Latest News

Tuesday, 28 May 2019

HASIL UN RENDAH, KITA SEHARUSNYA RESAH


Di berapa bulan terakhir, kita dicengangkan sekaligus dikenyangkan dengan beragam narasi dan sepak terjang seorang Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur Nusa Tenggara Timur. Bagai rajawali, Ia (Viktor) bersama wakilnya Josef Nae Soi, mencoba menanamkan sebuah gaya kerja maraton. Segala lini harus bergerak dan tergreak untuk maju. Diskusi tanpa aksi adalah sandiwara yang harus segera hilang sebelum kata “namkak”, bodoh dan beberapa kosa kata ‘tidak enak” bakal didapat. NTT adalah tanah kita, provinsi di garis pinggir timur Indonesia yang memang harus banyak berbenah.

“Ada yang bilang, di ini NTT banyak lahan tidur. Tidak. Yang tidur itu, bukan tanahnya tetapi manusianya. Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat NTT banyak yang “tidur” bahkan sudah lama mati. Saya dan Pak Josef, datang ke NTT dan tinggalkan zona nyaman di Jakarta. Kami hadir untuk kita semua harus segera bangkit dari tidur panjang kita. Malu pada generasi yang akan datang. Apa kata mereka, saat melihat kubur kita. Mereka pasti malu memiliki generasi terdalu yang telah membuat mereka bodoh dan miskin hingga tak punya harga diri. NTT harus sejahtera. Oleh Karena itu, benahi SDM-nya. Perhatikan mutu pendidikan kita. Saya mau di tahun 2020, prestasi kita berada di urutan ke-12 tingkat nasional. Jangan selalu berada di garis buntut”, tegas Viktor saat merayakan hari pendidikan di Mengruda-Bajawa.

Langkah pertama dimulai. Jabatan kepala sekolah SMA/SMK dilelang secara terbuka. Artinya, hanya calon kepala sekolah yang cerdas, kreatif dan inovatif yang bakal diakomodir. Kepala sekolah adalah seorang manager yang kinerjanya dinilai. Jika tidak membawa peruabahan di sekolah dalam masa kepemimpinannya maka segera mengundurkan diri sebelum diganti dengan cara yang sedikit tidak hormat. Mental kepala sekolah harus dirubah, dari mental standar “gosok tangan” menuju mental kerja cerdas dan tuntas. Bicara tentang SDM dan karakter sebenarnya bicara tentang bagaimana pikiran dan hati bekerja sama dan sama-sama bekerja. 

……………………………………………

Halaman kantor dinas pendididikan Provinsi NTT, tampak sunyi di hari Senin, 27 Mei 2019. Bukan karena karena hari ini libur atau semacam ada perayaan “nyepi”. Tidak. Hari ini adalah hari produktif dan lebih “ramai” dari biasanya. Para kepala dinas pendidikan dari 22 kabupaten/kota di NTT hadir. Hari ini adalah harinya NTT menerima kabar tentang hasil UN tingkat MTs, SMP, SMPTK dan SMP Terbuka. Di beberapa tahun terakhir suasananya selalu begini. Setia kali menerima kabar hasil UN pada setiap jenjang, kantor ini selalu sunyi. Ada aroma kesedihan dan ratapan yang tidak langsung terlihat. Bahasa tubuh adalah saksi dari semuanya itu. Tarikan nafas panjang yang belum berakhir. Rasa psimis yang belum tuntas dan niat untuk maju yang berjalan di tempat. Ada apa dengan NTT kita. Ada apa?

Benyamin Lola, M.Pd, selaku kepala dinas pendidikan Provinsi NTT menyapa para kepala dinas yang jauh-jauh datang dari daerah dengan nada datar, biasa dan hampir tidak bergairah. Ada waktu 130 menit terlewati. Mereka (para Kadis) dibiarkan menunggu. Ada urusan yang harus diselesaikan dan jauh “lebih penting” dari acara penerima hasil UN ini. Bahasa tubuhnya tampak “lelah”. Beberapa bulan terpilih menjadi Kadis pendidikan provinsi, akhirnya harus menanggung “dosa” entah kapan dan siapa penyebabnya sehingga mutu pendidikan NTT tetap begini. Begitulah seorang Benyamin Lola. Ia tidak akan langsung bernada tinggi, marah, resah dan gelisah. Tidak juga seperti Pilatus yang langsung “mencuci tangan” dan segera melempar tanggungjawab dengan mencari “kambing hitam”. Slide powerpoint, data hasil UN sudah terlihat dan menyala. Menampilkan angka yang memang meresahkan. Tidak ada angka A atau B. Semunya angka D, dan hanya satu yang tertulis C.

“Bapa/Ibu Kadis yang saya hormati. Inilah hasil UN kita tahun ini. Hampir tidak berbeda dari tahun lalu. Nilai Bahasa Inggris, Matamatika dan IPA semuanya D. Kita dihibur dengan nilai C dari mata pelaran Bahasa Indoensia. Secara nasional, kita di urutan ke-34. Beginilah hasil perjuangan kita dan kita harus akui itu. Tugas kita, adalah mencari akar penyebab semuanya ini. Apakah hasil ini kristalisasi dari mental kerja kita, metode salah yang guru-guru kita selalu gunakan saat mengajar, ataukah SDM dari bapa/ibu guru yang masih rendah atau memang kita cenderung bekerja sendiri dan tidak membangun sinergistas serta kolaborasi dengan seluruh stakeholders pendidikan. Apakah sarana dan prasarana kita yang masih terbatas turut memperngaruhi kinerja kita atau sebenarnya ada apa dengan kita. Pertanyaan ini, bukan untuk mencari tahu siapa yang salah. Ini pertanya refleksitif untuk kita segera move on (bergerak) bersama”, ujar mantan plt. Bupati Alor ini.

Tidak ada suara. Yang terdengar adalah bunyi blis kamera. Memotret angka-angka yang resah. Ada tanggisan dalam hati. Memandang jauh ke depan. Ke mana generasi ini harus dibawa. Tiga orang anak memiliki nilai seratus tidak cukup membuat rasa resah itu hilang. Semuanya memang resah dan seharusnya resah. Ada cerita tentang pemerintah pusat yang mengalokasikan tiga puluh kursi untuk anak-anak NTT boleh kuliah ikatan dinas. Dibiayai pemerintah dan nantinya langsung mendapatkan Nomor Induk Pengawai (NIP). Gubernur NTT, putra Semau itu “merengek”, tolong dong beri kami jatah lebih. Puji Tuhan dikabulkan. NTT mendapat jatah kursi 60 orang. Namun keresahan dan kekecewaan datang menghampiri. Dari hasil ujia terbuka, anak-anak NTT hanya lolos sepuluh orang. Artinya, 50 kursi lainnya yang harus menjadi jatah NTT, harus hilang menebus kata “bodoh”. 

Entah mengapa, saat menulis kisah ini air mataku jatuh. Ada apa dengan NTT kita. Benar bahwa nilai tidak menajdi ukuran kesuksesan seseorang tetapi beri kami rasa optimis, beri kami rasa percaya akan cerahnya masa depan NTT. Mengapa yang lain bisa. Mengapa Provinsi Papua nilainya lebih baik dari kita. Mengapa, mengapa. Apa yang salah. Katakam saja. Jika ada kepala sekolah yang tidak mampu mungkin sebaiknya katakan dengan hormat untuk mundur. Kalau ada guru yang tidak profesional, katakan siap untuk mencari pekerjaan lain. Kalau ada anak yang “lemah” beri mereka teladan, beri mereka petunjuk, beri mereka kata-kata motivasi untuk maju. Tolong, jangan politisasikan pendidikan kita. Perhatikan upah guru, perhatikan sarana dan prasarana kita. Jangan lagi bekerja sendiri. Bangun komunikasi lintas sektor. Generasi NTT butuh kita. Mereka rindu sebuah pelita bernyala untuk mereka tetap optimis.

…………………………………………

Hari hampir siang. Di gedung DPRD anggota komisi V menunggu. Semua kepala sekolah SMA se-kota Kupang duduk berkumpul dan berpikir terkait Penerimaaan Peserta Dididk Baru (PPDB). Kadis Benyamin Lola belum beranjak sebelum ia tuntas berbicara. Ada beberapa hal yang menjadi catatan sekaligus pesan untuk bangkit dan “berubah”. Ada hal yang perlu disyukuri. Jumlah sekolah peserta UNBK terus meningkat. Untuk tingkat SMA/SMK, Gubernur telah menginstruksikan agar di tahun 2020, semua sekolah harus melakukan ujian berbasis komputer. Harapan ini diyakini bisa tetapi mungkin belum untuk tingkat SMP sederajat. Semua mengeluh tentang jaringan listrik, sinyal, sarana komputer, server dan beberapa hal teknis lainnya.

Lebih dari itu, ada satu hal mengganjal. Urutan hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) terlihat banyak yang rendah tetapi hasil Ujian Nasional Kerta Pensil (UNKP), angkanya terlihat besar. Tidak ada yang memperoleh angka 6. Semuanya lebih dari itu. Bahkan banyak yang mempunyai nilai 9. Tidak bermaksud meragukan apalagi merendahkan tetapi mungkin baik seperti Rasul Thomas harus ragu. Jika angka-angka ini benar, sesuai fakta anak NTT hebat, lalu kenapa nilai UNBK rendah? Kenapa jarak nilai UNBK dan UNKP sangat besar?

“Jika diketahui atau disadari saja, nilai UNKP tinggi karena “dibantu” pihak lain atau “didongkrak” mungkin sebaiknya jangan berbuat dosa baru lagi. Kita mungkin lemah dari satu sisi misalnya daya serap siswa yang lemah, metode mengajar guru yang monoton atau yang lainnya tetapi tolong jangan buat dosa baru lagi yang akan membuat karakter buruk. Tidak perlu malu dengan kemapuan anak-anak kita. Akui saja sambil terus berbenah, berkerasi, bersinergi untuk tampil lebih baik”, tandas Benyamin Lola.

Aula rapat, dinas pendidkna Probvinsi NTT terasa panas dalam kondisi Ac yang masih hidup. Bukan seorang Benyamin Lola jika tidak mampu “mendingikan” suasana. Para kepala dinas diberi kesempatan berbicara. Menawarkan ide atau strategi jitu agar lebih baik. Hanya empat orang berbicara. Yang lain memilih diam. Kadis pendidikan Kota Kupang, Filmon J. Lulupoy, misalnya berbicara tentang pentingya sinegsitas. Saatnya sekolah harus membuka diri untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja dengan seluruh stakeholders pendidikan lainnya. Jangan lagi merasa hebat sendiri. Gong Belajar harus didengungkan lagi. Para guru harus “diprofesionalkan” dalam banyak bentuk kegiatan peningkatan kapasitas. Point-nya semua pada sepakat dan siap menerima banyak terobosan baru yang datang dari pemerintah provinsi sambil membangun koordinasi dengan pemerintah daerah.

Dari narasi yang diucapkan Benyamin Lola, Pemerintah Provinsi NTT  kelihatannya “tidak main-main” lagi untuk mendongkrak mutu pendidikan di daerah ini. Beberapa langkah strategis dibuat. Pertama, perlu dan mendesak untuk semua merasa memiliki dan siap membangun pendidikan NTT. Hal ini ditunjukan dengan tanda tangan kinerja. Semua diberi tanggungjawab untuk bekerja melampaui yang biasa. Kreatifitas, inovasi dan sinegerisitas harus berbuah pada perubahan yang nyata.  Jika saat evaluasi tiba, katakan “mundur” jika memang tidak mampu. Kedua, Musyarwarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) mutlak dan harus dilaksanakan. Para guru mata pelajaran harus banyak berdiskusi tentang ragam strategi dan metede pembelajaran yang baik. Bila perlu datangkan ahlinya dan belajar bersama. Ketiga, bakal dikeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang pentingnya sebuah sikap untuk mendongkrakkan mutu semisal anak-anak yang tidak mampu, harus tahan kelas. Regulasi yang “mewajibkan” lulus telah memanjakan generasi menjadi pribadi bermental instan dan kehilangan daya juang untuk bersaing. Keempat, bakal bangun sekolah “model” atau apalah istilahnya dari berbagai jejang di setiap kabupaten di mana delapan standar pendidkan dijalankan dengan baik sehingga dapat dijadikan rujukan. Tempat sekolah lainnya belajar dan menimba inspirasi.

Di hari senin ini, berharap  ada komitmen baru tercipta. NTT harus bangkit dan sejahtera. Syaratnya satu, benahi SDM dengan baik. Tidak ada istilah lahan tidur. NTT ini memilih Sumber daya Alam (SDA) yang sangat banyak. Bangunkan manusia NTT yang sudah lama tertidur pulas. Bangunkan daya imajinasi dan kreatifitasnya. Generasinya harus dibina dan dibentuk menajdi generasi “karang” yang berakat pada budaya namun tetap terbuka pada kemajuan zaman. Mari tingkatkan mutu pendidikan NTT untuk maju bersama hebat semua.

Gusty Rikarno, S.Fil – Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT


comments

No comments:

Post a Comment