![]() |
| Suasana pendampingan literasi yang dikuti oleh para guru dan murid dari SMK Gonzaga Mbay dan SMAS St. Teresia Danga. |
Nagekeo, CAKRAWALANTT.COM - Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT terus menunjukkan
konsistensinya dalam mengakarkan budaya literasi di NTT. Melalui penerbitan
majalah pendidikan, Program “Sekolah Menulis”, layanan penerbitan dan
percetakan buku, serta pemanfaatan taman bacaan masyarakat (TBM) plus, lembaga
ini aktif membangun fondasi literasi dari lingkup sekolah hingga masyarakat
luas. Salah satu inovasi unggulannya adalah menguatkan literasi berbasis
asesmen minat dan bakat di bidang menulis.
Hal tersebut menarik perhatian luas dan meraih
apresiasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen)
melalui Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi NTT. Di sela-sela
kegiatan literasi yang digelar oleh SMK Gonzaga Mbay dan SMAS St. Teresia Danga
bersama Yayasan Rumah Literasi Cakrawal NTT, Kepala BGTK Provinsi NTT, Dr.
Teguh Rahayu Slamet, M.Si., memberikan dorongan moral dan apresiasi langsung
terhadap inisiatif tersebut.
Menurut Teguh, pendekatan yang dilakukan oleh Yayasan
Rumah Literasi Cakrawala NTT ini merupakan bentuk nyata dari upaya pembentukan
karakter melalui kegiatan literasi (menulis). Misalnya, ketika guru atau murid
diberikan kesempatan untuk menulis kisah-kisah inspiratif, ia bisa menemukan
pesan-pesan moril yang menjadi bahan pembelajaran. Apalagi, sambungnya,
Kemendikdasmen tengah berfokus pada penguatan pendidikan karakter sejak usia
dini.
“Murid bisa belajar banyak dari kisah hidup
orang-orang terdekat di sekitarnya. Di sisi lain, menulis menjadi bentuk
penegasan komitmen bagi guru untuk menguatkan kembali langkahnya sebagai
seorang pendidik. Melalui penulisan narasi inspiratif, ruang refleksi terbuka
lebar bagi guru dalam mengurai dinamika pengabdian mereka, sekaligus
menyediakan bahan bacaan bernilai moral tinggi yang relevan bagi para murid di
sekolah,” jelas Teguh.
![]() |
| Kepala BGTK Provinsi NTT. |
Sementara itu, Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala
NTT, Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom., menegaskan bahwa efektivitas
program-program literasi yang dijalankan selama ini tidak terlepas dari
pendekatan analitis. Setiap kegiatan yang digelar, sambung Gusty, selalu
diawali dengan asesmen minat dan bakat serta pemetaan potensi di kalangan guru
dan murid.
Gusty menekankan pentingnya akurasi dalam pengembangan
minat, bakat, dan potensi literasi. Melalui rangkaian proses asesmen yang
mendalam, ungkapnya, setiap orang dapat memulai dari apa yang diminati atau
disukai hingga berujung pada karya yang berkualitas. Langkah ini, menurutnya,
merupakan investasi jangka panjang dalam membangun ekosistem pendidikan yang
lebih reflektif, berkarakter, dan berkarya secara mandiri.
“Jangan sampai materi atau pendampingan diberikan
tidak senada dengan minat dan bakat peserta. Menulis dapat dimulai dari diri
sendiri, sesuatu yang mudah, dan harus sekarang. Dengan begitu, kegiatan
menulis menjadi sebuah kegiatan kreatif yang menyenangkan, berkelanjutan, dan
produktif,” tegasnya.
![]() |
| Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT. |
Metode peningkatan literasi berbasis asesmen ini
menjadi fondasi utama pelaksanaan workshop literasi bagi guru dan murid di SMK
Gonzaga Mbay dan SMAS St. Teresia Danga, Kabupaten Nagekeo. Hasil asesmen
menujukkan, para guru lebih tertarik menulis kisah inspiratif dan perjalanan hidup
(autobiografi), sedangkan murid tertarik menulis fiksi mini (flash fiction).
Melalui hasil tersebut, Yayasan Rumah Literasi
Cakrawala NTT menyiapkan alur pendampingan, mulai dari sesi tatap muka,
pendampingan kelas daring (online
mentoring), kurasi dan revisi karya bersama narasumber/tutor, proses
penyuntingan (penyelarasan bahasa, tata telak, dan substansi naskah yang sesuai
standar kelayakan), hingga penerbitan buku ber-ISBN. (MDj/red)







0 Comments