![]() |
| Buku "Lompat Kapal ke Amerika" karya Frans Pati Herin. Sumber: Detak Pustaka. |
Kota Kupang, CAKRAWALANTT.COM - Kelompok jurnalis yang tergabung dalam Komunitas
Arisan - Rumah Berpikir menggelar kegiatan diskusi dan bedah buku “Lompat Kapal
ke Amerika” karya Frans Pati Herin, Sabtu (28/6/2025). Kegiatan yang
berlangsung di kediaman Frans Pati Herin, Jurnalis Kompas, tersebut dipandu
oleh Ronis Natom, Jurnalis Vox NTT, selaku moderator, serta Gusty Rikarno, Jurnalis
Cakrawala NTT, selaku pembedah utama dan Pater Yoseph Riang, SVD., Dosen Prodi
Ilmu Komunikasi Unwira, selaku pemantik diskusi.
Buku “Lompat Kapal ke Amerika” merupakan kisah perjalanan Frans Pati Herin menuju kondisi hidup yang tidak pernah dibayangkannya sejak kecil. Frans memulai kariernya sebagai seorang guru matematika di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, usai menyelesaikan pendidikannya di Kota Kupang.
Beberapa waktu berselang, ia memberanikan diri untuk berpartisipasi
dalam seleksi jurnalis di Kompas, salah satu media massa besar yang menjadi
kiblat informasi nasional. Perjalanannya tentu tidak terlepas dari rekaman
ingatan masa lalu dan pengalaman-pengalaman menarik setelahnya.
Merawat Ingatan, Membingkai Imajinasi
Kisah perjalanan Frans Pati Herin dalam bukunya
“Lompat Kapal ke Amerika” tersebut dibedah dan diulas secara mendalam oleh
Gusty Rikarno. Dalam pemaparannya, Gusty menekankan dua hal, yakni ingatan dan
imajinasi, sebagai keunikan utama yang ditonjolkan oleh Frans Pati Herin ketika
menulis kisah hidupnya. Menurut Gusty, Frans berhasil merawat ingatan-ingatan
masa lalunya secara baik serta menjadikannya sebagai bagian penting dalam
perjalanan hidupnya.
“Keunikan dari buku ini adalah rekaman masa lalu yang
terdokumentasi secara baik dalam ingatan penulis. Bahkan, hal-hal kecil pun
tidak luput dari ingatannya. Hal ini menjadi tanda bahwa penulis berhasil
berdamai dengan masa lalunya,” jelas Gusty.
Gusty menerangkan, di balik ingatan-ingatan yang
terawat tersebut, ada suatu upaya yang dilakukan oleh Frans untuk membingkai
imajinasi masa depannya. Hal ini, sambung Gusty, dimulai saat ia mulai
mendengarkan berbagai informasi lewat radio bekas di rumahnya. Pemahaman Frans
tentang dunia jurnalis mulai bertumbuh hingga bertransformasi menjadi sebuah
kerinduan di lubuk hatinya. Menurut Gusty, imajinasi inilah yang harus tumbuh
dan berkembang dalam diri generasi saat ini.
“Imajinasi Frans yang tersirat tersebut menjadi kunci
utama yang harus dimiliki oleh generasi saat ini. Imajinasi tentang masa depan
yang lebih baik harus menjadi pijakan untuk bertumbuh. Inilah yang namanya
kekuatan mimpi,” ujar Gusty.
Gusty menyampaikan apresiasi kepada Frans yang telah
menyajikan perjalanan hidupnya dengan gaya penulisan yang khas, ringan, dan
mudah dipahami oleh semua kalangan. Hal tersebut, ungkapnya, menjadi kelebihan
yang dimiliki oleh buku “Lompat Kapal ke Amerika”.
Menulis: Cara Merawat Keabadian
Senada dengan itu, Pater Yoseph Riang, SVD. juga
memberikan apresiasi terhadap buku “Lompat Kapal ke Amerika”. Kehadiran buku
tersebut, ungkapnya, merupakan bagian penting dalam upaya merawat keabadian.
Untuk itu, ia menegaskan pentingnya aktivitas menulis dalam kehidupan sehari-hari,
khususnya di kalangan jurnalis.
“Menulis itu penting sekali sebagai cara untuk merawat
keabadian. Sebagaimana kutipan, kita boleh pintar setinggi langit, tetapi kalau
kita tidak menulis, kita akan hilang dalam sejarah dan masyarakat itu sendiri,”
ujarnya.
Pater Yoseh juga memberikan beberapa rekomendasi bagi
Frans, salah satunya adalah memperbanyak tulisan terkait kaum marjinal dan
kisah-kisah di baliknya. Hal ini, sambungnya, merupakan bagian dari pengabdian
seorang jurnalis.
Fokus dan Disiplin: Kunci Meraih Mimpi
Di akhir diskusi, Frans menyampaikan terima kasih atas
sumbangan pikiran, kritik, dan rekomendasi terhadap buku “Lompat Kapal ke
Amerika”. Ia mengatakan bahwa buku tersebut merupakan karya perdananya yang
berisi tentang perjalanan hidupnya hingga menitih karier sebagai jurnalis.
Frans mengungkapkan, di balik kisah perjalanan
hidupnya, ada dua kunci utama yang selalu digenggamnya, yakni fokus dan
kedisiplinan. Baginya, untuk meraih mimpi, apalagi kesuksesan, setiap orang
harus berfokus pada pilihannya dan disiplin untuk mewujudkannya.
“Pada intinya, saya ingin menegaskan bahwa untuk meraih kesuksesan, setiap orang harus fokus dan disiplin. Itu kuncinya,” pungkas Frans.
Untuk diketahui, kegiatan tersebut merupakan program
bulanan yang dilakukan oleh Komunitas Arisan - Rumah Berpikir sebagai bagian
dari pengembangan diri jurnalis. Selain diskusi dan bedah buku, kelompok
jurnalis ini juga akan mengadakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan
pengembangan diri maupun aktivitas sosial. (red)







0 Comments