Latest News

Thursday, 27 August 2020

KEGILAAN MENGEMBARA DAN DETONASI BERPIKIR GUSTY RIKARNO


 

Oleh: Sayyidati Hadjar

Dosen Universitas Muhammadiyah Kupang, penulis buku “Menyudahi Kabair” (kumpulan cerpen)

 

Setiap penulis adalah pengembara. Bila jasadnya tak ikut berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, maka pikirannya yang akan berpindah, menjejali tema demi tema,menjejaki kota demi kota. Penulis dapat dikatakan sebagai orang yang paling merdeka atas dirinya sendiri. Bermodal renungan atas endapan-endapan pengalaman, penulis menelurkan  ide-ide yang tak sekadar lepas ke udara. Pada akhirnya ketika endapan pengalaman batin itu dibagikan kepada pembaca, maka merdekalah iaatas apa yang ditulisnya.  

 

Membaca tulisan-tulisan Gusty Rikarno, seumpama membaca pikiran yang meledak-ledak dan penuh pegembaraan. Meski tetap disampaikan secara deskriptif dan santun. Ya, sebuah detonasi berpikir yang laharnya menyemburkan panas tapi membawa kesuburan berpikir. Gusty sebagai seorang tokoh penggerak literasi di NTT memiliki semangat berlimpah dalam melahirkan karya-karya baru. Tentu bukan hal mudah memiliki produktivitas tinggi dalam menulis. Butuh berlatih kontinu untuk sampai pada tahap ini. Banyak hal menarik dari buku-buku Gusty karena lahir atas perjalanan pikiran dan jiwanya menyusuri jalan sepi literasi di NTT. Setidaknya kehadiran buku berjudul Hanya Pikiran yang Tidak Pernah Tua ini menjadi satu bukti bahwa Gusty benar-benar serius menepaki dunia literasi dan mendokumentasikan setiap perjalanannya dengan baik.

 

Tulisan-tulisan Gusty selalu mengajak pembaca untuk turut dalam pengembaraannya melalui teks naratif-deskriptif yang coba dibangunnya. Kekhasannya adalah menggunakan sudut pandang yang dekat—sudut pandang orang pertama (sebagai pelaku utama), sehingga tak ada jarak dengan pembaca. Gusty tetap hadir dalam setiap teks yang dibangunnya dan pembaca menerima dengan lebih mudah. Tulisan-tulisan dalam buku ini adalah sebuah ‘laporan’ pengembaraan Gusty kepada masyarakat NTT dengan gaya naratif khas para sastrawan—jurnalis sastrawi.

 

Membangun Perspektif Baru Tentang Dunia Literasi NTT

 

Literasi menjadi pokok bahasan penting sejak digaungkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016 melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Gerakan tersebut lahir sebagai respon terhadap kesepakatanWorld Economic Forum pada tahun 2015  megenai penguasaan enam literasi dasar yang sangat penting bagi peserta didik, juga bagi orang tua dan seluruh warga masyarakat. Enam literasi dasar tersebut mencakup literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan.

 

Sejak GLN digaungkan, aktivis literasi pun bermunculan. Membentuk kelompok-kelompok sesuai bidang minat dan mulai menggencarkan gerakan literasi menjawab ketertinggalan Indonesia dalam hal baca-tulis dan aktivitas literasi lainnya. Literasi mendadak ‘ngetrend’ di telinga masyarakat Indonesia. Meski itu bukan penanda bahwa literasi adalah hal baru. Kehadiran aktivis penggerak literasi di berbagai daerah membawa dampak positif di Nusa Tenggara Timur. Sekolah-sekolah mulai menggagas berbagai kegiatan literasi, aktivis literasi turut mengedukasi masyarakat di lingkungannya, pemeritah menyediakan dana yang cukup besar untuk membuat masyarakat melek literasi. Namun kerja sama berbagai pihak dalam menggolkan visi mulia GLN tak semudah membalikkan telapak  tangan. Gagasan-gagasan literasi tak banyak dipahami dengan baik. Setidaknya hal itu yang selalu digambarkan Gusty dalam setiap tulisannya. Masih butuh kolaborasi kreatif yang original, visioner dan implementatif dalam menapaki jalan literasi di NTT.

 

Tulisan Gusty menginformasikan perspektif  baru tentang literasi di NTT dan bagaimana menjalankannya. Bersama tim Media Pendidikan  Cakrawala NTT, ia menawarkan sebuah gaya berpikir dan aksi nyata dari satu sekolah ke sekolah yang lain, dari satu kota ke kota yang lain, dari kabupaten ke kabupaten lain. Gusty mengembara bersama Tim Media Pendidikan Cakrawal NTT. Menemui siswa, guru, kepala sekolah, kepala-kepala dinas, bupati, dan lembaga-lembaga lain semisal Bank NTT yang serius ingin mengembangkan literasi.

 

Membaca buku Hanya Pikiran yang Tidak Pernah Tua memberikan banyak perspektif baru bahwa literasi di NTT dapat dibangun dengan semangat kolaborasi, sinergitas,profesionalitas, dan komitmen yang tinggi. Gusty menekankan hal tersebut dalam beberapa uraiannya. Khususnya pada judul tulisan Kami Butuh Mitra Profesional, Literasi: Jalan Pulang Menuju NTT Bangkit dan Sejahtera, Berpikir Melampaui Komodo, Hit Et Nuch, Pada Ujung Pena Seorang Penulis Ada Emas, dan Cakrawala di Selatan Manggarai. Gusty banyak menekankan kata-kata kunci dalam menyukseskan gerakan literasi di NTT secara sadar dalamtulisannya. Memang demikian, dalam membangun sebuah kesadaran bersama butuh semangat kolaborasi, sinergitas, profesionalitas, dan komitmen siswa, guru, kepala sekolah, dan para pemangku kebijakan. Gusty selalu megajak pembaca merenung dan melatih kepekaan berpikir. Sesuai dengan keinginannya bahwa, dengan berpikir seseorang akan selalu muda.

 

Kebanyakan orang tak ingin terlihat tua bukan? Tentu yang dimaksud di sini adalah tua yang sebenarnya. Kata tua seperti yang tercermin dalam KBBI memiliki tujuh pengertian. Pertama, kata tua menunjukkan  sesuatu yang sudah lama hidup; lanjut usia atau tidak muda lagi. Kedua, bisa berarti sudah lama (lawan baru); sudah termasuk yang lampau; kuno. Ketiga, bisa berarti sudah masak atau sampai waktunya dipetik (tentang buah-buahan dan sebagainya). Keempat, menunjukkan mendidih atau sudah matang benar (tentang air minya dan sebagainya). Kelima, dapat pula berarti kehitam-hitaman atau sangat (tentang warna). Keenam, dapat berarti tinggi mutunya, jadi banyak tulennya (tentang emas). Ketujuh, dapat pula berarti pemimpin (yang dipandang tua, berpengatahuan, dan berpengalaman).

 

Gusty menawarkan sebuah prinsip hidup dan kemerdekaan berpikir agar manusia tidak menjejali diri dengan aneka pil awet muda dan diet berlebih. Usia tua adalah sebuah kepastian dan hukum alam, tak ada seorang pun bisa menipu usia yang bersinggungan langsung dengan berapa lama Tuhan mengasihi manusia dengan memberi usia yang cukup. Namun sesungguhnya tua dapat bermakna sebuah kematangan berpikir yang warnanya terlihat jelas ke mana manusia memimpin diri. Gusty menawarkan sebuah prisnip hidup bahwa yang tua adalah jasad dan  yang muda adalah pikiran. Bila pikiran sebagai pennggerak jasad selalu muda, maka tak ada yang benar-benar tua dari subuah usia. Demikianlah yang selalu digaungkan Gusty melalui ajakan untuk terus bergerak dan berpikir mengenai literasi di NTT. Bukankah tidak berpikir berarti mati?

 

Menyambut Detonasi Berpikir Gusty dan Meledaklah Bersama

 

Seperti yang telah ditulis sebelumnya, bahwa Gusty Rikarno memiliki detonasi berpikir yang panas dan produktif.Ajakan-ajakan dalam tulisannya membuat pembaca ikut merenung. Sebagai contoh, sebagai tokoh Literasi NTT yang yang disiarkan aktivitasnya oleh TVRI, Gusty menuliskan beberapa poin renungan atas capaian itu yang berbunyi:  Pertama, pihak Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai pelaksana (penanggungjawab) teknis pelaksanaan roda pembangunan pendidikan di daerah sudah saatnya berani “menanggalkan baju”.…Kedua, pendidikan itu tentang kita saat ini.Pada tiga paragraf awal tulisan ini saya singgung tentang kita orang NTT.Ada ayah yang harus berbangga dengan hasil kerja anaknya.Ada air mata yang harusnya jatuh saat anaknya dinilai, dievaluasi bahkan diberi catatan untuk berbenah diri. Orangtua seharusnya melihat pendidikan anak sebagai sebuah investasi… Ketiga, pembangunan pendidikan itu adalah tentang teks dan konteks. Ada wacana/konsep yang akan mendapat bentuk utuh saat dijalankan. Beragam program pembangunan pendidikan harus menyentuh konteks merupakan kebutuhan nyata. Dengan demikian koin dan point harus seimbang. Anggaran besar harus mendapatkan hasil yang besar pula. Stop tipu-tipu dengan beragam program yang tidak nyata. Kutipan tersebut terdapat dalam tulisanSiapakah Penggerak  Literasi NTT.

 

Ada keberanian yang meledak-ledak dalam kutipan tulisan di atas. Gusty berani menyampaikan kritik kepada berbagai pihak dalam tulisan-tulisannya. Lagi-lagi, ada sebuah prinsip hidup yang didapat dalam membaca karya-karya Gusty yang sederhana namun membakar. Prinsip itu adalah keberanian berpikir dan menyatakan yang banar. Literasi di NTT tidak akan maju bila satu pihak masih melindungi pihak yang lain dalam berbuat kecurangan. Maka Literasi, Jalan Pulang NTT Menuju NTT Bangkit dan Sejahtera yang digagas Gusty hanyalah segenggam garam di tengah laut.

 

Catatan-catatan perjalanan Gusty mendatangi sekolah-sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT di daerah dapat dijadikan landasan dalam menentukan ke mana lieterasi NTT akan dibawa. Kata-kata kunci yang telah dituliskan dalam buku Hanya Pikiran Yang Tidak Pernah Tua  yang berisi 17 judul ini menjadi refleksi yang kelak harus melahirkan diskusi dan aksi-aksi nyata menuju literasi masyarakat NTT yang lebih maju. Pembaca perlu menyambut detonasi berpikir Gusty, dan meledaklah bersamanya!

 

comments

No comments:

Post a comment