Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

SMA Negeri 1 Pacar Gelar Workshop Literasi bagi Guru dan Murid, Kepala BGTK NTT Tekankan Peran Guru dalam Penguatan Literasi

Dokumentasi kegiatan.


Manggarai Barat, CAKRAWALANTT.COM - Di tengah proses pemulihan pascagempa, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, menggelar kegiatan penguatan literasi berbasis asesmen minat dan bakat bagi guru dan murid. Kegiatan yang diikuti oleh lima puluh murid dan seluruh guru ini berlangsung selama tiga hari, yakni Senin-Rabu (7-9/9/2026). Kegiatan ini didukung oleh kolaborasi antara Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT dan pihak sekolah.

 

Kepala SMA Negeri 1 Pacar, Yufentus Panok, S.Pd., Gr., menuturkan, kegiatan literasi telah menjadi bagian penting dalam membangun budaya belajar di lingkungan sekolah. Kegiatan ini, sambungnya, menjadi ruang pengembangan cara berpikir dan kreativitas serta persiapan diri menghadapi tantangan masa depan.

 

“Literasi bukan sekadar membaca dan menulis. Literasi adalah bagaimana setiap murid mampu berpikir memahami persoalan, menyampaikan gagasan, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan,” ujar Yufentus.

 

Menurutnya, kegiatan berbasis asesmen minat dan bakat tersebut memberikan kesempatan bagi murid untuk belajar dan mengembangkan diri berdasarkan apa yang diminati atau disukai. Dengan pendekatan ini, ungkapnya, literasi tidak menjadi kegiatan yang membosankan, tetapi menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna.



Jangan Sampai Ada Reruntuhan Pikiran

 

Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom., mengingatkan bahwa bencana tidak boleh menghentikan gerakan pendidikan dan budaya literasi.

 

“Di tengah proses pemulihan pascagempa ini, jangan sampai ada reruntuhan pikiran. Maka dari itu, kita harus tetap berusaha membangun pikiran lewat literasi,” ungkap Gusty.

 

Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT sebagai mitra pembangunan pendidikan turut ikut dalam menggerakkan budaya literasi. Namun, gerakan ini, sambung Gusty, tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melalui kolaborasi. Di sini, guru juga berperan penting dalam menjaga dan menggerakkan proses berpikir, terutama di kalangan murid.



Untuk itu, Gusty menegaskan bahwa literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan memahami teks, tetapi harus mampu menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

 

“Literasi adalah jembatan antara teks dan konteks, teori dan praktik,” tegasnya.



Peran Guru dalam Penguatan Literasi

 

Di sisi senada, Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi NTT, Dr. Teguh Rahayu Slamet, M.Si., memberikan apresiasi kepada semua pihak yang terus membangun budaya literasi di NTT, termasuk di tengah situasi pascagempa. Menurut Teguh, literasi sangat penting dewasa ini, apalagi di tengah kemajuan zaman dan teknologi yang semakin kompleks.

 

Di tengah kemajuan tersebut, guru dituntut untuk terus belajar dan bergerak lebih maju dalam mendampingi para murid, khususnya penguatan literasi di lingkungan sekolah.

 

“Guru juga menjadi fasilitator pembelajaran dan pendamping dalam proses pendidikan. Anak-anak sudah senantiasa meng-update berbagai pengetahuan di dunia digital. Sebagai guru, kita perlu melangkah lebih maju. Terutama, guru berperan penting dalam penguatan literasi,” tegas Teguh.



Teguh juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi, penguatan budaya literasi, kreativitas dan inovasi, serta evaluasi dan refleksi dalam proses pembelajaran. Guru juga perlu memahami karakteristik setiap murid agar pendampingan yang diberikan bisa sesuai dengan kebutuhan.

 

“Dalam konteks literasi, guru perlu melakukan kolaborasi dan menjadi teladan bagi para murid,” tambahnya.

 

Untuk diketahui, kegiatan literasi di SMA Negeri 1 Pacar ini menjadi salah satu langkah dalam menyiapkan para murid menghadapi masa depan. Di tengah pemulihan pascagempa, sekolah tetap berupaya agar proses pendidikan dan semangat belajar terus berjalan. (Frein Raden/MDj/red)

     

 


Post a Comment

0 Comments