Latest News

Tuesday, 23 June 2020

LITERASI MENUJU PERPUSTAKAAN MANDIRI

Silvester Wanggur, S.Pd
Guru SMA Negeri 3 Kota Kupang
“Kalau anda ingin membeli sayur datanglah ke kebun/pasar, kalau anda ingin membeli pakaian datanglah ke toko pakaian, kalau anda ingin membeli buku datanglah ke toko buku, kalau anda ingin membaca buku datanglah ke Perpustakaan”.

Buku adalah sumber segala ilmu pengetahuan, dari bukulah kita bisa memperoleh inforamsi tentang sesuatu. Buku juga menyimpan atau menyampaikan pesan kepada seluruh umat manusia yang  ingin mengetahui isi dunia. Pepatah Cina mengatakan “ Tinta yang paling suram dan kertas yang paling kumal sekalipun, lebih bertahan lama daripada ingatan yang paling segar “. Betapa pentingnya segala sesuatu harus dicatat dalam peristiwa hidup kita. Banyak hal-hal baik yang pernah dibuat atau dilakukan oleh seseorang sering hilang atau tenggelam bersama pelakunya ke dalam liang lahat. Segala sesuatu harus ditulis supaya bisa dilihat atau dibaca oleh generasi berikutnya. Apabila harta yang kita miliki akan dibagi kepada anak-anak kita mungkin harta itu akan berkurang dan habis.

Tetapi apabila tulisan atau pikiran kita dibagi kepada anak-anak kita mungkin dia akan berkembang biak dan akan menghasilkan pikiran-pikiran yang baru yang lebih kreatif. Kekayaan yang sangat bermanfaat bagi dunia adalah karya tulis kita yang sudah didokumentasikan dalam bentuk buku. Umur manusia itu sangat singkat, tapi umur karya tulis kita dalam bentuk buku tak pernah punah oleh waktu. Untuk itu sangat bijaksana apabila kita semua memilki kebiasaan Literasi  dalam sebuah buku.

Pangkal ilmu pengetahuan adalah mencari tahu segala sesuatu , atau terus mempertanyakan sampai tak terjawab lagi. Untuk mendukung pemikiran kita tentang sesuatu perlu sumber bacaan yang resmi dan terpercaya dan salah satu sumbernya adalah buku. Kehidupan kita tidak akan terulang kembali, namun peristiwa sosial kemasyarakatan selalu terulang terus dalam kehidupan kita.  Pepata Latin ini mungkin menjadi pemacu bagi kita untuk bisa menulis sebagai bekal bagi kehidupan kita, kini dan nanti adalah :  Crescit scribendo scribendi Stadium”, dapat diterjemahkan, “Dengan menulis, Hasrat menulis berkembang” . Apabila kita mau mencari persoalan atau data tentang masa lalu semuanya ada dalam buku.

Buku Versus E-book
Tempora Mutantur Ed Nos Mutandur In Illis : Jika zaman berubah, maka segala sesuatu yang ada di dalamnya akan ikut berubah. Pepata Latin ini selalu berlaku setiap zaman. Dalam hal ini saya bandingkan antara buku dan elektronik book. Banyak orang mengatakan bahwa saat ini buku kurang diminati oleh kaum milenial.Pendapat ini tidak selamanya benar. Mari kita lihat keunggulan dan kekurangan dari kedua sarana ini. 1). Buku : Keunggulannya : bisa di bawa ke mana-mana, bisa dipinjamkan ke orang lain dalam waktu lama,bisa dibaca berulang kali, bisa dibuat ringkasan,tidak perlu pulsa data, tidak perlu ada sinyal . Kelemahannya : Gampang rusak, agak berat jika dibawa kemana-mana. 2). E-book : Keunggulannya : bisa dibawa kemanan-mana, bisa dipinjamkan ke teman dalam waktu singkat. Kelemahannya : Tidak bisa dibaca di tempat yang tdak ada sinyal, tidak bisa berfungsi di tempat yang tidak ada Listrik, tidak bisa dibaca kalau tidak ada pulsa, Tidak bisa dibuatkan ringkasan.

Apapun bentuk media yang digunakan tetap mempunyai tujuan yang sama yaitu menyimpan atau mempublikasikan semua informasi atau  karya di masa lalu, masa sekarang untuk digunakan dimasa depan. Pepatah Latin mengatakan, “ Verba Volant, Scripta Manent“ . Ungkapan ini secara longgar diterjemahkan menjadi, “ Segala yang kita bicarakan akan terbang dan melayang, sedangkan segala yang tertulis akan tinggal tetap”. Ini   menggambarkan betapa pentingnya karya tulis atau peristiwa saat  ini yang harus kita tulis dalam bentuk catatan atau buku. Buku-buku ini harus menjadi kebutuhan pokok bagi setiap warga negara kita ini supaya kita dapat membaca sejarah perjuangan bangsa kita, kebudayaan bangsa kita dan terus melestarikan bangsa ini lewat membaca buku yang tersedia di Perpustakaan keluarga maupun Perpustakaan Negara. Semua hasil pikiran seseorang dimasa lalu, sekarang dan nanti, apabila menjadi teks tertulis, maka buah pikiran orang itu akan menjadi milik public. Mari kita tanamkan kebiasaan ber-Literasi/membaca buku atau membaca via Internet  barang waktu 30 (tiga puluh) menit setiap hari untuk menambah wawasan kita tentang dunia kekinian di sekitar kita. Di buku maupun di internet banyak informasi tentang kesehatan, social budaya, politik,agama,keamanan, krimininal,kesenian,percintaan, dan masih ada yang lain.

Memindahkan Dunia Lewat Tulisan  atau  Buku
Rumahku rumah dunia,kubangun dengan kata-kata (Prasasti,1966 – 2001). Mungkin kita yang bukan penulis membangun rumah dari batako,semen,besi,pasir,batu,kayu, seng,paku. Namun para penulis membangunnya dari kata-kata atau dari rangkaian huruf-huruf. Memang syarat menjadi seorang penulis itu hanya 2 (dua) yakni,bisa Membaca dan Menulis. Supaya bisa membaca kita harus memilki sumber bacaan atau buku atau media social lainya, dan supaya bisa Menulis kita harus memulainya dengan tindakan menulis bukan dengan berbicara lisan.  Sebagai mahluk sosial kita mesti harus terlibat baik langsung maupun tak langsung untuk mengejawantahkan dunia dalam bentuk buku. Dengan memilki buku maka minat baca kita akan meningkat. Dengan membaca buku kita bisa keliling dunia, tanpa harus membayar dengan biaya mahal. Biasakan diri kita memberi hadiah buku kesukaan anak-anak atau rekan kita saat mereka berulang tahun. Kebiasaan ini kalau dimulai dari diri  kita, keluarga kita, maka nisacaya semua warga negara kita akan menjadi warga Literat.

Tak bisa dipungkiri biarpun di era digital seperti sekarang ini, namun peranan dan fungsi buku masih menjadi kebutuhan semua orang untuk mencari informasi yang lebih akurat. Seseorang yang banyak meluangkan waktunya untuk membaca niscaya orang itu memilki pemikiran yang brilian dan hasil bacaannya dapat diterapkan dalam kehidupan social budaya akan ditiru oleh orang lain.  Kemajuan dunia Tekhnologi sekarang ini tidak terlepas dari peran tulisan atau catatan dalam buku yang ditulis oleh para pemikir-pemikir dunia ini jauh sebelum penemu sekarang lahir. Kita bisa membandingkan kemajuan dunia kemarin, hari ini dan besok , itu berkat tulisan yang ditinggalkan para penulis sebelumnya. Dengan membaca buku tentang suatu daerah yang mungkin kita tidak bisa jangkau, kita bisa pindahkan daerah itu ke dalam hati dan pikiran kita melalui media buku. 

Literasi  Menyelamatkan Dunia
Banyak kejadian di dunia ini yang terjadi di masa lampau, masa sekarang dan mungkin peristiwa itu akan terjadi lagi di masa depan. Maka tulisan tentang peristiwa masa lalu yang mencekam dan menelan jiwa dan harta benda perlu didokumentasikan dalam bentuk tulisan, sehingga jika kejadian itu terulang maka kita sudah mempunyai catatan tentang gejalanya, cara mengatasinya seperti kejadian di masa lampau. Peristiwa-peristiwa itu seperti, bencana alam : Gempa bumi, tanah longsor, banjir,gunung api meletus, kemarau yang panjang, tsunami, bencana Virus Babi,Virus Flu Burung, Virus Corona Disiase (Covid-19) yang sedang melanda dunia saat ini. Perlu ditulis dengan saksama penyebab dan cara mengatasinya, sehingga apabila peristiwa ini terjadi lagi di kumudian hari, generasi saat itu sudah tahu penyebab dan cara mengatasinya dari catatan yang ditinggalkan oleh generasi sekarang atau oleh orang yang pernah mengalami hal itu. Menulis adalah napas hidup, karena dengan menulis kita tidak akan kekurangan   Oksigen (O2) (Ratna Dewi P).

Dalam sebuah buku berjudul : Meretas Badai Lebih Sehat Jika Menulis, para penulis buku ini berjumlah 20 (dua puluh) orang  semuanya mengidap berbagai macam penyakit yang mematikan. Misalnya Melanie Subono (Penyakit Tumor),Kunto Wijoyo (Radang selaput Otak), Nurul F.Huda (Penyakit Jantung),Thomas Alva Edison (Kehilangan pendengaran), Heri H.Haris (Kehilangan tangan kiri), Dahlan Iskan (Ganti Hati) mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang masih hidup sehat sampai sekarang. Mereka tidak minder dengan kekurangan dan kelemahan, namun mereka tekat terus menulis untuk kehidupan sehingga rasa sakit karena penyakit dapat berangsur-angsur berkurang dan pada akhirnya mereka sembuh dari penyakit itu. Seiring perkembangan zaman yang semakin canggih, semakin banyak pula tuntutan yang dihadapi manusia. Dengan  terus menulis menghasilkan karya-karya yang berguna bagi diri dan bagi kelangsungan hidup orang lain di dunia ini, maka kita telah menyelamatkan dunia.

Menulis adalah suatu keahlian dalam menuangkan ide atau gagasan  yang ada dalam pikiran manusia menjadi sebuah karya tulis yang bisa dibaca dan mudah dipahami oleh orang lain. Tulisan yang baik dan menarik pasti akan dicari orang, terlebih lagi bila tulisan tersebut akan menambah pengetahuan praktis yang diperlukan pembaca. Membaca adalah menabung perbendaharaan kata dan menulis adalah mengamalkan hasil tabungan perbendaharaan kata tersebut. Menulis pada hakekatnya adalah upaya mengekspresikan apa yang dilihat,dialami, dirasakan dan dipikirkan ke dalam bahasa tulisan.

Buku  Transformasi Budaya
Perkembangan kebudayaan manusia mulai dari zaman ke zaman merupakan penyempurnaan budaya dari waktu ke waktu. Hal ini berkat  pendahulu kita yang selalu menulis apa yang mereka pikirkan dan yang mereka kerjakan. Dari bukulah kita bisa baca tentang paradapan manusia di masa yang lalu. Transformasi (perubahan bentuk, rupa sifat) dari masa lalu ke masa sekarang dan ke masa depan dapat kita temukan di dalam catatan atau buku yang mungkin tersimpan di perpustaan keluarga atau di perpustakaan sekolah dan di perpustakaan pemerintah. Wabah Corona Virus Desease (Covid-19)  membawa dampak dan korban jiwa umat manusia  di dunia ini.

Pandemi Covid -19 sungguh membawa keprihatinan luas di berbagai penjuru dunia. Covid -19 ini pernah terjadi seratus tahun yang lalu, sekitar tahun 1820. Jadi peristiwa pandemic Covid -19 ini merupakan peristiwa ulangan. Jadi semua peristiwa masa lalu itu kita tahu dari buku. Peradaban kemanusiaan selalu berkembang dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk itu kita  bisa menyesuaikan diri dengan situasi zaman. Kita sekarang memasuki New Normal, kebudayaan baru yang menyesuaikan dengan Covid-19 ini. (*)

comments

No comments:

Post a comment