Latest News

Monday, 11 January 2021

MELUKAIMU DENGAN BEGITU LEMBUT: ORKESTRA CINTA ORANG PILIHAN

 


Oleh Dr. Marselus Robot, M.Si

Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana

 

... kau harus menyentuh Bahasa Kehidupan itu dengan tanganmu, dan ambillah segala kekuatan yang kauperlukan untuk menjadi saksi atas Bahasa itu di seluruh dunia.” (Paulo Coelho dalam  ZIARAH, 2011)

 

Percayakah Anda bahwa bola bumi digerakkan oleh cinta dan rasa bahagia? Percayakah Anda bahwa bulan di atas kita yang punya? Percayakah Anda bahwa kita di sini terancam tenggelam dalam rawa karena cinta. Entahlah. Namun, Paul Tillich membubuhi  makna pada kata cinta sebagai sebuah “kekuasaan yang menggerakkan kehidupan”. Menurutnya, segala yang Ada ini pada mulanya satu di dalam cinta (Lihat, Kurniawan, Filsafat Cinta, https://www.betangfilsafat.org/diunduh 30 Oktober 2020). Itulah sebabnya, huruf  “c” pada kata cinta ditulis kapital untuk menyatakan cinta sebagai ekspresi eksistensi (keberadaan). Sang Ada (baca Kehidupan) tak pernah ada tanpa cinta. Umpamakan saja, cinta adalah minyak suci yang diurapkan Tuhan kepada setiap manusia. Walau, cinta pula yang membawa seseorang galau dan begitu gampang jatuh  dalam percobaanyang kadang membuatnya batil. Sebab, cinta menumbuhkan melati sekaligus belati. Rindu adalah durinya, penantian adalah gulungan ombaknya, perjumpaan adalah kemelutnya. Itulah yang membuat luka cinta penuh kenikmatan dan begitu kekal.

 

Bercanda dengan puisi Mery C. Lola, Thomas A. Sogen, dan Yanty Ali yang menginap di bawah Antologi berjudul “Orang Pilihan” ini, bagi orang seumuran saya (orang dewasa), seakan menghela kembali kenangan dari kekelaman masa silam yang kian susut. Bahkan, telah terhapus dari alamat-alamatnya. Kita diminta pulang sejenak menjenguk masa lalu, mungkin pada sebuah geladak yang melumut, menjauh, kerlap-kerlip memori ditimbun abu waktu. Apa sekadar menagih masa lalu yang dibungkus erat dalam sapu tangan kenangan, sebagaimana diucapkan dengan kata bergentah oleh Mery Lola dalam puisi-puisnya. Atau memohon pengampunan pada masa lalu karena ada tapak di jalan cinta yang tak terhapus oleh waktu. Bukankah kesunyian di luar sana mewakili keriuhan di dalam sini? Semestinya kita menyadari bahwa segalanya berasal dari-Nya. Dunia hanya tumpukan kefanaan. Karena itu,  pengakuan total kepada Sang Sunyi yang amat jauh atau amat dekat dengan kita. Begitulah kesaksian Thomas A. Sogen dalam beberapa puisinya. Mungkin pula diperlukan pertempuran melawan kerinduan masa silam. Atau segera menghapusnya, karena ada juga pengkhianatan di sana. Membiarkan kita untuk betah di tepi jurang kerinduan sebagaimana diucapkan Yanty Ali.

 

Bagi kaum milenial atau remaja yang kini lagi kasmaran dan jatuh cinta, puisi-puisi ini mengantar Anda ke dalam tawanan rindu menggetarkan dan menggetirkan sekaligus.  Ketiga pemuisi ini memberikan semacam testimoni dengan cara estetis tentang pengalaman cinta dan pengalaman hidup lainnya. Tiga orang pilihan yang menjalani –profesi sebagai guru, belakangan lebih asyik-sibuk sebagai instruktur dan memilih sikap gembala (simpatik) daripada seorang Firaun (menakutkan) dalam menjalankan tugasnya. Hampir semua puisi dilengketkan dengan keindahan asal asli seperti, senja, rembulan, matahari, bunga, hujan, gerimis, sunyi. Pun pilihan kata yang musikal menggelar nuansa sentimental. Semacan orkestra cinta “Orang Plihan”. Dunia, cinta, dan Anda tak akan mengelak keadaan ini:

 

Rintik hujan seolah menjadi pertanda
Suasana hatiku yang sedang merana
Putaran waktu terasa begitu lamban
Detik kehidupan berlalu dalam kehampaan

 

Semua rasa rindu terasa menyesakkan dada ini
Belantara hati semakin terasa gersang
Tandus dan terasa amat sepi
Menjadi cerminan jiwa yang dahaga dan terasa kering
(Puisi Rindu)

 

Rintik hujan boleh jadi melembabkan halaman, tetapi rintik rindu di halaman hati  membuat “tandus”. Demikian, lirik dalam larik puisi yang ditulis Mery C. Lola. Ia sangat mengagumi keindahan alam. Boleh dibilang, ia pemuja alam. Memang, alamlah yang menyediakan keindahan. Menyukai keindahan adalah bawaan manusia. Semua orang  merasakan keindahan. Namun, tidak semua orang  dapat mengucapkan kembali keindahan dalam kata-kata yang wangi atau frasa yang gurih. Toh, keindahanlan ini kadang menggumpalkan kesedihan dan membentur-benturkan jiwa, menyakitkan pula, terutama ketika pengalaman tertentu memagut rasa. Seperti senja yang  indah menyisakan penyiksaan. Mery C. Lola menulis:

 

Rasa ini seakan membuatku jatuh

terjebak pada palung terdalam di dasar lautan

Rasa ini telah membuatku tersesat

Bahkan ku tak tahu ke mana harus kembali

 

Kuayunkan langkahku menyusuri tepian

Dituntun senja meresapi indah pesonanya

Rangkul aku dalam buaian senandung kicauan burung laut

Dan bila kau pergi, bawa aku bersamamu (Puisi Senja)

 

Mery mengintip begitu intim tingkah matahari dipergok senja. Kicauan burung laut yang  menjemput kelam. Lantas, hidup di tepian “jurang rindu” yang terus menangguk harapan yang tak pernah lunas oleh keadaan. Di sanalah keniscayaan merapat, dan  cinta memosisikan “aku lirik” (penyair) sebagai antagon baik untuk  diri maupun untuk Si Dia. Namun, rindu adalah duri yang tusukannya amat nikmat.

....

Desiran angin mendesah lembut

Berbisik lirih sembari berlalu

Seakan terasa berat lara terbawa

Saat nestapa tertatih dalam papahan sang bayu

 

Langkah demi langkah kuayun perlahan

Lukisan tapak makin menjauh

Tatapan kuarahkan hanya ke depan

Berharap mentari cerahkan masa kelam

 

Indah bumi menyimpan harta alam

Melantunkan irama gemerisik daun bambu

Ku ingin kau tahu simfoni yang tercipta

Ada hati yang selalu merindukanmu

....

 

(Puisi Simfoni Rindu)

 

Lagi-lagi kerinduan menjadi ribuan jarum yang mendetak hati. Sedangkan semesta seakan terus menyembunyikan simfoni: Indah bumi menyimpan harta alam/Melantunkan irama gemerisik daun bambu/Ku ingin kau tahu simfoni yang tercipta/Ada hati yang selalu merindukanmu. Rasa rindu adalah serpihan cinta platonik, cinta yang tak terjangkau. Aku menenuaikan tugas untuk merindu. Di sana cinta bukan lagi sebuah perjumpaan untuk melakukan perjalanan sama-sama. Cinta menganiaya.

 

Sudah sejauh ini narasi dihela, belum juga membuka “kotak  hitam” tentang judul antalogi ini “Orang Pilihan”. Dalam puisi-puisi Mery C. Lola tidak menenteng secara eksplisit identitas “Orang Pilihan”. Kecuali pada puisi Thomas A. Sogen dan Yanty Ali. Siapa gerangan Orang Pilihan? Apakah Orang Pilihan dimaksud itu adalah ketiga penyair ini yang memilih profesi guru. Sebab, guru adalah sumber cahaya ilmu dan mewartakannya kepada murid-murid agar kelak menggala bulan. Semua itu hanya berharga bila dijalankan atas nama kasih. Cinta kasih bukan sekadar keindahalan siluet (sekadar penampakan), melainkan sebentuk keindahan selibat. Sebab, amal ilmiah itulah per puluhan yang diberikan di ruang kelas. Thomas A. Sogen menulis puisi untuk itu:

 

Inilah orang pilihan bermisi

Tak lelah berbagai dan terus berbagi

Agar tanah didik terurai kusut

Karena mereka terus menghasut

....................

Di sini, di negeri ini

Orang pilihan terus berbuka

Tak henti menabur dan berharap menuai

Bila tidak mereka pun bermurka (Puisi Orang Pilihan 1)

 

Teringat petuah Bertrand Russel, “Hidup yang baik adalah hidup yang diinspirasi oleh cinta dan dipandu oleh ilmu pengetahuan” (https://jagokata.com/kata-bijak/dari-bertrand_russell.html?page=4). Dengan demikian, ke arah empat mata angin pun kita pergi, berusahalah mewartakan kebaikan dan membawa terang  melalui profesi sebagai guru. Thomas A. Sogen menulis:

 

....

Ke utara kita pergi

Ke selatan pun kita berlangkah

Ke timur kita berlayar

Ke barat pun kita mendayung

 

Berbagi bersama nan elok

Menular ilmu tak kan kering

Bertukar nalar kan bertambah bijak

Merajut suka berbagi riang (Puisi Orang Pilihan 2)

 

Hasrat  “berbagi”  adalah wujud keindahan Ilahiah. Itulah perangai Orang Pilihan. Plato pernah mewanti bahwa cinta memang menggerakkan manusia untuk menemukan hal terbaik bagi hidupnya (https://www.sanglah-institute.org/2019/02/ketika-filsuf-bicara-cinta-dari-hobbes.html). Berbagi sebagai ekspresi cinta Ilahiah adalah semacam cicilan cahaya pada lorong pulang ke ribaan Sang Sunyi yang tak terjangkau akal. Kadang, “kata” yang mencoba melukiskan amat minimal sifat-Nya. Kesibukan dalam kesia-siaan menyusuri jalan ganjil penuh nisbi seperti ditulis Thomas Sogen:

 

Sekali lagi kususur jalan ke titik nisbi

Pergi melanglang ke haribaan fana

Kupergok sosokmu nun jauh di sana

Dalam langkah yang juga terbingkai

 

Langkah terakhir kuayun gontai

Berbalik pulang ke haribaanNya

Entah kapan kau datang bersua

Di sanalah keabadian tak berbingkai (Bingkai Langkah)

 

Arus imajinasi Thomas A. Sogen berusaha menengadah, berelegi di bawah remang alam dan lagu malamyang seakan jatuh satu-satu di pikirannya. Menurutnya, itu semua buah kefanaan. Harus ada waktu untuk mencari alamat pulang. Kembali ke dalam diri untuk memandang sosok yang tak terungkap dan tak terucap. Ia hanya hadir melalui keajaiban karya-karyaNya. Orang pilihan berjalan dua arah sekaligus. Berjalan keluar untuk berbagi kepada siapapun. Berjalan ke dalam (diri) untuk merefleksikan siapa Aku yang teramat lemah ini. Dalam keasyikan kesia-siaan, kadang tersedak dosa. Thomas Sogen menulis puisi berikut:

 

.......

Di bilik ini kudatang bersimpuh

Menghadap dan berkiblat fitrah

Salahkah bila hati ini berdosa

Bersalah padaMu dan pada siapapun

 

Aku memang rapuh

Bahkan lebih rapuh dari kain lapuk

Kain lapuk hanya bisa dibuang

Namun hati ini terus berkanjang

.....

(Pengakuan)

 

Jean-Paul Sartre (filsuf eksistensialis) memandang cinta dengan penuh kecurigaan. Bagi Sartre, cinta sebagai bentuk penindasan yang begitu lembut. Sebab, di sana terjadi semacam pengobjekkan terhadap manusia. Dengan demikian, orang yang jatuh cinta sesungguhnya “terjebak” pada dunia orang lain. Menurut Sartre, kecintaan seseorang terhadap orang lain menandai kegagalan dirinya mempertahankan diri sebagai subjek. Mencintai orang lain, ia memiliki konsekuensi berhadapan dengan tuntutan-tuntutan dalam cinta. Dalam koteks itulah cinta pun rentan mentransformasi dirinya menjadi hasrat untuk memiliki. Jika telah demikian, maka salah satu pihak akan dikorbankan (Wahyu Budi Nugroho, Ketika Filsuf Bicara Cinta: Dari Hobbes sampai Derrida: https://www.sanglah-institute.org/2019/02/ketika-filsuf-bicara-cinta-dari-hobbes.html). Di sinilah cinta menjadi sebentuk kejahatan yang mungkin dinikmati. Boleh senyum dikulum menjadi belati di hati ini, dan setiamu menjadi dukaku seperti ditulis Yanty Aly berikut ini.

 

Mengenal dari kejauhan
membuat rasa bergejolak
ingin menyapa namun enggan
karena kita memang berbeda

 

Saat dirimu akrab
menyeruak sejuta nan semerbak
tapi…mengapa aku geram?
adakah yang salah ?
karena bagiku rasa itu salah dan dosa

 

Kamu pun pasrah
seakan tak mau berpaut
setiamu sampai saat ini
menjadi duka yang berkepanjangan
entah  sampai kapan rasa itu
(Puisi Setiamu Dukaku)

 

Ketika kita menyerahkan diri untuk dicintai, maka  diri kita menjadi “surat terbuka” yang dimaknai secara arbitrer atau bebas oleh Si Dia. Tentu dengan hitungan yang digunakannya. Oleh karena itu, setiap tindakan, perkataan dapat menjadi melati, tetapi juga dapat menjadi belati yang menggunting rasa cinta. Belati yang rimbun tumbuh di halaman bibir adalah bahasa yang tajam melampaui sembilu. Yanty Ali menulisnya dengan liris pada puisi di bawah ini.           

 

....

Ucapanmu seperti tak bernoda
membawaku pada hati memikat
namun ternyata Cuma ilusi..
kebohongan seakan menjadi hobimu..

 

Kata-katamu bagai belati
Aku pergi membawa luka
mampu merajamku
namun tak mampu menguasaiku

 

Walau perih tersayat belatimu
ku akan melupakanmu
sebab kata maaf tak lagi milikmu
biarlah cerita kita tersusun rapi dalam benakku
(Puisi Kata-Kata Belatimu)

 

Yanty  sungguh paham, bahwa dunia tempat menjalankan percobaan. Meskipun, percobaan justeru membuat hidup lebihberkualitas dan berarti. Jangan pernah menyerah terhadap  keadaan. Duka dan luka menjadi enzim yang melahirkan kreativitas. Yanti menulis:

 

Luka tak membuatku lemah
Karena sulit menjadi bagian dalam berjuang

Menjadi bukti dari sebuah proses

 

Tetapkan tujuan sampai batas akhir

Sampai raga tak mampu bangkit lagi

Teruslah berjuang

Karena kelak tujuan itu akan tiba bersama sang waktu (Puisi Jangan Menyerah)

 

Saya menyadari, selama pengembaraan dalam antologi  ini, mengalami ketersesatan yang membahagiakan, lantaran keragaman tema yang ditawarkan oleh tiga penyair ini.   Demikian pula, tingkah literer puisi-puisi yang berumah dalam antologi Orang Pilihan ini lebih berorientasi auditif (puisi telinga). Begitu sedap didengar. Orientasi diksinya akustis, merdu. Jumlah katanya terukur (3-4). Pola bait yang begitu regulatif (4-5) larik tiap bait. Manuver teks estetis demikian, cukup kuat mengawetkan kenangan dalam kamar waktu. Kata-kata menggetarkan bagai hembusan gambus di ubun bukit mengisap kesunyian dan lidah cinta melumat hidupmu. Semacam orkestra untuk merayakan kejahatan cinta yang melukaimu begitu lembut. Pun rasa sakitnya yang begitu membahagiakan.

 

Editor: R. Fahik

 

comments

No comments:

Post a comment