Latest News

Sunday, 12 April 2020

SETELAH SATU TERKONFIRMASI POSITIF COVID-19 DI NTT

Saverinus Suhardin, S.Kep., Ns.
Perawat, Mahasiswa Magister FKp Unair Surabaya,
dan Pengajar di AKPER Maranatha Groups Kupang

Saya ikutan heran ketika melihat banyak yang heran dengan respons beberapa warga terkait video klarifikasi pasien Covid-19 nomor 01 di NTT. Kita semua bisa tahu, kontroversi mengenai kasus tersebut begitu menghebohkan di media sosial. Kenapa bisa heran? Bukankah hal seperti itu – perdebatan yang diselipi perundungan, sudah menjadi kebiasaan kita?

Respons tersebut merupakan gambaran situasi yang kita alami saat ini. Kita sedang diliputi rasa cemas. Saking berlebihnya, kita sulit berpikir tenang. Malah yang terlihat kita makin kacau. Maka, tidak heran bila kita menemukan banyak komentar yang saling menghujat dan hal kontra-produkif lainnya.

Daripada kita fokus pada kontroversi yang akan melelahkan itu, lebih baik kita berpikir, bagaimana tindakan yang sebaiknya dilakukan setelah satu pasien terkonfirmasi postif Covid-19 di NTT. Bila kita terus mencari kambing hitamnya, maka hal itu tidak akan usai. Kita sedang menghadapi wabah yang benar-benar baru. Alat pemeriksaannya masih terbatas. Vaksin pencegahnya belum ada. Pengobatannya masih coba-coba, sedang diteliti di berbagai tempat. Bila kita belajar dari kasus 01 di NTT, semuanya terjadi karena kelengahan banyak pihak. Maka tidak adil bila kita terus-menerus merundung satu orang atau suatau lembaga tertentu.

Mari kita merunut sejenak pada kasus tersebut. Sesuai keterangan pada video yang beredar (meski banyak yang menganggap ada bagian yang kurang jujur), pada awalnya dia langsung melapor di RSU Johannes Kupang setelah tahu sahabatnya yang di Jakarta terkonfirmasi positif Covid-19. Saya pikir, bagian ini patut kita apresiasi. Partisipasi aktif masyarakat seperti ini – berani melapor lebih dini, sangat penting dilakukan dalam konteks antisipasi sehingga penyebaran virus ini tidak makin meluas.

Pada bagian selanjutnya, kita semua mendengar kalau dirinya tidak kunjung mendapat kabar mengenai hasil pemeriksaan laboratorium sesuai tanggal yang dijanjikan. Kebetulan kasusnya tergolong ringan dan tanpa banyak gejala, dia menganggap tidak bermasalah setelah 14 hari melakukan karantina dan observasi mandiri. Eh, tiba-tiba setelah lewat dari waktu yang ditentukan, hasil pemeriksaan laboratoriumnya baru keluar. Terkonfirmasi positif.

Tulisan ini tidak akan mengulas semua isi video tersebut, cukup dua bagian itu saja. Menurut saya, kasus tersebut, salah atau bagiannya menyadarkan kita tentang lemahnya sistem identifikasi masalah atau pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosis seseorang positif atau negatif dari virus SARS Cov-2 atau yang lebih sering disebut Corona saja.

Khusus kita di NTT, selain sistem pelayanan kesehatan secara umum yang diperkirakan tidak cukup kuat bila menghadapi lonjakan pasien Covid-19, masalah tes Corona ini memang menjadi salah satu momok. Bayangkan, untuk pemeriksaan pasti dengan motode sapuan (swab) tenggorokan, sampelnya harus dikirim ke laboratorium yang berada di Surabaya. Sedangkan metode Rapid-Test yang hasilnya cepat – meski dilaporkan kurang akurat dibandingkan dengan PCR atau swab tenggorokan, belum juga dilakukan secara masif di NTT.

Lewat berita kita memantau, pemeriksaan berskala besar baru terjadi di Jakarta dan daerah lain di Pulau Jawa. Tidak heran di sana jumlah penderita positif sudah banyak dan terus meningkat tiap hari, sedangkan di NTT baru satu setelah sebelumnya dinyatakan negatif dalam rentang waktu yang lumayan lama. Andai saja status negatif itu berdasar tes yang masif, khususnya bagi warga NTT yang baru saja pulang dari zona merah, tentunya melegakan. Tapi kalau status negatif tanpa tes yang memadai, itu menyimpan banyak tanya dan menimbulkan suasana gundah. Satu kasus positif Covid-19 di NTT kiranya tidak hanya menimbulkan huru-hara, tetapi juga bisa menjadi berkah. Paling tidak, berita ini akan memicu pemerintah daerah untuk menyadari urgensi dari pemeriksaan atau tes Covid-19 secara masif.

Perlu kita sadari, saran untuk melakukan isolasi mandiri, jaga jarak, jaga kebersihan, dan #DiRumahAja tidak akan efektif bila tidak diikuti pemeriksaan yang masif dan penatalaksanaan yang cepat-tepat bagi yang positif. Bila kita mau belajar dan menerapkan pengalaman China yang dianggap sudah "menang" melawan virus ini, upaya mengombinasikan antara pembatasan perjalanan antar kota/daerah; pengurangan kontak sosial atau jaga jarak dengan orang lain; deteksi dini dan isolasi mandiri di rumah, terbukti mengurangi penyebaran virus secara signifikan.

Jadi, setelah satu kasus 01 positif Covid-19 di NTT telah diketahui, tidak ada pilihan lain untuk mengurangi penyebarannya. Segera lakukan tes yang masif, khususnya bagi yang telah kontak erat dengan pasien yang positif. Selain itu, warga NTT yang baru saja pulang dari daerah lain yang sudah dinyatakan zona merah, perlu juga dilakukan tes. Mereka sudah terdata di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP)  atau petugas khusus yang ditetapkan untuk memantau setiap penumpang yang datang dan pergi di pelabuhan dan bandara. Kalau tes masif bisa dilakukan, tinggal hubungi kembali lewat nomor kontak yang tercatat.

Kalaupun PCR (Polymerase Chain Reaction) dengan pengambilan sampel sapuan lendir tenggorokan itu masih terasa sulit dan membutuhkan waktu yang lama (karena harus dikirim dulu ke Surabaya), tidak masalah bila didahului dengan metode tes cepat saja. Walaupun keakuratannya belum meyakinkan, paling tidak bisa membantu untuk identifikasi awal.

Bila kita mengikuti berita nasional, pemerintah pusat telah membeli dan menerima bantuan dari negara lain, salah satunya alat tes cepat Covid-19 itu. Sayangnya, belum ada kabar apakah alat sudah tersalur sampai ke NTT atau belum. Kalau sudah tersalur sampai ke NTT, sudah sejauh mana penggunaannya?

Selanjutnya, bagi kita warga biasa, satu kasus positif di NTT menjadi alarm untuk semakin waspada, tapi tidak perlu panik. Kita bersyukur, wabah ini tidak muncul pertama kali di daerah kita. Pengalaman di daerah atau negara lain bisa menjadi panduan bagi kita untuk aktif melakukan upaya pencegahan. Kita terus patuhi anjuran untuk #DiRumaAja dan anjuran kesehatan lainnya yang telah banyak disampaikan pihak berwenang (WHO, Kemenkes RI, dan Dinas Kesehatan).

Ketaatan kita menjalani upaya pencegahan, sangat membantu tenaga kesehatan dan sistem kesehatan secara umum. Kalau kita tetap keras kepala, kemudian terpapar virus yang menyerang sistem pernapasan tersebut, pada akhirnya kita akan memadati fasilitas pelayanan kesehatan.

Jumlah kunjungan pasien yang melonjak akan menyulitkan tenaga kesehatan sebagai penolong. Di China, khususnya Kota Wuhan yang menjadi daerah pusat awal munculnya virus penyebab radang paru-paru ini, persoalan yang sama pernah dihadapi. Tenaga kesehatan mereka banyak terinfeksi dari lingkungan kerjanya, hingga mencapai 63%. Sebagian kecil mengalami kondisi yang lumayan parah atau kritis, dan menyebabkan beberapa orang meninggal dunia. Atau di Jakarta saat ini, per tanggal 11 April 2020 dilaporkan sudah ada 174 tenaga kesehatan yang positif Covid-19. Sudah 2 orang yang meninggal dunia, dan baru 23 orang yang dilaporkan sembuh.

Kondisi yang sama akan terjadi di NTT bila langkah antisipasinya tetap lamban. Kita sebagai masyarakat mesti lebih tertib lagi, sambil terus berharap dan memberi usul pada pemprov dan pemda untuk gencar memfasilitasi pemeriksaan (tes Covid-19) yang masif. Kalau kita fokus pada kontroversinya saja, maka kita tidak sempat belajar dan menerapkan pengalaman dari negara atau wilayah lain.  

comments

No comments:

Post a comment