Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

ANTARA BELAJAR DAN DEPRESI DI TENGAH PANDEMI

 


Oleh: Kasilda Sumita Gonggor

Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Undana Kupang

 

Siapa nih yang hingga sekarang masih belum mengenal masker, hand sanitizer, dan menerapkan social distancing? Kalau ada yang belum mengenal ketiga kata tersebut, patut dipertanyakan keberadaannya selama hampir setahun ini. Yah, pastinya kita tidak asing lagi dengan kata-kata tersebut. Sebab, memang sudah hampir setahun mereka menjadi kebutuhan dan keharusan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena alasan apalagi, kalau bukan karena virus baru yang menyebar di hampir seantero dunia dan belum ditemukan vaksinnya hingga saat ini.

 

Virus baru ini diperkirakan berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei, Cina dan pertama kali diidentifikasi keberadaannya pada akhir tahun 2019. Hanya dalam kurun waktu beberapa bulan, virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia. Virus yang bernama Corona atau Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Virus ini telah menjadi pandemi bagi dunia. Artinya, virus Corona atau lebih dikenal dengan nama Covid ini telah menyebar secara luas di dunia.

 

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, pada umumnya Virus Corona menyebabkan gejala yang ringan atau sedang, seperti demam dan batuk, dan kebanyakan bisa sembuh dalam beberapa minggu. Sekalipun demikian, bagi sebagian orang yang berisiko tinggi (kelompok lanjut usia dan orang dengan masalah kesehatan menahun, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, atau diabetes), Virus Corona dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius hingga kematian. Kebanyakan korban berasal dari kelompok berisiko itu.

 

Untuk memutus rantai penyebaran Corona, World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia mengeluarkan protokol kesehatan. Beberapa protokol yang harus ditaati yaitu menjaga kebersihan tangan, jangan menyentuh wajah, menerapkan etika saat batuk dan bersin, isolasi mandiri, jaga jarak, dan menjauhi kerumunan. Karena penindaklanjutan protokol kesehatan dan angka penularan yang tinggi, maka di seluruh belahan dunia banyak perusahaan yang menerapkan sistem work from home atau bekerja dari rumah, ibadat online, hingga penerapan online class.

 

Kita patut mengapresiasi penerapan sistem online di berbagai bidang kehidupan saat pandemi ini. Selain memutus penyebaran virus, juga menandakan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sayangnya, kemajuan peradaban yang luar biasa ini belum sepenuhnya diapresiasi oleh masyarakat. Sebab, penggunaan teknologi yang canggih harus dibarengi dengan modal yang kuat serta situasi dan kondisi yang memungkinkan.

 

Virus corona pertama kali menyebar ke Indonesia pada awal Maret 2020. Maka sejak pertengahan Maret, berbagai aktifitas dilakukan secara online termasuk aktivitas pembelajaran di sekolah. Keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI ini diterapkan untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang semakin meluas. Perubahan pembelajaran ini diterapkan mulai dari pendidikan sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

 

Tak bisa dipungkiri, perubahan proses pembelajaran ke sistem daring atau online memanglah sangat sulit dilakukan apalagi diterapkan di Indonesia sebagai negara berkembang. Penerapan pembelajaran jarak jauh ini pun tidak dibarengi dengan persiapan yang cukup sehingga menimbulkan berbagai hambatan baru. Akibatnya, banyak tenaga pendidik yang bingung menentukan metode apa yang paling efektif. Ditambah rendahnya pengetahuan guru untuk mengakses dan memanfaatkan teknologi. Maka tak heran jika banyak materi pembelajaran yang hanya diberikan sebagai tugas bagi peserta didik.

 

Selain itu, pembelajaran online juga mengharuskan peserta didik memiliki perangkat pembelajaran, setidaknya smartphone atau laptop. Karena merupakan media utama yang harus disediakan, peserta didik yang berasal dari keluarga tak mampu banyak yang memilih untuk berhenti sekolah. Kalaupun perangkat pembelajaran dimiliki, kebutuhan akan kuota internet setiap bulan tetap menjadi beban tersendiri bagi masyarakat miskin. Berdasarkan riset yang dilakukan Gredu yang merupakan platform teknologi pendidikan untuk mewujudkan evolusi digital di sekolah, kuota yang dihabiskan setiap anak adalah 1 GB perhari. Ini berarti selama satu bulan kuota yang dihabiskan oleh setiap peserta didik yaitu 30 GB atau lebih. Kuota 30 GB perbulan ini memungkinkan orang tua merogoh kocek sebesar 200 ribu atau lebih untuk setiap bulannya. Kesadaran akan kondisi keluarga inilah yang membuat anak tertekan dan memutuskan untuk berhenti sekolah.

 

Selain keadaan ekonomi yang menyebabkan banyak anak putus sekolah, sinyal atau jaringan juga mempengaruhi proses pembelajaran. Jaringan yang buruk ketika mengikuti proses pembelajaran online memang sangat menyebalkan karena banyak materi yang terlewatkan. Demi kelancaran proses pembelajaran, tak sedikit peserta didik yang berpindah-pindah dari desa satu ke desa lainnya, memanjat pohon, menggunakan handy talky, bahkan ada yang harus menempuh puluhan kilometer untuk mendapatkan jaringan yang bagus.

 

 Peserta Didik Belajar dalam Depresi

 

Hambatan paling besar yang dihadapi peserta didik Indonesia sekarang ini adalah pemberian tugas yang menumpuk yang berujung pada depresi. Bahkan di medio Oktober 2020, seorang siswi SMA di Gowa, Sulawesi Selatan mengakhiri hidupnya lantaran depresi karena banyaknya tugas sekolah selama menjalani Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ (Kompas, 23/10/2020). Ketua Umum Jaringan Sekolah Digital Indonesia, Muhammad Ramli Rahim mengatakan standar penugasan oleh guru tidak diatur, baik oleh Kemendikbud, Dinas Pendidikan Provinsi, maupun Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Ia menganalogikan, jika setiap guru memberikan satu tugas setiap minggu, maka setiap siswa akan mendapatkan 14-16 tugas yang harus dituntaskan sebelum mata pelajaran dilanjutkan pada minggu berikutnya.

 

Guru atau tenaga pendidik dapat dengan mudah memberikan tugas pada pesetra didik tanpa mempertimbangkan seberapa berat tugas yang diberikan. Pembelajaran jarak jauh yang cenderung memberatkan siswa telah mengakibatkan depresi bahkan berujung pada kejadian bunuh diri. Fakta ini harusnya menjadi tamparan keras bagi Kemendikbud Indonesia agar segera menemukan solusi yang efektif agar tidak ada lagi peserta didik yang melakukan hal nekat serupa. Namun sayangnya, belum lama setelah peristiwa bunuh diri itu terjadi, di ujung bulan yang sama peristiwa tragis dengan alasan yang sama terulang. Seorang siswa SMP di Tarakan, Kalimantan Utara ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah gantung diri di kamarnya (Tribunnews, 30/10/2020). Sungguh memilukan sekaligus memalukan.

 

Sekarang, yang paling dibutuhkan adalah langkah tegas Kemendikbud untuk melakukan evaluasi terhadap penerapan pembelajaran daring. Hasil evaluasi ini memungkinkan adanya kebijakan pembelajaran yang memberi arahan kepada tenaga pendidik dalam menerapkan pembelajaran online agar peserta didik tidak belajar dalam tekanan. Mens sana in corpore sono, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ungkapan ini merujuk pada keseimbangan antara fisik dan mental. Ketika lingkungan membebani peserta didik dengan tugas menumpuk dalam waktu yang singkat, maka bukan tidak mungkin anak mengalami beban mental yang pada suatu waktu menyebabkan depresi dan berujung pada tindakan kekerasan. Dengan demikian, tenaga pendidik juga diharapkan untuk mempertimbangkan kembali berat tugas yang diberikan dengan waktu pengumpulannya. Kewajiban seorang tenaga pendidik adalah menghasilkan manusia yang pandai, bukan terbebani. Karena itu, jangan biarkan generasi penerus kita belajar dalam depresi.

Post a comment

0 Comments