Latest News

Monday, 21 September 2020

MEMAKNAI EMPAT PILAR DASAR PENDIDIKAN

 


Drs. Yakobus Haumetan

Kepala SMAK Stella Maris Niki-Niki


Berbicara tentang pendidikan baik secara nasional maupun secara global adalah berbicara soal proses mendewasakan manusia. Proses mendewasakan manusia ini yang kerap dipahami sebagai tujuan dari pendidikan itu sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat banyak aspek yang perlu diperhatikan sebagai pilar dasar yang akan menopang tercapainya tujuan pendidikan.

 

Dalam konteks tersebut, menurut penulis setidaknya terdapat empat pilar dasar pendidikan yang hendaknya diperhatikan secara serius oleh berbagai pemangku kepentingan serta siapa saja yang terlibat dalam urusan pendidikan. Pertama, learning to know, belajar untuk mengetahui. Hal yang mendasar dari learning to know ini adalah bukan hanya sekedar belajar menghafal, tidak hanya pada ingatan, tetapi bagaimana peserta didik diberikan bekal untuk bisa memahami dan mengerti sesuatu itu secara mendalam, dalam konteks bagaimana dia bisa menganalisis, mengkolaborasi, hingga mengaplikasikan dari apa yang dimaksudkan dengan to know, dalam sebuah mata rantai yang terpadu yang tidak terpisahkan. Itu nuansa daripada pilar yang pertama yakni setelah dia melihat dia harus tahu: Itu apa? Itu bagaimana? Dan itu untuk apa?

 

Kedua, learning to do, bagaimana peserta didik  itu diberikan keterampilan (skill) untuk bagaimana melaksanakan apa yang dipelajari. Artinya bahwa peserta didik tidak hanya dibimbing untuk bisa mengetahui  sesuatu dari kulit luarnya tetapi dia dapat melakukan sesuatu. Ini artinya bahwa tidak sekedar terjadi verbalistik, artinya peserta didik hanya mampu untuk menyebutkan itu tetapi tidak mampu untuk melakukan itu dalam dunia nyata. Maka di sini pengalaman empiris sangat dibutuhkan, peserta didik ditarik untuk memasuki dunia nyata, maka ini akan menjadi suatu pengalaman untuk bisa melakukan sesuatu yang telah dipelajarinya.

 

Ketiga, learning to be, belajar untuk menjadi apa, artinya bahwa setelah peserta didik itu tahu dan melakukan maka bagaimana dia bisa tahu soal belajar untuk menjadi apa. Maka akan lebih tepat ketika setiap satuan pendidikan memulai pada tahun pelajaran baru melakukan test, artinya melakukan sebuah tes untuk mengetahui tentang calon peserta didik itu bakat dan kemampuannya di mana, sehingga dalam proses pembelajaran maka peserta didik tersebut akan diarahkan, dibimbing sesuai dengan bakat dan minat yang ada. Dengan demikian peserta didik tersebut tidak hanya ikut arus tetapi diberi bekal atau keterampilan sesuai dengan bakat yang ada, sehingga setelah menyelesaikan satu jenjang pendidikan dia bisa menjadi sesuatu. Kenyataannya bahwa dunia pendidikan contohnya pada jurusan ekonomi, seorang output dari program keahlian ekonomi mendapatkan ilmu terkait langkah dan cara berekonomi yang baik tetapi dia tidak dapat menjadi seorang wiraswasta.

 

Keempat, learning to live together, belajar untuk hidup bersama. Bahwa seorang manusia dia tidak akan menjadi apa-apa ketika dia tidak hidup bersama dengan orang lain. Esensi kehidupan manusia itu bahwa manusia itu bukan sebagai sebuah gunung yang berdekatan dengan gunung yang lain tetapi zaman ke zaman mereka hanya bertatapan dan tidak pernah bersama-sama. “The man is not a mountain, the man need other man to complete’s live,” artinya bahwa seorang manusia itu bukan hanya seperti sebuah gunung yang berdampingan dengan gunung yang  lain tetapi mereka tidak pernah bersama-sama.

 

Demikian empat pilar pendidikan yang perlu dipahami dan dimengerti oleh semua pihak khususnya seorang tenaga pendidik dalam upaya mendidik para peserta didik yang ada. Apapun teorinya, secanggih apapun metodenya, secanggih apapun alat peraga yang ada tergantung pada manusianya. “Who is the man behind the gun,” siapa orang di balik senjata itu. Dan inilah zaman dimana persaingan begitu tinggi maka lembaga-lembaga pendidikan dituntut untuk bisa membimbing peserta didik agar setelah tamat dia bisa tahu, bisa melakukan sesuatu, bisa menjadi sesuatu (arsitek, jurnalis, pendidik, wiraswasta, dll), dan setelah dia menjadi sesuatu, dia tidak akan memiliki arti ketika dia tidak hidup berdampingan atau bersama dengan orang lain. (*)

 

 

comments

No comments:

Post a comment