Latest News

Tuesday, 25 June 2019

GURU ADALAH NABI YANG BERPIKIR, MENGAJAR DAN MENGHIBUR (Menjejaki Pemikiran Marsel Robot Tentang Gerakkan Literasi Guru)


Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Menelusuri jalan sepi literasi di NTT itu begini. Ada seorang (beberapa orang) sedang berjalan menelusuri lorong pikirannya sendiri. Dingin, gelap dan sempit. Ia mengendus mencari jawaban untuk sekian banyak pertanyaan eksistensial dalam dirinya. Lorong dingin dan gelap itu semakin terasa saat ia rajin “bertengkar” dengan kenyataan hidup yang dialaminya. Tidak heran, orang lebih memilih aman. Tidak perlu mempertanyakan hidup yang sudah ada. Yah … (untuk kebanyakan orang), hidup itu adalah yang ada saat ini. Nikmati dan syukuri saja apa yang ada. Atau dengan format lain, hidup itu adalah bentuk keterlemparan dari keabadian. Tidak perlu dipertayakan lagi. Mempertanyakan hidup dengan seluruh peristiwa yang terjadi di dalamnya adalah  pekejaan sia-sia kalau tidak mau dibilang bodoh.

Menulis adalah alasan untuk sebuah “pertengkaran” dengan diri sendiri. Semakin ia berpikir dan melibatkan perasaan sepenuhnya atas banyak peristiwa hidup, maka ia bakal sepi sendiri dan siap dilabeli sebagai filsuf (pemikir) atau orang gila.  Tidak ada cara atau pilihan yang lebih tepat selain menelusuri jalan sepi yang dingin ini.  Menulis adalah cara menembus (menyingkap) jalan sepi ini. Manfaat dan sensasinya dapat jika kita berani sendiri di jalan sepi ini. Jika kemudian kamu menemukan lebih dari sepuluh orang dalam perjalanan menerobos jalan sepi ini, maka untuk konteks NTT itu sudah luar biasa. Kali ini saya ingin mengajak kita sekalian menjejaki pemikiran Marsel Robot tentang bagaimana ia “bertengkar” dengan diri dan memutuskan menerobos jalan sepi literasi.

Marsel Robot lahir di Taga, Koit-Manggarai Timur, 1 Juni 1961. SD di Koit, SMP di Borong, SMA di St. Thomas Aquinas, Ruteng-Flores. Tahun 1982, ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Undana. Berkat kesetiaanya menelusuri jalan sepi literasi maka di tahun 1998, Marsel melanjutkan Magisternya di Universitas Padjadjaran Bandung  di bidang Ilmu Komunikasi dengan predikat Cum Laude. Tahun 2008 di kampus yang sama ia berhasil mempertahankan disertasi doktoralnya yang berjudul : kontruksi Harmoni Antara Salib dan Bulan Sabit : Sebuah Etnografi Budaya Komunikasi Masyarakat Beda Agama di Ntaram (Manggarai) Flores.

Sebagai dosen ia (Marsel Robot) tahu sepi dan dinginnya lorong ini. Ia merasakan sendiri perihnya hati dan pikiran melihat para mahasiswa yang adalah calon guru itu berusaha menghindar dari lorong sepi literasi ini. Apa yang bakal terjadi dengan generasi NTT ini di belasan dan puluhan tahun dari sekarang. Apa yag bisa digugu dan ditiru oleh siswa/i yang didiknya nanti. Ini dosa siapa? Dalam satu ia seperti Pilatus. Ingin ikut serta mencuci tangan dan “mencari kambing hitam”.

“Sesungguhnya, saya sedang berprofesi ganda. Sebagai dosen sekaligus pemulung. Sebagai dosen tugas saya sangat formatif. Meneliti dan mengajar. Itu saja. Tetapi sebagai pemulung tugas saya adalah memilih dan memilsah sampah. Para mahasiswa yang sudah menamatkan pendidkan dari jenjang SD, SMP dan SMA yang juga adalah calon guru tetapi tidak memiliki ketekunanan membaca dan menulis. Mereka itulah sampah dalam bentuk yang nyata. Seperti pohon, ia nampak layu dan loyo karena hati dan pikirannya kosong. Ia (mahasiswa) ikut dalam konsep  pendahulu “tua” bahwa hidup adalah anugerah dan dinikmati apa adanya. Apa yang terjadi? Ia bisa menulis tetapi tidak biasa menulis. Jauh lebih parah dari seorang yang buta huruf. Saya malu menjaani profesi ganda sebagai dosen dan pemulung ini. Tetapi itulah kondisi kita,” tandas Marsel dalam tatapan mata “berkaca”.

…………………………………………………………………………

Puluhan perserta Bimbingan Teknis (Bimtek) penulisan karya ilmiah (PTK/PTS) yang diselenggarakan di SMP Kristen 3 Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) terdiam. Aula kegiatan beraroma ilmiah itu berubah menjadi sunyi. Mereka (perserta bimtek) merenung dalam kata tak bersuara. Ada imajinasi yang sedang berkelana, ke mana dan bagaimana situasi generasi bangsa (daerah ini) di tahun 2050 nanti? Apakah mereka (generasi muda) mampu bercerita tentang dirinya, leluhurnya dan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya? Ataukah semuanya lenyap tanpa cerita dan kenagan? Berada di sini untuk tiga hari terhitung dari tanggal 24-26 Juni untuk mengurai visi besar itu. Menyambut Generasi Emas NTT 2050 Dengan Membangun Budaya Literasi.

Lelaki penulis buku kumpulan artikel “Ringkasan Kegelisahan Sosial di Aula Sejarah” berbicara lagi. Di hadapan puluhan peserta Bimtek yang terdiri dari para guru dan kepala SMP itu, Ia (Marsel Robot) berkenalan. Katanya, ia sudah mengalami bagaimana perihnya saat tidak mempunyai kebiasaan membaca dan menulis. Sebelum berada di titik ini sebagai dosen, ia gagal dalam sekian banyak bentuk test (ujian). Segala sesuatu yang dinamai test (ujian), ia pasti gagal total. Ia “bertengkar” dengan dirinya sebelum jalan pertobatan itu terbuka. Baginya, menulis dan membaca itu adalah dua hal yang saling mengandaikan. Menulis itu bakal sulit seperti mengali sumur dengan jarum jika jarang (kurang) membaca.

“Menulis itu memang sulit. Untuk konteks NTT dimana masyarakatnya (termasuk guru) bisa membaca tetapi tidak biasa membaca, menulis itu seperti kegiatan menggali sumur dengan menggunakan jarum. Atau unta yang disuruh (dipaksa) masuk lubang jarum. Sulit. Tetapi hasil tidak pernah mengkhianati proses. Tidak ada cara lain yang lebih cerdas dan bijaksana jika ingin menulis adalah dengan banyak membaca dan mulai tulis. Keajaban selalu terjadi untuk orang yang mau memulai dan berusaha. Jangan tanya mengapa kemudian orang menjadi professional dalam hal menulis seperti tim Media Pendidikan Cakrawala NTT, jawaban hanya satu. Mereka (tim Cakrawala) telah mulai dan setia pada lorong sepi literasi ini.  Membaca dan menulis adalah pekerjaaan merawat akal sehat dan proses mendidik jari. Benar. Jari kita perlu didik agar tidak kaku, gagap dan menjadi “harimau” untuk diri sendiri,” tandas pimpinan umum Tabloid Suara Tabor ini.

Menurut Marsel, menulis itu adalah seorang yang sedang jatuh cinta. Ia mengambil jarak dan keluar dari dirinya. Ia menulis. Mencari kata yang tepat, menyusunnya dalam kalimat hingga pesan itu tercipta. Awalnya ia nampak resah dan gelisah. Apakah deretan kalimat ini mampu menggetarkan jiwa seseorang yang sangat dicintainya? Kesuksesan usaha mendapatkan cinta ditentukan oleh seberapa kuat dan bernas kata dan kalimat yang ditulis. Ia membaca lagi tulisannya di beberapa jam yang lalu. Ia kaget. Menghapusnya segera dan mulai menulis lagi. Begitulah seterunya. Menulis dan mencoretnya lagi hingga keresahan itu pergi dan hilang. Ia ke dapur, ingin merayakan hasil karyanya ini dalam secangkir kopi panas. Meneguknya perlahan sambil memandang surat yang sudah terbukus dalam amplop putih.

Lelah, perih tetapi selalu berakhir mengagumkan. Dalam tulisan ia sungguh melihat dirinya secara utuh. Ada rasa bangga ketika ia menatap perasaan dan pikirannya sendiri. Terpesona karena ia berhasil membingkai dirinya dalam posisi lain. Dalam kekuatan terisa, akhirnya ia berhsil mengirim surat cinta itu. Keajaiban terjadi. Orang yang sangat dicintainya itu mendatanginya dalam mimpi dan sadar. Hati mereka berpaut dalam kata sehidup semati dari kata dan kalimat yang dirakitnya di beberapa bulan lalu. Mereka saling mencintai dalam kata, suara dan sikap. 

…………………………………………………..

Di bulan begini, Kota Soe terasa sangat dingin. Angin yang bertiup seperti segerombol bayang yang datang dan menggigit tulang. Ada rasa hampa, jika suasana ini berlalu begitu saja.  Saya akhirnya menjadi bagian dari peserta. Mencatat setiap kata dan kalimat sastrawan NTT ini. Di mataku saat ini, Marsel Robot adalah guru yang hadir untuk mengajar dan menghibur. Ia adalah nabi kekinian yang berseru pentingnya membangun budaya literasi di kalangan peserta yang juga adalah guru. Kesimpulan sementara akhirnya didapat. Guru adalah nabi yang berpikir, mengajar dan menghibur.

Kita amini itu. Guru adalah nabi yang ingin menghabiskan hari-hari hidupnya untuk berpikir dan mengajar. Ia (guru) adalah seorang yang mau meluluhkan dirinya seperti lilin untuk membuka cakrawala berpikir generasi muda. Ia datang membawa api yang membakar semangat berjuang dan optimisme para pemilik masa depan NTT di tahun 2050. Guru adalah seorang yang ingin mengerutu dalam aksi dan pelayanan. Selain itu, guru adalah nabi yang menghibur. Ia datang membawa rasa yang tidak biasa. Dari cara ia berpikir dan merasa, generasi muda belajar tentang arti kehidupan yang nyata.

Dr. Marsel Robot kembali berbicara. Kali ini ia hadir sebagai sahabat ketimbang sebagai dosen dan sastrawan NTT. Ia menyampaikan rasa bangga untuk semua peserta yang hadir. Menurut Marsel, kehadiran para kepala sekolah dan guru di hari libur ini adalah “sesuatu”. Mengisi waktu liburan dalam cara yang luar biasa. Meningkatkan profesionalisme dalam hal menulis. Jika kemudian ada mimpi untuk generasi emas itu tercipta, maka ini adalah sinyal awal yang baik. Luar biasa. Harus diakui, akhir-akhir ini, om “Google” telah mencaplok wibawa dan akal sehat guru. Banyak tulisan yang dihasilkan dari rakitan kata yang ada di mesin google. Pikiran guru dinina bobo hingga akhirnya lumpuh. Pendampingan menulis karya ilmiah adalah cara untuk merawat akal sehat dan mengembalikan wibawa guru yang pantas digugu dan ditiru.

“Manusia modern termasuk para guru telah menjadi suku cadang dari “android”. Om “google” telah mencaplok buah pikir manusia dalam kerja mesin yang kaku dan monoton. Ada sebuah pernyakit “ketergantungan”. Perhatikan cara guru atau anak muda menulis status facebooknya. Akh … menyedihkan. Dirinya “ditelanjangi” dari cara ia menuliskan pikirannya di dinding facebook. Padahal harus diakui, otak kita adalah akar serabut seperti halnya tumbuhan. Otak akan berkembang dan bertumbuh sempurna jika selalu disegarkan dengan diberi nutrisi melalui aktifitas membaca dan menulis. Dalam sebuah penelitian kecil, Alkitab adalah satu-satunya buku yang dimiliki guru di rumah. Karena Alkitab adalah yang suci maka jarang dibaca. Cukup melihat, memegang dan berdoa,” ujar sastrawan NTT ini.

Di akhir materinya, dosen Bahasa & Sastra Indonesia Undana ini menyampaikan terima kasih kepada tim Media Pendidikan Cakrawala NTT. Jiwa-jiwa muda nan enegik punyanya NTT yang selalu resah. Mereka akhirnya memutuskan untuk setia di lorong sepi ini. Mereka (tim formator Cakrawala) siap “meng-opname” hasil tulisan para guru dan meniupkan roh dan wajah baru di dalamnya. Dalam hal ini fungsi tim Cakrawala sebagai formator telah mendapat penyempurnaannya dalam media publikasi yang dimilki yakni majalah pendidikan Cakrawala NTT dan Jurnal Pendidikan Cakrawala NTT. Jalan sepi literasi ini harus menjadi pilihan para guru dan generasi muda NTT. Artinya, cakrawala berpikir guru dan anak-anak NTT dibuka dan diarahkan dalam cara yang tepat. Tim Formator Cakrawala NTT telah menajalankan fungsi itu. Terima kasih.

Salam Cakrawala, salam Literasi …
comments

No comments:

Post a Comment