Latest News

Friday, 24 July 2020

SMA NEGERI SAENAM TERAPKAN PEMBELAJARAN SECARA LURING


TTS, CAKRAWALANTT.COM – SMA Negeri Saenam menerapkan pembelajaran secara luring (luar jaringan) dengan sistem silang kelas. Hal ini ditetapkan dalam rapat pihak sekolah bersama orang tua/wali, Kamis (23/7/2020) di sekolah yang terletak di Desa Noebeba, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten TTS tersebut.

Kepala SMA Negeri Saenam, Kehi I. M. Th. Tefbana, S.Pd., mengungkapkan, alasan memilih untuk melakukan pembelajaran dengan sistem silang kelas yaitu karena terkendala dengan minimmya jaringan internet dan fasilitas para peserta didik yaitu handphone android. Karena itu pihaknya bersepakat untuk proses pembelajaran secara silang kelas dengan jadwal untuk kelas X pembelajaran tatap muka di kelas dilaksanakan pada setiap hari Senin dan Kamis, kelas XI memperoleh jadwal tatap muka dikelas setiap hari Selasa dan hari Jumat, sementara untuk kelas XII jam tatap muka di kelas  pada hari Rabu dan hari Sabtu. Sementara para peserta didik yang ada akan Belajar Dari Rumah (BDR) selama 4 hari dalam setiap minggu dengan langkah menyelesaikan setiap tugas yang diberikan oleh para guru. Selama proses pembelajaran selama 4 hari di rumah juga akan dipantau langsung oleh para guru yang ada.

Lebih lanjut Kehi Tefbana menjelaskan bahwa dalam rapat bersama para orang tua/wali tersebut, selain ada sosialisasi tentang proses pembelajaran di masa new normal, dibahas juga tentang biaya yang berkaitan dengan pelaksanaan proses KBM. Selain itu juga ada sosialisasi kepada orang tua/wali terkait dengan usulan calon penerima beasiswa miskin yang bersumber dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.

Berdiri Sejak 2017

Pada kesempatan tersebut, mantan guru SMA Negeri 1 Amanuban Timur ini juga menjelaskan bahwa sekolah yang dipimpinnya didirikan pada tahun 2017 silam. Ketika itu peserta didik yang ada masih dititip di SMA Negeri Banat, pada tanggal 28  Februari 2019 barulah SMA Negeri Saenam memperoleh izin operasional dari Pemprov NTT Melalui Dinas PK Provinsi NTT. 

Tenaga pendidik yang ada sebanyak 10  orang ditambah dengan dirinya selaku kepala sekolah maka jumlah guru yang ada sebanyak  11 orang. Dari 11 orang tersebut hanya 2 orang yang berstatus PNS yaitu dirinya selaku kepala sekolah dan 1 PNS lagi yakni guru Agama dari Kemenag. Sementara 9 orang guru lainnya merupakan guru honorer. Terkait 9 guru honor yang ada, dirinya juga menyampaikan terima kasih kepada Dinas PK Provinsi NTT yang telah membantu mereka dengan penambahan penghasilan (Tamsil) sejak tahun 2019 hingga sekarang. Adapun jumlah keseluruhan peserta didik yang ada sebanyak 124 orang.

Sedangkan untuk gedung atau ruang kelas yang dipakai para peserta didik dalam melakukan proses KBM, terdapat 4 ruangan yang dibangun secara swadaya oleh para perintis sekolah, komite beserta para orang tua murid yang ada. Walaupun masih dalam keadaan darurat namun inilah bukti kepedulian serta kerinduan dari masyarakat untuk mendirikan sekolah, ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ada 5 sekolah pendukung yang ada yakni, SMP Negeri Satap Noebeba, SMP Negeri Satap Basmuti, SMP Kristen Amsal Lasi, SMP Negeri Satap Bonak, dan SMP Negeri Oebaki.

Ia berharap kepada pemerintah Provinsi dalam hal ini Dinas PK Provinsi NTT bersama para orang tua/ wali dan para perintis sekolah, bahwa pihaknya sangat mendambakan Bantuan Unit Sekolah Baru (USB) karena animo masyarakat untuk menyekolahkan ananknya setiap tahun semakin meningkat dan akan lebih meningkat lagi jika sudah memiliki gedung yang permanen.

Membangun Wajah Kampung

Aleksander Se’U, perintis sekolah sekaligus Ketua Komite SMA Negeri Saenam pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa pada tahun 2017 hatinya tergerak untuk membangun wajah kampungnya dengan mendirikan SMA. Menurutnya, tanpa melalui pendidikan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika itu dirinya mengumpulkan semua orang tua yang ada dan bersepakat untuk mendirikan  SMA Negeri Saenam. Pada tahun 2017 peserta didik yang ada hanya 16 orang maka tidak memenuhi syarat untuk mendirikan sekolah baru sehingga para peserta didik yang ada dititipkan di SMA Negeri Banat.

Namun kegigihan untuk mendirikan SMA tak pernah pudar. Dengan berjalannya waktu animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak di sekolah tersebut semakin meningkat, maka dengan kerja sama yang baik para orang tua yang ada, dibangun 4 ruang kelas guna mendukung pelaksanaan proses KBM. Pada 28 Februari 2019 sekolah yang diidamkan itu akhirnya memperoleh izin operasional karena syarat utama untuk memperoleh izin operasional yaitu status tanah harus jelas, gedung harus ada walaupun masih darurat, dan juga peserta didik minimal harus 62 orang.

Lebih lanjut, mantan Pengawas SD pada dinas PK Kabupaten TTS ini mengatakan bahwa sebelum adanya SMA di kampungnya angka putus sekolah cukup tinggi karena jarak tempuh yang sangat jauh akhirnya para peserta didik yang ada memilih untuk tidak melanjutkan ke jenjang  SMA. Tetapi dengan keberadaanya SMA Negeri Saenam dapat menekan angka putus sekolah dan semakin berkurang, hingga kini 100 persen tidak ada lagi tamatan SMP yang tidak bersekolah.

Ia berharap agar sekolah yang telah ada terus berkembnag ke depan, dan juga memohon perhatian dari para pemangku kepentingan. Selain menunggu bantuan gedung dari pemerintah, dirinya tegas mengatakan bahwa akan bersama semua orang tua yang ada selalu mendukung SMA Negeri Saenam yang secara resmi sudah ada untuk terus berkembang. (Lenzho/red)

comments

No comments:

Post a comment