Latest News

Tuesday, 25 February 2020

CERPEN J.V.M. BUNGA BOTHA – AKU DAN TARIAN HEGONG

Ilustrasi Tarian Hegong (Foto: netralnews.com)

Lagi-lagi aku termenung di tengah bisingnya kantin sekolah siang hari itu. Tergiang-ngiang di kepalaku kata-kata nenek belum lama ini. “Nia, nenek harap kamu dapat meneruskan karier nenek sebagai penari Hegong jika nenek sudah tidak ada nanti”.

Entah kenapa, ucapan tersebut seolah menjadi pertanda meninggalnya neneku kemarin karena serangan jantung. Aku tidak menyangka semuanya terjadi begitu cepat. Hari dimana aku merasa bimbang untuk memilih, apakah harus meninggalkan kegemaranku menari modern, lalu beralih menekuni tarian Hegong seperti nenek. Aku benar-benar bingung.
“Hei, Nia! Melamun saja!” seru Aliyah, sahabatku.
“Eh, i..iya...”
“Kamu terlihat kurang bahagia hari ini. Ada apa?”
“Neneku meninggal kemarin dan menginginkanku meneruskan karirnya sebagai penari Hegong”
“Hmm… kamu harus mencoba mulai mempelajari tari tradisional berarti, agar bisa menjadi penari Hegong yang hebat seperti nenekmu.”
“Justru itu masalahnya, Liyah! Aku tidak ingin meninggalkan kesukaanku menari modern”.
 “Yah, semua ini keputusanmu Nia. Jadi, pikirkanlah baik-baik. Ingat sajalah, semua pilihan yang kau pilih pasti ada konsekuensinya masing-masing.”

“Kriiinnggg, kriiiinnngggg…”
Bel sekolah terdengar. Saatnya pelajaran Pak Gilang. Sejarah. Salah satu mata pelajaran yang harus kubilang sangat membosankan. Apalagi dengan materi kali ini yang membahas kerajaan-kerajaan di masa lalu.

“Jangan lupa ya anak-anak, tugas projek kita. Terakhir pengumpulan adalah minggu depan. Bapak harap kalian bisa mengerjakannya semaksimal mungkin,” pesan Pak Gilang pada kami. Walaupun sebenarnya ada kemungkinan besar bahwa anak-anak tidak mendengarkan secara baik apa yang baru saja disampaikan oleh Pak Gilang.
Sore saat di rumah. “Tok, tok, tok…,” pintu kamarmu diketuk.
“Nia, Mama mau bicara sama kamu.”
Mama tiba-tiba datang. “Ma, aku belum mau memikirkan perkataan almarhum nenek…,” spontan aku berkata seperti itu.
“Maaf, nak. Bukannya Mama ingin membebani pikiranmu, namun Mama benar-benar ingin kamu mengikuti saran almarhum nenek. Itu pesan wasiat yang sebaiknya dilakukan,” kata mama dengan wajah penuh harapan kepadaku.
“Baiklah ma, akan kupikirkan baik-baik. Tapi aku minta maaf, mungkin aku perlu waktu yang agak lama untuk berpikir,” jawabku. Mama hanya tersenyum dan keluar perlahan dari kamarku. Di tengah sunyinya ruangan ini hatiku makin gundah. Seakan tak ada yang mengerti perasaanku kali ini. Walaupun sebenarnya aku tahu keluargaku dan Aliyah akan selalu mendukung apa pun yang aku lakukan.

Aku mungkin sudah terlalu cinta dengan tarian modern. Ucapan almarhum neneku membuat pikiranku semakin tak karuan. Kenapa nenek harus berpesan seperti itu? Andai saja beliau masih ada, aku akan lebih mudah menyampaikan isi pikiranku. Aku sangat sayang pada nenekku. Aku tidak ingin mengecewakan beliau. Tapi masalahnya, aku memiliki keinginan yang lain.

Seminggu kemudian.
“Anak-anak, sekarang kumpulkan projek Kerajaan Jawa kalian. Bapak ingin lihat bagaimana kreasi kalian,” kata Pak Gilang di kelas. Duduk diam dan tertunduk lesu. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Pak Gilang menatapku.

“Nia, ayo kumpulkan hasil projekmu.”
Perlahan aku menggelengkan kepala, “Maaf, Pak. Tugas saya belum selesai.”
“Bagaimana kamu ini, Nia? Bapak sudah sediakan waktu yang cukup sejak jauh-jauh hari. Tapi kamu tidak mengerjakannya,” kata Pak Gilang. Setelah itu sampai pelajaran selesai Pak Gilang tidak mengatakan apa pun lagi.

Saat kukira hukuman tidak akan dijatuhkan padaku, tiba-tiba…
“Nia, kamu ditunggu Pak Gilang di ruang guru,” ucap seorang temanku saat jam istirahat.
“Waduh, ada apa?,” tanyaku.
“Entahlah, yang jelas Pak Gilang ingin kamu menghadap beliau sekarang juga.”

“Permisi, Pak.” Perlahan aku membuka pintu ruang guru.
“Duduklah di sini, Nia.” Pak Gilang berkata padaku sambil menunjuk kursi yang berada di depan mejanya. 
“Kenapa kamu tidak mengerjakan tugasmu, Nia? Tidak biasanya kamu begini,” kata Pak Gilang membuatku merasa bersalah. Aku hanya diam menunduk.
“Baiklah, terpaksa Bapak akan beri kamu sebuah hukuman,” kata-kata Pak Gilang membuatku tegang.
“Hukumannya tidak berat. Hanya kamu harus belajar menarikan tarian Hegong, dan kamu harus menampilkannya di acara pentas seni antar kelas dua minggu lagi. Bagaimana?”
“Wah, itu susah sekali Pak. Saya belum pernah melakukannya. Saya sudah terbiasa menari modern, tapi bukan tarian Hegong”.
Tak sabar aku ingin kembali ke rumah dan membayangkan semua ini tidak terjadi. 
“Nah, justru inilah kesempatanmu untuk mencobanya. Anggap saja ini akan menjadi tantangan yang baru. Apalagi dengar-dengar, almarhum nenekmu juga menginginkan setidaknya kamu belajar menarikan tari tradisional bukan? Bapak merasa pesan beliau sangat baik. Kalau semua anak lebih suka menari modern, siapa yang akan peduli dan melestarikan budaya kita sendiri?”

Kupikir-pikir, kata-kata Pak Gilang tidak salah.
“Baiklah Pak. Saya akan berusaha mencobanya.”

Tak ada lagi yang bisa aku lakukan. Dengan masih agak terpaksa, aku akan mengikuti apa kata Pak Gilang. Semoga saja Pak Gilang benar, mungkin ini memang awalku untuk melakukan hal baru, dan seperti kata Pak Gilang, untuk lebih peduli dengan budaya sendiri.

Siang hari sesampai di rumah…
“Ma, aku pulang,” suaraku terasa memenuhi langit-langit ruangan begitu aku berteriak. “Nia. Mama punya kabar baik untukmu,” Mama ikut berseru begitu aku masuk rumah. “Ada apa, Ma?” Aku keheranan melihat mama bersemangat seperti itu.
“Mama telah mendaftarkanmu mengikuti Sanggar Tari di Pendopo Kabupaten. Kamu akan mulai mengikuti kegiatan di sana hari Sabtu besok. Segala perlengkapannya sudah Mama siapkan. Jadwal latihanmu di sana sudah Mama taruh di meja belajarmu. Ah, Mama tak sabar melihatmu mengikutinya,” Mama menjelaskan panjang lebar kepadaku.

Tunggu, Mama telah mendaftarkanku di Sanggar Tari Tradisional? Aku bahkan belum tahu sanggarnya akan seperti apa. Hmmm... baiklah, sudah didaftarkan jadi aku tak bisa menolaknya. Lagi pula aku juga harus melakukan hukuman dari Pak Gilang, dan juga aku lama-lama tidak tega juga melihat Mama selalu murung dan sedih setiap saat memikirkan pesan almarhumah nenek. Maka dari itu aku hanya mengangguk, lalu pergi ke kamarku dan melihat jadwalnya.

Hari Sabtu, aku benar-benar berangkat ke sanggar itu. Aku dan Mama langsung disambut oleh pemilik sanggar yang tak lain adalah… Pak Gilang. Aku yang melihatnya langsung terbenGong, tidak kusangka ternyata Pak Gilang mempunyai sanggar tari tradisional. Secara bergantian kulihat Mama dan Pak Gilang. Aku yakin mereka berdua sudah bersekongkol untuk membuatku mau belajar tarian Hegong. Mama hanya menyeringai sambil menatapku.

“Hahaha… sudahlah. Mari Bapak antar ke kelas tarimu,” kata Pak Gilang memecah susasana. Aku mengikutinya saja sambil melambaikan tangan ke arah Mama yang segera meninggalkanku. Kekagetanku bertambah ketika mengetahui bahwa Aliyah juga ada di sanggar tari ini.

“Hai Nia. Akhirnya kamu ikut sanggar ini juga.”
“Wah, tidak aku sangka kamu ikut sanggar ini, Al. Kenapa kamu tidak pernah bercerita selama ini?” tanyaku penasaran. Aliyah hanya tertawa.

“Selamat sore anak-anak. Hari ini kita kedatangan seorang teman baru. Namanya Nia. Untuk Nia, perkenalkan nama Ibu, Bu Elis. Nah, untuk menyambut Nia, ibu ingin murid-murid lama di sini menarikan gerakan tari Hegong yang baru saja kita pelajari,” kata Bu Elis, wanita paruh baya yang melatih tari di kelasku. Tak lama anak-anak yang bertugas memukul Gong dan Waning pun memukul alat mereka masing-masing sebagai pengiring Tari Hegong, dan diikuti oleh gerakan tari anak-anak di sini.

Aku pun mencermati dan mulai mengenal lebih jauh tari tradisional dari saat itu. Semua hal dari tarian ini membuatku terpukau. Mulai dari kerumitan tariannya sampai keanggunan gerakan para pemainnya. Entah kenapa jadi tidak sabar untuk ikut mencoba menarikannya. Tepuk tangan keras dariku dan Bu Elis langsung menyambut teman-teman yang baru saja membawakan Tari Hegong bersama-sama. 

“Nia, Bu Elis harap, pelan-pelan kamu bisa mengikuti teman-temanmu di sini. Apalagi melihat kamu telah memiliki dasar sebagai seorang seorang penari yang baik, meskipun sebelumnya lebih banyak berlatih tari modern,” kata Bu Elis berkata dengan sungguh-sungguh kepadaku.
“Semuanya, kalian telah menari Hegong dengan cukup baik. Terus dilatih lagi, ya. Sekarang mari kita pelajari bersama gerak tari Hegong yang lainnya,” lanjut Bu Elis.

Anak-anak menyambut antusias. Kelihatannya mereka sudah menunggu-nunggu untuk mempelajari gerakan tarian yang baru. Di awal-awal belajar, rasanya memang cukup berbeda dengan selama ini aku menggeluti tari modern. Sebab Tari Hegong gerakannya jauh lebih lembut dan gemulai. Namun itu semua tak menghalangiku untuk terus belajar. Aku berpikir bahwa aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan belajar ini selagi aku mulai tertarik begini. Teringat kata-kata Pak Gilang, aku membayangkan ini tantangan baru buatku.

Aku bersyukur, tidak seperti yang kusangka sebelumnya, ternyata aku bisa mengimbangi kemampuan teman-temanku dengan cukup cepat. Sampai tak terasa, dua minggu kemudian aku sudah bisa dengan lancar menarikan Tari Hegong tersebut tepat di hari dimana aku harus menepati janjiku kepada Pak Gilang untuk menarikannya di pentas seni antar-kelas.

Pentas seni dilakukan di aula sekolah. Pentas kali ini khusus untuk murid kelas 5 dan 6. Tiap kelas menampilkan bermacam atraksi seni secara bergantian. Tidak lama setelah beberapa penampil, Pak Gilang pun maju menuju mikrofon.

“Anak-anak, selanjutnya akan tampil seorang murid yang sebelumnya gemar sekali menari modern, lalu dalam dua minggu ini berusaha keras untuk bisa menari Hegong dengan baik,” Pak Gilang berkata sambil tersenyum menatapku. 

Aku menarik napas panjang sebelum maju ke depan dan menarikan Tari Hegong bersama kelompokku. Perlahan namun pasti, aku mulai bergerak sesuai bunyi pukulan Gong dan Waning. Seruan tepuk tangan dari anak-anak di aula terdengar begitu aku dan kelompokku  selesai menari. Aliyah menatapku penuh semangat. Melihat semuanya, entah kenapa aku merasa senang sekali dan begitu lega.

Di akhir acara pentas, Pak Gilang mendatangiku dan memberiku satu selebaran yang bertuliskan: Lomba Menari Tradisional untuk Siswa SD-SMP-SMA Tingkat Provinsi.

“Bapak kira kamu sudah siap untuk mulai berlatih mengikuti ini, bersama beberapa temanmu yang lain,” kata-kata tersebut diucapkan Pak Gilang begitu aku membacanya.

Spontan, aku langsung mengangguk kegirangan. Rasanya seperti lupa bahwa tiga minggu sebelumnya aku masih sibuk mengeluh saat harus meninggalkan tari modern dan beralih mempelajari tari tradisional.

“Sekolah akan mengikutkan kamu dan beberapa siswa, kalian mengikuti perlombaan ini bukan untuk berambisi mendapatkan kemenangan. Tapi untuk melatih murid-murid untuk percaya diri menampilkan kemampuan di muka umum,” Pak Gilang seperti bisa membaca pikiranku yang sempat tidak yakin.

Aliyah yang datang mendekat pun berkata, “Tenang saja, kita akan melakukannya dengan baik.”

Di pertemuan-pertemuan sanggar berikutnya, aku diajar khusus oleh Pak Gilang dan Bu Elis untuk mengejar teman-temanku yang sudah lebih dulu mahir menari Hegong. Dan akhirnya hari lomba tari pun tiba. Mama berkali-kali memastikan bahwa semua perlengkapanku telah siap. Mama sendiri yang mengantarku menuju lokasi perlombaan diadakan. Begitu kami sampai, gedung perlombaan itu sudah penuh oleh peserta-peserta lainnya yang banyak sekali. Kegugupanku mulai muncul melihatnya. Namun untung saja Mama selalu menenangkanku.

Satu-persatu peserta lomba dipanggil naik ke panggung untuk menunjukkan bakat mereka. Hingga kemudian sampai pada nomor 20, yang tak lain adalah nomor urutku dan kelompokku. Dengan gugup, aku dan kolompok ku naik ke atas panggung dan menarikan tari Hegong yang sudah aku pelajari selama beberapa minggu terakhir.

Begitu aku turun panggung, Mama berkata, “Mama bangga padamu.”
“Ma, bagaimana kalau aku tidak menang,” tanyaku.
“Ikut perlombaan  tujuannya bukan untuk berburu juara. Melainkan agar kamu terlatih untuk percaya diri tampil di muka umum.”

1 jam kemudian…
“Baiklah hadirin sekalian, sekarang kita lihat bersama siapa yang akan menjadi juaranya,” pembawa acara lomba muncul dan bersiap mengumumkan juara lomba Tari Tradisional untuk SD sampai SMA itu.
“Kita mulai, dari juara 3 kategori SD, diraih oleh Adinda Zulaiha.” Penonton bertepuk tangan dengan riuh.
“Pemenang dipersilakan untuk maju ke depan. Kemudian dilanjutkan dengan juara 2, adalah peserta dengan nama Emilia Setia Putri. Tepukan penonton pun semakin bergemuruh. Pembawa acara melanjutkan lagi pengumumannya, “Dan sekarang yang kita tunggu-tunggu bersama, juara pertama lomba Tari Traditional kategori SD adalah Nia Elmira Zahra. Selamat untuk para pemenang lomba.”

Saat itu aku bangga terhadap diriku sendiri. Aku merasa sangat senang. Aku merasa  harapan almarhumah nenekku terwujudkan.

“Selamat,” bisik mama. Dari situ aku mulai menekuni Tari Hegong dan ikut beberapa pelombaan.



Joachima Vedruna Monica Bunga Botha
Kelas VII K SMP Frater Maumere

1 comment:

  1. Semangat trus anaknya mama....terima kasih pak Guru Bhs Indonesia smpk Frater Maumere buat dukungannya

    ReplyDelete