Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

BGTK NTT Apresiasi Langkah Nyata Cakrawala NTT, Dukung Penguatan Literasi Berbasis Asesmen Minat dan Bakat

Suasana pendampingan literasi yang dikuti oleh para guru dan murid dari SMK Gonzaga Mbay dan SMAS St. Teresia Danga.


Nagekeo, CAKRAWALANTT.COM - Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT terus menunjukkan konsistensinya dalam mengakarkan budaya literasi di NTT. Melalui penerbitan majalah pendidikan, Program “Sekolah Menulis”, layanan penerbitan dan percetakan buku, serta pemanfaatan taman bacaan masyarakat (TBM) plus, lembaga ini aktif membangun fondasi literasi dari lingkup sekolah hingga masyarakat luas. Salah satu inovasi unggulannya adalah menguatkan literasi berbasis asesmen minat dan bakat di bidang menulis.

 

Hal tersebut menarik perhatian luas dan meraih apresiasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi NTT. Di sela-sela kegiatan literasi yang digelar oleh SMK Gonzaga Mbay dan SMAS St. Teresia Danga bersama Yayasan Rumah Literasi Cakrawal NTT, Kepala BGTK Provinsi NTT, Dr. Teguh Rahayu Slamet, M.Si., memberikan dorongan moral dan apresiasi langsung terhadap inisiatif tersebut.

 

Menurut Teguh, pendekatan yang dilakukan oleh Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT ini merupakan bentuk nyata dari upaya pembentukan karakter melalui kegiatan literasi (menulis). Misalnya, ketika guru atau murid diberikan kesempatan untuk menulis kisah-kisah inspiratif, ia bisa menemukan pesan-pesan moril yang menjadi bahan pembelajaran. Apalagi, sambungnya, Kemendikdasmen tengah berfokus pada penguatan pendidikan karakter sejak usia dini.

 

“Murid bisa belajar banyak dari kisah hidup orang-orang terdekat di sekitarnya. Di sisi lain, menulis menjadi bentuk penegasan komitmen bagi guru untuk menguatkan kembali langkahnya sebagai seorang pendidik. Melalui penulisan narasi inspiratif, ruang refleksi terbuka lebar bagi guru dalam mengurai dinamika pengabdian mereka, sekaligus menyediakan bahan bacaan bernilai moral tinggi yang relevan bagi para murid di sekolah,” jelas Teguh.


Kepala BGTK Provinsi NTT.

Sementara itu, Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom., menegaskan bahwa efektivitas program-program literasi yang dijalankan selama ini tidak terlepas dari pendekatan analitis. Setiap kegiatan yang digelar, sambung Gusty, selalu diawali dengan asesmen minat dan bakat serta pemetaan potensi di kalangan guru dan murid.

 

Gusty menekankan pentingnya akurasi dalam pengembangan minat, bakat, dan potensi literasi. Melalui rangkaian proses asesmen yang mendalam, ungkapnya, setiap orang dapat memulai dari apa yang diminati atau disukai hingga berujung pada karya yang berkualitas. Langkah ini, menurutnya, merupakan investasi jangka panjang dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih reflektif, berkarakter, dan berkarya secara mandiri.

 

“Jangan sampai materi atau pendampingan diberikan tidak senada dengan minat dan bakat peserta. Menulis dapat dimulai dari diri sendiri, sesuatu yang mudah, dan harus sekarang. Dengan begitu, kegiatan menulis menjadi sebuah kegiatan kreatif yang menyenangkan, berkelanjutan, dan produktif,” tegasnya.


Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT.

Metode peningkatan literasi berbasis asesmen ini menjadi fondasi utama pelaksanaan workshop literasi bagi guru dan murid di SMK Gonzaga Mbay dan SMAS St. Teresia Danga, Kabupaten Nagekeo. Hasil asesmen menujukkan, para guru lebih tertarik menulis kisah inspiratif dan perjalanan hidup (autobiografi), sedangkan murid tertarik menulis fiksi mini (flash fiction).  

 

Melalui hasil tersebut, Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT menyiapkan alur pendampingan, mulai dari sesi tatap muka, pendampingan kelas daring (online mentoring), kurasi dan revisi karya bersama narasumber/tutor, proses penyuntingan (penyelarasan bahasa, tata telak, dan substansi naskah yang sesuai standar kelayakan), hingga penerbitan buku ber-ISBN. (MDj/red)      


Post a Comment

0 Comments