![]() |
| Suasana pembekalan mahasiswa yang akan berpartisipasi dalam program penguatan literasi masyarakat di desa binaan. |
Kupang, CAKRAWALANTT.COM - Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang
terus mendorong pemberdayaan desa binaan sebagai salah satu implementasi
program kampus berdampak. Kali ini, Unwira melibatkan mahasiswa beserta mitra,
yakni Komunitas Buku bagi NTT dan Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, dalam
program penguatan literasi masyarakat melalui kuliah kerja nyata tematik
(KKNT). Hal ini diawali dengan sosialisasi dan pembekalan bagi mahasiswa di
Aula St. Paulus, Gedung Rektorat Kampus Penfui, Sabtu (20/6/2026).
Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat (LPPM), Beatrix Yunarti Manehat, SE., M.SA., menyampaikan apresiasi
bagi para mahasiswa yang akan berpartisipasi dalam program penguatan literasi
masyarakat di desa binaan. Literasi, ungkapnya, merupakan proyek unggulan
sehingga pihak Unwira akan mendorong pembukaan dan pemberdayaan rumah baca
serta peningkatan literasi membaca dan menulis bersama para mitra.
“Literasi merupakan proyek unggulan, sehingga kita
perlu melakukan pembekalan bersama mitra sebelum turun ke desa-desa binaan,”
terang Beatrix di hadapan puluhan mahasiswa.
Beatrix menambahkan, luaran dari program tersebut
adalah peluncuran rumah baca/taman bacaan masyarakat serta buku karya murid di
Desa Nekmese, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang.
Mendesain Rumah Baca yang Berkelanjutan
Pada pembekalan sesi pertama, Beny Okran Neonane,
S.Si., Gr. selaku perwakilan dari Komunitas Buku bagi NTT memberikan penjelasan
terkait pengelolaan rumah baca desa. Rumah baca, terangnya, merupakan sarana
belajar masyarakat yang menyediakan berbagai bahan bacaan dan kegiatan
literasi. Rumah baca, sambung Beny, berfungsi sebagai pusat informasi,
pendidikan, rekreasi, edukasi, pelestarian budaya lokal, dan pemberdayaan
masyarakat.
“Pengelolaan rumah baca yang baik akan membantu
meningkatkan minat baca masyarakat, mendukung pendidikan sepanjang hayat, serta
memperkuat kualitas sumber daya manusia di desa,” tambah Beny.
Beny mengatakan, kehadiran mahasiswa di desa bisa
mendorong lahirnya rumah baca sekaligus menjadi pengelola di dalamnya. Namun,
pendirian dan pengelolaan rumah baca, tegasnya, harus menerapkan beberapa
prinsip utama, yakni partisipatif, inklusif, berkelanjutan, akuntabel, serta
kreatif-inovatif.
Menurut Beny, indikator keberhasilannya adalah ketika
rumah baca yang didirikan selalu dirindukan oleh masyarakat serta meningkatnya
minat membaca di kalangan masyarakat. Ia berharap agar mahasiswa bisa
memberdayakan masyarakat sehingga berpartisipasi aktif sebagai pengelola rumah
baca desa.
“Strategi utamanya adalah kolaborasi. Semuanya harus
dilakukan dengan hati. Buku harus mencari pembacanya. Rumah baca harus terus
berlanjut apabila kalian sudah kembali nantinya,” tukas Beny.
Meningkatkan Kecakapan Literasi
Pada pembekalan sesi kedua, Gusty Rikarno, S.Fil.,
M.I.Kom. selaku Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT memberikan
penjelasan terkait asesmen dan strategi pendampingan literasi. Gusty
mengatakan, proses pendampingan yang dilakukan akan disesuaikan dengan data dan
kondisi literasi setiap anak. Data ini, sambungnya, sudah diperoleh dari dari
empat sekolah yang berada di Desa Nekmese.
“Intervensi yang dilakukan akan disesuaikan dengan
data hasil asesmen. Setiap mahasiswa akan mendampingi satu anak (murid) sesuai
level. Setelah proses pendampingan, mahasiswa juga diwajibkan melakukan asesmen
kedua guna mengukur perubahan yang terjadi,” tambah Gusty.
Gusty mengatakan, para mahasiswa akan dibagi ke dalam
beberapa kelompok sesuai data hasil asesmen, yakni kelompok membaca huruf,
kelompok membaca suku kata, kelompok membaca kata, kelompok membaca lancar, dan
kelompok membaca pemahaman. Kelompok membaca pemahaman, sambungnya, akan masuk
ke dalam program sekolah menulis agar bisa menghasilkan karya tulis yang
dipublikasikan.
Pantauan media, usai sesi pemberian materi, para
mahasiswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi bersama para mitra. Setelah
itu, mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok agar bisa memperoleh bimbingan
teknis terkait praktik di lapangan.
Untuk diketahui, peluncuran rumah baca desa dan karya
literasi akan berlangsung pada 10 Agustus 2026 berbarengan dengan acara
pameran. Semua pihak, baik mahasiswa, dosen pendamping lapangan, maupun
mitra-mitra terkait, diharapkan bisa saling mendukung dan berkolaborasi guna
mencapai tujuan yang diharapkan. (MDj/red)









0 Comments