Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

PARADIGMA PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN


Oleh Maria Paulina Yunia

Guru SMAN 1 Maumere, Kab. Sikka

 

Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai masyarakat. Untuk mencapai tujuan dimaksud, peran guru tentu sangat vital. Guru perlu berpartisipasi untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut melalui tindakan nyata.

 

Tentang guru, Ki Hajar Dewantara dalam salah satu refleksi filosofisnya mengatakan bahwa tujuan menjadi guru bukan untuk meminta sesuatu hak, namun untuk berhamba pada sang anak. Guru mestinya memfasilitasi, mengarahkan dan berhamba kepada anak, sehingga anak-anak dapat berkembang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.

 

Tak jarang, menjelang akhir pelaksanaan pembelajaran, ada peserta didik yang masih bermasalah dalam pembelajaran di kelas, sementara Penilaian Akhir Tahun (PAT) harus segera dibuat untuk dimasukan ke dalam e-raport. Berbagai pendekatan dan strategi sudah dilakukan di antaranya dengan menghubungi secara pribadi, membangun komunikasi dengan orang tua dan melakukan kunjungan ke rumah yang bersangkutan. Namun itu belum membuahkan hasil.

 

Terkait hal ini, ada satu contoh kasus unik yang dijumpai di lapangan saat melakukan kunjungan rumah (home visit) di salah satu peserta didik. Ibunya sudah meninggal dunia, sedangkan ayahnya bekerja sebagai pengumpul dan penjual pasir kali di salah satu lokasi di Kota Maumere. Siswa ini diasuh oleh kakak dari almarhum mamanya yang berprofesi sebagai guru TK dan mempunyai tiga orang anak laki-laki. Bapak asuhnya saat ini sedang sakit. Keadaan ini menyebabkan kurangnya pengawasan terhadap kegiatan dan aktivitas keseharian anaknya juga intensitas dalam membangun kominikasi sangat kurang.

 

Kondisi ini berakibat pada rendahnya motivasi belajar dari peserta didik tersebut. Ia cenderung enggan belajar. Tugas-tugas sekolahnya pun tidak dikerjakan dan bahkan berencana untuk berhenti sekolah karena beberapa faktor penyebab yaitu dari keluarga dan lingkungan teman-temannya yang selalu mengajaknya untuk jalan-jalan. Dia memilih untuk tidak aktif di grup kelasnya karena menumpuknya tugas-tugas sekolahnya.

 

Alasan Melakukan Aksi Nyata

 

Cerita tersebut di atas memuat dilema etika. Di satu sisi, guru/pendidik harus memilih apakah tidak memberikan nilai kepada peserta didik karena yang bersangkutan tidak mengerjakan tugas. Konsekuensinya sudah dapat dipastikan murid tersebut tidak berhasil dalam pembelajaran dan sekolahnya. Hal ini sesuai dengan prinsip rasa keadilan (justice) dimana semua peserta didik yang belum mengerjakan dan menyelesaikan tugas dalam pembelajarannya seharusnya tidak mendapatkan nilai. Akan tetapi prinsip ini bertentangan dengan rasa kasihan (mercy) mengingat kondisi nyata yang ditemui di lapangan dimana peserta didik yang bersangkutan tidak mendapatkan haknya sebagai anak dalam hal pengasuhan, pengawasan dan edukasi dari keluarga dan lingkungan pergaulannya.

 

Keluarga sebagai salah satu pranata sosial seharusnya memiliki fungsi afeksi (kasih sayang dan pengasuhan), pengawasan dan pengendalian sosial dan pendidikan (edukasi). Ini yang tidak berjalan dengan baik di keluarga peserta didik ini. Jika peserta didik ini tidak diberikan nilai sehingga tidak bisa melanjutkan pembelajaran dan pendidikannya, maka masa depannya menjadi taruhan. Tetapi jika dia diberi nilai, maka akan menjadi preseden buruk bagi sekolah, bahwa tak mengerjakan tugas pun bisa lulus, sehingga kemungkinan ditiru oleh teman-temannya.

 

Sebagai pendidik, saya kemudian mengambil keputusan dengan mempertimbangkan empat (4) paradigma etika, tiga (3) prinsip pengambilan keputusan dan sembilan (9) langkah pengambilan dan pengujuan keputusan. Paradigma dilema yang digunakan adalah rasa keadilan melawan rasa kasihan (justice vs mercy) dan jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Prinsip pengambilan keputusan yang diambil adalah berpikir berbasis rasa peduli. Adapun 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dilakukan adalah sebagai berikut:

 

Pertama, mengenali nilai-nilai yang bertentangan. Dalam hal ini adalah adil dengan tak memberi nilai atau diberi nilai karena kasihan. Kedua, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. Murid, orangtuanya, guru-guru di sekolahnya dan murid-murid lainnya.

 

Ketiga, mengumpulkan fakta yang relevan.  Murid tersebut tidak pernah mengumpulkan tugas belajarnya, murid tidak mendapatkan pengasuhan dan pengawasan yang semestinya dari keluarganya. Keempat, melakukan pengujian benar atau salah dengan uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran dan uji panutan. Kesimpulannya tak ada pelanggaran hukum maupun moral tetapi hal ini menjadi tidak etis bila menjadi konsumsi masyarakat.

 

Kelima, pengujian paradigma benar lawan benar yakni rasa keadilan lawan rasa kasihan dan jangka pendek lawan jangka panjang. Keenam, melakukan prinsip resolusi dengan berpikir berbasis rasa peduli. Ketujuh, investigasi opsi trilemma. Meminta kepada bibinya yang terdekat rumahnya untuk mengambil alih fungsi pengasuhan dan pengawasan terhadap murid tersebut, memberikan dorongan untuk mengerjakan tugas minimal satu tugas saja tiap mata pelajarannya.

 

Kedelapan, membuat keputusan: tetap memberikan nilai rapor kepada murid yang bersangkutan dengan catatan harus tetap mengumpulkan tugas minimal satu.

Kesembilan, melihat kembali keputusan dan melakukan refleksi. Meminta rekan sejawat untuk bersama-sama melakukan refleksi terhadap kasus dilema etika tersebut sehingga jika berdampak baik bagi murid maka akan ditiru oleh rekan sejawat tersebut.

 

Selanjutnya, agar pengetahuan dan praktik baik dalam mengambil keputusan ini bisa ditransfer di lingkungan atau sekolah, maka melakukan koordinasi dengan pihak BP/BK, menceriterakan keadaan peserta didik dan latar belakangnya serta memohon bantuan sekolah untuk memfasilitasi saya untuk melakukan kunjungan ke rumah.

 

Perasaan (Feelings)

 

Perasaan saya ketika harus mangambil keputusan untuk membantu peserta didik ini lebih dominan kepada kasihan dibandingkan dengan bahwa saya harus bersikap adil. Kenyataan bahwa ada beberapa fungsi keluarga seperti fungsi afeksi, fungsi pengawasan dan pengendalian sosial serta fungsi edukasi yang tidak berjalan baik di keluarganya dan lingkungan pergaulannya membuat saya berempati pada peserta didik ini.

 

Peserta didik ini tidak memiliki dorongan untuk sekolah karena keadaan orang tua kandung serta orangtua asuhnya. Selain itu, juga dipengaruhi oleh lingungan pergaulan yang tidak mendorongnya untuk sekolah. keluarga tidak mengawasi apa yang dilakukannya, tidak mengingatkan ketika dia menyimpang dari aturan ataupun tidak melaksanakan tugas belajarnya dan tidak memfasilitasi pendidikan di sekolahnya. Ketika anak ini tidak mendapatkan hak tersebut di rumahnya seharusnya sekolah bisa merangkulnya untuk membantunya mendapatkan hak-hak tersebut.

 

Pembelajaran (Findings)

 

Pembelajaran yang didapatkan dalam aksi nyata pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini adalah bahwa mengambil keputusan tidak bisa berdasarkan insting saja atau berdasarkan aturan saja. Kita perlu mempertimbangkan kondisi riil yang dialami oleh peserta didik kita.

 

Tidak semua peserta didik datang dengan latar belakang ekonomi, keluarga, lingkungan yang sama. Ketika ada murid yang tidak mau mengumpulkan tugas untuk mencapai tujuan pembelajaran seperti yang kita inginkan, maka kita terlebih dahulu harus mengetahui mengapa dia tidak melakukan itu? Bagaimana keadaan lingkungan sekitarnya? Apakah ada hal yang mempengaruhi sikapnya yang kita anggap membangkang terhadap kita? Hal-hal seperti ini perlu kita telusuri lebih jauh.

 

Penerapan ke Depan (Future)

 

Keterampilan pengambilan keputusan pada kasus yang mengandung dilema etika dengan mempertimbangkan empat paradigma dilema etika, tiga prinsip resolusi dan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan harus terus diasah dan dipraktekkan serta direfleksikan dengan melibatkan kepala sekolah, teman sejawat serta murid-murid sebagai yang paling terdampak dari keputusan yang kita buat.

 

Sebagai pendidik, mari mengaktualisasikan semua harapan dan cita-cita dalam perjuangan nyata agar menjadi penggerak bagi ekosistem sekolah dan di lingkungan sekitar. Semoga pendidik menjadi obor yang menerangi dan membawa perubahan besar bagi pendidikan di Indonesia. Tetaplah menjaga nyala obor itu karena perjalanan kita sebagai pendidik masih panjang. Pada hakikatnya, perjalanan kita sebagai pendidik tidak akan pernah selesai, bahkan setelah peserta didik yang kita antarkan dengan perantara nyala obor kita telah sampai di ujung terowongannya.

 

Foto: Dokumentasi Penulis

Editor: Baldus Sae/ Robert Fahik/ red 

Post a Comment

0 Comments