![]() |
| Dokumentasi kegiatan. |
Manggarai Barat, CAKRAWALANTT.COM - Di tengah proses pemulihan pascagempa, Sekolah
Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, menggelar
kegiatan penguatan literasi berbasis asesmen minat dan bakat bagi guru dan
murid. Kegiatan yang diikuti oleh lima puluh murid dan seluruh guru ini
berlangsung selama tiga hari, yakni Senin-Rabu (7-9/9/2026). Kegiatan ini
didukung oleh kolaborasi antara Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT dan pihak
sekolah.
Kepala SMA Negeri 1 Pacar, Yufentus Panok, S.Pd., Gr.,
menuturkan, kegiatan literasi telah menjadi bagian penting dalam membangun
budaya belajar di lingkungan sekolah. Kegiatan ini, sambungnya, menjadi ruang
pengembangan cara berpikir dan kreativitas serta persiapan diri menghadapi
tantangan masa depan.
“Literasi bukan sekadar membaca dan menulis. Literasi
adalah bagaimana setiap murid mampu berpikir memahami persoalan, menyampaikan
gagasan, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan,” ujar Yufentus.
Menurutnya, kegiatan berbasis asesmen minat dan bakat
tersebut memberikan kesempatan bagi murid untuk belajar dan mengembangkan diri
berdasarkan apa yang diminati atau disukai. Dengan pendekatan ini, ungkapnya,
literasi tidak menjadi kegiatan yang membosankan, tetapi menjadi pengalaman belajar
yang menyenangkan dan bermakna.
Jangan Sampai Ada Reruntuhan Pikiran
Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, Gusty
Rikarno, S.Fil., M.I.Kom., mengingatkan bahwa bencana tidak boleh menghentikan
gerakan pendidikan dan budaya literasi.
“Di tengah proses pemulihan pascagempa ini, jangan
sampai ada reruntuhan pikiran. Maka dari itu, kita harus tetap berusaha
membangun pikiran lewat literasi,” ungkap Gusty.
Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT sebagai mitra
pembangunan pendidikan turut ikut dalam menggerakkan budaya literasi. Namun,
gerakan ini, sambung Gusty, tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melalui
kolaborasi. Di sini, guru juga berperan penting dalam menjaga dan menggerakkan
proses berpikir, terutama di kalangan murid.
Untuk itu, Gusty menegaskan bahwa literasi tidak boleh
berhenti pada kemampuan memahami teks, tetapi harus mampu menghubungkan
pengetahuan dengan kehidupan nyata.
“Literasi adalah jembatan antara teks dan konteks,
teori dan praktik,” tegasnya.
Peran Guru dalam Penguatan Literasi
Di sisi senada, Kepala Balai Guru dan Tenaga
Kependidikan (BGTK) Provinsi NTT, Dr. Teguh Rahayu Slamet, M.Si., memberikan
apresiasi kepada semua pihak yang terus membangun budaya literasi di NTT,
termasuk di tengah situasi pascagempa. Menurut Teguh, literasi sangat penting
dewasa ini, apalagi di tengah kemajuan zaman dan teknologi yang semakin
kompleks.
Di tengah kemajuan tersebut, guru dituntut untuk terus
belajar dan bergerak lebih maju dalam mendampingi para murid, khususnya penguatan
literasi di lingkungan sekolah.
“Guru juga menjadi fasilitator pembelajaran dan
pendamping dalam proses pendidikan. Anak-anak sudah senantiasa meng-update berbagai pengetahuan di dunia
digital. Sebagai guru, kita perlu melangkah lebih maju. Terutama, guru berperan
penting dalam penguatan literasi,” tegas Teguh.
Teguh juga menekankan pentingnya peningkatan
kompetensi, penguatan budaya literasi, kreativitas dan inovasi, serta evaluasi
dan refleksi dalam proses pembelajaran. Guru juga perlu memahami karakteristik
setiap murid agar pendampingan yang diberikan bisa sesuai dengan kebutuhan.
“Dalam konteks literasi, guru perlu melakukan
kolaborasi dan menjadi teladan bagi para murid,” tambahnya.
Untuk diketahui, kegiatan literasi di SMA Negeri 1
Pacar ini menjadi salah satu langkah dalam menyiapkan para murid menghadapi
masa depan. Di tengah pemulihan pascagempa, sekolah tetap berupaya agar proses
pendidikan dan semangat belajar terus berjalan. (Frein Raden/MDj/red)








0 Comments