Latest News

Friday, 2 October 2020

CINTA DALAM DEKAPAN RELIGIUSITAS ALA JONI LIWU


Oleh: Suprihatin

Sastrawan, penulis novel Kolong Surga

Tinggal di Yogyakarta

 

Cinta adalah sebentuk kata paling primitif dan abadi. Ia telah ada jauh sebelum peradaban melintas dalam benak manusia. Cinta Adam kepada Hawa, siapa pula yang meragukannya. Kekuatan cintanya mampu melintas samudera dan benua. Adam dan Hawa diturunkan di tanah berbeda, saling mencari hingga bertemu di daratan lainnya.

 

Cinta akan selalu tumbuh, meski ia dipangkas oleh gelapnya sakit hati dan dibakar panasnya api cemburu. Benih cinta akan tetap tersisa meski harus tersembunyi di lubuk terdalam sebentuk hati. Cinta dimiliki siapa saja bahkan di hati mereka yang tidak pernah berkata, aku cinta padamu.           

 

Melalui seratus puisi dalam antologi Bahana Cinta , Joni Liwu berhasil membawa segenap pembaca untuk berasyik masuk dengan aroma cinta yang begitu kuat dan pekat. Dengan pilihan kata memeluk bumi, Joni telah membuktikan bahwa setiap kata mampu mengemban makna dengan prima ketika dibalut dengan nuansa rasa yang pas. Ia mampu menjawab eksperimen sampai di mana kemampuan bahasa sehari-hari yang sederhana dapat mengungkapkan hal paling romantis dan puitis dalam kehidupan.

 

Bak Gunung Mutis yang gagah dan Pantai Rako yang menawan, Joni Liwu merengkuh cinta bersandar di kokoh bahunya dalam basuhan kidung pengantar lelap. Puisi-puisinya  begitu manis dan mengena. Sesekali terasa kompleks, mendalam, dan sangat serius mengarungi bahtera cinta. Cinta kepada kekasih, juga kepada pengukir jiwa raganya.

 

Bukan Joni Liwu kalau tidak mampu membalut aroma cinta dengan aneka rupa kisah. Seperti kisah kepahlawanan dalam “Kartini”, misalnya. Atau puisi yang berjudul “Sumringah Anak Bangsa” yang mengajak anak-anak negeri untuk tidak lelah memperjuangkan cita selagi raga masih kuat dan muda. Puisi “Tulus” untuk Pahlawan Bendera Merah Putih dari NTT, Yohanes Ande Kala Marcal alias Jon pun terasa begitu dalam dan mengena.

 

Seperti judul ulasan ini, Joni Liwu juga mampu dengan apik membungkus cintanya dalam pelukan religiusitas yang pekat. Puisi “Seruni Ahad” dengan jelas meminta tuntunan Yang Kuasa agar selalu dibimbing ke jalan-Nya, agar tak luluh dan remuk didera sesal di kemudian hari lewat denting lonceng gereja yang mampu menguak takdir-Nya.

 

Bahana Cinta adalah puisi-puisi yang menjadi refleksi perjalanan dan pencarian makna cinta berbalut lembar-lembar religiusitas seorang Joni Liwu. Ia mampu memanfaatkan metafora-metafora untuk mendukung citraan visual dalam sajak-sajaknya. Ia lihai dalam menggunakan perangkat kata, metafora-metafora yang orisinal, dan terasa baru. Siapa yang tidak gemas dengan bait sekaligus sebentuk puisi berjudul “Kaemde” ini:

 

Uji nyali
Di atas tali
Walau sekali
Tetap bernyali.

 

Apa yang ingin diungkap Joni Liwu dari puisi sembilan kata tersebut? Ia bicara tentang nyali, tetapi entah siapa yang tahu nyali dalam hal apa yang ia mau. Nyali dalam cinta, nyali menjadi pahlawan, atau malah nyali untuk menghadap Tuhan? Joni Liwu pun sekadar membandingkan nyali dengan tali, tetapi jangan salah, melalui seutas tali orang bisa bangkit kembali bernyali, tetapi lewat seutas tali pula segala yang hidup bisa menjumpai kematian.

 

Melalui sebentuk puisi yang hanya terdiri dari satu bait, Joni Liwu mampu meracik metafora yang membuat pembaca berpikir sangat dalam dan lama. Melalui sembilan kata Joni Liwu telah mampu mengaduk perasaan pembaca. Joni Liwu mampu membuat puisi paling pendek itu menjadi puisi yang paling multiinterpretasi di antara 99 puisi yang lainnya. Ia boleh saja dipahami secara dangkal oleh pembaca pemula, tetapi pasti dipahami secara sangat dalam oleh pembaca yang sudah banyak makan asam garam. Begitu pula dengan muatan emosi yang pada akhirnya menciptakan ledakan makna yang hebat dari puisi singkat tersebut. Yaitu muatan tentang rasa yang dimiliki oleh penyair yang dituangkan ke dalam sajak sembilan kata itu.

 

Di akhir sajaknya, penyair mulai menunjukkan kedalaman religiusitas itu. Pada “Perhentian” Joni Liwu menyadari bahwa segala hal Yang Maha Kuasa memegang peran di atas segalanya. Sehingga, ia memberanikan diri untuk menyatakan bahwa semuanya ada waktunya. Akan tetapi, penyair tetap berharap, semua yang telah terjadi tetap bermakna. Ia hanya bisa berharap agar jalan tetap seiring, selagi nyawa masih sudi memeluk raga.

 

Di perhentian ini,
Hendak kujabat tanganmu
Agar sua kita bermakna,
Agar jalan kita seiring
Syukuri jantung masih berdenyut,
Syukuri hidup yang tetap mendekap.

 

Sukses, Sahabatku! Cinta akan tetap abadi melampaui usia manusia itu sendiri. Seabadi namamu yang akan selalu disebut lewat puisi-puisimu. Salam.


comments

No comments:

Post a comment