imajinasi R. Fahik, si penulis novel. Secara visual, novel ini terkesan sederhana dan terlihat lazim seperti novel pada umumnya. Namun, substansi yang terkandung di dalam kesederhaan tersebut menjadi cita rasa unik yang menuntun pembaca masuk ke dalam sebuah karya etnografi.

 

R. Fahik berusaha mengantar pembaca masuk ke dalam suasana dan pemikirannya tentang Malaka, tanah kelahirannya yang menjadi orientasi utama penggambaran novel ini. Tatanan bahasa yang digunakan oleh R. Fahik terbilang berbeda dari novel pada umumnya. Tidak ada permainan kata atau akrobatik diksi yang terkesan konotatif di dalam novel ini. Semua hadir dalam bahasa yang baku dan tidak bertele-tele. Novel ini berusaha merangkul semua pembaca tanpa menitikberatkan variabel pendidikan, usia, golongan dan sebagainya. Semua orang akan merasa memiliki novel ini dan bahkan ikut merasakan bagaimana lika-liku hidup tokoh “aku” yang dilukiskan oleh R.Fahik. Oleh karena itu, novel ini bisa diulas dari semua sudut pandang tanpa mengurangi maksud dan tujuan penulisan novel ini. 

 

Secara umum, novel ini berbicara tentang Malaka, salah satu dari dari 22 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten Malaka merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Belu pada 11 Januari 2013 sesuai amanat Undang-undang Nomor 3 Tahun 2013. Selain pada novel ini, penggambaran akan Malaka juga terlukis di dalam novel Likurai untuk sang Mempelai, karya R. Fahik.

 

Malaka menjadi setting tempat yang diprioritaskan oleh R. Fahik dalam dua novelnya ini. Hal tersebut wajar terjadi karena R. Fahik adalah putra asli Malaka yang lahir di Betun (Ibu Kota Malaka). Inilah semangat utama yang menjadikan novel ini terkesan sangat membangun dan merujuk ke dalam sebuah konsep pembangunan yang universal. Sebagai putra daerah, R. Fahik memiliki tanggung jawab moral untuk membangun dan menjadikan Malaka sebagai rumah ternyaman untuk pulang dan tempat terbaik untuk merindu. Artinya, Malaka harus dibangun, dibenah, dan dirawat selamanya sampai generasi seterusnya yang siap mewarisi.  

 

Semangat “Pulang Kampung”

 

Di dalam novel Seperti Benenai Cintaku Terus Mengalir Untukmu, R. Fahik melukiskan tokoh aku sebagai seorang pemuda yang pulang kembali ke Tanah Malaka usai merantau ke Kota Jogja. Ada dua alasan mengapa ia ingin pulang yakni, kecintaannya pada gadis Malaka bernama Noy dan demi Malaka itu sendiri. Kecintaan dan kerinduannya pada Noy dan Malaka diibaratkan pada Sungai Benenai, sungai di Malaka yang selalu mengalirkan air tanpa memandang musim yang berganti. Benenai menjadi pengingat sekaligus lambang cinta dan rindu si aku untuk selalu pulang ke “rumah” ketika lelah berkelana menyusuri tanah perantauan.

 

Noy adalah wanita yang sangat dicintai oleh si aku. Dalam novel Likurai untuk sang Mempelai tokoh Noy juga disebut sebagai kekasih hati si tokoh aku. Hal tersebut juga berlanjut ke dalam novel ini. Seiring berjalannya cerita, pembaca akhirnya sadar bahwa Noy adalah masa lalu si aku. Noy telah meninggal karena penyakit bawaan yang dideritanya pasca-kecelakaan saat ia kecil. Namun, cintanya pada Noy membuatnya berani menolak cinta Mey, gadis keturunan Jawa-Malaysia yang pernah menjadi sahabatnya di Yogyakarta.

 

Selain sebagai sahabat, si aku juga memiliki hubungan yang erat dengan keluarga Mey. Tidak dapat dipungkiri, keluarga Mey juga sangat berjasa dalam proses pendidikan si aku, terutama dalam proses perkembangan minat sastranya. Keluarga Mey adalah keluarga berada dan memiliki bisnis keluarga yang cukup besar. Kedekatannya dengan Mey sebenarnya telah menumbuhkan benih-benih cinta di dalam dirinya, tetapi si aku tetap berdiri pada pendiriannya. Dia ingin pulang. Dia sangat mencintai Noy dan Malaka. Dia juga berpikir bahwa jikalau nanti dia menikah dengan Mey, dia tidak akan pernah bisa mewujudkan impiannya untuk “pulang kampung”. Dia pastinya akan meneruskan bisnis keluarga Mey dan sibuk membangun “tanah orang lain” ketimbang kembali ke kampung halamannya.

 

Ramuan imajinasi dan cerita R. Fahik tentang pendirian dan semangat tokoh aku sangatlah menarik untuk diulas. Tokoh aku sebenarnya mewakili pribadi orang muda pada umumnya. Kepergiannya ke tanah orang untuk merantau ataupun mengenyam pendidikan tidak membuatnya lupa untuk pulang.

 

Hal ini juga terjadi di dalam kenyataan. Di NTT, pendidikan tinggi masih menjadi kendala utama. Kualitas pendidikan yang masih belum memuaskan menyebabkan sebagian anak muda NTT “merantau” ke “tanah orang”. Hal tersebut juga berlangsung hingga ke dunia pekerjaan. Minimnya lapangan pekerjaan dan peluang karir di kampung halaman menyebabkan sebagian anak muda NTT “betah” bertahan di tanah orang untuk mencari sesuap nasi. Enggannya kepulangan anak muda NTT ke kampung halamannya menjadi pertanda adanya degradasi konsep berpikir untuk memaknai arti “pulang kampung”.

 

Tokoh Noy dalam novel ini sebenarnya adalah sebuah gambaran harapan. Kematiannya ternyata tidak serta merta menghilangkan semangat si tokoh aku untuk tetap pulang ke Malaka. Baginya, Malaka adalah sebuah lahan yang harus diolah untuk menghasilkan sesuatu dan Noy adalah harapannya untuk tetap berdiri dalam paradigma yang konstruktif. Hal tersebut tersirat dalam puisi kecintaan si tokoh aku yang dibacakannya dalam sebuah dialog pembangunan Malaka di Betun, yakni:

Tanahku, di sini kuperoleh segalanya.

Di sini pula harus kuabdikan segalanya”. 

 

Masyarakat NTT pada umumnya dan anak muda NTT pada khususnya harus memiliki semangat membangun seperti si tokoh aku yang dilukiskan oleh R. Fahik. Konsep dan paradigma berpikir harus “ditata ulang”. Dalam pemikiran masyarakat pada umumnya, kesuksesan adalah ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan materi secara baik dan tercukupi. Materi menjadi tolok ukur tertinggi ketimbang rasa bahagia. Fisik menjadi indikator utama sebuah kriteria ketimbang kualitas dan kesehatan mental (mental health).

 

“Pemenuhan keinginan” menjadi pencapaian tertinggi ketimbang inovasi untuk perubahan. Konsep dan paradigma berpikir inilah yang menjadi faktor utama penyebab mengapa masyarakat pada umumnya selalu salah memberikan definisi tentang peristiwa hari ini. Hal tersebut bermuara pada kesesatan berpikir dalam memaknai arti “pulang kampung”.

 

R. Fahik melalui novel ini seolah-olah ingin membangkitkan semangat kaum muda untuk bergerak. “Sekolah Likurai” adalah sebuah harapan yang lahir dari kerja keras si tokoh aku dan para sahabatnya. Keterbatasan sekolah tersebut secara fisik tidak menjadi kendala untuk terus memajukan kampung halamannya di bidang literasi. Di sini, R. Fahik melalui tokoh aku ingin menggambarkan betapa besar semangatnya untuk melakukan perubahan di tengah keterbatasan.

 

Semangat itu senada dengan apa yang pernah diutarakan oleh Nick Vujicic, seorang pria yang terlahir tanpa lengan dan tungkai. Nick pernah berujar dalam bukunya Life Without Limits bahwa hidup ini bukan sekadar bagaimana seseorang “memiliki” tetapi seberapa besar dia mampu “menjadi”. Hidup ini bukan sekadar mencapai prestasi dalam memperoleh gelar, kekayaan, impian dan materi. Namun, hidup adalah tentang bagaimana kita menjadi seseorang yang bahagia, berguna, dan bisa diandalkan untuk kepentinngan banyak orang.  

 

Mengulas Pembangunan

 

Novel Seperti Benenai Cintaku Terus Mengalir Untukmu juga sarat akan visi pembangunan yang berkelanjutan. Diawali dengan percakapan si tokoh aku dan Mey tentang peluang investasi jangka panjang di Malaka hingga isi tiga surat yang ditulis oleh tokoh aku di akhir cerita. Dari alur cerita ini R. Fahik ingin menunjukkan komitmennya untuk membangun Malaka. Semangat “pulang kampung” yang didengungkan dalam lika-liku hidup si tokoh aku termanifestasi di dalam konsep berpikir yang sangat substantif dan konstruktif. Ada tiga pilar utama yang dijadikan R. Fahik sebagai pijakan awal sebuah pembangunan, yakni pilar pembangunan manusia, pilar kehidupan masyarakat, dan pilar kebersamaan. Ketiga pilar ini tertuang di dalam tiga surat yang ditulis oleh si tokoh aku kepada para sahabatnya sebelum keberangkatannya ke Mutis. 

 

Pada pilar pembangunan manusia, R. Fahik menekankan aspek pendidikan, kebudayaan, dan seni sebagai komponen utama yang sangat diprioritaskan. Tiga hal ini sangat mewakili konsep keutuhan manusia. Manusia harus dididik secara intelektual, dibina dalam kultur masyarakat yang kuat akan penanaman nilai dan norma, serta “dikemas” dalam penghayatan diri yang estetis, yang mencintai keindahan, dan mampu merasakan keseimbangan. Hal ini sesuai dengan konsep paradigma pembangunan manusia yang dikemukan oleh Nasution (2004) dalam bukunya Komunikasi Pembangunan: Pengenalan Teori dan Penerapannya bahwa pembangunan manusia adalah sebuah upaya “menata ulang” manusia agar mampu berbuat dan menciptakan sejarahnya sendiri. Baginya, manusia harus menjadi fokus dan sumber utama pembangunan. Hal tersebut berguna agar setiap manusia secara pribadi mampu menjadi manusia yang utuh dan merdeka. Dengan kata lain, semua manusia mampu menjadi produktif secara ekonomi dan efektif secara sosial.

 

Kemudian pada pilar pembangunan masyarakat, R. Fahik menekan tiga aspek utama yang menjadi peluang produktif bagi masyarakat Malaka yakni, bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Sedangkan pada pilar kebersamaan, R. Fahik memberikan perhatian khusus pada aspek politik, agama dan lingkungan alam. Jika didalami lebih jauh, tiga pilar ini harus berjalan berbarengan. Di sini ada tiga unsur utama yang akan saling mempengaruhi yakni, sumber daya, kebijakan, dan implikasinya terhadap lingkungan.

 

Setiap kebijakan pembangunan harus mempertimbangkan keberlangsungan alam dan lingkungan. Pembangunan harus bersifat jangka panjang. Artinya, setiap generasi dan penerusnya berhak menikmati hasil pembangunan dan berhak atas alam serta lingkungan yang sama. Sumber daya alam harus terus berlangsung dengan menekan angka pencemaran dan pengerusakan hutan. Inilah konsep pembangunan berkelanjutan yang sebenarnya tertuang di dalam pemikiran R. Fahik dan terlukis dalam si tokoh aku dalam novel ini.    

 

R. Fahik tentunya sangat menekankan pembangunan yang memperhatikan keberlangsungan lingkungan dan alam. Hal tersebut tersirat dari penggalan tulisan di surat ketiganya:

Banyak hutan lindung yang kini terancam punah. Salah satunya adalah hutan We Mer. Dijadikan lahan untuk berkebun, hutan lindung ini nyaris sepi dari pohon-pohon besar dan ribuan rumpun bambu yang dulu berdiri tegak di punggung bukit ini… saya terus bermimpi, suatu hari nanti, We Mer kembali hijau seperti dulu”.

 

Hubungan antara alam dan manusia pada dasarnya telah terjadi sejak dahulu kala. Relasi resiprokal tersebut melahirkan kebudayaan. Seperti akar katanya, culture (Inggris) yang berasal dari akar kata collere (Latin) yang berarti mengolah alam atau bercocok tanam, manusia “berhutang budi” pada alam untuk membangun sebuah peradaban. Pola pikir, konsep pembangunan hingga perhitungan resiko sebuah peradaban selalu didasarkan pada perkembangan kebudayaan. Di situlah letak strategis alam dan lingkungan hidup sebagai ibu peradaban (the mother of civilization). Hubungan yang mendalam antara manusia dan alam melahirkan realitas baru tentang sebuah hubungan dan kesadaran spiritual yang oleh Arne Naess disebut deep ecology. Deep ecology atau ekologi dalam merupakan sebuah konsep yang mendeskripsikan hubungan antara manusia dan lingkungan alam yang tidak dapat dipisahkan.

 

Pada akhirnya, Novel Seperti Benenai Cintaku Terus Mengalir Untukmu berhasil membawa pembaca untuk mengulas berbagai permasalahan dan isu sosial dalam sebuah kisah cinta dan kerinduan untuk pulang ke kampung halaman. R. Fahik berhasil meramu berbagai konsep pembangunan dalam karya sastra terbaik ini. Kita harus bernyala seperti arti kata Malaka (Ma – “mak” – “yang” dan Laka – “lakan” – “nyala, cahaya, sinar”). Kita juga harus bisa memiliki harapan seperti sungai Benenai yang terus mengalir tanpa memandang musim. Sekali lagi, R. Fahik mampu mempersatukan semua perspektif pembaca ke dalam sebuah imajinasi yang luar biasa berkualitas.

 

Tanpa mengurangi gurihnya penafsiran pembaca, R. Fahik telah mengantarkan kita ke dalam sebuah penggambaran umum tentang Malaka, kerinduan untuk pulang, tanggung jawab moral, semangat untuk menciptakan perubahan, serta berani mengambil keputusan dengan komitmen yang matang. Novel ini layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama kaum muda yang sedang merantau di tanah orang. Tidak ada yang salah dengan perantauan, tetapi rumah sendiri adalah tempat ternyaman untuk kembali. Ibu selalu berpesan, kemanapun kita berjalan, sejauh apapun kita tersesat, seburuk apapun kita terpuruk atau setinggi apapun kita berhasil, lengan rapuh ibu akan selalu ada untuk memeluk kita ketika kita kembali pulang.


* * *



Mario Djegho lahir pada 21 Agustus 1995 di Denpasar. Menyelesaikan pendidikan terakhirnya pada Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Nusa Cendana pada 2019. Pria yang senang berjalan kaki dan membaca buku astronomi ini juga tertarik pada dunia menulis. Baginya, menulis adalah sebuah cara mendokumentasikan pikiran, hati, dan rasa dalam sebuah keunikan hidup. Selain membaca, pria berdarah Ende-Flores ini juga senang menulis, berkebun, dan memelihara ternak sebagai kesibukannya sehari-hari. Akhir 2020 lalu ia lolos dalam Seleksi Wartawan Media Pendidikan Cakrawala NTT. 


 





Post a Comment

0 Comments