![]() |
| Dokumentasi kegiatan. |
Manggarai, CAKRAWALANTT.COM - Sekolah Menengah Kejuruan Swasta (SMKS) Swakarsa
Ruteng, Kabupaten Manggarai, menggelar kegiatan workshop literasi bagi guru dan
murid selama tiga hari, yakni Senin-Rabu (3-5/7/2026). Kegiatan yang didukung
oleh Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT ini menjadi wadah pengembangan budaya
literasi berbasis karya melalui kebiasaan menulis berdasarkan minat dan bakat.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan
Provinsi NTT, Ambrosius Kodo.
Dalam arahan awalnya, Ambrosius menegaskan bahwa
proses pendidikan sejatinya menghasilkan individu yang tidak hanya berprestasi
secara akademik, tetapi juga berkarakter. Selain itu, sambungnya, dalam proses
pendidikan, setiap murid harus belajar mengembangkan potensi diri, mengasah
daya pikir kritis dan kreativitas, serta menciptakan peluang melalui
kewirausahaan. Semua ini, ungkap Ambrosius, bisa tercapai melalui, salah
satunya, penguatan kecakapan literasi.
“Literasi adalah fondasi untuk membentuk individu yang
berkarakter, kritis, kreatif, dan memiliki jiwa kewirausahaan,” ujarnya saat
membuka kegiatan melalui sambungan daring, Senin (3/8/2026).
Guna menguatkan gaung literasi, Ambrosius mendorong
SMKS Swakarsa Ruteng untuk menjadikan literasi sebagai budaya sekaligus gerakan
bersama. Hal ini, menurutnya, bisa membuat guru, tenaga kependidikan, dan murid
saling bekerja sama dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.
“Sekolah harus mampu menciptakan ekosistem literasi
yang mampu menghasilkan generasi yang berdaya saing, berintegritas, dan
berwawasan global,” tegas Ambrosius.
Kegiatan workshop literasi ini diawali dengan asesmen
dan pre-test awal. Asesmen yang
dilakukan oleh tim narasumber dari Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT
bertujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan minat dan bakat peserta, baik
guru maupun murid, di bidang menulis. Hal ini sesuai dengan konsep penguatan
literasi berbasis karya yang memungkinkan peserta berkreasi dan menghasilkan
karya tulis berdasarkan minat dan bakat.
Salah satu narasumber, Dr. Yustina Ndung, mengatakan
bahwa asesmen minat dan bakat merupakan langkah krusial sebelum masuk ke tahap
pendampingan penulisan intensif. Menurutnya, setiap peserta memiliki gaya
belajar dan karakter penulisan yang unik. Dengan asesmen, para peserta dapat
dipetakan sesuai potensi minat dan bakat masing-masing.
“Dengan adanya pemetaan awal ini, proses pembimbingan
dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta minat setiap peserta. Misalnya, ada yang
tertarik dalam bidang sastra, penulisan ilmiah, dan lain-lain,” tambah Yustina.
Bersama narasumber lainnya, Yustina mengajak guru dan
murid untuk menjadikan pengalaman sehari-hari sebagai sumber inspirasi dalam
menulis sehingga karya yang dihasilkan memiliki makna, relevansi, dan dampak
bagi pembaca.
Literasi sebagai Budaya Sekolah
Sementara itu, Kepala SMKS Swakarsa Ruteng, Isidorus
Son, mengapresiasi terobosan yang dilakukan oleh Yayasan Rumah Literasi
Cakrawala NTT. Menurutnya, penguatan literasi berbasis asesmen minat dan bakat
tersebut bisa merangsang ketertarikan guru dan murid dalam menulis. Dengan
menghasilkan karya tulis, sambung Isidorus, guru dan murid dapat meningkatkan
daya kritis dan kreativitas yang turut berpengaruh dalam kemajuan pembelajaran.
Untuk itu, Isidorus menegaskan bahwa literasi berbasis
karya akan menjadi budaya sekolah yang wajib dihidupkan oleh guru, tenaga kependidikan,
dan murid. Hal ini, ungkapnya, dapat mendukung upaya peningkatan kualitas
pembelajaran.
“Kita akan menghidupkan literasi sebagai budaya
sekolah agar berdampak langsung terhadap kualitas pembelajaran,” ungkap
Isidorus.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat
kecakapan literasi guru dan murid sekaligus membangun budaya belajar yang
reflektif, kreatif, dan inovatif. Dengan begitu, SMKS Swakarsa Ruteng bisa
melahirkan generasi NTT yang unggul dan literat serta siap membangun peradaban.
(Frein Raden/MDj/red)









0 Comments