Latest News

Wednesday, 28 October 2020

TIARA


Oleh: RP. Ovan, O.Carm

Imam Karmelit, saat ini menetap di Rumah Retret Nabi Elia Mageria, Mauloo, Kabupaten Sikka





Nama perempuan itu Tiara.

Sebagai anak perempuan tunggal dalam keluarga yang beradat, Tiara tak lebih dari sekadar korban dari pemahaman orang tua yang terlampau primitif. Di kampung, kebanyakan orang tua tak menggubris anak perempuan mereka untuk mengejar masa depan, meskipun demikian tidak sedikit juga orang tua yang membiarkan anak perempuan mereka untuk mengejar mimpi-mimpi mereka. Bukankah, sudah waktunya melihat perempuan dari sisi yang lain?

 

Usai menamatkan pendidikan di sekolah dasar sepuluh tahun yang lalu, Tiara hanya mampu melihat masa depannya di depan layar televisi hitam putih. Bahkan ia hampir mengubur mimpi-mimpi itu dalam api yang membakar satu per satu kayu di tungku api, tempat ia bercermin setiap harinya.

 

Teman-teman seangkatannya sewaktu sekolah dasar, tidak sedikit yang memiliki nasib seperti Tiara. Bahkan ada yang sama sekali tidak dibiarkan oleh orang tua mereka untuk sekolah. Alhasil menetap di kampung dalam kebingungan angka-angka dan huruf-huruf. Toh mereka-mereka itu dapat digolongkan dalam kelompok rabun membaca dan menghitung. Jujur orang-orang seperti itu banyak sekali saat ini.

 

Akhir-akhir ini, di kampungnya, Tiara lebih asyik menemani ibu-ibu yang masuk dalam kelompok bertani. Kebetulan saja, di desa mereka terdapat beberapa kelompok tani yang di dalamnya bisa digolongkan sebagai kelompok ibu-ibu. Sistem kelompok bertani ini seperti arisan. Hanya saja sistem arisan itu terkadang per-bulan, tri-wulan bahkan ada yang pakai setahun sekali. Sedangkan dalam kelompok tani sistem arisannya per-hari (bergilir) dari satu petak sawah ke petak sawah yang lain. Terkadang juga per-minggu. Syukurnya di kampung Tiara praktik arisan ibu-ibu bertani menggunakan sistem per-minggu untuk dikerjakan. Misalnya sepekan ini di sawah milik keluarga Tiara, pekan depannya di sawah milik keluarga Kavin, dan begitu seterusnya.

 

Seperti hari ini, Tiara dan ibunya sibuk menyiapkan makanan dan minuman bagi ibu-ibu bertani yang sedang mengerjakan petak-petak sawah milik mereka. Sebagaimana dalam tradisi adat mereka, bahwa darah ayam harus selalu ada di hari pertama mereka mulai bekerja. Sehingga itulah yang dilakukan Tiara dan ibunya.


Hari terus berlanjut, Toh seperti kata Eyang Sapardi “Yang Fana adalah waktu dan kita abadi.” Waktu terus bergulir dan kehidupan mereka tetap demikian. Adat terus menggerogoti kehidupan mereka. Tak ada seorang pun yang berani terlepas dari adat dan kebiasaan di kampung itu. anak-anak, orang-orang tua sampai opa-oma pun tunduk pada adat dan kebiasaan itu.

 

Kematian dan kelahiran terus dirayakan tiap harinya. Bayi-bayi laki-laki dan perempuan tumpah dalam tangis kecil mereka. Namun ada yang janggal setiap ada kelahiran selalu ada pertanyaan laki-laki atau perempuan? Seolah-olah ada sekat yang membatasi sebuah rasa syukur. Orang-orang tua takut pada kenyataan jika bayi perempuan yang dilahirkan. Takut itu lebih dirasakan bukan akibat keinginan yang menolak anugerah namun lebih kepada tidak mampu memenuhi impian masa depan mereka.

 

Laki-laki dibiarkan pergi, melalang buana bersama burung-burung di udara, berkicauan menebar kegagahan dan seolah-olah jadi pahlawan dalam alam semesta. Sedang anak-anak perempuan usai dilahirkan ibu-ibu mereka menyanyikan lagu-lagu senduh, air mata menetes di antara wajah-wajah polos tanpa dosa.

 

Di kampungnya, Tiara diam-diam membangunkan kesadaran membacanya. Di waktu senggang dari kebiasaan-kebiasaan hariannya, Tiara menempatkan waktunya untuk membaca buku-buku yang diberi oleh Gean. Bisa dibilang Tiara adalah seorang gadis dengan pemikiran yang cukup cemerlang. Meskipun bermodal ijazah sekolah dasar, pemahaman Tiara akan situasi dan kondisi kehidupan dunia saat ini bisa dipahaminya dengan baik.

 

Setiap kali menonton beberapa tayangan berita di televisi hitam putih milik mereka dan mendengar beberapa berita dari siaran radio tua milik ayahnya seputar politik dan diskursus ibu pertiwi saat ini Tiara tidak sekadar mendengarkan namun diam-diam dia menanggapinya dalam hati.

 

Gean adalah teman seangkatan Tiara sewaktu sekolah dasar dulu. Gean tahu persis segala hal tentang Tiara baik sikap, tutur kata dan kemampuan intelektualnya. Beberapa hal itu, mendorong Gean untuk terus memberikan beberapa buku bacaan yang dimilikinya kepada Tiara, secara rutin.

 

Diam-diam Gean menyimpan rasa kagum kepada Tiara. Rasa kagum itu lahir dari relasi yang mereka jalani. Mula-mula sebagai teman masa bermain dulu, hingga sampai menjadi pendorong semangat Tiara untuk terus merasa dekat dengan masa depannya.

 

Beberapa bulan yang lalu, Tiara hampir saja mengubur masa depannya bersama setiap suntukkan kayu yang dinanaknya di tungku. Masa depan yang selalu menjadi iming-imingnya untuk terus berlari dan bekerja tak kenal putus asa.

 

Untung saja, Tiara masih ingat pada segala kebaikan Gean, temannya itu. Kebaikan Gean yang tumpah dalam seluruh kehidupan Tiara membuat Tiara menjadi semakin hidup. Senyumnya kembali sumringah dan Tiara diam-diam merasakan suasana hati yang lebih berbeda dari biasanya.

 

Sebagai teman yang selalu memberi semangat dan motivasi, Gean tak pernah berhenti menyarankan Tiara untuk berani menulis. Bagi Gean, Tiara memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Setiap kali berbicara dengan Gean, Gean merasakan bahasa tuturnya runtut dan sangat bermakna baik secara gramatikal maupun leksikal.

 

Ucapan Gean beberapa waktu lalu, usai memberikan buku yang berjudul “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, terus menggema di telinga Tiara. “Tiara, cobalah menulis. Menulis artikel, puisi ataupun cerpen. Mungkin masih kau ingat ungkapan Pak Arka, guru wali kita saat kelas V SD dulu “Rabun Membaca, Lumpuh Menulis.”

 

Lambat laun baru aku paham bahwa ungkapan itu adalah ungkapan pepatah lama yang menyadarkan kita (siapa saja) untuk terus membaca dan menulis sebab tanpa kedua-duanya apa gunanya belajar dan hidup. Ungkapan-ungkapan itu terus memacuh adrenalin Tiara, seorang gadis kampung yang hanya menamatkan Sekolah Dasar. Cita-citanya kandas dalam kehidupan orang tuanya yang terlalu beradat tanpa berpikir jernih tentang masa depan anak perempuan semata wayang mereka.

 

Di tengah dilema dirinya dan ungkapan Gean, Tiara mencoba menulis sebuah artikel sederhana tentang Perempuan. Tulisan yang sangat sederhana, mengulas secara transparan tentang praktik kehidupan manusia beradat di kampung halamannya. Tulisanya yang lahir dari realitas dan pengalaman inderawinya membuat air mata siapa saja luluh. Itulah yang terjadi pada Gean.

 

Usai memberikan tulisan artikel itu kepada Gean untuk dibaca dan diperbaiki, diam-diam tanpa sepengetahuan Tiara, Gean mengirimkan artikel sederhana itu ke sebuah surat kabar harian, sebuah media cetak lokal di ibu kota provinsi dengan tajuk “Membongkar perspektif perempuan dalam tatanan adat dan kebiasaan pada masyarakat primitifisme.”

 

Tulisan itu menuai pujian sekaligus pertanyaan, terlebih seluruh kisah yang ditulis dengan cermat dibahasakan secara lugas dan sederhana dengan alur ceritanya dilatarbelakangi oleh tempat atau daerah di mana ia dilahirkan dan dibesarkan.


Di kampungnya, ramai-ramai orang membicarakan sosok perempuan itu, sebab saat Gean mengirim tulisan itu ia membiarkan N.N (No Name) pada tulisan Tiara dengan berbagai alasan yang dijelaskan secara langsung oleh Gean kepada editor surat kabar harian lokal tersebut.

 

Artikel Tiara itu, tempat membangunkan kesadaran kepada dunia bahwa Perempuan tidak saja diahirkan sebagai seorang perempuan yang hanya menjadi pelayan kaum pria dan yang hanya mengurusi seluruh tetek bengek kehidupan rumah tangga, namun lebih jauh dari itu sisi lain pada perempuan harus dilihat dalam sebuah kaca mata yang berbeda. Sebagaimana Najwa Shihab pernah bilang “sudah saatnya perempuan untuk berkerja dan menunjukkan kualitasnya sama seperti laki-laki. Sebab bukan tidak mungkin perempuan memiliki kualitasnya tersendiri.”

 

Tepat di perayaan kesembilanpuluh dua tahun pada pemuda dan pemudi mengikrarkan sumpah mereka untuk bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu. Nama perempuan itu adalah Tiara. Tiara Pramatusari, seorang kepala desa yang berdiri dengan gagah berani meng-orasikan pesan dan kesannya tentang perempuan di tengah masyarakat adat yang membangun kebiasaan dari kesadaran meng-adat tanpa berani mengalami keterlemparan keluar dari diri sebagaimana kata filsuf Hermeneutik Gaddamer.

 

Saat itu ia berdiri sebagai perempuan pertama yang terpilih menjadi kepada desa di kampung mereka dengan mengikrarkan sumpah bahwa tak ada perempuan yang tak bisa, tak ada perempuan yang tak mampu dan tidak ada perempuan yang diinginkan lahir untuk menjadi babu dari adat dan kebiasaan. Kita semua berhak atas kehidupan yang layak dan tempat yang layak dalam seluruh kesetaraan kedudukkan dan posisi.

 

Selamat merayakan Hari Sumpah Pemuda.

Mageria, di penghujung Oktober 2020.


comments

No comments:

Post a comment