Latest News

Friday, 24 July 2020

MENIKMATI "TIK-TOK" A’LA JERRY MANAFE

Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Di beberapa hari terakhir, angin bertiup kencang dan seakan siap membawa pergi setiap asa dari raga yang rapuh. Para pengendara yang melintasi jalan Timor Raya, seharusnya mengerti bahwa di setiap meter jalan selalu berarti ada dan tiada. Mengurangi laju kendaraan saja sudah berarti kita ingin ada dan bernafas lebih lama.  Benar. Di sepanjang jalan ini, angin bertiup kencang. Saya adalah salah satu dari ratusan bahkan ribuan pengendara roda dua di jalur ini. Terkadang, saya berguman dalam doa setengah sadar. Memohon agar asa dan raga ini tetap menyatu. Sudah puluhan bahkan ratusan nyawa melayang sebagai tumbal untuk banyak dosa dan kebodohan di jalur ini.

Ada kisah tentang peritiwa, data dan fakta yang datang sesukanya. Ada wacana dan polemik yang harus diselesaikan. Semisal persoalan kekeringan dan gagal panen yang memang harus dicemaskan. Belum lagi keresahan para guru dan kejenuhan peserta didik sekaligus kegalauna orangtua mendidik anaknya sendiri di masa pandemic covid 19 ini. Belum lagi, wacana pemindahan Pulau Semau dalam wilayah administrasi kota Kupang, kekuatiran calon mahasiswa yang sudah membayar registrasi kuliah tetapi belum diijinkan melihat kampus, bertemu dosen dan berkenalan dengan kawan-kawan seangkatan.

Di sini, di atas tanah ini, adakah yang lebih hebat dan luar biasa dari cara kita berada dan bernalar? Adakah hati kemudian berubah kecut untuk peristiwa yang bisa dijelaskan dan diselesaikan secara rasional dan pedekatan hati? Mengapa kemudian kita gusar untuk sesuatu yang bukan merupakan persoalan kita. Angin yang ada memang selalu begitu. Kadang datang ber-sepoi-seoi basah tetapi juga berlari kencang dan menghempas. Mungkin, bukan soal angin itu datang dalam gayanya yang kadang-kadang, tetapi  cara kamu berada dan menilai. Saya adalah yang paling senang menikmati semua fakta hadir apa adanya. Toh, memang harus begitu. Sudahlah. Untuk sesuatu yang kadang-kadang, jangan pernah dipikir serius.

………………………………………..

Saya tiba di Oelamasi. Saya suka hadir dan menikmati tempat ini. Merasakan lebih dekat denyut nadi pembangunan pemerintahan di ini daerah. Jujur, dari tempat ini segala yang ada dalam Alkitab terbuka. Masih ingat program Pemerintahan Kabupaten Kupang di masa lalu tentang Taman Eden? Bukankah itu ada dalam Kitab Kejadian? Di manakah Taman Eden itu? Ada yang membuat imajinasi sendiri. Taman Eden itu seperti begini. Sebuah hamparan tanah subur yang ditumbuhi berbagai pepohanan rindang, hijau dan sejuk. Pada dahan dan rantingnya bertengger sekian banyak jenis burung. Di bawah pohon yang rindang itu seorang ayah dan anaknya duduk dan bercerita tentang indahnya Kanaan dan hancurnya Sodom dan Gomora. Beberapa ekor sapi piaraan berteriak kelaparan hingga ayah dan anak itu tersadar dari imajinasinya. Mereka terpaksa (dipaksa), tanam untuk mewujudkan imajinasinya sendiri.     
   
Saya tahu bahwa Taman Eden itu ada untuk tidak ada. Mengapa demikian? Maaf, jangan paksakan saya menjawab. Kamu sudah tahu kalau saya hadir hanya untuk menikmati semua peristiwa dan tidak punya hak untuk menilai sesuatu yang bukan menjadi tugas dan maksud keberadaan saya. Tugas saya hanya menulis. Intinya, Taman itu ada untuk tidak ada. Di Alkitab, Taman Eden itu ada. Tapi karena kamu ada tetapi seolah tidak ada maka yang tersisa adalah imajinasimu sendiri. Perhatikan pengendara roda dua itu. Ia menyalakan reting kanang. Logika umum, ia bakal belok ke kanan. Namun apa yang dibuatnya. Ia membelokkan kendaraanya ke sisi kiri jalan. Terdang kita harus menikmati semua peritiwa termasuk nilai sebuah kebodohan. Saya tersenyum ketika berpapasan dengannya di lantai satu kantor Bupati Kupang. Kemungkinan besar, ia sering ke sini atau mungkin bekerja di sini. Saya tidak tahu.

Ajudan wakil bupati Kupang memanggilku dan beberapa rekan jurnalis dest Kabupaten Kupang. Membiarkan kami berada di ruang konfrensi pers punyanya orang nomor dua di kabupaten yang memiliki wilayah terluas kedua di Provinsi NTT setelah kabupaten TTS. Aparat desa dan anggota DPD desa Sumlili, Kecamtan Kupang Barat ada di sana. Mereka terkesan sedang berdiskusi tetapi bahasa tubuhnya terlihat tegang dan berpikir melampui apa yang seharusnya dipikirkan. Ada aura negative ketika berada di lima menit pertama. Ada kata dan tatapan yang kadang tidak sejalan. Hingga akhirnya saya mengerti kalau mereka harus berada di sini dan menyelesaikan persoalan yang tidak bisa diselesaikan di tingkat desa dan kecamatan. Orang nomor dua Kabupaten Kupang ini harus turun tangan dan membongkar sumbatan komunikasi dan relasi di itu desa.

Untuk hal semacam itu, saya ingin biasa-biasa saja. Di berbagai tempat, cerita tentang kepala desa yang terkesan seolah cerdas dan warga yang terlihat kudus tetapi bodoh. Juga tentang akal persolalan berawal dari beberapa oknum warga yang merasa lebih pintar dan mengerti hukum hingga kemudian “menyerang: kepala desa yang lugu nan tulus. Apalagi tentang BLT covid 19. Ada-ada saja persoalannya. Ada yang menilai, bukan soal uang bantuan 600 ribu itu tetapi soal keadilan dan nilai sebuah tata kelola pemerintahan yang harus bersih jujur dan transparan. Begitu seterunya dan akhirnya saya tidak tertarik. Persoalan klasik sejak zaman para nabi. Namun ada satu hal yang justru menari dari ruangan berukuran 10 X 7 meter di lantai dua kantor bupati  itu. Saya tertuju pada sosok orang nomor dua di kabupaten Kupang ini. Jerry Manafe, namanya. Mantan pengusaha yang berani membanting stir dan terjun di dunia politik yang penuh kebanyakan orang awam menilai penuh intrik dan tipu-tipu.

Jerry  Manafe hadir dan menatap dalam aura kebapaan. Setia mendengar dan memberi banyak waktu untuk mereka berbicara. Kepala desa diberi kesempatan yang pertama. Bercerita dalam irama yang tidak biasa. Ia sungguh merasa sebagai korban yang butuh sentuhan keadilan. Demikian halnya, ketua dan anggota DPD. Mereka juga diberi waktu berbicara dan dalam nada yang sedikit merendah tetapi menghanyutkan. Mereka membantah satu persatu pernyataa kepala desa yang dipilih beberapa tahun lalu secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Jerry mendengar dan mulai memetakan persoalan. Ia mengunakan pisau rasionalitas dan bukan kapak kekuasaan atau kewenangan semata. Seperti seorang konselor, Ia justru membantu kdedua belah pihak mengerti posisinya masing-masing sekaligus tugas dan fungsinya. Di ini tempat, Kedua belah pihak akhirnya sama-sama mengerti  kalau keberadaan mereka bagai logam berwajah dua yang saling mengandaikan. Mereka sadar, tidak ada yang merasa paling penting dan yang lainnya hanyalah sebagai pelengkap. Pemerintah desa dan DPD yang merupakan representasi masyarakat adalah pelakon yang bertujuan sama. Membawa masyarakat desa kea rah yang lebih baik.

Jujur, saya sungguh terpukau. Baru kali ini saya menyaksikan secara langsung bagaimana seorang Jerry Manafe, membelah persoalan secara rasional dan penuh wibawa. Ia memberi waktu kedua belah pihak untuk berefleksi dan menemukan cara untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara internal. Merekan diberi ruang untuk menilai dan memutuskan. Di tanggal 3 Agustus dalam tahun ini, mereka harus memberi kabar. Jika tidak, kapak kekuasaan dan kewenangan akan diletakkan pada bahu mereka dan membelah hati dan pikiran hingga semuanya terang bederang. Jika ini terjadi maka cerita tentang rasa bersalah dan saling memaafkan tidak akan mendapat tempat. Semuanya dalam kalkulasi benar dan salah.

Di ini titik, saya menilai Jerry Manafe sedang bertik-tok. Bukan dalam arti manual seperti kebiasaan keponaan saya di layar handphond andoridnya. Ia menunjukan wajah dan situasi batin dalam cara mesin android bekerja. Ia hanyalah bayangan dari satu aplikasi salah satu android. Tik tok a’la Jerry manafe bukan pada layar android tetapi pada layar kehidupan sosial. Ia hadir sebagai bapa, sahabat, kenalan sekaligus pemimpin. Benar. Ia hadir dalam beberapa wajah yang membuat orang merasa nyaman, mengerti dan akhirnya mampu berpikir sendiri. Tik-tok sejenis ini, sulit ditemukan pada kebanyakan pemimpin yang selalu jatuh pada dua sikap ekstrim. Tegas (rasional) tanpa hati dan fleksibel tapi akhirnya dinilai lamban dan bodoh. Jerry Manfae adalah dia yang mampu berada dititik sentral di mana hati dan pikiran berada pada posisi yang seimbang. Aturan dan kebijakan mendapat porsi yang sepadan.

Di ini ruangan akhirnya saya mengerti minimal beberapa hal semisal, politik itu adalah cara berada yang seharusnya memiliki nilai estetis, etis dan rasional. Meletakkan warna pada tempat yang tepat sehingga yang terlihat adalah sebuah keindahan yang membuat segala mata, hati dan pikira terpakau. Jujur dan bekerja dengan hati adalah integritas diri seorang pemimpin yang sesungguhnya. Politisi itu dibolehkan terlihat bodoh tetapi jangan sampai goblok. Terkadang ia merendah hingga ke titik paling kecil untuk mengangkat mereka yang merindukan nilai sebuah kepedulian dan keadilan.

Akhirnya, pemimpin itu adalah dia yang sedang menikmati perjalanan dengan kegembiraan dan rasa syukur. Jerry Manafe ber-tik-tok hingga tiba di titik ini. Ia telah menghidupi UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan khusunya dalam hal tugas Wakil Bupati yaitu membantu bupati dalam hal memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, mengoordinasikan kegiatan Perangkat Daerah dan menindaklanjuti laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Perangkat Daerah Kabupaten dan Nagari, memberikan saran dan pertimbangan kepada Bupati dalam pelaksanaan Pemerintahan Daerah.

………………………………………………..

Angin itu tetap seperti biasanya. Bertiup lembut dan ber-sepoi-sepoi hingga sesekali berlari kencang dan siap mengehempaskan semua yang ada. Tugas kita adalah menikmati cara kita berada dan jangan pernah mmebiarkan dirimu berada dalam logika angin yang selalu hadir berwajah ganda. Ayunkan langkahmu, berjalanlah dalam posisi kepala menatap jauh ke depan, menembus fakta dan peristiwa. Dunia ini terlampau luas. Sangat disayangkan jika kamu hanya berada di sini. Di dunia imajinasimu sendiri. Taman Eden itu tetap ada dan mungkin hadir untuk tidak ada.

Ada revolusi yang harus kamu nikmati dan jalani saat ini. Mungkin semacam revolusi Prancis tetapi konteksnya berbeda. Di ini tempat namanya, Revolusi 5 P. Tugasmu satu. Yakinkan diri dan mantapkan langkahmu untuk menjalankan dan menikmati revolusi itu. Ingat, ini sebuah revolusi. Bukan reformasi. Sepertinya halnya bahasa alam itu, kamu dan saya harus ada dan menikmati perubahan yang terjadi. Atau seperti Jerry Manafe, kamu (kita) harus ber-tik-tok. Revolusi itu selalu mengadaikan perubahan radikal. Jika saatnya dunia atau alam Kabupaten Kupang tidak berubah, minimal satu hal yang berubah. Dirimu dan pikiranmu.

Salam Cakrawala, Salam Literasi


comments

No comments:

Post a comment