Latest News

Thursday, 25 June 2020

MENIKMATI HUMOR A'LA USKUP RUTENG DAN GUBERNUR NTT

Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Sebuah video berdurasi hampir lima menit beredar luas. Jiwa-jiwa muda dibawah payung wadah PMKRI berteriak dalam kata yang terdengar jelas. “Gubernur Pengecut. Gubernur Penakut”. Sementara itu, pihak kepolisian tampak “kewalahan” membuka jalan untuk rombongan Gubernur, Viktor Buntilu Laiskodat. Mereka berteriak di sudut jalan biasa tetapi penuh makna. Yah, di tingkungan halus, menuju bibir jembatan Gongger yang berada di ujung timur wilayah Kecamatan Reok-Kabupaten Manggarai. Di sini, pilar perbatasan wilayah Manggarai dan Manggarai Timur berdiri tegak. Jembatan dengan panjang puluhan meter itu adalah pilarnya.

Bibir barat jembatan ini tetap seperti dulu. Dia adalah saksi nyata ada setiap narasi dan aksi. Di beberapa tahun silam, kendaraan tambang mangan Lengko Lolok selalu melintas dengan bebas tanpa hambatan sedikitpun. Saya adalah saksi hidupnya. Menikmati pendidikan di SMPN 1 Reok saat itu, tidak ada yang paling membanggakan selain menumpangi kendaraan raksasa itu. Belum lagi para pegawai tambang yang kelihatan sangat professional dengan topi sepatu dan baju kuningnya. Benar. Sepatu yang dikenakan para sopir truck mangan ini, lain dari yang lain. Jika kemudian kamu bernasib baik saat mencari kayu api, kamu bakal dipanggil tukang masak proyek dan memberikan sebutir telur ayam ras asal membantunya mencuci piring para pegawai tambang. Makanya saya “bergairah” saat menonton film Laskar Pelangi untuk pertama kalinya di kelas terakhir Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat malam tiba, kadang kita terbangun dalam takut saat mendengar dentuman dinamik dari area pertambangan.

Hari ini, jiwa-jiwa muda itu berteriak lantang. Berharap sang pemimpin berhenti. Keluar dari mobil, menurunkan topi, berjabat tangan dan mengangguk setuju saat mereka berorasi.  Humornya justru di situ. Harapan itu tidak sesuai kenyataan. Mereka diabaikan oleh pemimpinnya sendiri. Anggap saja mereka tidak ada dan suara mereka hanyalah bagian dari dentuman dinamik mangan beberapa tahun silam. Biasa saja. Ada hati yang teriris di tempat ini? Itu pasti. Ada suara yang tidak berhasil menjadi kata. Apakah benar Gubernur takut? Hanya kali Gongger itu yang tahu.

Nikmati perlahan. Perhatikan saja dan dapatkan sisi humornya. Begitulah seharusnya di saat pandmei begini. Harus ada yang rela untuk hadir sebagai “pencipta humor”. Imun tubuh harus stabil dengan menikmati berbagai jenis humor. Kali ini, humor ini berkelas. Ciptaan Yang Mulia Uskup Ruteng dan Gubernur NTT. Bapa Uskup mungkin tidak pernah menduga jika  cincin uskup yang melingkar pada jari tangannya dicium oleh seorang Viktor Bungtilu Laiskodat. Tidak ada teriakan apalagi sebutan penakut dan pengecut. Yang ada adalah tepukan tangan yang membahana saat Viktor memperagakan bahasa tubuh yang tidak lazim dibuat untuk ribuan bahkan jutaan manusia yang pernah dijumpainya. Jika selama ini, pada staf atau masyarakat membungkuk dan mencium tangannya (Viktor), kali ini ia bersikap sebaliknya. Kamu tahu? Itu biasa. Saya sangat yakin, hal yang sama pasti akan dibuat Bapa Uskup Sipri Hormat jika kemudian bertemu Bapa Paus di Roma. Pasti ia membungkuk bahkan berlutut untuk mencium tangan Bapa Paus.

Dengan demikian, tidak ada yang spesial dari gerakan spontan seorang Viktor. Toh, adagium tua selalu terngiang jelas, “di atas langit masih ada langit”. Tidak ada yang baru tentunya. Semuanya itu bagian dari kenormalan lama. Bukan kenormalan baru. Jika demikian, pada sisi mana kita melihat ini sebagai sebuah humor yang menenangkan hati dan pikiran? Hemat saya, ada apa interpretasi yang meletup spontan dari pikiran publik. Ada sebuah pesan yang istimewa. Uskup Ruteng dan Gubernur NTT sebagai pemimpin pemerintah dan gereja lokal dalam wilayah Manggarai Raya berhasil menujukkan kelasnya sebagai pemimpin yang patut diteladani dan dibanggakan. Mereka berhasil membuat masyarakat (umat) tersenyum. Dua dan membicarakan persoalan masyarakat (umat) dari hati ke hati. Humor yang berbobot.

Menarik. Gubernur dan Uskup Ruteng memiliki arah pandang yang sama walau dasar pijak berbeda. Keduanya ingin masyarakat NTT bangkit dan sejahtera. Gubernur melihat soal peluang peningkatan PAD dan penyerapan tenaga kerja sementara uskup melihat dari sisi kelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan. Gubernur merujuk pada regulasi tentang sebuah pembangunan yeng terukur dan tercatat sementara Uskup Ruteng melihat kehidupan itu sebagai perjalanan panjang dari pembuangan Babel menuju Kanaan. Pembangunan yang utuh dan menyeluruh butuh proses (waktu). Tidak mau menampilkan kesan tergesa-gesa.  

Lalu di mana posis kita. Mari geser sedikit dan melihat persoalan ini lebih dekat. Di desa Satar Punda, kecamatan Lambaleda-Manngarai Timur, tepatnya di kampong Luwuk dan Lingko Lolok, masyarakat terpecah dalam dua pandangan ekstrim. Satu kelompok menerima tambang dan pabrik semen dan di kelompok lain justru menolak. Semuanya adalah umat Katolik yang tentunya berada dalam rangkulan kasih Uskup Ruteng. Persoalannya, Uskup Ruteng berada pada sikap yang tegas dan jelas. Menolak pertambangan. Nah, humornya dapat ka? Ada umat yang merasa di anak tirikan. Mereka kecewa karena dinilai sebagai anak-anak “nakal” yang kerasukan suara iblis. Tidak ada cara lain selain mereka bertobat. Tolak tambang. Padahal mereka sudah menerima uang tahap dua. Harga diri mereka dipertaruhkan jika kemudian mereka menolak tambang dan pada saat yang sama mereka mengulurkan tangan menerima uang. Biar homornya lenih renyah, maka kita bertanya. Mengapa mereka mau menerima uang? Mari kita ngakak sebentar kalau sampai mereka jawab, kami lapar. Anak-anak kami butuh biasa sekolah dan tidak ada lapangan kerja. Belum lagi beberapa tunggakan yang harus kami bayar termasuk iuran gereja mandiri.

Di mulut muara air tawar dan air laut bertemu. Tepatnya di bawah jembatan Gongger. Air laut yang sejuk dan sehat untuk diminum dan ada air laut yang asin tetapi menghasilkan garam agar enak dan tidak tawar. Begitulah hidup. Semuanya adalah rentetan cerita humor kalau tidak mau disebut sandiwara. PMKRI itu perpanjangan tangan suara profetis gereja. Gubernur Viktor mungkin merasa tidak perlu mendengar apalagi menemui para pendemo itu. Untuk apa? Dia sudah bertemu Uskup Ruteng dan membicarakan persoalan itu dari hati ke hati. Apakah ia pantas disebut apalagi diteriaki sebagai gubernur pengecut dan penakut? Ah, humor macam apa ini?

Saya tidak tahu, kata apa yang diucapkan Viktor saat itu. Tapi bibir jembatan Gongger itu tetap setia menjadi saksi bagaimana Gubernur punyanya NTT itu menjelajahi pantai utara Pulau Flores mulai dari Dampek, Pota, Riung, Mbay hingga akhirnya mungkin tiba di Maumere. Ia meninggalkan tanah Manggarai yang masih menyimpan persoalan. Seperti tabib terluka ia (gubernur) segera membalut luka-lukanya karena masih ada (masyarakat) yang terluka dan harus disembuhkan. Ia tetap sebagai gubernur. Bukan Pengecut apalagi penipu. Pekerjaaan belum apa-apa. Sementara waktu terus berjalan. NTT sedang bangkit atau masih tertidur pulas dan tidak sempat berdoa apalagi bekerja? Tidak heran jika kemudian Viktor berujar Gubernur NTT akan mati kartunya jika gereja berbeda dengan gubernur. Itu langsung pincang. Itu ibarat lari, langsung ligamen putus. Jadi, kalau dengar bapak uskup sudah berbeda dengan gubernur, ligamen gubernur putus. Itu jalan pun sudah setengah mati. Pakai tongkat sudah itu. Yang awalnya dengan sprint tiba-tiba jalan pakai tongkat”.

Mari kita tertawa dan merarayakan kehidupan ini. Hidup hanyalah sebatas cerita. Toh, masa kepemimpinan seorang Gubernur hanya lima tahun dan bertambah lima tahun lagi kalau masyarakat masih percaya. Pernah saya menulis “ketika gubernur Berperan Sebagai Sales”. Memang seharusnya begitu. Gubernur adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat. Keputusaannya adalah juga bagian dari keputusan pemerintah pusat. Tidak salah jika kemudian Uskup Ruteng menyurati presiden tentang persoalan ini. Apakah itu ekspresi kehilangan kepercayaan terhadap wakil pemerintah pusat di daerah yang adalah seorang gubernur? Saya tidak tahu.

Begeserlah sedikit. Apa peran gereja untuk membagun ekonomi umat? Pertanyaan ini datang dari berbagai arah angin. Sudah pasti saya tidak memiliki banyak referensi apalagi legitimasi untuk menjelaskan sebagai sebuah jawaban. Seperti seorang yang berada di kursi belakang panggung teater, saya hanya biasa melihat dan menikmati sekian banyak adegan humor yang dimainkan di atas panggung. Tugas saya hanya dua. Diam dan atau tersenyum. Itu saja. Satu hal yang pasti, tugas gereja menjaga kehormanisan Tuhan dan alam dan berusaha sedapat mungkin umatnya masuk Surga. Sementara itu, tugas pemerintah adalah bertanggung jawab atas angka kemiskinan yang terus meningkat dan memastikan masyarakat tetap menjadi manusia (masyarakat) yang baik. Tidak perlu menjadi malaikat dan sebaiknya jangan mau menjadi setan.

Pertanyaan terakhir, untuk siapa Uskup Ruteng dan Gubernur NTT berjuang? Untuk sebuah PAD dan besar cerita hebat dikemudian hari tentang pernah hadir seorang pemimpin yang berhasil membawa NTT keluar dari garis kemiskinan dan kebodohan. Atau untuk nilai sebuah suara kenabian dari seorang gembala yang selalu siap menghardik serigala yang datang dan mengacam kehidupan para dombanya? Atau untuk seorang yang lebih banyak diam dan tersenyum menikmati setiap humor yang diperagakan oleh pemerintah dan gereja? Kapan ia disebut sebagai umat (domba) yang dirangkul, dipeluk dan dimanjakan oleh gembalanya? Atau masihkah ia memandang pemerintah hadir dan ikut bertanggungjawab atas seluruh situasi yang dialaminya? Ataukah semua itu hanya humor yang akan berakhir ketika jembatan Gongger itu runtuh?

Salam Cakrawala, Salam Literasi  


1 comment: