Latest News

Wednesday, 16 September 2020

MENGHELA PEREMPUAN LAMAHOLOT DARI LIPATAN MITOS

 


Oleh: Marselus Robot

Dosen Bahasa dan Sastra FKIP Undana

Marcelrob32@gmail.com

 



Memandang  perempuan dalam kepustakaan apapun atau dalam budaya manapun selalu terpendar dalam liur-liur libido kelaki-lakian. Topik perempuan begitu balepotan dengan melankolisme yang terkadang membuat kalap. Semakin banyak sisi yang  diperbicangkan, bahkan dicincangkan, semakin banyak pula yang ditinggalkan dan terus saja mengendap di sisi lorong sejarah kebudayaan manusia. Mungkin pula karena  penampakan perempuan lebih bersifat  teka-teki dari pada laki-laki. Walau begitu, toh,  perempuan tetap saja mengambil posisi sebagai oase di tengah kesangaran laki-laki, perempuan menjadi bejana yang meneteskan anggur keselamatan di piala kehidupan, sampai desah napasnya begitu merdu menyapu rindu.

 

Persoalan yang kemudian dirundung pelit dan sulit, ketika memandang  perempuan dari mata laki-laki yang tak jeli dan tak pernah selesai. Padahal, perbedaan lelaki dan perempuan  bukan sekadar gender dalam pengertian jenis kelamin. Semestinya, membicarakan perempuan bukan karena dia perempuan, melainkan karena dia bukan laki-laki.Sebab, apa yang diberikan perempuan kepada kehidupan tidak seperti yang diberikan oleh laki-laki.  Di sanalah sosok perempuan demikian perkasa dalam kelembutannya. Ia berbicara banyak dengan diamnya. Ia begitu setia menjulurkan payudaranya untuk menyususui kehidupan dan membentangkan cadar peradaban bagi manusia. Itulah sebabnya, perempuan selalu hidup dalam mitos atau dimitoskan. Sudjiwo Tedjo pernah berkata, “Saya tidak pernah tahu wajah perempuan itu seperti apa. Saya cuma bisa membayangkan betapa tabahnya perempuan itu. Sebagaimana kalau saya bayangkan legenda maupun mitos tentang para inang di banyak daerah.”

 

Lantas bagaimana perempuan yang  hidup dan dihidupkan oleh orang Lamaholot (Flores Timur) dalam mitos-mitos? Dengan pertanyaan yang lebih akrab, siapakah perempuan dalam mitos orang Lamaholot, Mikhael Boro Bebe berusaha sekuat lengan pikirannya menghela perempuan dari lipatan mitos orang Lamaholot. Mikhael begitu suntuk mencangkul makna di balik metafora yang hidup dalam kisah-kisah suci tentang perempuan Lamaholot. Sebagai “orang dalam” (the insider), Mikhael Boro Bebe sangat terlibat dalam kebudayaan Lamaholot. Kualitas keterlibatannya justru ketika dia mampu menghela butir-butir mutiara di balik lipatan mitos tentang perempuan Lamaholot.


Membaca  buku ini seakan saya bertemu dengan perempuan Lamaholot dalam definisi yang lain. Sosok istimewa bukan karena ia perempuan, melainkan lebih-lebih karena ia bukan laki-laki. Sosok mulia karena rela mengorbankan dirinya demi menghidupkan persaudaraan. Ia memberikan hidup melalui kematiannya. Darah, daging, dengan rela  diserahkan untuk dikurbankan bagi orang lain. Ia adalah  sosok penuh epik bukan untuk  diintip, melainkan  dimaknai dalam konteks kehidupan orang Lamaholot. Karena itu, orang Lamaholot menyebut perempuan dengan metofora (perumpamaan)  yang begitu efimis (halus) dan feminisuntuk mengawetkan citra  kemuliaan dan keagungan perempuan.

 

Orang Lamaholot memuliakan perempuan sebagai sang yang menghadirkan kehidupan, atau Ibu Kehidupan. Suatu metafora yang amat luas, seluas kehidupan itu sendiri. Semisal, sapaan Ina Tana Ekan sebagai pasangan Ama Lera Wulan, sebuah metafora yang  merujuk pada Ibu Bumi atau Ibu Kehidupan  (sumber kehidupan), termasuk tatanan peradabannya. Dalam citra seperti itu, ibu sebagai bagian dari semesta kosmogoni orang Lamaholot, mulia dan diagungkan. Milkhael Boro Bebe  mencontohkan sebutan Ina kayo puken-bine wai matan yang berarti ibu pangkal pohon dan sumber mata air. Pola arkais ini mengartikan bahwa ibu adalah asal, pokok, pangkal, dan sumber air kehidupan. Dalam bacaan semiotis,airsebagai tanda,sebagai penawar dahaga, menyegarkan (membahagiakan) dan potensi kehidupan.

 

Ambil satu contoh mitos yang dalam buku ini dikaji secara khusus ialah Tonu Wujo. Dalam mitos ini, perempuan dicitrakan sebagai orang yangrela menyerahkan diri untuk dikurbankan (dibunuh) demi  kehidupan saudaranya.Mitos Tonu Wujo  merupakan asal-mula padi. Mirip dengan mitos masyur versi Jawa tentang Dewi Sri (asal-usul padi). Tonu Wujo menjelma menjadi  padi. Dikisahkan, Tuno Wujo menyerahkan lehernya disembeli, tubuhnya  dipotong-potong, darah dan dagingnya ditaburkan di atas kebun milik saudaranya. Ia mati untuk menghidupakn. Rela berkorban untuk orang lain. Hidup berarti rela berkorban untuk sesama. Sebelum ia menyerahkan diri untuk dibunuh, Tonu Wujo bertitah sendu:Na’a go’e pake dike, aman go’e salen sare, gute nala suri sina, pile nala kada jawa, kote nope lega tapo, ebu nope dekan muko” (“saudaraku telah memakaikan-mengenakan pakaian elok, maka ambilah parang Cina, raihlah pedang Jawa, penggallah kepalaku bagai membelah satu buah kelapa, tikamlah perutku seperti tandan pisang”). Betapa melodramatis, perempuan Tonu Wujo begitu rela dirinya untuk dibunuh demi kehidupan saudaranya.

 

Setidaknya ada tiga keping hostia sebagai pesan yang ditinggalkan Tonu Wujo. Pertama, Ia rela berkurban untuk suatu kehidupan. Itu berarti pula bahwa mengeksistensi di dunia adalah dengan menempuh jalan pengurbanan bagi sesama. Kedua, mitos ini meminta kita untuk melihat perempuan sebagai sumber kehidupan. Ia menjelma menjadi padi sebagai sumber kehidupan. Tuno Wujo perempuan yang menggemakan suara profetis (seakan terdesah suara bunda atau kenabian) dari lipatan mitos itu. Perawan tak ternoda yang menolak untuk menikah dan lebih memilih menjadi kurban untuk Lera Wulan Tana Ekan demi kehidupan dan kasih sayang terhadap saudaranya. Ketiga, Tonu Wujo pewaris kebajikan bagi sesama. Persaudaraan dan kebersamaan jauh lebih penting dari sekadar hewan atau harta benda. Ia menolak  hewan, gading, mahar lainnya ketika saudaranya menyuruhnya untuk menikah. Bagi Tonu Wujo, harta benda tidak akan cukup. Yang mencukupkan hidup adalah usaha membagi dan rela berkorban. Hasrat bendawi bukan saja membuat manusia kesurupan dan kehilangan kepekaan kemanusiaan, tetapi manusia kadang senilai dengan benda. Tak bermartabat.

 

Citra  perempuan yang berkorban demi kehidupan tidak hanya dijumpai dalam kisah Tuno Wujo, tetapi juga Nogo. Nogo yang dalam mitos Lamaholot disebut Bala Nago adalah seorang jelita (gadis) yang direguk  laut. Mikael Boro Bele mengutip ceritera itu sebagai berikut:

 

Nogo merupakan perempuan periang, lincah, dan rajin bekerja membantu ibunya. Ia pekerja keras. Pekerjaan yang suka dilaksanakan adalah mencari siput dan menangkap ikan di laut. Nogo mengalami peristiwa naas yakni dihempas ombak dan menghanyutkannya ke tengah laut. Peristiwa naas ini menyelimuti duka yang mendalam bagi ibunya. Saban hari ibu dengan tabah dan sabar mencari anaknya. Sebagai gantinya, ibunya mendapat gading sebagai belis dari pangeran penghuni laut. Gading itu merupakan jelmaan dari ranting kering yang dipungut di pantai. Masyarakat Lamahelan, Adonara mengenal kisah ini dengan istilah Bala Nogo (gading Nogo).

 

Laut dan Lamaholot adalah setali mata koin. Laut adalah ladang-ladang mata pencaharian. Ceritera rakyat, lagu, dan liuk tarian mengambil watak laut. Bala Nogo adalah Si Jelita dalam ceritera Lamaholot adalah perempuan yang diculik Pangeran Penghuni Laut. Pangeran Laut telah memberikan mahar gading kepada Ibunda Nogo. Hingga saat ini, mahar mahal dan penting dalam tradisi perkawinan orang Lamaholot adalah gading. Nilai atau mahar gading demikian penting bukan karena kualitas ganding, namunkisah pengorbanan Nago di balik gading itu. Itulah sebabnyaorang Lamaholot memuliakan dan mengagungkan perempuan sebagai sumber kehidupan.

 

Spirit pengorbanan itu terlacak pula dalam legenda Wai Leto Matan. Menurut Mikhael Boro Bebe, legenda ini mengisahkan pengorbanan seorang perempuan Tonu Uto Wata Wuyo Hadun Horet (Uto Wata), versi lain “Sabu Peni” yang menikah dengan Kopong SedeLewo Lein Mamun Liko Lewo Weran (Kopong Sede) makhluk gaib penguasa air. Sumber air ini menjadi mas kawin bagi Uto Wata. Dari sumber air tersebut muncul pula gading jelmaan dari batang kayu, kalung emas jelmaan tali, emas berkepala penyu jelmaan ranting daun, dan anting jelmaan buah pohon. Harta warisan ini dijaga suku Lewo Lein dan disimpan di korke (rumah adat) desa Lewokluok. Peristiwa ini terjadi di Lewokluo Woyon Tobo-Tana Knilok Nape Hape (desa Lewokluok) kampung yang sealu menyimpan persediaan makanan dan Lewo Blepa Lolon Girek-Tana Hala Lolon Burak (desa Blepanawa).

 

Kisah Wai Leto Matan mirip dengan Tonu Wujo yang memperlihatkan sikap  rela berkorban untuk sesama. Pengorbanan tidak dimbali dengan barang atau jasa apapun, kecuali   menghargai dan memuliakan perempuan sebagai  ibu kehidupan yang telah memberikan jiwa raganya kepada sesama. Dalam bacaan saya, buku ini dipandang cukup lengkap. Mikhael Boro Bebe mengadministrasikan konsep-konsepnya dengan apik, sehingga orang dapat membaca isi keseluruhan buku ini. Mikhael membuka buku ini dengan menguraikan hakekat mitos. Ia menggelar secara luas konsep-konsep mitos (Bab I). Disusul dengan usaha menyingkap perempuan Lamaholot dalam Mitos Tuno Wujo (Bab II). Perjalanan Mikhael Boro Bebesampai pada usaha menguak perempuan Lamaholot dalam ceritera rakyat Lamaholot. Seperti siapa perempuan dalam ceritera rakyat Lamaholot  diungkap secara lugas dan tuntas. Perjalanan pencarian makna perempuan dalam mitos dan ceritera rakyat yang dilakukan Mikhael Boro Bebe  sampai pada mengkaji relevansi mitos dan ceritera rakyat terhadap realitas perempuan Lamaholot. Mikhael Boro melihat semacam kelainan sosial. Misalnya, pada satu sisi, terutama dalam mitos, perempuan begitu diagungkan, ditampilkan dengan citra yang penuh spirit pengorbanan, damai dan kasih yang ditinggalkan. Ia rela menyerahkan diri untuk kehidupan orang lain. Pada pihak lain, keadaaan ini berbeda dengan realitas sosial atau pengalaman empirik orang Lamaholot. Perempuan tidak dihormati sebagai kisah-kisah dalam mitos dan ceritera orang Lamaholot. Sedangkan realitas perempuan hanya sebagai suku cadang perkakas dapur. Bahkan perempuan menjadi budak belian di tanah rantau. Martabatnyadiciutkanmenjadi barang yang diperdagangkan. Inilah ruang refleksi yang disedikan oleh Mikhael Boro untuk tidak segera baleNagi, tetapi kembali ke pangkuan Ine Ata Puken, Ibu Kehidupan yang telah menyerahkan dirinya dengan rela demi kehidupan “Ata Lamaholot”.

 

Sambil menyulih mitos-mitos itu dalam bentuk teks (buku) ini, Mikhael Boro Bele menginterpretasi untuk menghela makna yang terkandung di dalamnya. Di sanalah pembaca sungguh dijamu oleh Mikhael Boro Bebe. Sebab, Mikhael Boro memberikan semacam eksegese yang cukup memadai sehingga pembaca dapat mencicipi langsung makna yang tersaji dalam mitos-mitos tersebut. Akan tetapi, penulis buku yang baik selalu menyediakan ruang tamu bagi pembaca untuk “ngobrol” (memberikan saran dan kritik), sehingga buku ini hidup dalam pikiran pembaca.

 

Selamat membaca dan dekaplah perempuan Lamaholot dengan penuh kemuliaan. Jangan biarkan sukacita menguap dari tubuhnya. Sebab, jiwa raganya adalah matahari kebajikan, titahnya adalah nyanyian yang bermada pada semesta, dan pengorbannya meranumkan kasih sayang. Ine ata Puken, Ibu Kehidupan.

comments

No comments:

Post a comment