Latest News

Thursday, 2 July 2020

BENARKAH INSTITUSI PERGURUAN TINGGI “TIDAK BECUS” MENCETAK TENAGA GURU DI NTT?

Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Sore itu semakin menua. Aroma malam kian terasa. Di pondok ini, apalagi yang bisa dibanggakan jika aroma dan hangatnya secangkir kopi sudah tidak terasa? Beginilah saya mulai berbicara, “Saudaraku, kopi itu mungkin saja dingin tanpa kamu prediksi. Tetapi ketahuilah, api dan tungku masih ada. Di sini, di hati ini”. Mereka (anggota komunitas) adalah jiwa-jiwa muda yang berani berdiri seperti karang. Segalanya ingin dipikirkan sekaligus ditertawakan termasuk kebodohan dan kefanaan dirinya sendiri. Mereka dan kami adalah pemilik pondok ini. Bersepakat untuk berada dalam satu komunitas yang diberi nama, “Komunitas Secangkir Kopi-Kupang”. Diskusi, literasi dan donasi adalah dasar pijak keberadaan kami. Segala entitas, fakta dan peristiwa serta gejala sosial yang mengikutinya dibawah payung besar pendidikan dikupas, dikunyah dan dinikmati.

Seperti Sokrates, kami ingin bermadah dalam nada diam tetapi berirama. “Aku tidak bisa mengajari siapapun tentang sesuatu, aku hanya bisa membuat mereka berpikir”.  Siapakah mereka? Mereka adalah kita. Saya, kamu dan dia. Pisau pengupas yang kita andalkan hanya satu. Rasionalistas. Jika kemudian ada yang sulit dijangkau seperti mujizat atau misteri maka sebaiknya kita diam. Benar. Segala sesuatu yang tidak biasa dikatakan sebaiknya diam. Lalu? Mari sekali lagi kita menertawakankan kefanaan dan kebodohan kita. Ada secangkir kopi yang panas tetapi beraroma. Nikmati saja dan biarkan lidah, hati dan pikiranmu menyatu. Ingat. Cukup secangkir, karena di dalamnya mengandung seribu inspirasi. Habiskan waktumu dalam aksi yang nyata dan produktif. Kamu tidak dilahirkan hanya untuk menikmati kopi itu. Cukuplah untuk memberimu inspirasi.

Di saat-saat begini, ketika dunia dibanjiri aneka berita sampah (hoaks), maka pada saat itu, banggalah karena kamu masih bisa berpikir sendiri. Bukan anjuran, dokma atau apalah namanya. Jika diketahui, pikiranmu itu ada dan masih berfungsi namun tidak dipakai, maka pada saat yang sama kamu adalah binatang yang berwujud manusia atau manusia setengah binatang. Fakta berbicara. Manusia, binatang berwujud manusia ini seringkali memangsa dan dimangsa atau ditunggangi oleh manusia setengah binatang lainnya. Binatang berwujud manusia itu lazim berbicara banyak tetapi tidak mengatakan apa-apa. Begitulah ia hidup dan menghabiskan waktunya untuk menuduh, menilai bahkan mencerca yang lainnya. Ketika ditanya mengapa atau bagaimana, ia tiba-tiba linglung, bingung dan frontal. Apakah mereka ini masuk dalam golongan kampret atau cebong? Saya tidak tahu.

……………………………………

Mari kita berbicara. Temanya terasa sepat. “Guru honor yang kadang selalu terlupakan, dilupakan dan melupakan”. Ada seorang yang ingin berarti. Di Indonesia ini, mereka (guru honorer) berjumlah banyak. Lebih dari tujuh puluh ribu orang. Menyebar di seluruh jenjang pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP dan SMA/SMK. Mereka bekerja dan mencoba untuk bertahan dari upah yang kecil, stigma negatif sebagai guru gagal prodak (tidak professional) dan membebani negara juga masyarakat (komite sekolah). Benar. Profesionalisme mereka dipertanyakan ketika diketahui jumlah yang tidak lolos Uji Kompetensi Guru (UKG) jauh lebih banyak. Negara tentunya tidak mau ambil resiko dengan langsung mengangkat mereka menjadi guru Aparatur Sipil Negara (ASN). Bisa dibayangkan ada jutaan generasi muda Indonesia yang bakal menjadi korban dari para guru tidak professional ini. Jika demikian ini dosa siapa? Dosa orangtuanya yang memaksa mereka menjadi guru? Dosa para dosesnya (yang mungkin juga tidak professional) atau dosanya sendiri yang tidak mau belajar dan selalu merasa nyaman dengan yang ada?

Amich Alhumani, Ph,D, selaku direktur pendidikan dan agama merilis data yang mengejutkan dari kementrian BPN/Bapennas bahwa Provinsi NTT merupakan salah satu dari tiga provinsi lain di Indonesia yang menyumbangkan pengangguran terbesar justru tamatan isntitusi PT. Artinya, saat ini NTT menderita bukan karena yang lain. Tetapi banyaknya lulusan sarjana yang menganggur dan membebankan keluarga dan daerah. Padahal, arah pembangunan pendidikan dan nasional harus berada pada garis lurus. Artinya, Sumber Daya Manusia (SDM) harus memberi andil besar pada tingkat kesejahtraan masyarakatnya. Mereka (sarjana) se-kreatif mungkin untuk menciptakan lapangan kerja. Bukankahn orangtua menyekolahkan anaknya untuk merubah garis nasib?

Hingga saat ini, jumlah guru honor di NTT jauh lebih banyak dari guru ASN yang tersertifikasi. Artinya dari 25 % jumlah guru berstatus ASN, hanya 25 % yang sudah dikatakan sebagai guru profesional. Bayangkan, guru ASN saja tidak memberi jaminan pada kualitas diri sebagai seorang guru yang bakal digugu dan ditiru. Bagaimana mungkin dengan mengumpulkna potofolio sudah disebut profesional? Kan, aneh. Sementara itu, ada guru honor yang berjumlah 75 % yang sudah pasti sebagian besarnya tidak tersertifikasi maka dengan demikian secara regulasi tidak bisa diandalkan sebagai guru professional. Sementara itu, di lima tahun kedepan, ada 5.264 guru ASN di NTT yang bakal pensiun. Menutup kekurangan guru ini tentunya butuh tenaga baru yang diharapkan professional. Dari mana NTT akan mendapat guru profesional sebanyak itu? Sekali lagi, pemerintah tidak mau ambil resiko. Bukan soal negara tidak mau atau tidak mampu mengangkat guru honorer menjadi guru ASN tetapi dampak yang paling parah yang bakal dipikul generasi yang akan datang. Bandingkan kisah tentang bagaimana seorang buta menuntun orang buta. Apakah mereka sampai tujuan? Jawabannya hanya dua. Mungkin atau mustahil.

Di beberapa hari lalu, lima orang guru honor yang mengajar bertahun-tahun di SMAN 3 Kota Kupang menerima pil pahit. Mereka di-PHK. Seorang diantaranya berbicara lantang dalam nada kecewa dan sedikit marah. Bukan hanya soal ia di-PHK. Tetapi cara pihak sekolah meng-PHK-kan dia, itu juga hal lain yang paling dirasakan. Ia (guru honor) ini, merasa tidak dihargai dan diragukan kualitas dirinya secara sepihak tanpa sebuah alat ukur yang jelas. Mengapa hanya dia dan empat teman lainnya di-PHK. Jika mau adil dan sedikit rasional dan professional, sebaiknya semua guru honor di sekolah itu di-PHK-kan saja. Lalu diundang kembali untuk mengikuti seleksi terbuka. Malu, itu sudah pasti. Harga dirinya terasa diinjak-injak dengan diberhentikan tanpa sepucuk Surat Keputusan (SK) pemberhentian. Ia tidak lebih dari peternak ayam yang berubah menjadi penjual sayur ketika dinilai tidak mampu memelihara 30 anak ayam yang bakal beranjak besar. Pihak sekolah dinilai tidak professional dan pemerintah menutup mata dengan semua ini.

Kopi itu sudah di atas meja. Nikmati saja. Ada rasa sepat pada tegukan terakhir.  Ada sekelempok anak bangsa yang berprofesi “sementara” dan dijadikan “anak magang” tanpa sebuah kepastian. Bayangkan saja. Sudah 14 tahun mengajar dan mendediaksikan dirinya untuk anak bangsa. Di suatu pagi ia dipanggil dalam satu kalimat datar tetapi pedis dan tajam. “Berhubung rombongan belajar berkurang, besok pagi, kamu tidak perlu datang sekolah. Terima kasih untuk kerjasama kita selama ini”. Sakit kan? Sakit sekali. Ada air mata yang menetes dan rintihan hati yang tidak terdengar. Apakah nilai sebuah perjuangan, kesetiaan dan pengorbanan?

Dr. dr. Jefry Jap, M.Kes yang juga hadir menikmati secangkir kopi sore itu menarik nafas dan berbicara dalam “galau”. Berharap para pimpinan institusi PT lainnya di NTT, galau dengan fenomena tidak biasa ini. Siti Hajar, dosen Universitas Muhammadyah Kupang yang duduk disampingnya sebagai moderator memang sengaja memberinya waktu berbicara lebih lama. Ia (Siti Hajar) juga adalah dosen di FKIP, wadah ilmiha pencetak guru. Apakah ia juga “galau”? Saya tidak tahu. Sebagai salah satu pimpinan institusi Perguruan Tinggi (PT) pencetak guru, Dr. dr. Jefry, memang sepantasnya bertanggungjawab. Tidak boleh menutup mata apalagi mencuci tangan. Masyarakat semakin rasional. Mereka “menuduh” pihak institusi PT, “tidak becus” menyiapkan calon guru profesional. Cara dan metode mengajar masih manual seperti puluhan tahun silam. Belum lagi banyak dosen merasa diri paling hebat bahkan merasa diri “dewa” yang harus disembah oleh para mahasiswanya.

Adakah intitusi PT yang kita masih merasa nyaman sebagai institusi PT sebagai menara ilmu, pemantik kreatifitas dan inovasi padahal banyak alumninya yang menganggur? Atau institusi PT beralih fungsi sebagai Perseroan Terbatas (PT) yang “money oriented”? Menunggu pembayaran uang kuliah, registrasi dan membeli buku bahan ajar para dosen dengan harga fantastis dan melupakan tugas utamanya sebagai pemantik kreatifitas dan daya kritis mahasiswa? Benarkah institusi PT kita hanya mampu mencetak ijasah dan bukan sarjana pendidikan?

“Sore ini, saya tidak sedang menikmati secangkir kopi yang hangat dan nikmat tetapi kopi dingin yang pahit dan sepat. Pertama, saya prihatin dengan apa yang dialami para guru honor di SMAN 3 Kota Kupang dan sekian banyak guru honor di berbagai jenjang pendidikan lainnya. Mereka adalah pahlawan yang bukan hanyan tidak menerima tanpa tanda jasa tetapi juga dihina. Padahal mereka sudah menenteng gelar sarjana pendidikan yang oleh pihak institusi PT menilai layak untuk mempergunakan ijasahnya dan menyadang gelar sebagai seorang guru. Kedua, saya menilai kita semua baik pemerintah, institusi PT dan semua stakeholders terkait, belum serius berpikir dan melihat pendidikan sebagai hal yang fundamental untuk kemajuan bangsa ini. Mungkin ada benarnya, tuduhan masyarakat bahwa institusi PT “tidak becus” menyiapkan para calon guru. Sebagai salah satu pimpinan institusi PT khususnya di Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, kami selalu ingin membenahi diri dari waktu ke waktu. Tidak bermaksud membela diri, saya menilai urusan pendidikan itu adalah tugas semua pihak khususnya pemerintah dan stakeholders lainnya. Kita semua belum terlihat serius mengurus pendidikan ini”, tandas dr. Jefry dengan suara bergetar.

Untuk sesaat suasana pondok yang sebelumnya ramai karena dihibur kelompok musik “akuistik Secangkir Kopi” menjadi hening. Para pemateri seakan kembali ke dalam dirinya dan bertanya serius. Ada apa dengan dunia pendididikan kita. Ke manakah jutaan generasi Indonesia khususnya di NTT bakal dibawa. Apakah suatu saat nanti mereka berbangga dan berbesar hati dengan dirinya sendiri dan tanah tempat ia menginjakkan kaki dan mengirip nafas kehidupan? Lalu berama-ramai mereka mengujungi perkuburan untuk menyala lilin, berdoa dan berterima kasih di pusara guru (dosen) mereka.  Ataukah justru sebaliknya? Mereka menjadi terasing dari dirinya seninri dan menuduh para guru (dosennya) sebagai penyebab atas nasib buruk yang dialaminya?

…………………………………..

Tiba-tiba saya membayangkan mewahnya gedung DPRD/DPR-RI, tempat para wakil rakyat berpikir, berbicara, melobi sambil terkekeh-kekeh. Apakah mereka juga “galau” bersama Dr. dr. Jefry, pimpinan UCB itu? Atau ada isu lain yang lebih hangat untuk digereng-goreng dari pada isu guru honor, institusi PT yang “tidak becus” dan nasib jutaan generasi bangsa dua puluh tahun yang akan datang? Hanya kopi dalam cangkir itu yang tahu.

Beranikah mereka mengetuk palu untuk meningkatkan mutu institusi PT yang dibutuhkan masyarakat dan juga berani menutup institusi PT yang banyak mencetak pengangguran terdidik? Beranikah mereka mengangkat guru honor yang diuji dan diseleksi secara professional dan bukan karena pertimbangan politik semata atau mengangkat guru berdasarkan pembagian jatah para birokrat dan politisi? Lalu, maukah mereka menggadai seluruh tenaga dan pikirannya untuk generasi bangsa ini dengan membangun berbagai insfratruktur pendidikan dan gaji/honor para guru yang layak.  Indonesia ini terlalu sayang untuk bubar di tahun 2050 hanya karena banyak generasinya yang malas berpikir dan berbah manjadi kampret atau cebong.  

Salam Cakrawala, Salam Literasi


comments

No comments:

Post a comment