![]() |
| Anak-anak dan para relawan berpose bersama di depan Rumah Literasi Cakrawala NTT. |
Kupang, CAKRAWALANTT.COM - Langit Noelbaki, Kabupaten Kupang, tampak cerah pada
akhir pekan, Sabtu (19/7/2025). Beberapa saat sebelum senja membentang warna
khasnya, sekelompok anak sedang duduk menikmati santapan pengetahuan yang
disajikan dalam aksara-aksara penuh makna. Raut wajah Gino dan Andre, dua anak
dari kelompok tersebut, tampak serius menatap buku cerita anak yang dibacanya
sejak tadi. Beberapa anak masih sibuk mencari buku bacaan yang disukai di
rak-rak buku yang tersedia.
“Pada suatu hari, hiduplah dua orang kakak beradik
yang gemar bertani,” tutur Andre ketika membuka halaman pertama dari buku yang
dipilihnya.
“Kalau sudah selesai membaca, nanti Kakak mau
mengetes. Adik-adik harus bisa ceritakan jalan ceritanya,” tukas seorang
relawan dengan nada bercanda.
“Nanti dulu, Kak. Kalau sudah selesai baru kami
ceritakan,” sambung Gino sambil tertawa.
Sore itu, anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah
Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan bahkan yang masih berusia dini,
yakni empat sampai dengan lima tahun, menghabiskan akhir pekannya di taman baca
yang dikelola oleh Yayasan Rumah Literasi Cakrawala. Sebagai lembaga independen
yang menaruh perhatian besar terhadap dunia pendidikan, Yayasan Rumah Literasi
Cakrawala atau yang akrab dikenal dengan nama Cakrawala NTT selalu bergiat pada
upaya-upaya penguatan literasi.
Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala, Gusty
Rikarno, mengatakan, sejak tahun 2013, pihaknya konsisten menguatkan literasi di
kalangan peserta didik, guru, mahasiswa, dan masyarakat sebagai salah satu cara
meningkatkan mutu pendidikan sekaligus melahirkan sumber daya manusia yang
unggul.
Ia mengungkapkan, salah satu aktivitas yang dilakukan
oleh Yayasan Rumah Literasi Cakrawala untuk mendukung tujuan tersebut adalah
dengan mendayagunakan buku-buku bacaan melalui taman bacaan. Taman bacaan ini,
sambungnya, tidak hanya berkutat pada kegiatan membaca dan menulis, tetapi juga
pemetaan dan pengembangan minat dan bakat anak-anak sekitar. Nantinya, jelas
Gusty, anak-anak tersebut akan didampingi oleh para relawan pada setiap akhir
pekan.
“Mereka bisa membaca dan menulis melalui kelas
literasi. Selain itu, ada juga kelas pengembangan minat dan bakat. Tentunya,
kami wajib melakukan pemetaan agar proses pendampingan bisa berjalan optimal,”
ujarnya.
Jejak Awal Penerus Bangsa
Pendayagunaan taman bacaan di Yayasan Rumah Literasi
Cakrawala tersebut tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan potensi anak-anak,
tetapi juga pemberdayaan orang muda sebagai relawan. Relawan yang tergabung di
dalam aksi baik ini berasal dari berbagai kalangan, seperti dosen dan
akademisi, pendeta dan calon pendeta, jurnalis dan pegiat literasi, mahasiswa
dan pelajar, serta anggota masyarakat pada umumnya.
Salah satu tugas yang diemban oleh para relawan adalah
mengenalkan huruf dan cara membaca bagi anak-anak yang masuk dalam kategori
usia dini atau belum mampu membaca dengan baik.
“Anak-anak ini memang harus diperhatikan dengan baik.
Kami harus mengelompokkan mereka sesuai kondisi masing-masing, termasuk saat
pengembangan potensi, seperti minat dan bakat. Hal ini bertujuan agar tindakan
yang diberikan bisa tepat sasaran dan mencapai hasil yang optimal,” ungkap
Beatrix Yunarti Manehat selaku relawan.
Beatrix yang juga berprofesi sebagai dosen mengapresiasi kegiatan positif pada akhir pekan tersebut. Ia mendukung pemberdayaan orang muda sebagai bagian dari upaya melahirkan sumber daya manusia yang unggul.
Program akhir pekan yang digagas oleh Yayasan Rumah
Literasi Cakrawala ini merupakan praktik baik yang visioner. Anak-anak yang
datang dan belajar di dalam rumah literasi tersebut adalah jejak awal penerus
bangsa di puncak cakrawala. Apa yang mereka perbuat saat ini akan menjadi bekal
di kemudian hari, sebab bunga yang
dipetik hari ini tidak ditanam kemarin sore. (MDj/red)









0 Comments