Latest News

Monday, 18 July 2016

MONOLOG

Kartini yang Menyerah pada Ringgit




Panggung pementasan tampak remang. Di atas sebuah meja di tengah panggung, tampak beberapa alat kosmetik. Di sampingnya ada sebuah kursi. Suasana tampak lengang. Kemudian, terdengar nyanyian Hymne Guru, “Terpujilah wahai engkau ibu bapa guru, namamu akan selalu hidup dalam sanubariku…..”. Seorang wanita dengan seragam KORPRI mengenakan kacamata masuk sambil terus melantunkan Hymne Guru. Bunyi HP wanita tersebut menghentikan lantunan Hymne Gurunya. Setelah itu, tampak sang wanita yang adalah seorang guru honorer sibuk berbicara dengan seorang di seberang, mencoba meyakinkan lawan bicara bahwa dia lebih layak memberikan pidato pada sebuah acara di sekolahnya karena, menurutnya, pidato sang kepala sekolah tak lebih sebuah bentuk pemujaan terhadap keberhasilannya membangun sekolah secara fisik.

Adegan itu membuka monolog Pidato Tujuh Menit yang dibawakan oleh April Artison di taman Dedari, Sikumana, Kupang, Sabtu (16/7) malam. Pidato Tujuh Menit merupakan monolog yang mengambil tema Kartini dan pendidikan. Pidato Tujuh Menit mencoba mengangkat realitas seorang guru honorer yang mengeluh pada kenyataan hidup sebagai seorang guru honorer yang dibayar seadaya. Dalam adegan tersebut, meski awalnya sempat bernada optimis dengan mengajak penonton menyadari realitas pendidikan yang kadang timpang, namun, ketika sang guru honorer mendapat telepon langsung dari sang kepala sekolah, nada dan kata-katanya menunujukan ketakberdayaannya menghadapi sang kepala sekolah. Kepasrahaan itu, mencapai klimaksnya ketika sang guru honorer mendapat tawaran mengajar dari negeri tetangga Malaysia dengan bayaran 5000 ringgit per minggu. Daya tahan dan nasionalisme sang guru akhirnya rubuh ketika sang penawar, seorang kenalannya, menaikan tawaran dari 1000 ringgit ke 2000, 3000, 4000, dan akhirnya 5000 ringgit.

Bagi sebagian besar kita, ending Pidato Tujuh menit mungkin di luar harapan. Bahwa sang guru yang sebelumnya begitu ngotot menunjukan sikap nasionalismenya kemudian harus menyerah pada tawaran yang begitu menggiurkan dari negeri tetangga. Namun, itulah gambaran kenyataan yang sering terjadi di sekitar kita. Monolog yang dibawakan dengan cukup baik ini mencoba memberikan gambaran kehidupan apa adanya, dan membiarkan penonton menemukan sendiri dirinya, bila berhadapan dengan kenyataan yang demikian. Apakah menyerah atau tetap berpegang teguh pada pengabdian dan pengorbanan untuk tanah air.
Pidato Tujuh Menit kemudian diikuti oleh Teater Du’a Buhu Gelo (Perempuan kentut kemiri) yang dibawakan oleh komunitas sastra Kahe Maumere. Sebelumnya, ada monolog Perempuan Rembulan yang dibawakan oleh Linda Tagie.
Secara keseluruhan, menurut, Marsel Robot, dosen Sastra Universitas Nusa Cendana, Kupang, Panggung Perempuan Biasa merupakan gugatan perempuan terhadap perempuan dan perempuan terhadap laki-laki. Dalam teater Du’a Buhu Gelo, perempuan harus menerima kenyataan bahwa mereka adalah kaum yang berada di bawah laki-laki, termasuk keputusan untuk mengorbankan seorang perempuan untuk menyelamatkan desa dari serbuan kera di akhir kisah  tersebut.

Sementara itu, menurut Abdi Keraf, salah satu pelaku seni panggung, akhir kisah sebuah pementasan harus bisa memberikan pesan kepada penonton. Secara spesifik ia mengatakan, akhir kisah Pidato Tujuh Menit sungguh di luar dugaannya bahwa sang guru honorer harus menyerah pada tawaran ringgit dari negeri Sabah Malaysia. Namun, ada juga pemerhati dan penikmat seni yang mengatakan bahwa sebagai sebuah kisah satiris atau ironi, kisah monolog Pidato Tujuh Menit memberikan kepada penonton kebebasan untuk menarik sendiri sikapnya berhadapan dengan potret kehidupan yang diangkat tersebut.

Pementasan Monolog Perempuan Biasa menghadirkan sesuatu yang positif bagi keberlangsungan karya-karya kreatif anak-anak muda NTT. Karena itu, Abdi Keraf mengharapkan agar kegiatan-kegiatan seperti ini harus dibuat sesering mungkin dalam sebuah siklus yang teratur sehingga bakat-bakat seni anak-anak NTT bisa terus diasah dan dikembangkan dengan lebih baik. (ENS)



comments

No comments:

Post a Comment