Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

KAWANKU JADI SAYANGKU

Cerpen Baunsele Albert*


 


Di keheningan malam nan sepi bertabur bintang, di sebuah bilik sempit dan sederhana penuh kedamaian, sang penyair tengah memainkan penanya di atas sehelai kertas. Kata demi kata dirangkainya menjadi satu kesatuan yang utuh penuh makna. Menggoreskan pikiran-pikiran cerdas nan kreatif. Serasa menyesal seumur hidup bila ditinggalkan, tetapi bila dinikmati terasa indah di hati dan permai di kalbu.

 

Sang penyair muda belum beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak mau bekerja setengah hati. Lagi dan lagi, kalimat demi kalimat dirangkainya dengan kata-kata pilihan. Di hadapannya terbentang ilusi dan pengalaman sebagai pedomannya. Ia tentu tidak ingin bernyanyi semerdu-merdunya puteri-puteri kayangan, bila itu tidak ia dendangkan dengan cinta.

 

Tampaknya sang penyair muda tengah berpikir keras. Dengan menggunakan sedikit imajinasi, ia mencoba menghadirkan pengalaman-pengalaman hidupnya yang telah lama terkubur. Setelah beberapa menit menerawang jauh, ia kembali menulis lagi.

 

Jarum jam telah menunjukkan pukul 02.35 WIB. Pikirannya masih menerawang jauh untuk menghadirkannya secara kreatif dalam selembar kertas. Saat itu Alrescha teringat akan kawan kecilnya, Any semasa ia masih kanak-kanak dulu. Mereka sangat akrab bahkan tak dapat terpisahkan lagi. Yang satu akan menangis kepada ibunya bila sehari saja ia tidak melihat dan bermain bersama kawannya.

 

Setiap hari mereka menghabiskan waktu dengan bermain bersama. Tempat bermain yang paling disenangi oleh mereka berdua adalah di pantai, yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka. Membuat gundukan menyerupai gunung, jembatan dan rumah-rumahan dengan pasir adalah jenis permainan kesukaan mereka. Terkadang mereka lupa untuk makan karena terlalu asyik bermain. Di tengah hamparan pasir putih nan luas dan di bawah rimbunan pohan lontar yang sejuk itulah mereka menghabiskan masa kanak-kanak mereka.

 

Bulan berlalu dan tahun pun berganti. Usia mereka pun semakin hari semakin bertambah. Itu berarti bahwa mereka harus meninggalkan masa kanak-kanaknya dan memasuki masa sekolah. Ketika genap berusia enam tahun, mereka berdua akhirnya didaftarkan bersama oleh kedua orang tua mereka pada sebuah Sekolah Dasar Negeri terdekat. Setiap pagi dan siang, mereka harus diantar dan dijemput oleh kedua orang tua mereka. Akan tetapi, ketika mereka sudah duduk di bangku kelas II SD, mereka sudah bisa pergi dan pulang tanpa dijemput. Mereka tampak senang dan bahagia di kala bersama.

 

Enam tahun telah berlalu, mereka berdua akhirnya menyelesaikan bangku SD dengan baik. Mereka lulus dengan hasil yang membanggakan. Orang tua mereka juga ikut senang dan bahagia melihat kesuksesan keduanya. Kini tiba saatnya bagi mereka untuk meninggalkan seragam putih merah dan siap mengenakan seragam putih biru. Mereka juga harus siap dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, kawan baru, suasana baru dan segalanya. Akhirnya, masa SMP pun mereka lalui dengan mulus dan mantap tanpa tantangan yang berarti. Semuanya berjalan dengan lancar termasuk hubungan sebagai kawan di antara mereka.

 

Hubungan sebagai kawan antara Alrescha dan Any semakin hari semakin akrab ketika mereka sudah duduk di bangku Sekolah menengah Atas (SMA). Ke sekolah, perpustakaan, ke danau telaga biru dan ke Mall atau Lippo bahkan Transmart sekalipun mereka selalu bersama.

 

Suatu saat, ketika mereka sedang menikmati minuman segar dan udara sejuk di sebuah sudut taman rekreasi, entah mengapa mata mereka tiba-tiba saling berpapasan. Sebuah tatapan yang sungguh berbeda dari yang biasanya. Suasana yang ramai penuh canda, tiba-tiba berubah menjadi bisu. Kebisuan itu terjadi oleh karena satu tatapan yang tak terhindarkan itu.

 

“Eh, habiskan minumnya kak, sudah jam 16.45 ini,” kata Any menyadarkan Alrescha dari lamunannya.

“Oh iya, dik,” jawab Alrescha  dengan nada sedikit gugup.

 

Entah mengapa, Alrescha tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya. Apakah aku jatuh cinta kepada Any yang telah aku anggap sebagai adikku sendiri? Apakah Any akan marah bila aku mengungungkapkan perasaan ini kepadanya? Ataukah ia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan saat ini? Tanya Alrescha dalam hatinya.

 

Aku yakin ada benih-benih cinta dan sayang itu di antara hatiku dan hatimu Any. Kita tidak bisa membohongi diri kita sendiri. Itu tampak dari kejadian yang baru saja terjadi. Suatu tatapan yang penuh makna. Mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat bagiku untuk mengatakannya. Pikir Alrescha meyakinkan dirinya.

 

Hari berikutnya setelah pulang sekolah, Alrescha mengajak Any untuk menemuinya di bangku taman di bawah pohon besar di pinggir danau telaga biru. Tempat itu adalah tempat penuh kenangan. Alrescha dan Any biasanya ke sini tatkala satu di antara mereka lagi sedih ataupun gembira. Di tempat inilah  mereka saling berbagi, baik suka maupun duka. Di tempat ini jugalah Alrescha meminta Any untuk menemuinya jam 15.00 WIB nanti sore.

 

Waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya, jam yang telah disepakati bersama tinggal beberapa menit lagi. Any buru-buru karena ia tak mau mengecewakan Alrescha. Namun rupanya, Alrescha belum tiba di taman itu ketika Any tiba. Alrescha muncul setelah Any menunggu hampir sepuluh menit.

 

“Any!” seru Alrescha ketika melihat Any yang gelisah mencari-cari sesuatu. Any berpaling ke arah datangnya suara. Any tersenyum ketika melihat Alrescha datang.

“Sudah lama menunggu?” tanya Alrescha.

“Ah, tidak. Setelah mengerjakan PR aku langsung kemari. Aku takut kamu kelamaan menunggu aku.”

“Nyatanya, justru kamu yang malah menunggu aku,” sahut Alrescha sambil tersenyum.

“Ah, tidak apa-apa kok,” balas Any.

 

Alrescha mengambil tempat duduk tepat di samping Any. Memang bangku yang tersedia hanya untuk dua orang. Di bawah pohon besar yang rindang dan pemandangan alam di sekitar danau yang indah menjadikan suasana semakin akrab. Keduanya pun ngobrol diselingi canda Any yang penuh daya pikat tersendiri.

 

“Any!” Alrescha  memecah kesunyian di antara mereka.

“Ya?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Untuk itulah aku mengajakmu ke sini.”

“Tentang apa?”

“Tapi aku takut kamu marah padaku, aku tidak mau hubungan kita sebagai kawan yang telah bertahun-tahun kita bina bersama menjadi rusak oleh karena satu hal ini.”

“Tentang apa Alrescha, aku tidak marah kok,” kata Any meyakinkan hati Alrescha.

“Tapi kamu harus janji padaku. Kamu harus janji bahwa kamu tidak akan marah jika aku mengatakannya padamu.”

“Oke Alrescha, aku janji. Pohon besar dan danau telaga biru inilah yang menjadi saksinya.”

“Aku mencintaimu Any,” ungkap Alrescha dengan suara agak serak.

“Kamu serius?” tanya Any dengan suara sedikit gemetar.

“Ya, aku serius. Aku mencintaimu. Aku ingin kamu menjadi kawan dan milikku selamanya. Aku tidak mau kamu akhirnya menjadi milik orang lain. Kamu mau, kan?” tanya Alrescha.

“Alrescha, sesungguhnya aku juga merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan. Tetapi tidak mungkin aku yang mendahuluinya. Aku sadar bahwa kamu bahkan telah menganggapku sebagai adik kandungmu sendiri. Tetapi, aku tidak bisa menahan rasa ini. Aku ingin hubungan kita menjadi jelas seperti apa yang kamu inginkan saat ini. Apa yang menjadi inginmu adalah inginku juga, dan apa yang menjadi harapanmu, itu juga harapanku. Aku juga mencintaimu Alrescha.”

“Aku benar-benar merasa bahagia saat ini,” kata Alrescha kepada Any.

“Kenapa?”

“Karena akhirnya aku benar-benar mendapatkan bintang yang selama ini ku jaga.”

“Aku juga”

“Kenapa?”

“Karena akhirnya aku pun seutuhnya mendapatkan matahari kehidupan yang selama ini menyinariku. Yang jelas, selama bertahun-tahun kita bersama, tidak sesaat pun aku melupakanmu.”

“Aku juga,”  balas Alrescha dengan perasaan senang.

 

Akhirnya, hubungan sebagai kawan yang telah bertahun-tahun dibina oleh Alrescha dan Any dimeteraikan di atas hamparan danau telaga biru nan luas membentang. Danau telaga biru menjadi saksi bisu kisah cinta ini.

 

Jam Backer tiba-tiba berdering. Ternyata waktu telah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Kisah cinta dan hubungan sebagai kawan yang tidak akan pernah terlupakan itu akhirnya harus berakhir di sini. Sang penyair muda akhirnya menutup kisahnya dengan rasa puas. Terima kasih kawanku, terima kasih sayangku.

 

*Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala (MPC) NTT


(red)

 


Post a Comment

0 Comments